
**Happy and enjoy reading💜
Sorry for typo🙏**
karena cinta itu saling menerima. Jadi jadi Jangan
jangan kekurangan sebuah alasan untuk halangan.
Karena kekurangan itu yang membuat kita menjadi lebih sempurna untuk saling melengkapi.
🐰
Karena manusia hanya bisa berencana dan hanya Tuhan yang berhak menentukan rencana kita berjalan atau tidaknya nanti.
Kanaya boleh berencana tentang hidupnya. Tentang apa yang akan dia lakukan, tapi dia tidak akan pernah bisa memprediksikan rencananya akan berjalan apa tidak nantinya.
"Semoga Bunda gak papa ya Tuhan."
Sekarang Kanaya tengah di halte bis menunggu bis ke arah rumahnya yang entah kenapa saat ini tak kunjung datang. Ia panik, gelisah dan khawatir saat tadi sedang di toko buku bersama Maya, tiba-tiba mendapat telepon dari Rt tempatnya tinggal dan memberitahukan soal kondisi Bunda sekarang.
"Gue udah lari-lari dari toko buku ke halte, tapi kenapa bisnya gak datang-datang," gumam Kanaya gelisah. Beberapa kali ia melihat ujung jalan, berharap bis yang ditunggu akan segera muncul.
Tit..tit..tit...
Suara klakson mobil mengagetkan Kanaya, jantungnya terasa akan copot sekarang. Ia akan memaki siapapun orang yang ada di mobil karena dengan seenaknya membuat kaget setengah mati.
"Ayo masuk!" seru Alvaro setelah kaca mobilnya dibuka.
"Ya ampun! Gue kira siapa, Bisa gak datang itu jangan selalu tiba-tiba? Udah kaya jelangkung aja!" maki Kanaya jengkel.
Alvaro mengerutkan kening bingung atas makian Kanaya. "Kenapa? Emang ada yang salah," balasnya santai.
"Terserah."
Rasanya meladeni cowok itu hanya akan menambah kadar emosi Kanaya semakin menipis. Ada hal yang jauh lebih penting sekarang, dari pada meladeni cowok rese di depannya yang tak pernah ada akhir jika berdebat.
"Lo kenapa? Kok gelisah?" tanya Alvaro khawatir saat melihat Kanaya yang terlihat panik.
"Lo lagi buru-buru, ayo biar gue anter?" tawar Alvaro kembali saat tidak mendapat jawaban dari Kanaya.
Kanaya mencoba menghembuskan napas kasar berkali-kali. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Padahal hari ini ia sedang berusaha menghindari Alvaro. Ia hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan hatinya.
Berkali-kali Kanaya melihat ujung jalan. Berharap sebuah bis akan muncul dan bisa membuatnya tidak berakhir dengan cowok itu lama-lama.
"Ya udah anterin gue pulang," putus Kanaya akhirnya, karena merasa bis yang ditunggu tidak akan datang.
Karena kondisi Bunda jauh lebih penting sekarang dibanding kondisi hatinya.
"Eh ... mau ngapain?" tanya Kanaya kaget saat telah duduk di kursi mobil Alvaro, tiba-tiba cowok itu bergerak mendekatinya.
Alvaro hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan Kanaya.
"Lo mau ngapain? jangan macam-macam yah!" sewot Kanaya panik.
Alvaro semakin mendekatkan tubuh lebih dekat dengan Kanaya. Matanya terus menatap intens wajah Kanaya, sementara Kanaya semakin dibuat ketar-ketir sekarang.
Klik
Suara seatbeth yang terpasang membuat Kanaya bernapas lega. Sementara Alvaro hanya terkekeh geli melihat sikap Kanaya barusan.
"Bukannya kita udah pernah ngelakuin hal yang macem-macem yah sebelumnya," goda Alvaro tanpa menjauhkan wajah dari Kanaya.
Kanaya berusaha untuk menghindari tatapan Alvaro. Ia berusaha mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.
Dia mau ngapain sih? Kok gak menjauh-jauh dari tubuh gue.
Sebenarnya niat awal Alvaro hanya ingin mengerjai dan menggoda Kanaya. Tapi kenapa sekarang malah menjadi yang tergoda.?
Dari jarak sedekat ini kenapa wajah Kanaya malah terlihat semakin cantik? Mata sipitnya, hidungnya pun tidak bisa dikategorikan mancung ataupun pesek. Satu lagi yang menarik yang membuat Alvaro tergoda, cara Kanaya menggigit bibirnya jika sedang gugup. Membuat ia ingin merasakan untuk menggigitnya.
"Ay ... yo anterin, gu ... gue pu ... pulang," gumam Kanaya gugup.
Kanaya benar-benar mengutuk dirinya sendiri, kenapa malah menatap ke arah Alvaro sekarang? Lihatkan seakan dia malah terhipnotis oleh tatapan tajam Alvaro dan ikut hanyut dalam permainan mata Alvaro.
Kanaya hanya mampu memejamkan mata saat Alvaro semakin mendekatkan wajah. Hidung mereka sekarang sudah bersentuhan. Sebuah tekstur lembut kembali mereka saling rasakan sekarang.
Ini manis dan bahkan selalu manis rasanya, rasa favorit gue.
Sebuah ******* pertama Alvaro lakukan, mencoba menikmati setiap inci dari rasa lembut tekstur bibir Kanaya. Mereka semakin hanyut dalam permainan mereka untuk beberapa waktu sampai Kanaya kembali tersadar dan mengingat kondisi Bunda.
Kanaya mendorong pelan dada Alvaro, mencoba menghentikan Alvaro yang masih asik dengan aktifitasnya.
"Kenapa? Gue belum selesai!" protes Alvaro tidak terima karena kegiatannya terhenti.
Alvaro kembali mendekatkan wajah ke Kanaya, tapi Kanaya sekali lagi mendorong pelan dada Alvaro untuk menjauh darinya.
"Gue lagi buru-buru. Cepet anterin gue pulang sekarang. Kalau lo gak bisa, gue bisa balik sendiri," kata Kanaya mencoba memberi pengertian kepada Alvaro yang saat ini tengah memberenggut kesal.
"Ok," balas Alvaro pasrah. Lalu ia kembali menjalankan mobil dengan muka ditekuk masam.
Kanaya merasa geli sendiri saat melihat sikap Alvaro sekarang. Cowok itu terlihat seperti bocah 5 tahun yang sedang marah karena mainannya diambil. Jadi sebenarnya apa yang mainan Alvaro yang diambil? Bibirnya? Tidak! Kanaya menjadi senyum-senyum sendiri membayangkannya.
Alvaro yang sedang menyetir menoleh sekilas ke arah Kanaya. Ia mengerutkan kening bingung saat melihat Kanaya tersenyum-senyum sendiri.
"Gak ada hal lucu kayaknya buat lo tersenyum," cibir Alvaro datar.
Kanaya menghembuskan napas berat, menghadapi kemarahan cowok di sampingnya. Ternyata saat marah dan merajuk seperti ini sifat Alvaro lebih menyebalkan dari bocah 5 tahun.
"Ok ... gue gak akan senyum-senyum lagi. Bahkan gak akan narik napas sekalipun," balas Kanaya tak kalah datar dan jutek.
Akhirnya keheningan menemani perjalanan mereka saat ini.
**
"Rumah lo yang mana? Yang rame itu kan?"
Suara Alvaro membuat Kanaya sadar, lalu mendongak melihat keluar. Ternyata benar ia sudah sampai di kompleks rumahnya. Kanaya kembali memicingkan mata, saat melihat ada banyak orang di depan sebuah rumah, tapi tunggu itukan rumahnya!
"Ya Tuhan! Ada apa rame-rame di depan rumah gue?" tanya Kanaya panik lalu terburu-buru keluar dari mobil.
Alvaro mengikuti langkah Kanaya yang terlihat sedikit berlari menerobos kerumunan.
"Bunda ...." Kanaya menghambur menuju Bunda yang sedang terduduk di tanah dan dikelilingi oleh banyak orang. Bahkan Kanaya bisa melihat seorang Ibu yang tengah menggendong bocah laki-laki 5 tahun yang sedang menangis langsung menatapnya tajam.
"Ada apa ini sebenanya Pak Rt?" tanya Kanaya penasaran.
"Oh ... jadi kamu anaknya. Kalau punya Ibu gila tolong yah dijaga. Jangan Sampai dibiarin kelayapan kaya gini!" bentak seorang Ibu yang membuat Kanaya semakin bingung.
"Maksud ibu apa?" tanya Kanaya benar-benar tidak mengerti.
"Jadi begini neng Kanaya. Sebelumnya bapak minta maaf yah. Tadi Ibu neng mengejar-ngejar 3 orang anak yang sedang bermain. Lalu Ibu neng mengendong anak dari Ibu ini dan berlari-lari menggendong anak itu keliling kompleks."
Kanaya akhirnya mulai mengerti atas apa yang terjadi saat ini. Bunda memang selalu menganggap setiap anak kecil itu anaknya atau adik Kanaya yang sudah meninggal.
Dia memang selalu menngejar setiap anak yang ditemui, tapi itu dulu pada tahun pertama dan kedua Bunda sakit. Tapi kebiasaan itu sudah sembuh setelah Kanaya membawa Bunda menjalani terapi pengobatan. Walaupun sudah 3 bulan ini ia tidak membawa Bunda berobat karena uang tabungannya belum cukup. Karena akhir-akhir ini terlalu banyak kebutuhan lainnya.
"Saya pokoknya minta tanggung jawab atas apa yang Ibu ini perbuat. Lihat anak saya sampai trauma seperti ini!" bentak Ibu itu kembali.
"Tanggung jawab apa Ibu? Sebelumnya saya benar-benar minta maaf atas apa yang Bunda saya lakukan. Saya benar-benar minta maaf Ibu untuk semuanya," ucap Kanaya pelan.
Sementara Ibu itu hanya membuang muka saat Kanaya meminta maaf.
Alvaro yang menyaksikan kejadian di depannya yang melibatkan gadisnya jadi pihak korban. Ia benar-benar merasa tidak terima. Akhirnya Alvaro mengambil sebuah tindakan untuk menyelamatkan gadisnya.
"Berapa yang Ibu minta? Ayo sebutkan berapa? Satu juta, tiga juta, lima juta atau lebih silahkan sebutkan!" teriak Alvaro sedikit menahan emosi. Karena tidak lucu jika sampai dia harus bertengkar dengan ibu-Ibu sekarang.
Semua orang diam termasuk Kanaya dan Ibu itu. Kanaya tadi melupakan fakta kalau Alvaro masih ada di sini menyaksikan semuanya. Semoga Kanaya tidak menyangka saat Alvaro membelanya saat ini.
"Kenapa diam Ibu? Bukannya Ibu tadi meminta pertanggung jawabankan." Alvaro saat ini tengah berjalan dengan santai menuju ke arah Kanaya dan Ibu itu.
"Ini 5 Juta tunai atas pertanggung jawaban gadis dan Ibu ini terhadap Ibu dan anak Ibu," ujar Alvaro datar dan sebelah tangannya memegang uang.
"Iy ... ya saya terima uangnya," jawab Ibu itu sedikit gugup dan mengambil uang di tangan Alvaro.
Alvaro tersenyum penuh kemenangan saat melihat Ibu itu pergi dengan wajah sombongnya. Ia kemudian melihat tajam orang-orang yang masih berada di sana yang masih berkasak-kusuk. Alvaro tahu mereka pasti sedang membicarakannya.
"Bunda gak papakan? Terus gak ada yang sakitkan Bunda?"
Alvaro kembali melihat ke arah Kanaya yang sedang menghapus secara perlahan air mata Bundanya. Kemudian Kanaya membantu Bunda berdiri dan menuntunya berjalan pelan masuk ke dalam rumah.
Sumpah ... gue ngerasa sakit banget saat lo sedang terluka kaya gini.
Tanpa pikir panjang Alvaro berjalan mengikuti Kanaya masuk ke rumah. Walaupun Kanaya tidak menyuruhnya masuk, tapi nalurinya menyuruh untuk ikut masuk juga.
Alvaro sedikit menghembuskan napas kasar, saat melihat kondisi rumah Kanaya. Rumah ini tidak termasuk layak menurut Alvaro, ini lebih pantas disebut gudang menurutnya.
"Jadi selama ini dia tinggal di tempat kaya gini," gumam Alvaro pelan lalu mendudukkan badan di sofa.
"Gue kira lo udah pulang. Eh ... ternyata malah masuk rumah orang tanpa permisi!" tegur Kanaya jengkel saat melihat cowok itu sedang duduk santai di sofanya.
"Gue kira tanpa harus permisipun yang punya rumah udah ngizinin gue masuk," balas Alvaro santai tanpa dosa.
"Pede amat, emang siapa yang punya rumah yang ngizinin lo masuk?" tanya Kanaya jengkel lalu ikut mendudukan dirinya di samping Alvaro.
"Cewek cantik di samping gue," balas Alvaro masih santai dan tersenyum geli saat melihat wajah Kanaya memerah.
"Apaan sih gak jelas amat!" sewot Kanaya berusaha menoleh ke samping lain untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
Alvaro semakin terkekeh geli saat melihat Kanaya semakin salah tingkah. Ia tidak menyangka bahwa ucapannya barusan berefek patal seperti itu untuk Kanaya.
"Arrrrrghhh ...!" Sebuah teriakan mengejutkan mereka.
"Bunda," ucap Kanaya kaget lalu berlari menuju kamar Bundanya.
Alvaro kembali mengikuti Kanaya berjalan masuk ke dalam sebuah kamar tanpa diperintah.
"Bunda kenapa?" tanya Kanaya khawatir saat melihat Bunda bangun dan kembali menangis.
"Kamu siapa? Anak saya mana?" tanya Bunda semakin histeris.
"Aku ... aku ... oh anak Bunda ada bentar aku ambilin."
Alvaro hanya mengerutkan kening bingung saat melihat interaksi percakapan Kanaya dan Bundanya, menurutnya ada yang aneh.
Anak ... bukannya dia anaknya.
"Ini anak Bunda. Sekarang Bunda tidur lagi yah," kata Kanaya lembut. Ia tersenyum lega saat melihat Bunda mengangguk patuh dan langsung tidur membelakanginya sambil memeluk bonekanya.
"Ehemmm ...!"
Suara deheman seseorang mengagetkan Kanaya. Ia terkejut saat melihat Alvaro sedang bersandar di pintu kamar Bunda.
Jadi dari tadi dia di situ. Berarti udah denger semuanya.
Kanaya menghembuskan napas kasar lalu berjalan melewati Alvaro tanpa berbicara sedikitpun. Ia berjalan menuju pintu keluar dan Alvaro mengikuti Kanaya dalam diam.
"Gue rasa udah saatnya lo pulang, karena terlalu banyak yang lo tau di sini," ujar Kanaya datar setelah mereka sampai di luar.
"Emang kenapa kalo gue tau? Kalo gue tau kalo Ibu lo ...," balas Alvaro sedikit menghembuskan napas kasar untuk kembali mulai berbicara. "Apa lo malu sama kondisi Ibu lo?" lanjut Alvaro hati-hati.
Kanaya terlihat menggigit bibir bawahnya, pertanda ia gugup dan Alvaro tahu itu. Kanaya lalu mendongak menatap Alvaro. Ia yakin saat ini matanya pasti sudah berkaca-kaca.
"Demi apapun gue gak pernah malu sama kondisi Bunda. Gue bahkan gak peduli saat gue harus dibully orang-orang karena ini. Tapi gue cuman gak mau kalau orang-orang ngehina dan ngebully Bunda," kata Kanaya menggebu-gebu dan akhirnya air matanya terjatuh.
Tangan Alvaro refleks menghapus air mata Kanaya lembut dengan kedua ibu jarinya.
"Syut ... udah jangan nangi gue gak akan biarin ada orang yang nyakitin lo sama Bunda lo. Gue janji bakal selalu ngejaga kalian dari apapun itu ... gue janji," kata Alvaro bersungguh-sungguh.
Kanaya berusaha mencari kebohongan di mata Alvaro, tapi ia tidak bisa menemukannya. Ia lalu menghambur memeluk Alvaro, menumpahkan semuanya dan kembali menangis di pelukan Alvaro.
Gue Janji Nay, gue janji.
Kanaya lega karena saat ini ia tidak sendiri dan merasa terlindungi oleh cowok dalam pelukannya sekarang. Ia benar-benar mempercayakan semuanya ke Alvaro. Ia yakin Alvaro akan membuat semuanya baik-baik saja. Kanaya benar-benar yakin itu.
Bagi Alvaro Kanaya adalah segalanya untuknya mulai saat ini. Kebahagiaan Kanaya menjadi prioritas utama hidupnya dan menjadi tujuan hidupnya mulai sekarang.
**Thanks for reading 💜
Jangan lupa vote & comment💜**