
****Happy and enjoy reading💜
Sorry for typo🙏**
**Jika mencintaimu adalah alasanku untuk bertahan hidup. Maka akan habiskan seluruh sisa hidupku hanya untuk mencintaimu.
🐰
Terkadang kesendirian adalan cara yang yang terbaik untuk melupakan semuanya. Semua kenangan pahit yang pernah kita alami.
Alvaro adalah sososok lelaki yang bisa dibilang sempurna. Ia mempunyai segalanya. Segalanya yang orang di luar sana inginkan. Tapi jika harus memilih Alvaro lebih memilih tak mempunyai semua ini. Jika pada nyatanya tak ada satupun orang tempatnya untuk pulang.
Malam ini di luar balkon ia kembali menikmati kesendirian yang tak pernah ada akhirnya.
"Jika Tuhan mempunyai alasan buat nyiptain gue ke dunia ini. Tolong kasih tau gue apa alasan itu," gumamnya diantara keheningan.
Semua kenakalan yang dilakukan selama ini adalah hanya bentuk pelampiasannya. Dia hanya kesepian. Dia hanya mencari alasan untuk tetap bertahan hidup. Tapi sekarang seperti ada setitik harapan yang membuat Alvaro sedikit tahu alasan dia untuk bahagia.
Tiba-tiba lamunannya buyar saat ponselnya berbunyi. Sebuah senyuman menghiasi wajah Alvaro saat ini saat membuka dan membaca sebuah pesan.
From : Bara cafe
Urusan gue udah selesai. Gue nunggu tiket liburan ke Bali yang lo janjiin.
Gara-gara lo, gue ngerjain anak orang.
Katakanlah dia egois. Menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadinya. Alvaro jadi ingat saat kemarin malam ia datang menemui saudaranya. Tepat pada saat itu saudaranya sedang sibuk mengurusi administrasi untuk gaji karyawan-karyawan di cafenya. Sebuah ide saat itu tiba-tiba muncul untuk merencanakan rencana ini. Mengambil gaji cewek itu untuk keuntungan pribadinya.
"Apa yang gue lakuin emang jahat. Tapi gue cuman gak ingin ngerasain kehilangan suatu kebahagiaan untuk yang kesekian kalinya."
Alvaro hanya terlalu lelah dengan kesendiriannya. Jadi saat sekarang ia telah menemukan kebahagiaan baru dalam hidupnya. Ia hanya sedang berusaha untuk tidak merasa kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Karena ia merasa cewek ini adalah kebahagiaan barunya. Seseorang yang mampu nemberikan sebuah warna baru di hidupnya. Aneh memang diapun tidak mengerti kenapa harus dia?
Sebuah bunyi bel apartment menyadarkan Alvaro kembali ke dunia nyata. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya saat ini. Ia lalu berjalan untuk membuka pintu.
"Oh ... sepertinya ada kunjungan tamu malam. Kenapa kangen yah sama gue?"
Alvaro bukannya tidak tahu kalau cewek yang saat ini ada di depannya terlihat sedang menahan amarahnya. Alvaro hanya sedang berusaha menyembunyikan senyuman kebahagian ewat senyuman songongnya.
"Gak usah basa-basi deh. Balikin gaji gue sekarang! Apa lo saking kekurangan duitnya sampe ngambil gaji orang?"
Terlihat saat ini Kanaya tengah berusaha mengatur napasnya berkali-kali. Berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak dan membunuh cowok di depannya sekarang juga. Sementara Alvaro hanya tersenyum melihat tingkah Kanaya saat ini.
"Masuk dulu, gak baik ngomong di depan pintu gini."
Alvaro mencoba mengabaikan kemarahan Kanaya. Dia malah merasa sangat terhibur oleh kemarahan Kanaya.
"Balikin gaji gue sekarang, berengsek!"
"Ya udah kalo gak mau masuk. Gue tutup pintunya sekarang."
Alvaro terlihat akan menutup pintu, meninggalkan Kanaya dalam keterkejutan. Saat Alvaro akan menutup sepenuhnya pintu, Kanaya menerobos masuk melewati Alvaro ke dalam.
"Gue udah masuk sekarang. Balikin gaji gue!"
Alvaro hanya terkekeh kecil melihat tingkah Kanaya. "Duduk dulu, masa mau ngomong sambil berdiri gini."
Rasanya saat ini Kanaya benar-benar ingin mencekik leher cowok di depannya sampai putus. Dengan terpaksa Kanaya langsung duduk di sofa, sementara Alvaro masuk ke sebuah ruangan meninggalkan Kanaya.
Saat Alvaro telah masuk ruangan. Kanaya mencoba mengamati keadaan ruangan tempatnya berada sekarang. Apartment ini termasuk mewah. Ada sebuah ruang tamu yang begitu luas, lalu di sebelahnya ada sebuah ruangan kecil dengan sofa kecil dan sebuah televisi. Di ujung ruangan ini terdapat sebuah dapur kecil. Kanaya yakin 2 buah pintu yang ada di ruangan itu adalah 2 buah pintu sebuah kamar.
"Mewah banget untuk ukuran apartment. Bahkan gue yakin ruang tamu ini lebih gede dari luas rumah gue."
Kanaya juga harus mengakui bahwa selera desain dan dekorasi ruangan ini sangatlah bagus. Walaupun ruangan ini didominasi hanya oleh warna abu, hitam dan putih. Warna-warna yang wajar disukai untuk ukuran seorang cowok. Tapi perpaduan ke 3 warna itu bukannya terlihat menjadi monoton, malahan lebih terlihat elegan dan menarik.
Kanaya masih asyik memandang ke sekeliling ruangan, tiba-tiba tanpa ia sadari Alvaro sudah duduk di sofa di depannya.
"Emmmm ... ini berkas yang harus lo baca dan lo tanda tangani," kata Alvaro menyerahkan sebuah lembaran kertas ke depan Kanaya.
"Berkas apaan sih? Gue mau gaji gue, bukan berkas gak jelas kaya gini!"
"Kalau lo mau gaji lo balik. Lo harus baca terus lo tanda tanganin ... tanda lo setuju sama isinya."
Dengan terpaksa akhirnya Kanaya membaca berkas itu. Ia langsung melototkan matanya kaget. "Apa-apaan ini? Lo gila yah ... gue mau gaji gue balik!"
Kanaya melempar lembaran kertas itu. Sungguh urat otot-ototnya akan putus sekarang. Berbicara dengan cowok gila di depannya, membuat kewarasan Kanaya diuji.
"Terserah lo, kalo lo gak setuju gaji lo milik gue," ujar Alvaro semakin tersenyum penuh kemenangan saat melihat Kanaya semakin terpojok.
"Dasar sialan brengsek itu gaji gue. Lo gak ada hak sama gaji gue. Gue gak sudi buat nanda tanganin berkas sialan ini!"
Alvaro hanya mengedikkan bahunya angkuh tak peduli, membuat Kanaya semakin emosi melihatnya.
Apa yang harus gue lakuin sekarang?
"Gue gak ada waktu lama-lama. Jadi cepet ambil keputusan lo sekarang juga!"
Kanaya mencoba menghembuskan napasnya berkali-kali. Ia berharap keputusan yang diambil sekarang adalah keputusan yang terbaik. Walaupun ia tahu pasti akan menyesal nantinya.
Kanaya lalu mengambil berkas itu menandatanganinya. Sementara Alvaro hanya tersenyum penuh kemenangan melihatnya.
"Di atas matrai, kaya apaan aja dasar gila," cibir Kanaya jengkel.
Tanpa Kanaya sadari Alvaro telah bangun dan berjalan menuju ke arahnya, tepat berada di depan Kanaya. Tiba-tiba satu tangan Alvaro mengangkat dagu Kanaya. Dengan cepat Alvaro mencium sekilas ujung bibir Kanaya. Saat Kanaya akan protes, Alvaro kembali berbicara yang membuat Kanaya bungkam seketika.
"Peraturan ke 3 dan lo udah setuju buat tanda tangani."
Kanaya mencebikkan bibir kesal saat melihat Alvaro tengah tersenyum penuh kemenangan sekarang. Kanaya lalu mengambil sebuah amplop yang diyakini itu gajinya. Lalu ia pun pergi keluar dari sana dengan membanting pintu sangat keras. Sementara Alvaro hanya tersenyum melihatnya.
"Lest play the game. Mulai sekarang lo benar-benar milik gue."
**
Saat ini Kanaya tengah berjalan kaki pulang menuju ke rumahnya. Ia sengaja tidak naik angkutan umum. Kanaya masih ingin melampiaskan emosinya. Takut kalau nanti ia naik angkutan umum, tanpa sadar mencekik penumpang lain atau mungkin juga mencekik supirnya saking merasa emosinya.
Pikirannya jadi teringat kembali kejadian tadi. Tentang 5 peraturan sialan yang membuatnya hampir gila sekarang.
PENGUMUMAN
Di sini tertulis 5 perjanjian dan peraturan yang harus dipatuhi dan jika melanggar ada denda per 1 peraturan sebesar 5 juta dan sebuah hukuman.
Peraturan ini dibuat di atas matrai.
Mulai sekarang Kanaya pacar Alvaro.
Apapun yang Alvaro lakukan dan inginkan Kanaya harus menuruti.
Kanaya dilarang berdekatan dengan cowok lain selain Alvaro.
Mulai sekarang Kanaya milik Alvaro.
Dan selamanya Kanaya milik Alvaro.
"Emang gue barang jadi bisa milik. Dasar sialan brengsek akh ...!" teriaknya marah.
Kanaya semakin menendang apa saja benda yang dilewati. Saat ia menendang sebuah botol minuman tiba-tiba mengenai seseorang. Kanaya akan berlari, tapi orang itu melihatnya dan sedang berjalan menghampirinya.
"Gak baik cewek marah-marah di jalan. Apalagi malam-malam kaya gini."
Kanaya pikir orang itu menghampiri untuk memarahinya. Tapi salah orang itu yang ia tabrak ternyata seorang cowok yang sangat tampan tengah tersenyum ke arahnya.
"Gadis cantik dilarang cemberut. Nanti cantiknya hilang," kata cowok itu masih tersenyum manis ke arahnya.
"Selain lo manis dan cantik ternyata lo lucu juga," celetuknya yang semakin membuat Kanaya semakin gugup.
Sebelum Kanaya menjawab cowok itu sudah mencubit pipi Kanaya gemas. "Sorry... gue duluan soalnya masih ada urusan penting. Gue harap kita bakal ketemu lagi," kata cowok itu lembut.
Kanaya hanya mengangguk saat melihat cowok itu telah berjalan meninggalkannya.
"Mimpi apa gue ketemu cowok ganteng malam-malam," gumamnya pelan sedikit heboh.
Malam ini Kanya berharap setelah bangun besok kejadian ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Ia yakin setelah hari ini, hari-harinya takan sedamai sebelumnya.
**Thanks for reading 💜
Jangan lupa vote & comment🙏**