Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
32. Semua Tentang Dia



**Happy & enjoy reading💜


Maaf untuk typo🙏


Song _ Samsons _ Kenangan Terindah**


*karena raga memang telah meninggalkan.


Tapi kenangan akan selalu hidup bersama orang-orang yang sangat menyayanginya...


🐰*


Ceklekkk....


Kanaya menarik dan menghembuskan napas secara kasar berulang-ulang. Dalam hati Kanaya selalu merapalkan mantra, jika ia bisa dan kuat untuk melakukan ini.


Ini satu minggu setelah kepergiannya. Kanaya butuh waktu selama itu untuk bisa menerima dan mengikhlaskan kepergiannya. Walau harus ia lewati dengan tangisan saat kembali mengingat dan merindukannya. Beruntung selalu ada Alvaro yang menemani di sisinya.


"Kamu Kanaya kan?"


"Saya kakaknya Ardi. Nama saya Dinda."


"Saya harap kamu bisa datang ke rumah saya. Ada sesuatu yang ingin saya berikan dan tunjukan ke kamu."


Itu adalah percakapan via telpon Kanaya dengan Ka Dinda, yaitu kakaknya Ardi. Percakapan itu terjadi sekitar tiga hari yang lalu.


Kanaya baru bisa datang sekarang, itu juga karena ada Alvaro yang mengantar ke sini. Saat ini Cowok itu sedang menunggunya di luar. Katanya Kanaya butuh privasi. Iya ... dia memang butuh sendiri.


"Kak ... gue datang ke sini."


Kanaya menarik kain putih panjang yang terbentang luas di ruangan ini.


"Ya ampun Kak .... " Air mata yang Kanaya tahan sedari tadi akhirnya terjatuh juga.


Kanaya terkejut saat melihat pemandangan di depannya. Ia tak menyangka jika Ardi bisa sampai melakukan sejauh ini.


Sayangnya Kanaya mengetahui semua ini setelah ia telah kehilangan sosoknya untuk selamanya.Tanpa sadar tubuhnya telah ambruk terduduk di lantai. Tangisnya semakin pecah.


Kanaya benar-benar tidak menyangka jikq ruangan ini ada adalah ruangan pribadi Ardi. Ruangan di mana Ardi biasa menenangkan diri dan mencurahkan semuanya di sini dalam sebuah lukisan. Hal yang paling membuatnya semakin tidak menyangka dan semakin sedih. Jika ruangan ini adalah tempat melukis Ardi, di mana semua lukisannya adalah semuanya dirinya.


"Apa maksud semua ini Kak? Kenapa lo pergi tanpa pamit? Tanpa jelasin apapun sama gue?" jerit Kanaya pilu. Memukul dadanya berulang.


Kanaya merasa sakit seperti rasa sakit sebuah debu yang ditaburkan ke atas api yang membara. Saat dia masih menjadi partikel-partikel kecil yang belum terbentuk, tapi dengan terpaksa harus merasakan rasa panasnya api yang membara membakar dirinya. Hancur tak tersisa.


"Kak ... gue gak sanggup Kak. Gue gak sanggup Kak ...." Kanaya meremas bagian dadanya, seakan bisa meremas dan membuang semua rasa sakitnya.


Tangis Kanaya benar-benar pecah sekarang. Kanaya pikir ia telah benar-benar ikhlas dan rela untuk melepas kepergiaannya. Tapi ternyata semuanya masih sama, masih SAKIT.


Terdengar sebuah pintu yang terbuka dan tertutup secara perlahan.


Dinda terdiam saat melihat Kanaya sedang duduk di atas lantai, dengan suara isakan tangis yang terdengar sangat begitu pilu. Sebelum berjalan menghampiri Kanaya, ia menyimpan sebuah kotak yang tadi ia pegang di atas meja.


Dengan gerakan perlahan  Dinda ikut duduk di samping Kanaya. Sebelah tangannya mengusap lembut kepala Kanaya, membuat Kanaya menoleh ke samping. Keadaan Kanaya sekarang membuat Dinda ikut terluka.


Di ... lihat bukannya kamu janji akan selalu membuatnya bahagia. Tapi lihat sekarang kamu sudah berhasil membuatnya sedih.


"Kak ... tolongin jelasin sama aku, sebenarnya apa yang terjadi pada Kak Ardi?" tanya Kanaya histeris sangat butuh penjelasan untuk semua ini.


Dinda menghapus air mata Kanaya secara perlahan. Ia benar-benar tidak tega melihat kondisi gadis di depannya. Tapi memang harus mengatakan semuanya, karena gadis itu berhak tahu. Karena Kanaya adalah satu-satunya gadis istimewa dan berarti untuk adiknya. Ia menarik sejenak napas. Secara perlahan mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mulai bercerita.


"Dari kecil, dari umur dia 3 tahun ia sudah di ponis penyakit Leukimia. Ia harus hidup dengan meminum obat setiap harinya."


Ada jeda dalam ucapannya. Menceritakan tentang Ardi membuat Dinda harus kembali mengingat tentang orang tuanya dulu saat masih ada.


"Kata Dokter waktu itu kondisi Leukimia Ardi masih tahap stadium awal. Masih bisa disembuhkan dengan pengobatan jalan dan rutin minum obat. Tapi tetap untuk bocah sekecil itu harus hidup dengan rumah sakit dan obat, sungguh rasanya sangat tidak adil." Dinda akhirnya menangis membuat Kanaya semakin terisak.


"Masa kecil dan bermainnya terenggut. Tapi saat itu ayah sama Bunda masih ada. Mereka selalu memberikan perhatian untuk aku dan Ardi khususnya. Sampai akhirnya ia bisa kuat dan menjalani pengobatan penuh semangat. Tapi tepat usia Ardi menginjak 17 tahun, ayah dan bunda meninggal dalam kecelakaan pesawat. Meninggalkan aku dan Ardi berdua di dunia ini."


Ya Tuhan Kak ... kenapa lo gak pernah cerita?


"Aku dan Ardi hancur dan sangat sedih. Tapi kita untungnya masih punya seorang kakek yang mau merawat kita. Setelah kejadian itu Ardi tumbuh menjadi sosok yang lebih pendiam. Ia tidak mempunyai semangat hidup lagi. Ia bahkan tidak mau melakukan pengobatan dan meminum obatnya. Yang lebih parahnya setelah lulus SMA, ia tidak mau melanjutkan kuliah dan memilih hidup tidak jelas."


Dinda mengusap kasar air matanya lalu menatap Kanaya dan tangannya menggenggam kedua tangan Kanaya.


"Hingga akhirnya ia bertemu seseorang. Seorang gadis yang mampu membuatnya kembali mempunyai semangat hidup. Seorang yang mampu membuatnya kembali mempunyai alasan untuk tetap bertahan hidup."


Dinda lalu memeluk Kanaya. Sungguh gadis dalam pelukannya sangat berarti untuk Ardi dan untuknya mungkin mulai saat ini.


"Terimakasih karena kamu sudah hadir di kehidupan Ardi. Terimakasih karena kamu sudah membuat Ardi kembali merasa bahagia dan mempunyai alasan untuk kembali menjalani hidup. Ardi sayang banget sama kamu. Bukan rasa sayang seorang kakak ke adik, tapi rasa sayang seorang kelaki ke seorang gadis."


Kanaya melepaskan pelukannya secara perlahan. Ia menatap Dinda yang tengah tersenyum ke arahnya.


Kanaya menggeleng mencoba menyangkal sebuah pengakuan dari Dinda. Karena ia tahu Ardi menyayanginya karena sudah dianggap adik oleh Ardi. Begitupun sebaliknya, tapi bukan menyayangi dalam konteks itu.


"Kalau dia emang sayang sama aku. Kenapa dia gak pernah ngomong soal itu ke aku?  Kenapa dia pergi tanpa pamit seperti ini?" Kanaya berteriak meluapkan semua emosinya. Ia bahkan sudah tidak peduli jika berlaku kurang sopan ke Dinda.


Dinda kembali memeluk Kanaya. Mengusap pelan kepala Kanaya berharap dengan cara seperti itu bisa sedikit menenangkan gadis yang menangis dalam pelukannya.


"Karena cinta dia sederhana ke kamu. Dia terlalu mencintai kamu dan selalu ingin berusaha membahagiakan kamu." Dinda tahu ucapannya akan menambah kesedihan Kanaya.


Kanaya menggeleng pelan. "Kalau dia sayang dan cinta sama aku, terus kenapa dia bikin aku sakit dan sedih sekarang?" Kanaya melepaskan pelukannya lalu menatap dinda terluka.


Kanaya semakin menangis terisak. "Setidaknya seharusnya pada saat terakhir dia pergi dengan sebuah kata pamit Kak," kata Kanaya lirih. Ia memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi.


"Akhir-akhir ini dia merasa kondisi tubuhnya semakin buruk. Akhirnya dia menyetujui saran dokter untuk melakukan  kemoterapi tapi ...." Dinda menjeda ucapannya, mencoba mencari kekuatan untuk kembali berbicara.


"Tapi kenapa?" tanya Kanaya di sela isak tangis.


"Leukimianya sudah stadium 4. Pada saat kita melakukan kemo, kondisi tubuh Ardi sedang tidak dalam kondisi baik. Sel kanker yang bekembang di tubuhnya semakin cepat membelah diri dan berkembang. Tubuhnya menolak dan akhirnya kemo itu gagal dan menyebabkan Ardi sempat koma beberapa hari."


Kanaya menutup mulut dengan sebelah tangan untuk meredam suara tangisnya.


Selama ini rasanya Kanaya merasa menjadi seseorang yang egois. Ia selalu minta Ardi untuk selalu ada untuknya, tapi sebaliknya ia tak pernah selalu ada untuk Ardi. Kanaya bahkan tidak tahu bahwa Ardi melewati proses hidup sesulit itu.


"Dia sempat sadar dari koma tapi cuman 5 menit. Kamu tahu saat dia sadar, dia hanya bilang ke aku untuk memberikan dan menunjukan ini semua ke kamu."


Tuhan ... bolehkah Kanaya meminta untuk hilang ingatan. Setidaknya saat hilang ingatan ia tidak akan merasakan perasaan sakit seperti ini. Kanaya sangat menyayangi Ardi. Sungguh siapapun tahu bahwa ia sangat menyayangi Ardi. Ardi sangat berarti untuk Kanaya.


"Kamu sangat berarti buat Ardi Nay. Dia ingin kamu bahagia. Dia bakal sedih kalau lihat kamu kaya gini. Kamu harus bangkit. Sosok Ardi memang sudah pergi, tapi cinta dan kenangannya akan selalu hidup buat kita. Bangkit dan bahagia demi Ardi yah," ujar Dinda berharap Kanaya akan jauh lebih kuat setelah ini.


Kanaya menghapus air mata lalu tersenyum, ia memeluk Dinda sangat erat.


"Aku janji Kak bakal bangkit dan bahagia demi Kak Ardi." Kanaya janji demi semua cinta dan kebahagiaan yang Ardi berikan untuknya.


Akhirnya saat ini dan detik ini, dua orang yang sedang berpelukan ini bisa benar-benar merelakan kepergian Ardi. Karena semua cinta Ardi dan kenangannya akan selalu hidup bersama mereka sampai kapanpun.


Selamat jalan Kak Ardi......


"Tunggu!" seru Dinda menggenggam tangan Kanaya saat sudah berada di pintu rumahnya.


"Ada apa Kak?"


Dinda menyerahkan sebuah kotak yang dibawa dari ruangan tadi ke Kanaya. Sebenarnya sedari tadi Kanaya ingin bertanya itu kotak apa? Tapi ia merasa terlalu lancang untuk bertanya seperti itu dan akhirnya lebih memilih diam.


"Ini apa?" tanya Kanaya lagi kemudian mengambil kotak itu dengan tatapan heran.


"Di kotak ini terdapat barang-barang pribadi milik Ardi. Kayaknya kamu lebih pantas untuk menyimpannya."


"Tapi kenapa aku?" Kanaya merasa tidak enak menerima semua barang ini.


"Aku yakin Ardi setuju kalau semua barang ini aku kasih kamu."


"Tapi Kak ...." Kanaya benar-benar masih ragu untuk menerimanya, membuat Dinda menggeleng.


"Ardi pasti mau kamu yang menyimpannya. Terima yah Nay ... demi Ardi. Tolong jaga baik-baik semua barang-barang ini."


Kanaya tersenyum, menghela napas sejenak. "Iya ... aku bakal jaga semuanya demi Kak Ardi. Ya udah aku pamit yah Kak." Kanaya lalu memeluk Dinda sekali lagi.


"Iya hati-hati ... kapan-kapan main lagi ke sini." Kanaya mengangguk dalam pelukan Dinda.


Setidaknya satu hal dari semuanya setelah kepergian Ardi, ia bertemu dengan Dinda satu sosok yang membuatnya merasa lebih berarti lagi .


Kanaya meninggalkan rumah Ardi dengan sebuah harapan dan kehidupan baru. Karena Sosok Ardi sampai kapanpun akan tetap hidup dan akan selalu menjadi salah satu kenangan terindah untuknya.


"Mau langsung pulang?" tanya Alvaro saat melihat Kanaya telah selesai memasang seat beltnya.


Kanaya menoleh, mengangguk pelan. "Pulang aja deh kayaknya," jawabnya lalu menyandarkan tubuh ke jok mobil.


"Gimana?" tanya Alvaro saat telah menjalankan mobil.


"Apanya?"


"Gak jadi deh." Alvaro melirik Kanaya yang saat ini tengah memejamkan mata.


Alvaro tersenyum simpul melihat Kanaya. Ia sedikit lega saat melihat kondisi gadis itu jauh lebih baik dari saat tadi mengantar Kanaya ke sini. Sebelah tangannya mengusap lembut kepala Kanaya pelan, membuat gadis itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.


Alvaro tersenyum. Mencubit gemas pipi Kanaya  "I love you," kata Alvaro.


Kanaya mengedipkan sebelah matanya."I hate you too," balasnya.


Alvaro tersenyum, mengacak pelan rambut Kanaya. Mereka akan melewati semuanya memulai dari awal lagi. Kanaya yakin hidupnya akan jauh lebih baik setelah ini bersama Alvaro.


I love you too Alvaro.


Bila yang tertulis untukku..


Adalah yang terbaik untukmu..


Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku..


Namun takkan mudah bagiku..


Meninggalkan jejak hidupku...


Yang telah terukir abadi...


Sebagai kenangan yang terindah...


**Thanks for reading 💜


Jangan lupa vote & commen💜**