
Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏
Cinta itu bukan tentang apa yang diucapkan kata..
Tapi cinta tentang apa yang dirasakan..
🐰
"Yakin neng gak punya sosmed apapun? Nomer WA, line atau apa gitu? Kalau perlu nomer sepatu juga gak apa-apa deh."
Entah gelengan keberapa Kanaya berikan untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari cowok di sampingnya. Kalau tidak dalam keadaan darurat, mungkin ia lebih memlilih turun dan menunggu angkot selanjutnya. Yang jadi masalahnya, ini sudah jam 10 malam. Angkot sudah jarang di jam segini ditambah dia sedang dalam keadaan terburu-buru.
"Lihatin hp mulu lagi chattingan sama siapa sih neng? Mending bagi sini nomer teleponnya biar bisa aa hubungin nanti."
Saat ini kesabaran Kanaya sudah diakhir batasnya. Dari tadi dia sudah berusaha secara sopan menolak, tapi sekarang rasanya ingin sekali membunuh cowok di sampingnya itu.
"Ngerti bahasa Indonesian gak sih! Saya bilang gak ada yang gak ada! Punya telinga tolong dong dipake jangan buat pajangan doang!" bentak Kanaya yang langsung membuat cowok itu diam seketika.
Kanaya akhirnya bisa bernapas lega saat melihat cowok yang duduk di sampingnya menggeser duduknya sedikit berjauhan dengannya. Ia hanya bersikap masa bodo saat mendengar bisikan-bisikan penumpang lainnya yang sedang membicarakan sikapnya barusan.
"Pak bisa cepatan lagi gak Pak? Soalnya saya lagi buru-buru ini pak." Matanya sedari tadi bulak-balik mengecek ponsel dan jam tangan.
"Ini udah cepet neng. Sabar yah neng dari pada ngebut entar nabrak." Jawaban supir angkot yang semakin membuat Kanaya gelisah.
"Kanaya lo cepetan ke sini. Alvaro dalam bahaya. Cuman lo yang bisa hentiin dia!"
Kalimat percakapan adi dengan cowok pemilik senyum manis semanis gula. Emmm ... maksudnya Rio teman cowok itu. Pokoknya cowok itu, cowok yang namanya berusaha Kanaya hilangkan dipikirannya akhir-akhir ini, Alvaro.
Waktu tadi Kanaya akan bersiap-siap untuk tidur, Rio menelpon dan memberitahu soal keberadaan Alvaro. Untung waktu itu ia sempat bertukar nomer ponsel dengan cowok itu, supaya agar lebih mudah menghubunginya kalau ada kabar soal Alvaro, katanya.
Jujur rasanya Kanaya masih terluka dengan apa yang dilakukan cowok itu kemarin. Tapi rasa khawatir bisa mengalahkan rasa lukanya saat ini. Apalagi saat ingat kemarin, dengan santainya cowok itu sedang bermesraan dengan seorang cewek di depan matanya di saat di sini orang-orang sedang khawatir dan mencari dirinya.
Hey ... dia bukan cemburu, tapi dia hanya tidak terima diperlakukan seperti itu!
"Neng udah nyampe. Ngelamun aja si eneng." Suara supir angkot menyadarkan Kanaya kembali ke dunia nyata.
Kanaya yersenyum kikuk saat ketahuan sedang melamun. Padahal tadi ia yang meminta buru-buru. Ia lalu turun setelah membayar ongkos.
"Di sini bener alamatnya? Tapi tempat yang mereka maksud di mana?" Kanaya berusaha kembali memperhatikan alamat yang dikirim Rio dengan alamat tempatnya berada sekarang.
Kanaya merasa ngeri dengan tempatmya sekarang berada. Sebuah jalan raya yang sepi dan jauh dari rumah penduduk. Hanya terdapat pohon-pohon besar di sepanjang jalan.
Kanaya mulai mengeratkan switter yang tadi sempat dipakai untuk menutupi baju tidurnya. Kanaya menghembuskan napas berat saat melihat kondisinya sekarang.
Seorang cewek tengah malam berjalan sendiri di pinggir jalan raya yang sepi. Hanya menggunakan baju tidur dilapisi switter tipis ditambah sendal jepit sebagai pelengkap.
"Kok gue ngerasa bodoh banget yah. Gimana kalo mereka bohongin gue? Gimana kalo mereka kerja sama bareng dia buat ngerjain gue?"
Kanaya saat ini ingin mencoba berpikiran positif. Tapi melihat situasi kondisinya sekarang, berpikit negatif lebih masuk akal rasanya. Dia bukannya takut akan orang jahat, tapi ebih takut sama yang namanya ... ah pasti kalian tahu. Makhluk tak kasat mata itu, hantu.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomer Rio, tapi untuk yang kesekian kalianya panggilannya tidak dijawab. Udara di sini semakin dingin, switternya saat ini tidak manpu menolongnya dari kedinginan malam ini.
Langkahnya terhenti saat menemukan sebuah cahaya di ujung jalan? Kanaya harap itu adalah tempat di mana Rio dan yang lainnya berada.
"Semoga di sana ada mereka. Gue harus ke sana." Kedua tangannya terus saling digosokkan untuk menimbulkan rasa hangat.
Saat langkahnya semakin mendekat, Kanaya bisa melihat sekumpulan orang-orang yang sedang berteriak heboh.
"Sebenernya ini tempat apaan sih? Mereka lagi pada ngapain? Coba tengah malem kaya gini. Mau latihan demo."
Kanaya mengangkat bahu tidak peduli, kembali melanjutkan perjalanannya. Langkahnya terhenti saat ada beberapa orang yang menghadang jalannya. Lebih tepatnya sekumpulan laki-laki yang tengah menyeringai kepadanya.
Kanaya mengerutkan kening bingung, saat salah satu dari cowok di depannya berjalan mendekatinya.
"Waw ... ternyata ada penghuni baru.
Sepertinya salah kostum juga dateng ke sini." Aroma alkohol sangat tercium saat cowok itu berbicara.
Kayaknya mereka mabuk, apa yang harus gue lakuin?
Sebenarnya saat ini Kanaya sangat takut dan sangat ingin berlari. Tapi ketakutannya tidak akan merubah apapun, malah akan semakin membuat terpojok. Sebisa mungkin ia berusaha terlihat tenang. Karena yang Kanaya hadapi sekarang adalah sekumpulan cowok yang sedang dalam tidak waras.
"Udah sikat aja buat santapan kita malam ini." Kanaya hanya melotot tajam saat melihat cowok yang bertindik dan gondrong menatapnya mesum.
"Santapan lo kira gue makanan. Cocokan juga lo badan kurus tinggi ... lo bisa dijadiin pepes ikan," gumamnya nyaris berbisik.
"Ayo ikut kita! Dijamin lo akan puas." Kanaya mencoba berontak saat salah satu cowok memegang pergelangan tangan dan menariknya.
"Lepasin tangan lo brengsek!" Kanaya semakin panik saat ditarik paksa.
Kanaya semakin berontak, saat sekarang ada dua orang cowok di kedua sisinya yang juga menariknya paksa. Aroma alkohol semakin tercium dalam posisi sedekat ini. Ia mulai ngeri saat mulai diseret menjauhi kerumunan.
"Tol ...." Sebuah tangan membekap mulut Kanaya dari belakang.
Ya Tuhan siapapun tolong gue sekarang!
Air matanya mulai jatuh sekarang. Kepanikan bercampur ketakutan telah menguasainya. Posisinya sedang dalam bahaya. Ia tak pernah membayangkan akan berada dalam posisi seperti ini.
"Lepasin dia atau lo mau berakhir di kuburan!" Samar-samar di antara air mata Kanaya melihat seorang cowok sedang berjalan ke arahnya.
Cengkraman di kedua tangannya semakin kuat. Kanaya juga bisa merasakan sekumpulan cowok itu semakin mendekat mengerumuninya. Seolah berusaha untuk menjaganya agar tak sampai lolos.
Pluk....
Sebuah benda mendarat tepat di wajah salah satu cowok yang mengerumuni Kanaya. Cowok itu menggeram marah saat wajahnya terkena lemparan. Tapi tiba- tiba wajahnya berubah pucat, saat ia melihat benda yang mendarat di wajahnya.
Secara bergiliran benda itu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain dan seketika wajah pucat menghiasi wajah mereka. Kanaya hanya menatap heran saat mereka secara bersamaan melepaskan cengkraman di tangannya dan mulai menjauhi posisinya.
"Ini yang terakhir dan kalau kita lihat kalian kaya gini lagi. Kalian tau pasti apa akibatnya!"
Seketika cowok yang tadi mengerubunginya mengangguk patuh dan membubarkan diri mereka dari sana.
"Sebenarnya siapa orang itu? Kok mereka kelihatan pada takut?" tanya Kanaya pelan.
"Lo gak papa? Untung kita datang tepat waktu." Kanaya akhirnya tersenyum lega saat melihat tiga orang cowok yang dia kenal berjalan ke arahnya.
"Kalian serius?" tanya Kanaya kaget.
"Iya serius lah. Lo pikir kita lagi ikutan standing up comedy dan lagi ngehibur lo. Gak ada untungnya!"
Kanaya mendengus jengkel saat cowok yang sejak pertama mereka bertemu sampai sekarang, selalu sibuk dengan ponsel selalu melontarkan kata pedas kepadanya.
"Vin mulut lo! Ini cewek, kalo ngomong dijaga napa."
Kanaya mengangguk setuju mendengar ucapan cowok manis idolanya, yaitu Rio. Sementara cowok yang sekarang masih sibuk dengan ponsel hanya mengangkat bahu tidak peduli.
"Lo tau gak kenapa harga cabe mahal? Itu tuh gara-gara semua cabe di Indonesia dibeli dan dimakan sama nih anak. Makannya kalo ngomong mulutnya ya Allah ... baim gak kuat dengernya atit."
Kanaya tersenyum geli saat melihat cowok yang paling ceria dan semangat di antara mereka bertiga sedang berceloteh riang kepadanya. Suasana canggung dan kaku dipertemuan pertama mereka waktu itu seakan cair begitu saja saat ini.
Tapi Kanaya kembali mengingat keadaan seseorang yang baru mereka ceritakan kepadanya.
"Kalian yakin dia bakal gak papa?" tanyanya gelisah.
Hanya sebuah gelengan dari ketiga cowok itu, yang mewakili pertanyaannya. Itu semakin membuat Kanaya gelisah dan khawatir.
"Ini bukan hanya tentang balap motor liar tapi ...."
Kanaya bisa melihat raut wajah khawatir dan gelisah menggantikan senyuman manis di wajah mereka.
"Tapi kenapa?" tanya Kanaya mulai geram dengan kebisuan tiga cowok di depannya.
"Satu tahun yang lalu Alvaro pernah ngalamin kecelakaan. Dia pernah tabrakan saat ngikutin balap liar dan kondisnya waktu itu sangat parah," ucapan Rio kembali seakan menerawang kejadian waktu itu.
Sementara Kanaya berusaha menjadi pendengar yang baik, saat hatinya kembali merasakan sebuah rasa sesak saat mendengarnya.
"Waktu itu kondisinya sangat kritis sampai dia mengalami koma selama dua minggu. Saat sadar dia mengalami lumpuh sementara selama satu bulan."
Sepertinya saat ini hanya Rio yang mampu menceritakan kejadiannya. Karena Kanaya bisa melihat kedua cowok yang lainnya hanya diam dengan raut wajah gelisah. Bahkan terdengar helaan napas berat dari mereka bertiga.
"Setelah kejadian itu Alvaro gak pernah naik motor lagi. Setiap dia naik motor kejadian waktu itu selalu terbayang. Akhirnya ia punya trauma saat naik motor."
"Terus sekarang kenapa dia ikut balap liar lagi? Kenapa kalian biarin dia ikut kalau kalian tau dia punya trauma?" Emosi Kanaya naik saat ini. Sekarang ia bisa merasakan perasaan apa yang mereka rasakan waktu itu.
"Kita juga gak tau. Karena kita juga cuman dapat telepon dari salah satu anak sini kalo Alvaro mau tanding. Saat kita dateng dia udah tanding." Baru kali ini Kanaya bisa melihat sebuah emosi lain selain emosi datar, dari cowok yang telah menyimpan ponsel ke sakunya.
"Gue khawatir dia kenapa-napa. Dia orang tertampan diantara kita. Gue gak mau kehilangan ketampanan dia." Walaupun ucapannya terlihat konyol, tapi Kanaya bisa melihat nada frustrasi dan khawatir di dalamnya.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Rasa sesak itu semakin Kanaya rasakan bercampur dengan rasa khawatir tak berujungnya. Matanya terus menatap ke ujung jalan. Berharap saat itu akan muncul orang yang ia tunggu dalam keadaan baik-baik saja.
"Kita doain semoga dia baik-baik aja."
Bahkan ucapan penenang Rio tak mampu membuat Kanaya dan yang lainnya merasa lebih tenang. Mereka hanya berharap orang yang mereka khawatirkan akan muncul dalam keadaan baik-baik saja.
Jduaaaarrrrt...braakkkk
Suara benturan yang sangat keras membuat suasana semakin riuh saat ini. Kanaya melihat beberapa orang sudah mulai berlarian mencari asal suara. Entah kenapa perasaan Kanaya semakin tidak tenang sekarang. Bahkan ketiga cowok di depannya juga sama tidak tenang seperti dirinya.
"Yang naik ninja putih tabrakan woi!" Suara teriakan yang entah dari siapa semakin membuat suasana semakin riuh.
"Brengsek anjing itu motor si Alvaro!" pekik Vino panik.
Kanaya melihat ketiga cowok itu sudah berlari bersama orang-orang. Sedangkan Kanaya masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Ia masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Otaknya terlalu lambat untuk memahami apa yang sedang terjadi.
"Yang naik ninja putih yang tabrakan woi!"
"Berengsek anjing itu motor si Alvaro!"
"Alvaro pernah kecelakaan parah dan ia punya trauma saat naik motor."
Seketika Kanaya sadar. Ia kemudian ikut berlari bersama orang-orang. Ia berharap apa yang didengar salah. Apa yang mereka bilang tidak pernah terjadi dan semoga dia ... baik-baik saja.
Seberapa keras ia berusaha menyangkal, tapi keadaan di sekitar menyatakan sebaliknya. Air matanyapun tumpah saat mencoba menerobos kerumunan. Sekarang dia seakan lupa bagaimana caranya untuk bernapas, saat ia melihat seseorang dalam keadaan tidak sadar sudah digotong menuju sebuah mobil.
Kanaya memang tidak bisa melihat orang itu, tapi sebuah motor ninja putih yang tergeletak tak jauh dari lokasi menjawab semuanya.
"Semoga ini cuman mimpi ya Tuhan," gumamnya lirih.
Thanks for reading🙏
Maaf kalau alurnya gaje💜
Jangan lupa vote & comment💜