Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
5. Mimpi Buruk



**Happy and enjoy reading💜


Sorry for typo 🙏**


Terkadang ... kita harus melewati masa sulit untuk bisa merasakan masa indah..


Pilihannya hanya ada pada kita. Apa kita akan bertahan dan melewati masa sulit itu atau kita akan menyerah di fase ini.


🐰


*Hari itu seorang bocah laki-laki  berumur 12 tahun, sedang duduk di bangku Taman menunggu Ibunya yang sedang membelikan eskrim.


Dia terlihat sangat bahagia dan matanya berbinar memandangi mainan mobil-mobilan baru yang dibelikan oleh Ibunya tadi.


"Ini eskrimnya ... rasa strawberry kesukaan Alva."


Sebuah kotak eskrim berukuran jumbo tepat ada di depan wajahnya, dengan senyum bahagia ia mengambil kotak eskrim itu.


"Terimakasih Mah. Alva suka eskrimya."


Sang Ibu hanya tersenyum melihat anaknya yang saat ini tengah bahagia sambil memakan eskrim. Tiba-tiba tanpa sadar air matanya jatuh.


"Maafin mamah  yah sayang. Akhir-akhir ini mamah kurang perhatian sama kamu. Mama terlalu sibuk sama dunia  sendiri dan rasa sakit mama sayang."


Ibunya lalu mengusap lembut kepala anaknya, Alva. Ia sadar selama ini ia salah karena mengabaikan anaknya sendiri karena rasa sakitnya. Kejadian satu bulan yang lalu benar-benar membuatnya hancur. Karena dua orang yang sangat ia sayangi telah menyakiti dan telah menorehkan luka yang sangat perih di hatinya.


"Luka itu benar-benar membuat mamah lupa dan mengabaikan kamu sayang. Maafin mamah yah," lirihnya sendu.


Tepat setelah itu air matapun jatuh. Lalu ia langsung memeluk anaknya yang terlihat terkejut atas perlakuan tiba-tiba Ibunya.


"Mamah kenapa? Alva sesek mah."


Ibunya buru-buru mengusap kasar air mata dan melepaskan pelukannya.


"Mama janji mulai sekarang mama akan selalu ada buat Alva sayang. Pulang yuk sayang udah sore."


Tapi Alva tiba-tiba menolak tarikan tangan Ibunya. "Alva gak mau pulang mah. Alva mau main kerumah Tante Laras. Alva kangen main sama Dennis mah."


Ibunya Kaget mendengar sebuah nama yang telah membuat luka dan menghancurkan hidupnya. Ia berusaha mengatur kontrol dirinya dengan menghembuskan napas secara perlahan.


"Tante Laras sama Dennis nya gak ada sayang. Mereka lagi pergi nginep ke rumah neneknya di Bandung. Sekarang kita pulang yuk," bujuk Ibunya mencoba memberi pengertian.


"Ya udah ayo pulang. Kalo mereka udah pulang Alva mau minta oleh-oleh sama mereka," katanya sangat antusias.


Ibunya hanya tersenyum simpul mendengar perkataan anaknya. Sebelah tangannya kemudian refleks menghapus air mata yang entah ke berapa kali jatuh untuk hari ini.


**


Sesampai di rumah Ibunya langsung mengajak Alva masuk. Setelah tiba di dalam rumah ia kaget saat merasakan tangan Ibunya yang menggenggam tangannya sangat erat.


"Jadi udah berani yah sekarang kalian ngelakuin perbuatan bejad kalian di rumah ini?"


Alva yang melihat mamahnya kelihatan sangat marah. Lalu ia pun menoleh ke arah pandangan mamah nya. Di sana ia melihat Papahnya dan Tante  Laras sedang berpelukan.


"Eh ... wanita sampah udah pulang.


Alva melihat Papahnya hanya tersenyum kemudian mencium pipi Tante Laras. Persis apa yang sering mamah lakukan kepadanya.


"Di sini ada anak kamu. Bisa tidak kamu dengan jalangmu ini tidak melakukan perbuatan bejad di depan anak kamu Mas."


Setelah itu Alva melihat Tante Laras kelihatan marah mendengar ucapan mamah. Lalu ia berjalan menuju ke arahnya dan mamah. Setelah itu ia langsung menjambak rambut mamahnya.


"Siapa yang kamu bilang ****** hah? Aku yang ****** lebih baik dibanding sampah yang gampang dimainin kaya kamu!"


Alva yang melihat mamahnya kesakitan berusaha mendorong Tante Laras yang menjambak rambut Mamahnya.


"Lepasin Tante, kasian mama kesakitan."


Tangis Alva pun pecah. Ia masih berusaha mendorong Tante Laras.Lalu tiba-tiba Tante Laras mendorongnya hingga terjatuh dan kepalanya membentur dinding. Alva melihat papah yang hanya  menatapnya sekilas. Ia lalu kemudian duduk di sofa seperti sedang menonton sebuah pertunjukan tanpa mau membantu mamahnya.


"15 tahun aku menunggu hari ini. Menunggu sampai semuanya jadi milikku dan Dennis resmi akan menjadi anak kandung mas Bram."


"Dasar Iblis kamu. Iblis yang gak memiliki hati dan perasaan!"


 Mamahnya masih terus berusaha melepaskan jambakan Tante Laras. Kemudian semuanya berjalan begitu cepat di mata Alva, saat Tante Laras memukul kepala mamahnya dengan sebuah pas bunga. Setelah itu mamah jatuh ke lantai dengan darah di kepalanya.


"Mamah ... mamah ... bangun. Tante Laras jahat! Pah ... tolongin mamah ... Pah! Kepala mamah berdarah!"


Tangis Alva pecah. Ia terus berusaha membangunkan Mamahnya. Sementara papahnya hanya melihat sekilas kemudian pergi meninggalkannya dan mamahnya bersama Tante Laras.


Hari itu Alva bocah berusia 12 tahun memang tidak mengerti situasi apa yang sebenarnya terjadi saat ini, antara mamah, papah dan Tante Laras. Tapi satu hal yang dia tahu bahwa Tante Laras jahat dan sudah memukul mamanya sampai pergi meninggalkan dia untuk selamanya.


Kesedihannya semakin parah saat tak ada satupun orang yang percaya kalau mamahnya pergi dipukul Tante Laras. Tepat 1 bulan setelah kejadian itu Tante Laras dan Dennis tinggal di rumahnya. Ia dipaksa memanggil Tante Laras dengan sebutan mamah. Dan Dennis yang selama ini menjadi temannya sikapnya berubah drastis seperti tidak mengenalnya*.


**


" Mamah ...!" teriak Alvaro ngos-ngosan.


Alvaro terbangun dari tidur dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Napasnya memburu seperti orang yang telah berlari. Bahkan keadaan tubuhnya dingin dan menggigil.


Alvaro mengusap kasar wajahnya. "Mimpi itu lagi. Kenapa mimpi itu datang lagi? Mah ... kenapa mimpi itu datang lagi? Apa karena Alva datang lagi ke rumah itu?" tanyanya beruntun entah pada siapa.


 Hanya suara sepinya malam yang menjawab pertanyaan Alvaro. Memorinya kembali diputar ke masa beberapa tahun yang lalu. Masa paling menyakitkan  dalam hidupnya. Masa yang merenggut Ibunya dan masa dimana ia mulai membenci Papahnya. Kebencian dan dendam yang mulai hidup di dalam dirinya sampai saat ini.


Ia masih ingat saat wanita Iblis itu dan anaknya mulai tinggal di rumahnya. Kehadiran Alvaro seperti tak kasat mata di rumah itu. Ia mungkin seperti sudah dianggap mati di rumah itu. Ayahnya yang biasanya hanya bersikap diam saat mamahnya masih hidup. Bahkan sekarang jauh lebih diam dan tak pernah menatap ke arahnya sedikitpun.


    


Tepat saat Alvaro kelas 1 SMA. Pengacara Ibunya datang menemuinya dan dia memberi tahu Alvaro, kalau Ibunya telah menyiapkan tabungan untuk menjamin hidup serta pendidikannya. Bahkan Ibunya telah menyiapkan sebuah Apartement untuknya tinggal.


Ternyata Ibunya sengaja menyiapkan semua ini karena ia tahu kejadian seperti ini pasti akan terjadi. Sehingga Alvaro akhirnya bisa meninggalkan rumah seperti neraka itu sampai sekarang.


"Mah ... Alva lelah ...," lirihnya malam itu.


**Thanks for reading🙏


Jangan lupa vote and comment🙏**