
**Happy & enjoy reading 💜
Maaf untuk typo🙏**
Song _ St12 _ Saat Terakhir
Satu jam saja ku telah bisa cintai
Kamu ... kamu ... di hatiku
Namun bagiku melupakanmu ....
Butuh waktuku seumur hidupku ...
🐰
Sebuah batu nisan dari sebuah undukan tanah seakan menjadi pemandangan terindah untuk dipandang oleh Kanaya. Bahkan mata Kanaya selalu fokus dan tertuju pada sebuah nama di batu nisan itu.
**Ardi Rizki Putra
Bin
Bagas setiawan
Lahir 05 Juni 1996
Wafat 05 juni 2018**
Tuhan ... jika ini mimpi tolong bangunkan dia sekarang juga. Tuhan jika ini hanyalah permainanmu. tolong hentikan permainannya saat ini juga.
Apa Tuhan sedang marah pada Kanaya? Tolong kembalikan Ardi kembali. Jangan ambil dia secepat ini. Kanaya mau Ardi kembali sekarang!
"Nay ... pulang yuk! Orang-orang udah pada pulang semua," ajak Putri mati-matian menahan isak tangisannya.
Saat Putri melihat kondisi Kanaya saat ini, akhirnya ia tahu jika antara Ardi dan Kanaya ada sebuah ikatan yang sangat kuat. Putri tahu sampai kapanpun ia tidak akan bisa masuk diantara mereka. Sampai kapanpun juga ia tidak akan pernah bisa mengambil hati Ardi.
Kanaya menggeleng, matanya masih fokus ke batu nisan tanpa sedikitpun menoleh ke arah Putri.
"Kak ... bilang sama aku ini cuman mimpi?" Kanaya terisak. "Besok dia udah kerja lagi kan di cafe. Iya kan Kak?" tanya Kanaya yang mampu membuat Putri semakin terisak.
Tangis Kanaya pecah. Putri semakin tidak tega melihatnya. Ia hanya mampu mengusap punggung Kanaya berusaha untuk menenangkan. Putri sadar rasanya untuk Ardi tidak sebesar rasa yang Kanaya punya.
"Kak ... tolong bilangin om-om jahat itu jangan bercanda ini gak lucu gitu. Bilang Kak ... kalau gak ... aku bakal marah sama dia!" Air mata Kanaya tidak berhenti mengalir. Isakannya semakin membuat Putri pilu.
"Nay pulang yuk! Ini udah mau maghrib," ajak Putri lagi namun Kanaya masih menggeleng.
Jika bukan karena telepon dari rumahnya yang menyuruh untuk pulang sekarang juga. Mungkin Putri akan rela menunggu Kanaya selama apapun itu di sini sekarang. Tapi sapertinya ia harus meninggalkan Kanaya sekarang juga karena kebetulan Ibunya sedang sakit.
"Ikhlasin dan relain dia Nay. Dia udah tenang di sana. Dia juga pasti sedih kalo liat lo kaya gini," Tangannya masih mengusap punggung Kanaya. "Gue duluan Nay. Nanti lo pulang jangan kemalaman," pamit Putri yang hanya diangguki pelan oleh Kanaya.
Meskipun khawatir Putri akhirnya terpaksa harus pergi meninggalkan Kanaya yang masih menatap dalam diam batu nisan yang menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk ARDI.
Bagi Kanaya kejadian ini masih seperti sebuah mimpi. Padahal baru kemarin ia masih tertawa bersama Ardi, tapi nyatanya Ardi sekarang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ingatan Kanaya kembali berputar ke memori tentang Ardi.
"*Ini ... ambil."
"Eskrim buat aku?"
"Iya ... karena Eskrim bisa menghilangkan rasa sedih. Aku Ardi, kamu siapa?"
"Aku Kanaya, makasih eskrimnya."
"Kak ... janji yah jangan pernah ninggalin gue kaya mereka."
"Iya gue janji. Gue gak akan pernah ninggalin lo sampai lo yang ninggalin gue duluan."
"Nay ... kalau lo sedih dan ngerasa sendiri. Lo harus percaya bahwa gue selalu ada buat lo."
"Nay ... lo janji yah gak boleh nangis lagi."
"Eh bocah ... pipi lo udah kaya pipi balon yang kaya mau meletus kalau cemberut kaya gitu."
"Jangan sedih, nanti gue beliin eskrim yang banyak."
"Kaki lo sakit. Sini biar gue gendong. Makannya jalan tuh pake mata jangan pake hidung pesek lo*."
"Nay ... gue sayang sama lo. Janji yah bakal selalu bahagia apapun yang terjadi."
Semua tentang Ardi masih terasa baru kemarin untuk Kanaya. Saat pertama kali bertemu dengan Ardi,.m dia yang selalu menjaga, menghibur setiap kali Kanaya sedih dan selalu menjahilinya.
"Kak ... ternyata apa yang lo bilang itu salah. Waktu itu lo bilang kalau gak akan pernah ninggalin gue duluan. Tapi buktinya sekarang lo malah yang ninggalin gue duluan."
"Kak ... apa gue emang gak pantas buat disayangi? Apa semua orang yang gue sayang bakal selalu ninggalin gue dan akhirnya gue berakhir sendiri lagi?"
"Kak lo ... jahat ... lo jahat ... lo jahat ... lo sama aja kaya mereka ninggalin gue sendiri!"
"Tuhan ... suruh dia balik lagi ke sini. Suruh dia balik lagi buat nemenin aku di sini lagi!"
Kanaya meremas dadanya sangat kuat. Rasanya sangat sakit. Tangis Kanaya semakin pecah.
"Arghhhhhhhhhh ...!"
Tak pernah terpikir olehku..
Tak sedikitpun kubayangkan..
Kau akan pergi..
Tinggalkan kusendiri..
Kanaya merasa hidupnya hancur. Untuk yang kesekian kalinya orang yang dia sayang dan berarti di hidupnya kembali pergi. Pergi tanpa pamit dan untuk selamanya.
Tidak jauh di belakang kanaya, tepatnya di balik sebuah pohon seorang lelaki berbaju putih sedang berdiri menatapnya dalam diam. Dia seakan ikut merasakan kehancuran, kesakitan yang Kanaya rasakan.
"Nay ada gue di sini. Jangan nangis."
Alvaro hanya mampu melihat Kanaya dari jauh. Ia tahu Kanaya butuh waktu untuk sendiri, jadi dia ingin menjaga Kanaya tanpa sedikitpun mengganggunya.
Jika sepupu yang pemilik cafe tempat Kanaya kerja tidak bermain ke apartemennya dan tidak memberi tahu soal kematian salah satu karyawannya yang menjadi teman dekat Kanaya. Alvaro mungkin tidak akan berada di sini sekarang. Ia tidak akan tahu seberapa hancur dan terlukanya Kanaya.
Ardi ... Alvaro memang tidak mengenal dekat cowok itu. Tapi setidaknya ia tahu jika Ardi adalah sosok yang berarti dan penting untuk Kanaya. Walaupu ia tidak tahu sedekat apa mereka. Tapi satu hal yang dia tahu kalau cowok itu sangat menyayangi Kanaya lebih dari apapun.
"*Gue mau ngomong sebentar... bisa?"
"Gue harap rasa sayang lo ke dia itu tulus."
"Gue bisa minta tolong sama lo?"
"Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalin dia. Dia hanya terlihat kuat dari luar tapi sebenarnya ia sangat rapuh dan lemah di dalamnya."
"Gue titip dia ke lo yah. Tolong jaga dia. Jangan pernah sakitin dia. Tolong sayangi dia dengan tulus. Dia sangat berarti buat gue. Lebih berarti dari hidup gue. Dia juga pasti sangat berarti buat lo."
"Akhirnya gue lega sekarang. Karena dia udah ada yang jagain*."
Akhirnya sekarang Alvaro mengerti maksud cowok itu. Ia masih ingat saat cowok itu sempat menahannya pada saat akan menjemput Kanaya di cafe. Cowok itu mengajak untuk berbicara serius.
Dari obrolan itu akhirnya Alvaro tahu apa arti Kanaya untuk cowok itu. Walaupun pada saat itu ia sedikit tidak mengerti saat cowok itu seakan menitipkan Kanaya untuknya. Hingga kejadian ini akhirnya Alvaro pun tahu apa alasannya.
Lo tenang aja gue bakan selalu jaga dia. Bukan demi lo, tapi karena dia memang sangat berarti buat gue.
Sementara di tempat Kanaya, ia masih menangis. Seolah menangis bisa membuat Ardi kembali.
Tuhan kasih tau aku apa rencanamu sekarang!
Akhirnya dengan sangat perlahan Kanaya berjalan meninggakan tempat peristirahatan Ardi. Sebelum benar-benar pergi ia menoleh sekali lagi untuk kembali melihat batu nisan Ardi.
Dengan kasar Kanaya menghapus air matanya dengan punggung tangan. Meninggalkan seseorang yang sudah pergi untuk selamanya. Sosoknya hanya akan menjadi kenangan untuk Kanaya mulai sekarang.
Kasih sayang kamu begitu dalam..
Sungguh ku tak sanggup ini terjadi...
Karena ku sangat cinta....
Alvaro mengikuti Kanaya yang masih berjalan. Sebenarnya ia tidak tega melihat kondisi Kanaya seperti itu. Ia ingin sekali memeluk gadis itu dan menenangkannya. Tapi sekali lagi ia ingin memberikan Kanaya waktu untuk sendiri. Waktu untuk bisa menerima semuanya.
Alvaro melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan jam 08 malam. Lebih tepatnya ia sudah mengikuti Kanaya hampir dua jam.
"Sebenarnya mau pergi kemana gadis itu?" tanya Alvaro khawatir.
Akhirnya di sebuah taman Kanaya mendudukan dirinya di salah satu bangku di sana. Bisa Alvaro lihat bahu gadis itu bergetar. Sudah bisa dipastikan jika gadis itu sedang menangis sekarang.
Begitu sulit kubayangkan..
Begitu sakit kurasakan..
Kau akan pergi...
Tinggalkan ku di sini...
"Ya Rabb ... ini sakit ... sakit," lirih Kanaya pilu.
Tiba-tiba sekotak eskrim sudah ada di depannya. Kanaya mendongak untuk melihat siapa orang yang membawa eskrim itu.
"Kata orang eskrim bisa mengurangi rasa sedih dan menambah kadar kebahagiaan. Jadi kamu harus coba," kata Alvaro masih berusaha memberikan eskrim itu untuk Kanaya.
Bukannya mengambil eskrim itu tapi Kanaya malah kembali menunduk dan semakin menangis terisak. Alvaro yang melihatnya lalu berjongkok di depan gadis itu dan memegang dagu Kanaya untuk mendongak melihat ke arahnya.
Alvaro mengusap lembut air mata Kanaya dengan ibu jari. Alvaro merasa sangat hancur saat melihat kondisi Kanaya seperti ini.
"Kenapa mesti eskrim?" tanya Kanaya lirih membuatnya kembali menangis.
Eskrim adalah satu kenangan yang paling mengingatkan Kanaya akan Dia. Karena setiap kali Kanaya sedih, Dia selalu memberikannya eskrim. Selalu bilang jika eskrim bisa mengurangi kesedihan dan bisa menambah kadar kebahagiaan. Sama persis seperti apa yang Alvaro katakan barusan.
Alvaro kembali mengangkat dagu Kanaya membuat gadis itu kembali melihatnya lagi.
"Dia bakal sangat sedih saat lihat kamu kaya gini Nay." Alvaro kembali menghapus air mata Kanaya dengan kedua ibu jarinya. "Apa dengan kamu kaya gini dia bakal balik lagi?"
"Sakit Al ... ini sakit."
Alvaro mengangguk pelan." Aku tahu ini sakit." katanya lembut. "Tapi apa dengan kamu nangis kaya gini, semua yang terjadi bakal kembali baik lagi?"
"Kamu hik ... gak ngerti ... hik ... gimana sakitnya hik ... rasanya kehilangan," jawab Kanaya terbata di sela isak tangisnya.
Alvaro menggeleng, menolak keras ucapan Kanaya barusan. Dia bahkan pernah merasakan kehilangan yang jauh lebih sakit dari apa yang pernah gadis itu rasakan sekarang. Dengan cara yang lebih kejam.
"Semua manusia pasti bakal pergi Nay." Ibu jari Alvaro kembali menghapus air mata Kanaya. Menatap dalam mata Kanaya. "Kita tinggal nunggu waktunya aja kapan giliran kita tiba."
"Enggak ... Tuhan gak adil sama aku. Kenapa dia selalu ngambil orang-orang yang aku sayang?" teriak Kanaya menyangkal semua ucapan Alvaro.
Alvaro menangkup kedua pipi Kanaya dengan kedua tangan. "Karena Tuhan tau akan ada lagi orang yang dia kirim buat menyayangi kamu lagi," katanya. "Kamu gak sendiri. Ada aku yang selalu jaga dan sayangi kamu."
Alvaro merengkuh Kanaya dalam pelukan, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Kanaya membalas pelukan Alvaro. Ia semakin membenamkan wajahnya di dada Alvaro. Semakin menumpahkan semuanya dalam pelukan Alvaro.
"Kamu janji jangan pernah ninggalin aku kaya mereka," ucap Kanaya di sela isak tangisnya.
Alvaro menghela napas sejenak. Ia tidak bisa berjanji yang tidak bisa diepati. Tapi ia hanya bisa berjanji selama Tuhan masih memberinya hidup Alvaro akan selalu menjaga dan menyanginya Kanaya.
Tapi melihat kondisi Kanaya Alvaro hanya bisa menenangkan Kanaya dengan sesuatu yang tak pasti.
Alvaro mengangguk pelan. "Nay ..m aku janji bakal selalu ngejaga dan sayangin kamu selama aku masih hidup," katanya tulus semakin mengeratkan pelukan. Sebelah tangannya mengusap lembut kepala Kanaya.
"Aku mau kamu janji. Kamu gak akan pernah ninggalin aku."
"Iya ... aku janji gak akan pernah ninggalin kamu Nay. Aku sayang kamu."
Setelah Kanaya merasa jauh lebih tenang ia melepaskan pelukannya dari Alvaro. Menatap Alvaro dengan kedua pipi merona karena malu.
"Pulang yuk! Bunda kasian ditinggal sendirian di rumah. Dia juga belum makan," kata Kanaya akhirnya. Membuat Alvaro senang karena melihat Kanaya jauh lebih tenang.
Alvaro tersenyum "Akhirnya ... inget Bundanya juga," cibirnya tertawa.
"Iya inget lah ... ngaco," protes kanaya mengerucutkan bibir lucu.
Alvaro yang gemas mencubit pipi Kanaya, membuat Kanaya mendelik ke arahnya. Ia memalingkan muka ke arah lain. Sikap malu-malunya semakin membuat Alvaro gemas dan lega karena akhirnya gadis itu kembali ceria dan penuh semangat itu kembali. Walaupun raut kesedihan masih terlihat jelas di wajahnya.
Alvaro berjongkok membelakangi kanaya, membuat Kanaya mengerutkan kening bingung.
"Lagi ngapain?" Alvaro berdecak sebal mendengar pertanyaan polos Kanaya.
"Gak inget kaki itu nyeker," sindir Alvaro yang membuat Kanaya terkekeh malu.
Kanaya lalu naik ke gendongan Alvaro dan mengeratkan pelukannya di punggung cowok itu. Karena tidak ada pilihan lain juga sekarang kakinya memang terasa sakit karena dipakai berjalan tadi.
"Kok kamu nyeker?" tanya Alvaro geli.
Kanaya menggeleng pelan. "Gak tahu ... gak sadar." Kanaya semakin mengeratkan pelukan saat ia merasa semakin merosot ke bawah. "Al ... aku mau jatuh ini ...."
Alvaro terkekeh lucu. "Abisnya badan kamu berat sih," balas Alvaro semakin mengeratkan tubuh Kanaya ke punggungnya.
"Gak ada yang nyuruh gendong juga tadi," balas Kanaya kesal karena dia memang tidak meminta untuk digendong.
Kanaya juga kesal kenapa cowok itu harus membahas masalah berat badan? Ada yang harus mengingatkan Alvaro jika Kanaya juga seorang cewek. Semua cewek itu sangat sensitif tentang masalah berat badan. Tolong catat itu untuk memberitahu Alvaro nanti jika lupa lagi.
"Kamu makan apa sih berat banget?"
"Makan batu."
"Kalo makan batu, minumnya apa?"
"Ya ... es batu."
"Emang enak?"
"Gak ... enakan makan cowok di depan aku ini nih!"
"Oh iya ... aku belum pernah nyobain tuh rasanya."
"Ya udah tinggal potong sendiri aja terus masak dan makan!"
"Enaknya masaknya diapain?"
"Terserah ... tau ah rese!"
Kanaya menjambak rambut Alvaro berutal membuat Alvaro memekik kesakitan.
"Mau gue turunin nih?" tanya Alvaro kesal. Ia tidak menyangka kalau cewek dalam gendongannya bisa sebrutal ini.
"Ya udah turunin," balas Kanaya jutek.
"Bentar ... nyari comberan buat nuruninnya."
"Alvaro ih ...," rengek Kanaya membuat Alvaro terkekeh senang.
Rasa kehilangan itu memang masih ada. Tapi kehadiran Alvaro mampu membuat Kanaya jauh lebih tenang.
Setidaknya masih ada yang Kanaya syukuri di dunia ini. Karena Tuhan masih mengirimkan dia orang yang kembali menjaga dan menyanginya. Tuhan masih memberikannya kembali sebuah pundak untuk bersandar.
**Thanks for reading 🙏
Jangan lupa vote & Comment💜**