
Happy and enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏
Biarkan rindu yang berbicara betapa berat ia tanggung saat ini..
Biarkan rindu yang berbicara betapa dia berjuang untuk menunggu balasan...
🐰
"95 loncat ... 96 loncat ... 97 loncat ... 98 loncat dan ah ... sial kenapa gue gak ngantuk-ngantuk sih!"
Saat ini Kanaya tengah mempraktekan konsultasi dadakannya tadi dari Ardi. Ia menanyakan cara ampuh untuk cepat tidur. Ardi bilang dengan cara menghitung domba loncat sampai 100 dijamin ia langsung bisa tidur.
"Apa gue salah yah ... cara loncatin dombanya? Tapi yah ... domba loncat kaya gitu. Emang kaya gimana lagi gayanya? Mau gaya kodok, terus gaya ngapung. Lah mang domba mau renang ... ya udah gue coba lagi. Sekarang serius Nay ... serius Nay."
Kanaya mulai kembali menghitung dan membayangkan domba-domba yang sedang loncat. Tiba-tiba ia tersenyum saat membayangkan domba yang dihitung menjadi berwarna-warni. Kemudian berubah menjadi domba yang ada di tokoh serial kartun 'shaun the seep'. Lalu ada anjing penjaganya, terus para domba itu pada main bola. Lah kok jadi ngawur?
"Nah loh ... mulai ngaco. Kenapa jadi ngebayangin shaun the seep lagi main bola?"
Kanaya benar-benar frustrasi saat ini. Ia menggulingkan badannya ke kanan, ke kiri bahkan ke segala arah agar bisa tidur. Sampai tempat tidurnya seperti sebuah tempat tampungan untuk korban tsunami.
"Ih ... kenapa hidup gue drama banget sih sekarang? Kenapa otak dan hati gue dipenuhin tuh cowok sialan?"
Kanaya merasa hidupnya sekarang benar-benar kacau. Ia juga tidak mengerti kenapa menjadi semerana ini semenjak kejadian itu. Kejadian 3 hari yang lalu di rootrof sekolah dengan si Alvaro, cowok sialan itu. Kanaya pikir perasaan sakit dan kehilangan waktu itu hanya bertahan sementara. Tapi kenapa sekarang masih ada episode-episode lanjutannya, belum end. Sudah seperti sinetron saja.
"Galau kan gue jadinya. Galau sama cowok sialan yang gue benci. Bener kata Maya, kayaknya gue beneran kena pelet semar mesem nih."
Saat di sekolah tadi Maya yang tidak tahan melihatnya seperti ayam terkena flu burung, katanya. Entahlah kanaya juga tidak mengerti, kenapa setiap ia melamun Maya selalu bilang kalau ia seperti ayam terkena flu burung. Apa ia mirip ayam? Tapi tidak mungkin kan?
"Nay ... lo persis kaya ayam tetangga gue yang kemarin mati kena flu burung. Apa lo kena pelet semar mesem Nay?" celetuk Maya saat itu.
Kanaya hanya geleng-geleng saat kembali mengingat omongan konyol plus ngawur Maya. Ia makin menggeleng saat otaknya kembali setuju dengan teori gila Maya.
"Please ... pergi dari otak gue dan lupakan!"
Kanaya berharap malam ini ada dua batu besar yang bergelantung di matanya. Supaya matanya terasa berat untuk terbuka, lalu bisa menutup dan tertidur. Tapi bukannya tambah ngantuk matanya malah semakin cerah. Seperti terbangun cerah saat melihat tumpukan uang di depannya.
"Sekalian aja gue mainin permainan shaun the sheep yang lagi rebutan bola warna-warni. Tanggung kan tadi si shaun the sheep udah main bola di kepala gue. Pake bulu yang warna-warni lagi."
Akhinya Kanaya menyerah untuk berusaha tidur. Percuma setiap kali dia mencoba untuk berusaha tidur tapi otaknya malah menjadi ngawur kemana-mana. Malah tadi ia sempat membayangkan Justin Bieber dan Joen Jongkok BTS ikut meloncat dengan domba-domba menggunakan baju pink. Semakin tidak jelas!
"Imsomnia emang menyiksa. Pasti tuh cowok sialan lagi ketawa jahat di tempatnya sana. Karena udah berhasil ngebuat gue merana kaya terkena semar mesem sialan ini," decaknya frustrasi.
Saat ia tengah asyik bermain game. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan bunda. Matanya refleks melihat jam weker di meja samping tempat tidur.
"Ini udah jam 01:20 pagi. Kok Bunda bisa terbangun jam segini. Pasti ada yang gak beres."
Setelah mempause game-nya Kanaya langsung berlari ke kamar bunda.
"Bunda ... kenapa? Ada apa?" tanyanya berusaha selembut mungkin untuk tidak membuat bunda terkejut dan kaget.
Kanaya terus menyusuri seluruh penjuru di ruangan kamar bunda yang gelap. Hanya diterangi oleh cahaya lampu tidur. Matanya terpaku saat melihat bunda sedang duduk di kursi dekat jendela, dengan mata yang terfokus pada sebuah buku. Tapi setelah Kanaya lihat lebih jelas ternyata itu bukan sebuah buku biasa. Tapi sebuah album foto dan Kanaya tahu iyuy album foto apa.
"Bunda ngapain di sana? Emangnya Bunda lagi liatin apa?" tanyanya lagi begitu pelan.
Saat Kanaya sudah berada di samping bunda. Ia berusaha tidak menimbulkan suara-suara yang bisa membuat bunda kaget dan terkejut. Kalau bunda sampai terkejut dan kaget, sudah bisa dipastikan ia benar-benar akan terjaga sampai pagi. Bahkan sudah dipastikan ia akan benar-benar seperti orang yang terkena semar mesem.
Nah loh kok, baliknya semer mesem lagi. Lagi demam semar mesem nih otak.
"Kamu kenal saya?"
Satu pertanyaan yang mampu membuat Kanaya merasakan sebuah sakit. Rasanya benar-benar tidak bisa dijelaskan lewat sebuah kata. Mati-matian Kanaya menggigit bibir bawah. Berusaha untuk menahan air matanya agar tidak lolos.
Akhirnya sebuah anggukan yang mampu Kanaya berikan untuk menjawab bunda. Karena rasanya satu katapun saat ini tak mampu keluar dari mulutnya tanpa sebuah air mata ikut mengiringinya. Kanaya juga tidak mau Bunda melihatnya sedang menangis.
Sekali lagi Kanaya mencoba melihat Bunda, yang kini tengah menatap penuh harapan dan penuh senyum. Ia tahu mungkin sekarang ia egois, karena masih bisa-bisanya merindukan senyuman yang dulu selalu ia lihat di wajah Bunda.
"Kamu bisa antar saya kan? Saya mau ketemu keluarga Rajasa. Saya mau minta pertanggung jawaban mereka atas hancurnya keluarga saya."
Kanaya berharap Tuhan tidak akan menghukumnya. Karena sekali lagi dia akan berbohong untuk yang kesekian kalinya pada Bunda.
"Iya ... besok Naya antar yah, tapi sekarang Bunda tidur lagi. Besok kan kita harus bangun pagi-pagi buat pergi ke sana."
Seperti memberikan sebuah permen kepada anak kecil untuk merayunya. Maka segampang itu pula Bunda menganggukan kepala tanda setuju atas kebohongan Kanaya kali ini.
Kanaya membimbing Bunda untuk tidur. Kemudian ia menyelimuti Bunda dan memberikan sebuah kecupan di keningnya. Ia lalu mengambil sebuah album foto yang tadi dilihat oleh Bunda.
Sebuah perasaan sesak kembali ia rasakan. Mati-matian Kanaya menahan air mata agar tidak jatuh. Tapi seberapa keras berusaha, seberapa deras juga air matanya jatuh. Matanya terfokus pada sebuah sosok wajah yang selalu ia rindukan kehadirannya. Sosok yang selalu melindunginya. Sosok yang selalu menggendongnya seperti menaiki pesawat mengelilingi kompleks serta sosok yang selalu memberikannya permen dan eskrim saat ia menangis.
"Harusnya kali ini ayah berikan Naya sebuah permen dan eskrim. Lihat Naya sekarang lagi nangis loh yah."
Kanaya berusaha menutup mulut dengan sebelah tangan, agar isak tangisnya tidak terdengar dan mengganggu tidur Bunda.
"Rajasa," gumamnya lirih.
Ayahnya dulu selalu mengajarkannya untuk tidak membalalas dendam. Karena ayah bilang jika api dibalas dengan api tidak akan pernah ada ujungnya. Tapi jika api dibalas dengan air, dengan sendirinya dan berjalannya waktu semuanya akan berakhir.
Biar Tuhan yang membalas semuanya. Karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya. Rasanya akan terlihat sombong jika kita menghakimi makhluk yang Tuhan ciptakan sama seperti kita. Karena menyimpan amarah dan dendam hanya akan membuat hidup kita penuh tekanan. Terkadang memaafkan adalah cara terbaik untuk semuanya.
**
"Gimana udah bisa dihubungi tuh anak?"
Sebuah gelengan yang yang Rio berikan untuk menjawab pertanyaan yang kesekian dari Diego.
"Kira-kira kemana yah dia? Tau gak lo Vin?"
Diego menyenggol Vino dengan sikunya. Sementara Vino hanya mengedikan bahu dan kembali fokus ke ponsel.
"******* lo Vin! Disaat kaya gini, disaat temen lo ngilang gak ada kabar beberapa hari. Tapi lo masih asyik dengan game lo!"
Vino mempause gamenya, membuang napas kasar. "Terus lo pikir dengan lo terus bawel kaya emak-emak di kompleks gue kaya gitu bakal nemuin Alvaro hah?" tanya balik Vino sengit.
"Yah ... setidaknya gue ada usaha dong buat nyari lewat mulut. Dari pada lo yang malah asyik sama game."
"Heh ... ******* dipikir dengan mulut lo itu bisa ngebantu buat nemuin si Alvaro! Lo tau yang ada tingkah lo bikin kita tambah pusing."
Diego hanya mengerucutkan bibir kesal atas ucapan pedas Vino. Diego heran kenapa mulut temannya itu pedas jika bicara. Padahal sekarang harga cabe sedang mahal. Jadi mana mungkin kan dia kebanyakan makan cabe?
"Kejem lo Vin," rajuk Diego.
Vino hanya mendengus malas. "Dasar alay," balasnya datar.
"Kemana lo Rio?" tanya Vino yang pertama sadar akan kepergian Rio.
"Gue gak mau jadi orang ketiga diatara hubungan kisah percintaan kalian berdua. Mending gue nemuin ceweknya si Alvaro," jawab Rio santai tanpa menghentikan langkah.
"Anjing berengsek lo yah! Diem di situ *******!" teriak Vino geram. Saat ini Vino tengah berjalan menyusul Rio, meninggalkan Diego yang masih bingung.
"Kok gue jadi pusing yah. Sebenarnya kisah cinta siapa sih maksudnya? Terus siapa yang lagi bercinta di sini? Sumpah gue gak ngerti."
Diego akhirnya sadar semua teman-temannya sudah pergi. "Woy tungguin gue napa? Elah gue ditinggal."
Diego hampir terjatuh saat celananya menyangkut kursi saat akan berlari.
sreek.....
"***** celana gue sobek!"
**
"Apa salah dan dosaku sayang? Cinta suci ku kau buang-buang. Lihat jurus yang kan kuberikan semar mesem."
Kalau tidak mengingat jika ini sedang berada di sekolah, mungkin Kanaya sudah melempar meja dan kursi kepada kedua teman gilanya yang sedang asyik bernyanyi di depan. Kanaya tidak habis pikir kenapa dua teman gilanya itu bisa-bisanya menyanyikan lagu 'Semar- mesem', yang secara tidak langsung menyentuh nuraninya untuk ikut bernyanyi? Nah loh ... maksudnya membuat dia semakin setres.
"Asyik Bobi ... Bayu tarik jangan sampai putus. Goyang mang!" teriak Maya heboh di samping Kanaya.
Kanaya mengumpati Maya dengan sumpah serapahnya, yang terlihat begitu heboh sekarang. Apa dia tidak tahu bahwa saat ini Kanaya sudah siap memakannya saking kesalnya!
"Berisik May napa? Kenapa gak sekalian aja lo ikutan nari dan joged sama dua biduan receh di depan sana," ujar kanaya sinis.
Di luar prediksi Kanaya, kalau Maya akan tersinggung dengan ucapannya. Tapi sebaliknya Maya terlihat sangat antusias dengan sarannya.
"Bener juga saran lo Nay. Ya udah gue ke depan dulu deh. Woy gue juga mau nyumbang suara emas gue juga nih!"
Kanaya menatap malas, saat Maya sekarang dengan hebohnya sudah berjoged dan bernyanyi gila bersama dua biduan receh di depan. Kalau suasana hatinya sedang baik mungkin Kanaya sekarang juga akan berteriak sama hebohnya seperti Maya. Tapi Tolong sekarang suasana hatinya benar-benar buruk terus ditambah lagi, kenapa mesti bernyanyi lagu semar mesem? Memangny tidak ada lagu yang lain apa?
"Sumpah kali ini gue lebih milih belajar pelajaran Kimia yang super pusing bareng pak Bambang Guru killer. Ketimbang dengerin mereka nyanyi lagu semar mesem."
Hari ini Kanaya benar-benar ingin mengutuk Pak Bambang. Kenapa ia hari ini berhalangan hadir? Kenapa momennya tidak pas? Disaat dia sedang malas belajar, guru itu selalu hadir. Tapi sekarang saat dia sedang mau belajar guru itu malah tidaj hadir. Sebenarnya alasan utamanya bukan mau belajar juga. tapi benar-benar sedang malas mendengar lagu semar mesem.
"Mending tidur."
Kanaya telah menelungkupkan kepalanya di atas meja. Menjadikan kedua tangan sebagai sandaran. Ia berharap bisa tidur untuk membuat pikirannya lebih tenang.
Saat Kanaya yang mulai masuk ke dunia mimpi. Tiba-tiba ia merasakan suasana kelasnya berubah hening.
Mungkin pita suara mereka udah rusak. Jadi udah gak bisa nyanyi lagi.
Saat Kanaya mulai kembali masuk ke dunia mimpi lagi. Ia merasakan beberapa langkah kaki berjalan mendekat ke arahnya.
Mungkin Maya.
Saat kanaya akan kembali melanjutkan tidur. Tiba-tiba Kanaya merasakan tubunya dicolek-colek, lalu ia mendengar Maya yang berbisik.
"Pssss ... psssss ... pssss Nay ... bangun Nay."
Kanaya tidak habis pikir apa maunya Maya. Kenapa ia mengganggu acara tidurnya. Kanaya mencoba mengacuhkan Maya dan kembali melanjutkan tidur, tapi colekan-colekan di tubuhnya tidak berhenti dan malah semakin menjadi. Akhirnya Kanaya tidak tahan untuk memarahi Maya yang mengganggu tidurnya sedari tadi.
"Apaan sih May? Kalo lo mau semar-mesem tinggal semar-mesem aja napa sama dua biduan receh itu. Jangan ganggu gue mau tidur!" bentak Kanaya.
Tapi tunggu ... bukan wajah Maya yang Kanaya lihat pertama kali saat mendongakan kepalanya tapi orang lain. Kanaya mulai mencari sosok Maya di ruangan kelasnya. Akhirnya ia menemukan Maya yang masih berdiri di depan kelas. Terus jika Maya ada di sana lalu siapa yang mencoleknya sedari tadi. Tidak mungkin kan mereka?
"Lo Kanaya kan? Kita bisa ngomong bentar gak?" tanya cowok yang mempunyai senyuman semanis gula menurut Kanaya.
Sebenarnya jiwa centil Kanaya sudah sangat ingin beraksi untuk berteriak heboh saat ini. Tapi melihat ketiga cowok itu yang tidak dikenal dan menjadi pusat perhatian di kelasnya. Sepertinya dia harus bisa menjaga harga diri saat ini.
"Gue yakin selain lo cantik, lo juga punya telinga yang masih berfungsi buat denger omongan kita," ucap Cowok yang matanya masih sibuk dengan ponsel.
Kanaya tidak habis pikir ternyata ada juga cowok tampan yang mulutnya melebihi pedasnya cabai. Kanaya bisa melihat cowok yang tadi punya senyuman manis menyenggol cowok yang bermulut pedas dan hanya dibalas dengan mengedikan bahunya tidak peduli.
"Kita temennya Alvaro. Lo pasti kenal kan? Kita mau ngomongin soal dia sama lo," ujar cowok pemilik senyum manis lagi.
"Ternyata lo cantik juga kalo dilihat deket gini," seru cowok pemilik senyum lebar. Selebar jalan tol.
"Lo mau kan ikut kita buat ngomong bentar?"
Kanaya hanya diam mematung, saat ketiga orang cowok tampan berbeda jenis dan karakter berbicara di depannya.
"Jadi lo mau kan?"
Sumpah Kanaya rasanya ingin membawa pulang cowok yang mempunyai senyuman semanis gula itu.
" Ok," jawab Kanaya akhirnya gelagapan.
Akhirnya Kanaya pergi bersama ketiga cowok itu, yang tak lain teman-temannya Alvaro. Meninggalkan Maya dan teman-teman kelasnya yang melihat penasaran dan heboh.
Rindu dan khawatir adalah dua kata yang berbeda arti, tapi sarat dengan makna yang sama. Kanaya tidak pernah tahu, bahwa ia akan merasakan perasaan rindu dan khawatir dalam satu waktu yang sama dengan orang yang Kanaya bahkan benci kehadirannya.
Sebenarnya kemana sih tuh cowok? kok udah beberapa hari gak masuk. Terus gak ada kabar lagi sama teman-temannya.
Ada hubungannya sama gue gak yah? Eh ... kenapa gue jadi geer gini sih.
Apa dia baik-baik aja? Ah ... bodo amat, mau dia kenapa-kenapa juga bukan urusan gue.
Kanaya pikir suasana sepinya Danau belakang sekolah di sore hari, bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Tapi kenyataannya sama saja, sama-sama kacau. Kanaya ingat pembicaraannya tadi bersama ketiga cowok ganteng yang tak lain adalah teman-temannya Alvaro itu.
"Alvaro udah 4 hari ini gak masuk. Terus dia gak ada kabar dan nomernya gak bisa dihubungin."
"Lo tau si Alvaro kemana? Lo kan pacarnya."
"Kita khawatir. Takut kenapa-napa sama dia. Takutnya dia diculik. Itu loh kasus penculikan cowok ganteng kan ada ya gak?"
Sebenarnya perasaan macam apa yang Kanaya rasakan sekarang? Rindu dan khawatir. Tapi atas dasar apa perasaan sentimentil semacam itu tumbuh di hatinya untuk cowok itu.
Kanaya harap ini hanya perasaan sementara dari Tuhan. Karena untuk perasaan sentimentil semacam apapun Kanaya belum siap untuk saat ini.
Untuk itu kali ini Kanaya akan membiarkan semuanya berjalan apa adanya sekarang.
Biarkan rindu yang berbicara dengan caranya sendiri. Karena Kanaya tahu seberapa keras dia menolak, seberapa keras juga rindu itu semakin dalam.
Thanks for reading💜
Jangan lupa vote & comment💜