
**Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏**
Aku harap bisa melupakan masa lalu di mana kisah kita masa itu pernah berada disatu garis yang sama...
🐰
"Baik pelajaran hari ini sudah selesai. Jangan lupa tugasnya dikerjakan dan dikumpulkan minggu depan, terimakasih."
"Ahhhh ... lega ...."
"Kepala gue rasanya mau bencar."
"Saking pusingnya lihat woy ... rambut gue rontok!"
Kanaya hanya tersenyum mendengar ucapan lega teman-temannya, karena ia juga merasakan hal yang sama saat ini.
Matematika adalah salah satu pelajaran keramat yang rata-rata menurut survey Family 100 yang tayang di GTV setiap hari pkl eh ... kok malah promosi.
Intinya menurut survey itu kalau matematika menempati urutan teratas, pelajaran keramat yang paling dibenci oleh semua siswa sekolah. Dari mulai siswa Paud, TK, SD, SMP dan SMA semua pasti rata-rata mengatakan membenci MATEMATIKA.
Jika kalian tidak percaya, coba tonton sendiri saja acaranya!
"Ya Tuhan ... gak mungkin!" pekik Maya hisreris, tepat di samping telinga Kanaya
Kanaya mendelik, mengusap lembut telinganya. "Itu tolong toa mesjidnya balikin dulu. Kasian nanti mau Adzan orang nanti nyariin gak ada."
Maya cemberut. "Rese lo ... gue gak minjem toa mesjid tapi toa punya mang Ujang."
Kanaya mengerutkan kening bingung. "Siapa mang ujang?" tiba-tiba senyumannya berubah misterius menatap Maya. "Pacar baru lo yah mang Ujang?"
"Gila mang Ujang itu seumuran bokap. Gue masih waras buat gak pacaran sama mang Ujang!" jerit Maya frustrasi. Sementara Kanaya masih menatapnya dengan senyuman misteriusnya.
"Terus siapa Mang ujang?"
"Mang ujang Itu tukang tahu bulat yang suka lewat depan rumah gue. Nah ... ini kenapa jadi bahas mang Ujang sih?" sungut Maya menyikut lengan Kanaya yang sudah kembali membaca buku.
"Nay?"
"Apa mang Ujang lagi," tukas Kanaya membuat Maya cemberut
"Bisa kita gak bahas mang Ujang dulu. Gue lagi mau serius nih ... coba deh lihat," kata Maya menunjukan sebuah akun gosip yang ada di ponselnya ke Kanaya.
Kanaya tidak merespon, masih asyik dengan bukunya. "Masih main lambe turah lo?" tanyanya asal.
Karena kesal Maya mengambil buku yang dibaca Kanaya. "Keluarga pacar lo masuk di akun lambeturah, lihat nih?"
Kanaya mengabaikan ucapan Maya, masih keukeuh mengambil buku yang ada di tangan Maya. "Apaan sih gak jelas, balikin buku gue!"
Maya menarik napas sedalam samudra untuk bisa memahami kekurang pekaan sahabatnya ini. Tapi Ia bingung apa Kanaya kurang peka, kurang mendengar apa memang tidak peduli?
"Ini tentang keluarga cowok lo, alias pacar lo yang bernama Kak ALVARO!" Maya harap dengan menekankan setiap katanya membuat Kanaya mengerti ucapannya.
Yes ... Maya bersorak riang dalam hati saat melihat Kanaya menutup buku yang tadi dibaca dan beralih menatapnya penasaran, bingung atau kurang percaya.
"Apa?" tanya Kanaya yang langsung mendapat cengiran oleh Maya.
"Nih ... lihat keluarga Rajasa jatuh bangkrut. Pak Rajasanya masuk rumah sakit karena penyakit jantung. Terus Ibu Rajasanya ditahan di kantor polisi karena tuduhan pembunuhan dan penggelapan dana. Terus anaknya kemana? Kok gue jadi gak paham gini yah," celoteh Maya.
Tiba-tiba pikiran Kanaya kembali berpusat ke Alvaro. Ia khawatir bagaimana reaksi cowok itu setelah membaca berita tentang keluarganya yang secara otomotis sebagian masa lalu Alvaro akan terungkap.
"Rajasa ... emang ada berapa sih anak Rajasa? kok gu ...," ucapan Maya terpotong saat Kanaya sudah mengambil alih ponselnya.
Dalam diam Kanaya terus membaca artikel berita tentang keluarga Rajasa. Seolah dia sedang membaca teks proklamasi yang diwajibkan untuk memasang ekspresi wajah serius.
Maya di sampingnya hanya menatap bengong dan miris, karena Kanaya yang sudah mengambil ponsel barunya.
"Rajasa ... kok gue baru sadar," gumam Kanaya lirih.
Kanaya menoleh, menatap Maya penuh harap. "Izinin gue dua pelajaran terakhir nanti soalnya gue ada urusan." Ia mencolek dagu Maya. "Lo cantik deh ya ... ya ... ya?" pinta Kanaya memelas.
"Apa eh Nay ...," kata-kata Maya tergantung,l karena saat ini Kanaya sudah pergi keluar kelas.
Maya menggaruk kepala bingung. "Kanaya kenapa sih? Eh ... tunggu tadi dia pengen apa katanya diizinin," heboh Maya baru sadar saat melihat tas Kanaya tidak ada.
"Dia mau cari mati apa izin pelajaran kimia huh," gumam Maya kesal. "Gue gak tanggung jawab ah ... kalau dia dihukum besok."
Sementara saat ini Kanaya sudah berlari di area sekolah. Dalam otaknya ia sedang memikirkan macam-macam alasan tentang bagaimana caranya agar diizinkan pulang oleh satpam sekolah.
Kanaya berusaha mengatur napas senormal mungkin dan memasang wajah sesedih mungkin saat berjalan menuju pak satpam yang sedang menatap tajam.
"Mau kemana kamu?" tegur pak satpam saat Kanaya sudah sampai di depannya.
Belum saja Kanaya berbicara tapi nyalinya sudah menciut mendapat tatapan tajam dan suara galaknya pak satpam.
"Pak ... tolongin saya tadi adik saya tadi kasih kabar kalau rumah saya mau digusur. Karena lahannya akan dibuat jalan tol oleh pemerintah. Saya disuruh pulang sekarang karena kami harus segera pindah," ujar Kanaya lirih dengan ekspresi sedih dan semelas mungkin.
Dalam hati Kanaya sudah ketar-ketir jika kebohongannya akan diketahui oleh pak satpam. Karena saat melihat raut muka pat satpam sudah jelas terlihat kalau ia tidak begitu percaya.
"Oh itu ... yang di jalan Kalideres itu yah? Ampun iya benar pemerintah itu tidak punya perasaan bla ... bla ... bla ...." Nah lo kenapa pak satpam malah curhat membuat Kanaya menjadi bengong melihatnya.
Kanaya mengangguk, menepuk pelan punggung pak satpam. "Sabar yah Pak. Saya do'ain yah pak semoga harga beras dan bawang cepat turun."
Pak satpam menyeka sudut air matanya. "Iya ... terima kasih, memang pemerintah jaman sekarang gak punya perasaan sama rakyat kecil."
Kanaya kembali mengangguk sok paham. "Iya ... sabar saja Pak. kalau begitu saya pemirsi yah Pak, soalnya keluarga saya sudah menunggu saya di rumah."
"Iya ... hati-hati yah," ujar Pak satpam lembut, membuat Kanaya tersenyum lalu melambaikan tangan pergi.
Kanaya akhirnya bisa bernapas lega saat akhirnya sudah berhasil lolos dari sekolah, dengan akting yang sudah berhasil menipu pak satpam.
Demi jidat lebar pak satpam Kanaya meminta maaf karena karena sudah berbohong tapi ini darurat. Ia menyetop taxi lalu masuk, menyuruh supir taxi mengantarnya ke suatu tempat yang akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikirannya.
**
Kanaya membuka perlahan sebuah pintu. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara keras yang mengganggu orang yang ada di dalamnya. Dalam hati ia berusaha untuk menguatkan dirinya dan merapalkan mantra bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Selamat siang Om," sapa Kanaya hati-hati saat menemukan orang yang ia cari sedang berbaring sambil melihat ke arah jendela.
Kanaya tahu mungkin egois karena bisa-bisanya memutuskan untuk menanyakan ini disaat kondisi orang itu tidak memungkinkan. Tapi ia harus tahu kebenaran itu saat ini juga.
Kanaya tersenyum canggung. "Saya Kanaya Om, yang kemarin datang ke sini dengan Alvaro," ucap Kanaya ramah.
Papa Alvaro atau om Bram tersenyum. "Iya ... saya ingat. Mana mungkin saya lupa dengan gadis cantik yang berjasa membuat anak yang membenci saya mau datang menjenguk."
Kanaya semakin bersalah saat melihat senyuman ramah om Bram kepadanya. Ia hanya berharap semoga apa yang ada dipikirannya tidak benar dan itu semua salah.
"Om ... ada hal yang ingin saya tanyakan sama Om?" tanya kanaya hati-hati.
Om Bram mengerutkan kening bingung. "Ada apa?"
"Jadi begini Om."
Karena semua rencana dan takdir Tuhan adalah sebuah rahasia kehidupan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan dan tidak akan pernah bisa merubah apa yang sudah terjadi dimasa lalu.
Di sinilah saat ini Kanaya, di rootrof gedung rumah sakit. Setelah berbicara dengan om Bram tentang semuanya, saat itu juga dunia Kanaya terasa hancur. Puing-puing kehidupan yang baru ia rangkai tiba-tiba hancur tak tersisa begitu saja, saat kenyataan itu sama dengan apa yang ada dipikirannya.
Pikirannya kosong, bahkan suara bunyi nada panggilan ponsel yang dari tadi berdering diabaikan oleh Kanaya. Air matanya jatuh. Ia merasa semuanya hancur dan selesai saat ini juga setelah mengetahui semua kenyataan itu.
"Apa cinta ini lebih kuat dari rasa benci ini? Apa rasa cinta ini bisa berdamai dengan masa lalu?"
**Thanks for reading 🙏
Jangan lupa vote & comment💜**