
Happy and enjoy reading💜
Sorry for typo🙏
Bintang itu indah..
Tapi tidak dapat dijangkau.. hanya dapat terlihat..
Tapi sekarang bintang itu ada di sini yaitu kamu...
🐰
Dulu waktu kecil Kanaya suka sekali makan permen dan coklat. Bahkan saking sukanya ia selalu menyetok bungkusan kantong permen dan coklat di kamar. Sampai-sampai bunda dan ayah sering memarahinya karena kebanyakan makan permen dan coklat.
Menurut Kanaya permen dan coklat adalah dua hal yang mampu membuat suasana hatinya gembira. Entahlah waktu kecil saat ia selalu menangis bunda dan ayah selalu memberinya permen dan coklat dan itu selalu berhasil membuatnya berhenti menangis.
Apakah saat ini juga sama? Permen dan coklat bisa membuatnya berhenti menangis.
"Gue yakin ini cuman mimpi." Berkali- kali Kanaya menampar pipinya untuk meyakinkan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah sebuah mimpi.
Tapi sebuah ringisan kesakitan menyadarkannya, bahwa ini adalah nyata bukanlah mimpi.
Suara riuh teriakan menyadarkan Kanaya dari keadaannya sekarang. Dengan langkah cepat ia berlari menuju tempat yang sekarang telah sesak dan penuh oleh kerumunan orang-orang.
Alvaro
Satu nama itu kembali membuat Kanaya semakin merasa khawatir. Dunianya seakan berhenti saat ia melihat sebuah mobil yang telah membawa seseorang yang Kanaya khawatirkan telah melaju pergi.
"Enggak ... enggak ... stop berhenti jangan bawa dia pergi, berhenti!" teriak Kanaya histeris berusaha mengejar mobil yang sudah berjalan menjauh.
"Tolong jangan bawa dia pergi, tolong ...!"
Kanaya akhirnya ambruk jatuh terduduk, saat mobil itu sudah semakin jauh meninggalkannya. Tangisnya pecah dan tangannya berusaha memukul dada berkali-kali. Berharap rasa sakit yang dirasakan bisa sedikit berkurang.
"Dia gak papa kan? Dia gak papa kan?" tanya Kanaya entah pada siapa.
Kanaya tidak peduli saat ia sekarang mungkin menjadi tontonan orang-orang di sana. Rasa malu sudah terkubur bersama rasa sakitnya. Mungkin ia sekarang sudah dianggap orang gila. Karena saat ini tengah duduk sambil menangis, ditambah pakaiannya hanya menggunakan baju tidur.
"Kamu gak malu apa nangis-nangis di pinggir jalan kaya gini? Entar disangka orang gila loh."
Kanaya sadar kalau saat ini di sampingnya sudah berdiri seseorang. Dari ujung mata Kanaya melihat sebuah sepatu putih berdiri di sampingnya.
"Di sini serem loh. Apalagi ini udah tengah malem. Bisa-bisa entar nangisnya ada yang nemenin loh."
Kanaya hanya mendengus jengkel, saat orang itu kembali berbicara dan mengganggu acara menangisnya. Ia mencoba mengabaikan kehadiran seseorang yang masih berdiri di samping itu.
"Oh ... yakin nih pengen ada yang mau nemenin entar nangisnya. Ya udah salam yah sama yang pake baju putih entar," ujarnya terkekeh geli.
Rasa sedih Kanaya seakan berangsur hilang digantikan dengan rasa kesalnya. Sebenarnya apa sih mau orang itu? Kenapa sedari tadi terus menganggu dia terus? Kanaya berdiri bersiap akan merobek mulut orang yang seenaknya mengganggu itu.
"Sebenarnya apa sih mau lo? Urusan gue lah mau nangis apa eng ...," ucapan Kanaya terhenti saat melihat orang yang di depannya sekarang.
"Kalau nangis di rumah aja. Di sini ngeri, emang mau besok pagi ditemuin di koran halaman pertama karena kasus pembunuhan," ujarnya santai.
Saat ini Kanaya hanya mampu menatap orang di depan tanpa berkedip. Seorang cowok tampan tengah tersenyum manis di depannya. Tunggu dia bukan terpesona karena ketampanan cowok itu. Tapi Kanaya hanya merasa terkejut saat cowok di depannya adalah orang yang sedang ditangisi barusan.
"Bukannya lo di dalam mobil, terus sekarang kenapa lo ada di sini?" Sebelah tangan Kanaya refleks menutup mulut untuk menyembunyikan keterkejutannya.
"Iya ... gue sekarang emang lagi dalam mobil kok."
"Terus kalo selarang lo dalam mobil, terus ini siapa? Gak mungkin kan ini rohnya?" tanya Kanaya mulai heboh dan panik.
Alvaro, cowok di depan Kanaya hanya tersenyum geli melihat tingkahnya saat ini. Entahlah perasaan hangat itu saat ini kembali muncul. Hanya melihat gadis di depannya baik-baik saja, rasanya itu sudah cukup.
"Ya Tuhan ... jadi sekarang gue lagi ngomong sama hantu!"
Alvaro rasanya gemas melihat kepolosan Kanaya. Ia semakin tidak tahan untuk memeluk dan menyalurkan rasa yang selama ini ia pendam.
"Emang hantu bisa meluk kaya gini yah?" Sebanyak mungkin Alvaro menghirup aroma gadis di depannya yang sangat ia rindukan.
Kanaya hanya diam terkejut saat merasakan sebuah pelukan tiba-tiba. Ia berkali-kali menyadarkan diri, kalau ini bukan mimpi. Pelukan hangat ini terasa nyata, sungguh ini sangat nyata. Bahkan aroma mint ini adalah aroma favoritnya dan hanya dimiliki oleh dia.
Kanaya melepas pelukannya. Ia meraba-raba wajah cowok di depannya. Sungguh Kanaya benar-benar bisa menyentuhnya. Jadi ini benar-benar nyata bukan mimpi. Gerakan tangannya terhenti saat sebuah tangan menghapus air matanya lembut secara perlahan.
"Sejam lagi kayaknya tempat ini bisa banjir gara-gara banyaknya air mata lo." Mata Alvaro hanya fokus menatap mata indah Kanaya.
"Alvaro?" tanya Kanaya parau disela-sela isak tangisnya.
"Iya ini gue. Kenapa tambah ganteng yah?" goda Alvaro sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
Kalau dalam keadaan biasa, mungkin Kanaya sudah kembali membalas ejekan Alvaro barusan. Tapi sekarang rasanya ejekan itu malah bisa membuat Kanaya semakin lega mendengarnya.
Tanpa Kanaya sadari wajah mereka semakin dekat. Kanaya seakan terhipnotis oleh tatapan sendu milik Alvaro.
Hidung mereka sudah saling bersentuhan dan refleks Kanaya memejamkan mata. Ia seakan telah siap menerima apapun yang akan cowok itu lakukan padanya.
Sementara Alvaro tersenyum samar, saat melihat Kanaya telah menutup mata. Alvaro senang karena bukan hanya ia yang merasakan perasaan rindu. Bukan hanya ia yang tersiksa dan menginginkan hal ini sekarang.
"Your mine," ucapnya lembut.
Akhirnya benda lembut itu kembali bisa Alvaro rasakan. Demi apapun yang dipunya saat ini, ia rela menukar apapun itu demi bisa merasakan rasa manis ini setiap saat.
******* pertama hampir Alvaro bisa rasakan, hingga kegiatannya tiba-tiba terganggu oleh suara tepuk tangan.
"Waw ... waw ... gue terasa kaya nonton drama korea secara live loh."
Vino menatap jengkel kebodohan akut Dirgo. Ia saat ini benar-benar merutuki sikap bodoh Diego.
"**** si *****! Kenapa lo malah tepuk tangan. Bangunin macan yang lagi tidur aja. Udah gue bilang kita penonton gelap. Bukan terang-terangan." Sementara Diego meringis saat Vino menjitak kepalanya.
"Keceplosan ... kebiasaan gue kalau nonton yang hawanya panas-panas gitu gak tahan kalo gak ngomong. Apalagi live kaya tadi." Diego tersenyum kikuk saat melihat tatapan tajam orang-orang di sekitanya. Apalagi Alvaro tatapannya seakan sudah siap membunuhnya.
Sementara Kanaya sudah sangat malu setengah mati. Ingin dia pura-pura pingsan atau amnesia saat ini supaya dia lupa tentang kejadian barusan.
"Oh ... iya Kanaya gue baru sadar kalo lo pake baju tidur?" tanya Rio mengalihkan perhatiannya ke Kanaya.
Ini pertama kalinya Kanaya ingin mengutuk Rio. Kenapa disaat suasana masih canggung dan malu dia malah membahas masalah baju. Itu hanya menambah daftar malu Kanaya saja.
"Eh ... iya gue baru sadar. Kalo Kanaya pake baju tidur," seru Diego antusias. Sekarang sudah berpindah posisi di samping Kanaya, melihat bajunya lebih dekat.
Sementara Alvaro hanya tersenyum penuh arti melihat Kanaya, semakin membuat Kanaya tersenyum kikuk di perhatikan oleh mereka.
Bunuh aja deh gue sekarang. Sungguh gue gak sanggup nahan malu ini ya Tuhan!
"Itu tadi aku buru-buru ke sini, jadi itu aku ...."
"Elah ... kita diusir. Udah kaya kacang lupa kulitnya aja lo, sialan!" omel Diego.
"Ok ... kita balik duluan. Kita pamit yah ... Kanaya. Hati-hati si Alvaro maennya kasar," goda Rio sambil mengedipkan sebelah mata jahil.
Kanaya akhirnya bisa bernapas lega saat ketiga cowok itu telah pergi.
Cup..
Kanaya baru sadar ternyata kepergian ketiga cowok itu bukan hal baik. Karena Kanaya akhirnya hanya tinggal berdua dengan Alvaro. Sebuah kecupan di pipi barusan membuat Kanaya semakin canggung didekat cowok itu.
Apalagi jantungnya saat ini sedang dalam bermasalah saat berdekatan dengan cowok di sampingnya. Satu hal yang harus diingat jika cowok di samping itu adalah cowok mesum yang harus dihindari untuk berduaan di tempat sepi seperti ini.
"Gue laper," rengek Alvaro memecah keheningan di antara mereka.
Kanaya jadi merasa geli sendiri sekarang. Saat ia tengah berpikiran negatif tentang cowok di sampingnya. Sementara cowok itu dengan polosnya merengek meminta makan seperti anak kecil sekarang.
"Kok lo malah senyum gue laper nih. Dari tadi pagi belum makan nih," rajuk Alvaro yang lebih mirip anak 5 tahun meminta permen.
"Kalo tau laper kenapa malah ikut balapan," sindir Kayana yang tengah berusaha menyembunyikan senyumannya.
Alvaro menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya bingung untuk membalas ucapan Kanaya. Karena jujur dan berbohong tidak akan membatunya sekarang.
"Itu karena lo," balas Alvaro yang membuat Kanaya kaget atas jawabannya.
"Kok gue? Hubungannya apa sama gue? Gue gak mau yah dijadiin kambing hitam di sini," protes Kanaya tidak terima.
"Emang kambing hitam ada yang secantik lo?" tanya spontan Alvaro berhasil membuat Kanaya diam.
Kanaya merasa udara di sekitarnya mendadak terasa panas. Ia jadi berpikir itu mungkin karena faktor suhu yang mendadak naik.
"Kok muka lo merah? Lo demam yah?" Sebelah tangan Alvaro sekarang sudah menyentuh kening Kanaya.
"Enggak panas kok. Badan lo malah terasa dingin. Terus kenapa muka lo merah?" tanya Alvaro yang masih sibuk memperhatikan wajah Kanaya.
Sementara Kanaya yang diperlakukan seperti itu oleh Alvaro hanya terdiam. Mencoba menormalkan detak jantungnya yang kembali menggila.
"Apaan sih gak jelas banget sih lo?" Kanaya berusaha menjauhkan wajah dari Alvaro.
Alvaro tersenyum samar melihat sikap Kanaya. Ia bukannya bodoh dan tidak tahu untuk mengartikan semua tingkah Kanaya saat ini. Ia tahu bahwa gadis yang sekarang ada di sampingnya tengah terlihat salah tingkah atas sikapnya barusan.
Kehadiran Kanaya di sini mampu membuat Alvaro senang. Seakan semua kehampaan, keraguan dan sebuah rasa sakitnya hilang dan terjawab oleh munculnya gadis itu.
"Katanya laper ayo kita cari makan."
Kanaya telah berjalan terlebih dulu menuju parkiran yang tak jauh dari tempat mereka sekarang dan Alvaro mengikutinya dari belakang.
"Kenapa?" tanya Alvaro yang melihat Kanaya tiba-tiba berhenti berjalan.
"Mobil lo yang mana? Gue kan gak tau," kata Kanaya malu.
Alvaro semakin gemas yang melihat sikap Kanaya sekarang lalu mencubit kecil kedua pipi Kanaya yang membuatnya cemberut sekarang.
"Makannya nanya dulu, jangan main pergi aja. Gue gak bawa mobil tapi pake motor," jawab Alvaro menjawab kebingungan Kanaya yang mencari keberadaan mobilnya.
Seakan teringat sesuatu Kanaya berusaha mengejar Alvaro yang sudah berjalan di depan dan memegang pergelangan tangannya.
"Ada apa?" tanya Alvaro yang telah membalikan tubuhnya menghadap Kanaya
"Kata temen-temen lo katanya motor lo warna putih. Tapi kenapa sekarang motor lo warna biru," tunjuk Kanaya ke sebuah motor yang kini sudah diduduki Alvaro
"Lo pikir motor gue cuman satu doang," jawab Alvaro sambil menaikan kedua alisnya sombong.
"Mana gue tau lo punya motor berapa Gue juga gak mau tau," balasnya galak.
"Tapi sekarang lo udah tau kan. Jadi sebagai pemberitahuan lagi, motor ini motor baru gue dan belum ada yang tau selain lo."
"Wah ... gue ngerasa terhormat sebagai yang pertama tau. Sumpah menurut gue itu gak penting," ujar Kanaya galak. Emang sifat sombong itu sudah mendarah daging untuk Alvaro dan Kanaya mencoba sabar untuk itu.
"Iyalah ... yang terpenting kan guenya yah. Motornya gak penting, buktinya tadi aja lo sampai nangis histeris nangisin gue," balas Alvaro yang mampu membuat Kanaya bungkam seketika.
"Berengsek!" sentak Kanaya berusaha menahan malu.
Alvaro semakin terkekeh geli melihat Kanaya cemberut karena itu sangat terlihat lucu.
"Ya udah ayo naik. Kita cari makan ini udah malem banget, tapi tunggu bentar ... nih."
Alvaro menyerahkan sebuah jaket yang dipakainya tadi ketubuh Kanaya.
"Bisa pakai sendiri atau mau gue pakein?" tanya Alvaro yang semakin dibuat gemas oleh muka merah Kanaya saat ini.
"Gue bisa pake sendiri," balas Kanaya cemberut.
"Ya udah ayo naik!" perintah Alvaro saat melihat Kanaya telah selesai memakai jaket.
"Yakin kita mau naik motor?" tanya Kanaya hati-hati.
"Ya iyalah naik motor, masa motornya mau kita gotong."
"Tapi maksudnya ...."
Lo kan punya trauma naik motor?
"Hey ... kenapa ngelamun ayo cepat naik ... udah laper nih!"
Kanaya mengerjap beberapa saat, kemudian tersenyum kikuk lalu menganggukan kepalanya.
"Ya udah ayo!"
Percaya, hanya mengadalkan kata itu Kanaya mempercayakan semuanya pada Alvaro. Entahlah walaupun rasa takut itu masih ada, tapi Kanaya yakin Alvaro tidak akan menempatkan dirinya dalam posisi bahaya. Ia hanya mampu tersenyum lega mengingat semua kejadian barusan. Walaupun keadaannya dan Alvaro bukan dalam tahap lebih dalam, tapi setidaknya saat ini mereka kambali seperti dulu.
Bagi Alvaro, Kanaya adalah rumah barunya untuk pulang sekarang. Karena untuk pertama kalinya Alvaro merasa dianggap kehadirannya ada. Apa yang gadis itu lakukan hari ini untuknya, adalah perhatian yang tidak pernah didapatkan semenjak kejadian itu.
"Your mine."
Mulai detik ini Alvaro janji kepada dirinya sendiri. Bahwa gadis yang sekarang ada di atas motornya adalah gadis miliknya untuk selamanya. Apapun yang terjadi ia akan berusaha untuk menjaga gadis itu dan secara perlahan akan membawa gadis itu masuk ke hidupnya.
Thanks for reading 💜
Jangan lupa vote & komen💜