
**Happy & enjoy reading💜
Maaf untuk typo🙏**
Karena kamu bagian hidupku yang harus selalu dilindungi dan dijaga..
Karena itu janjiku...
🐰
"*Tangkap bolanya ... yah kamu payah masa bolanya dibiarin gitu aja pergi!" teriak seorang bocah laki-laki 9 tahun.
Di depannya ada seorang bocah yang sedang mengambil bola. Bocah laki-laki itu berumur 6 tahun.
"Kak Dennis bolanya satu-satu deh Kak. Jadinya kan gak rebutan gini," keluh bocah yang tadi mengambil bola.
"Hahah ... kalo satu-satu bukan main bola tapi main bekel kaya si Cika cengeng itu. Emang kamu mau jadi anak cengeng?" tanya bocah yang bernama Dennis. Ia sudah berjalan menuju bocah yang kini sudah mendudukan dirinya di atas rumput.
"Habisnya Alva cape kak. Dari tadi gak ada kesempatan buat nendang bola. Ngambilin bola ke semak mulu," keluhnya lalu merasakan sebuah tangan mengusap lembut kepalanya.
"Kalau kamu nyerah sama bola sekarang. Berarti kamu juga bakal nyerah sama hidup kamu nantinya."
Alva mendongak melihat kakaknya yang saat ini tengah memandang lurus ke depan. Ia menggeleng karena tidak mengerti maksud perkataan kakaknya.
"Alva gak ngerti maksud kakak?" tanyanya polos membuat Kakaknya tersenyum.
"Ok ... pokoknya kakak bakal selalu temenin kamu sampai kamu ngerti semuanya. Selamanya kita bakal selalu bersama."
"Aku masih gak ngerti tapi iya deh janji kita bakal selalu bersama," katanya antusias.
Alva lalu menautkan jari kelingkingnya yang dibalas tautan jari kelingking oleh Dennis.
"Janji selalu bersama selamanya," kata mereka bersama, lalu mereka tertawa bersama*.
**
Seorang lelaki saat ini sedang duduk di sebuah bangku, sambil matanya terus menatap lurus ke taman yang ada di depan. Taman yang ada di belakang rumahnya.
"Dulu kita pernah buat janji di sini. Tapi kenyataannya sekarang kita seperti orang yang tidak saling mengenal," gumamnya lirih.
"Seandainya takdir gak mainin kehidupan kita. Seandainya lo lebih ngerti dan lebih bisa nerima semuanya, mungkin sekarang kita masih bisa bersama."
Dennis, seorang lelaki yang saat ini sedang duduk di salah satu bangku di taman. Entahlah setiap kali ke sini ke taman belakang rumah, ia selalu teringat akan kenangan bersama dia. Seseorang yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri, Alvaro.
"Sorry ... ini pilihan yang sulit buat gue waktu itu. Antara nyokap dan lo, dan sorry ... kalo gue lebih milih percaya nyokap dari pada lo. Karena menurut gue waktu itu lo cuman bocah yang berumur 10 tahun yang penuh dengan khayalan imajinasi."
**
*Seorang bocah laki-laki sedang berbaring di kamarnya sambil membaca komik. Tiba-tiba ia terkejut atas ketukan lebih tepatnya gedoran dipintu yang berulang-ulang.
"Siapa sih ngegedor pintu kaya mau ruksakin pintu kamar orang," ucapnya dengan langkah malas sambil berjalan untuk membuka pintu.
"Kak tolongin aku ... tolongin aku kak ... tolongin aku kak ...." Bocah itu terkejut saat membuka pintu melihat Alva sedang menangis ketakutan.
"Kamu kenapa? Kok kamu kaya ketakutan gitu?" tanyanya khawatir, walaupun saat ini ia sedang marah dengan Alva tapi melihat kondisi Alva seperti itu tidak tega.
"Tante ... maksudnya mama tadi nyuruh aku ke kamanya. Terus nyuruh aku buka baju aku ... terus dia ... mau perkosa aku kak," kata Alva disela ketakutan dan tangisannya.
"Kamu jangan bercanda deh. Mama gak mungkin ngelakuin kaya gitu sama kamu. Jangan ngarang!" bantah Dennis benar-benar tidak percaya ucapan bocah di depannya.
"Aku serius kak ... mama hampir perkosa aku, tolongin aku kak." Alva menangis. Entahlah ia bingung harus bagaimana menceritakannya agar Dennis percaya.
Sementara Dennis terus memperhatikan raut wajah Alva yang terlihat benar-benat ketakutan. Ia bingung ingin sekali percaya, tapi kenyataannya semua ucapan bocah di depannya hanya sebuah imajinasi. Karena Alva terlalu benci dengan mama, yang membuatnya menjauhi bocah itu akhir-akhir ini.
"Dennis ... kamu jangan percaya dia. Dia sedang berimajinasi lagi. Tadi mama nyuruh dia ke kamar mau ngasih dia baju ini. Baju baru tapi dia langsung teriak-teriak. Mama juga tidak mengerti kenapa dia sebenci itu sama mama." Dennis menengok ke arah mama yang sudah ada di sampingnya.
"Salah saya apa sama kamu? Saya udah anggap kamu seperti anak saya sendiri tapi kenapa kamu selalu nuduh saya yang macam-macam?" Tangis Mama pecah, Dennis kembali melihat ke arah Alva yang masih menunduk.
"Kamu benar-benar keterlaluan yah! Kamu udah fitnah dan bikin mama sedih. Sekarang aku benar-benar benci sama kamu!" teriak Dennis emosi, sementara Alva masih menunduk tidak berani menatap Dennis.
"Makasih sayang kamu udah percaya mama ...," ucap Mama di tengah tangisannya. Walaupun ada sebuah senyuman misterius di wajahnya sekilas yang tidak sempat terlihat oleh kedua anak itu.
"Iya Ma ... aku selalu percaya Mama. Ayo kita masuk ke kamar aku ... dan buat kamu jangan pernah munculin wajah kamu di depanku." Setelah mengucapkan itu, Dennis lalu membawa mamanya masuk ke kamar.
Tanpa Dennis tahu, setelah pintu itu tertutup. Alva bocah yang masih berdiri di depan pintu, hanya menatap pintu dengan air mata yang terus mengalir di wajah.
"Mah ... Alva takut. Alva sendiri sekarang. Alva udah gak punya siapapun sekarang. Bahkan kak Dennis juga udah gak percaya dan benci sama aku. Alva takut ma ... kenapa mama gak bawa Alva pergi sama mama*?"
**
"Dennis kamu ngapain di sini sayang?" Dennis terkejut lalu menoleh dan tersenyum saat melihat Mamanya sudah berdiri di sampingnya.
"Enggak kok Ma. Aku lagi cari angin aja. Mama mau ke mana? Kok udah rapi gitu?" tanya Dennis saat melihat mamanya sudah berpakaian rapi.
"Oh ... iya Mama ada arisan dulu bentar. Kamu baik-baik yah di rumah. Mama pergi," katanya pamit.
Dennis hanya menatap kepergian mamanya dalam diam.
"Apa selama ini yang gue lakuin benar? Apa gue udah percaya sama pihak yang benar? Entahlah semakin ke sini kok gue makin ragu tentang apa yang gue percaya saat ini." tanya Dennis entah pada siapa.
Dia berharap semoga waktu bisa menjawab semuanya suatu hari nanti.
**
Saat ini Kanaya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat kelakuan gila teman-temannya di depan kelas. Ini lebih gila dibanding mereka mengadakan konser dangdut dadakan waktu itu.
Karena teman-temanya saat ini sedang memerankan drama cinderella. Yang lebih parahnya peran wanita diperankan oleh laki-laki dan sebaliknya. Termasuk peran cinderella diperankan oleh Anton ketua kelas mereka yang terkenal cool dan peran pangeran diperankan oleh Maya sahabatnya.
"Oh ... di mana Cinderellaku berada sekarang? Kenapa dia hanya meninggalkan sebelah sepatu jeleknya yang sudah bau ini?" Kanaya hampir terbahak saat melihat Maya yang sedang mencium sebelah sepatu yang jelek entah punya siapa.
"Oh ... pangeran mungkin Cinderella menggunakan sebelah sepatunya lagi untuk membunuh tikus dengan bau sepatu sebelahnya itu," kata Boby yang berperan menjadi dayang pangeran.
Kanaya benar-benar tidak kuat untuk tertawa. Bahkan teman-teman kelas yang lainnya sudah tertawa terbahak. Bukan hanya peran mereka yang terbalik tapi penampilan merekapun sudah mendukung. Bahkan Maya sudah menggunakan peci di kepalanya dan para cowok sudah menggunakan jilbab.
Waktu ditanya anak yang lain kenapa mereka pake peci dan dan jilbab di drama cinderella ini. Dengan spontan Maya menjawab. "Cinderella, Pangeran and the gang masuk Islam," jawab Maya yang diangguki setuju oleh yang lainnya.
"Oh pangeran saya sudah menemukan Cinderella. Tadi saya menemukannya di comberan depan mesjid pangeran. Dia sedang belajar berenang," kata Bima yang biasanya berdandan badboy mendadak memakai jilbab dan bergaya kemayu.
"Mana dia? Pertemukan aku dengan Cinderellaku oh ... Dayang," kata Maya.
Kanaya dan anak lainnya yang menonton hanya mampu tertawa terbahak. Kanaya salut karena teman-teman kelasnya selalu punya ide untuk mengisi kekosongan pelajaran, saat guru ada yang berhalangan hadir dengan sesuatu yang menghibur dan gila pastinya.
"Oh pangeran ... ini aku Cinderella. Itu sepatu milikku. Tolong kembalikan pangeran karena ini masih kredit. Cicilan 5 tahun." Tiba-tiba Anton yang berperan menjadi Cinderella muncul dari pintu.
Anton seorang ketua kelas, masuk club basket juga dan wajahnya juga yang bisa dibilang tampan. Sekarang dia menggunakan jibab dan bertingkah kemayu, sukses membuat seisi kelas tertawa.
"Oh ... Cinderella ternyata kau yang menghutang kreditan pada Radja dan tidak membayar cicilan selama satu tahun. sekarang cepat bayar cicilanmu!"
"Oh pangeran ... beri aku waktu lagi pangeran untuk membayar cicilan sepatu itu. Aku sekarang sedang mencoba berdagang bulu ketek untuk membayar cicilan." Anton sekarang sedang berlutut di bawah Maya. Sementara Maya hanya bersedekap dada.
"Baiklah aku sang pangeran memberikan keringanan untukmu Cinderella. Kau kuberi waktu untuk membayar cicilanmu dengan satu syarat tolong sekalian jual bulu ketekku."
"Baiklah pangeran terima kasih atas kemurah hatianmu. Saya Cinderella menunggu bulu ketek anda segera."
Secara kompak semua pemain drama Cinderella gadungan sudah berbaris sejajar di depan kelas.
"Baiklah itu lah drama Cinderella yang ditagih hutang dari kami. Nantikan drama kami selanjutnya. Cukup sekian dan salam manis dari kami," ucap Bayu mengakhiri drama itu dengan gaya kemayunya.
Seketika suara tepuk tangan dan tawa pecah menghiasi suasana kelas itu.
"Wah ... hebat ... hebat drama yang hebat," ucap seseorang di tengah kegaduhan.
Seketika mereka semua kompak melihat ke sumber suara, yaitu seseorang yang berdiri di pintu kelas. Secara kompak mereka menghentikan tawa mereka dan menelan ludah mereka karena gugup.
"Kalian hebat yah ... mengisi kekosongan pelajaran dengan sebuah drama dan membuat kegaduhan yang mengganggu konsentrasi belajar kelas yang lain!" bentaknya yang tak lain adalah kepala sekolah mereka Bu Marinka yang terkenal killer dan sadis.
"Itu anu ... Bu ... itu ... itu kita Ibu." Anton mencoba menjelaskan karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua kelas. Namun sayang penjelasannya malah terdengar gugup.
"Jangan banyak bicara. Sekarang kalian semua lari keliling lapangan 10 keliling. Setelah itu berdiri di tengah lapangan dengan menjewer telinga teman kalian sampai 10 menit, sebelun waktu istirahat selesai!" perintahnya mutlak.
"Ya Ampun Ibu serius. Cuman 10 menit kita serius dikasih buat istirahat," protes Maya tidak terima.
"Iya Ibu masa kita harus berjemur Ibu. Gimana kalau kulit saya kusam. Saya baru ke salon kemarin kan Ibu," sambung Boby yang mendapat gelengan tidak percaya dari teman-temannya.
"Sekarang laksanakan atau kalian mau saya kasih tambah menjadi 50 keliling."
Secara kompak mereka semua mengangguk dan menggeleng. Lalu dengan terbirit-birit keluar kelas untuk menuju lapangan. Kecuali anak-anak yang memerankan drama sedang berusaha mencopot atribut dramanya tadi.
"Ehemm ... jalani hukuman dengan atribut kalian. Jangan dilepas!" bentaknya dengan melotot tajam ke arah mereka.
Sebelum Maya akan kembali protes, Anton sudah terlebih dahulu membekap mulutnya dan menarik keluar diikuti yang lainnya.
"Kalau lo protes lagi. Bisa nambah hukuman kita," bisik Anton yang langsung mendapat anggukan dari Maya.
"Gila Nay ... gue udah gak kuat lagi nih. Rasanya badan gue udah lemes abis," keluh Maya masih berlari.
"Itu salah lo sama anak-anak mainin drama gak jelas," ujar Kanaya ketus sedikit ngos-ngosan.
"Tapi lo sama yang lainnya nikmatin kan drama kita tadi?" Kanaya hanya memutarkan kedua bola matanya malas lalu berlari lebih cepat meninggalkan Maya.
"Eh ... Nay tungguin! Elah ini peci gangguin lagi ah!" teriak Maya lalu berlari lebih cepat sambil merapikan pecinya yang melorot.
"Haha ... kenapa mereka dihukum kok kompak sekelas?"
"Itu kan si Anton anak basket itu. Kenapa dia pake jilbab ya ampun ... itu juga kenapa cewek-ceweknya pake peci?"
"Mereka pasti nyontek tuh."
Mereka hanya menatap malas melihat orang-orang yang sedang melihat mereka di pinggir lapangan. Berusaha menulikkan telinga mereka mendengarkan bisikan-bisikan tentang mereka.
"Aduh ... hilang kharisma gue sebagai salah satu cowok tampan di sekolah ini," keluh Anton berusaha menutup muka dengan sebelah tangannya.
"Eh ... bencong jangan kenceng-kenceng jewer telinga gue sakit cong!" teriak Bima tidak terima saat Boby menjewer telinganya dengan kencang.
"Aduh gue mesti selfi nih. Cucok gue pake peci," seru Maya bercermin merasa sangat cantik memakai peci.
"Duh gue laper."
"Duh gue malu serius."
"Duh kulit gue jadi kusamkan jadinya."
Kanaya hanya diam mendengar semua keluhan teman-temannya. Ia juga merasa malu saat sekarang bersama teman-temannya menjadi tontonan gratis anak-anak yang lain.
Tiba-tiba matanya beradu pandang dengan sorot mata seseorang. Seseorang yang mampu membuatnya tersipu hanya dengan melihat senyumannya, Alvaro.
Tiba-tiba Kanaya terkejut saat Alvaro tengah berjalan ke arah lapangan, lebih tepatnya ke arahnya. Bahkan sekarang Alvaro sudah menjadi tontanan dan pusat perhatian semua anak-anak di sana.
"Minum dulu nih lo pasti haus," kata Alvaro sekarang sudah berada di depan Kanaya dengan menyerahkan sebuah botol minuman.
Kanaya mengambil minuman itu lalu meminumnya. Matanya sesekali melirik ke arah sekitar yang terus memperhatikan insteraksi antara dia dan Alvaro.
"Eh ... gak usah," tolak Kanya saat Alvaro mengusap keringat di wajahnya dengan sapu tangan.
Sebenarnya Kanaya tersipu atas sikap manis Alvaro saat ini. Tapi rasa malunya yang menjadi tontonan lebih mendominasi.
"Kok bisa di hukum sih? Emang ngelakuin salah apa?" tanya Alvaro lembut. Sebelah tangannya masih sibuk menghapus keringan di wajah Kanaya semakin membuanya tersipu.
"ALVARO! Ngapain kamu di situ? Cepat kembali ke pinggir lapangan!" teriak Ibu Marinka di pinggir lapangan.
Alvaro hanya tersenyum melihat Bu Marinka yang sedang menatap tajam. "Saya mau ganti pacar saya yang dihukum. Kasian dia udah cape," jawabnya santai lalu menoleh ke arah Kanaya. "Lo istirahat sana biar gue gantiin hukumannya. Nanti temen gue kasih lo makanan pasti lo lapar."
"Tapi ... itu Bu marinka," jawab Kanaya terbata, matanya menatap takut Bu Marinka di pinggir lapangan yang sedang menatap tajam.
Alvaro mengerti arah pandang ketakutan Kanaya, ia mengusap kepala Kanaya lembut. "Udah gak papa sana biar gue gantiin di sini," kata Alvaro sedikit mendorong kasar Kanaya. Mencoba meyakinkan Kanaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Gak ... gak bisa ... Bu Marinka pasti marah. Terus gue gak enak sama anak-anak yang lain. Kita kan harus dihukum bareng-bareng," tolak Kanaya lagi.
"Gak papa kok Nay. Biar hukuman lo digantiin sama kak Alvaro. Iya gak temen-temen?" seru Maya tiba-tiba.
Dengan kompak semuanya mengangguk setuju atas ucapan Maya. Membuat Alvaro tersenyum penuh kemenangan.
"Iya Nay ... kapan lagi dong gue bisa bersebelahan gini sama Kak Alvaro," ujar Boby mesem-mesem. Saat ini ia sudah bergeser tepat di samping Alvaro.
"Ya Tuhan ... Boby dia cowok gue jangan genit," omel Kanaya bercanda yang dibalas cengiran oleh Boby dan kekehan teman-teman yang lain.
"Kenapa ikutan senyum? Seneng banyak yang belain apa seneng digodain si Boby atau lo seneng jadi pusat perhatian?" tanya Kanaya sewot. Ia benar-benar merasa malu menjadi tontonan.
"Apaan sih ... gue cuman lagi berusaha ngelindungin pacar gue," goda Alvaro lalu mencolek hidung Kanaya gemas.
Cukup ... cukup Kanaya sudah mulai risih menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Ia seperti sedang memainkan drama kacangan sekarang.
Dengan sangat terpaksa Kanaya berjalan menuju pinggir lapangan dengan menghentak-hentakan kakinya kesal.
"Nanti Rio ngambilin lo makanan! Jadi tunggu di pinggir lapangan sana!" teriak Alvaro yang semakin membuat Kanaya menggerutu sebal.
Walaupun perhatian cowok itu menyebalkan dan membuatnya sangat malu, tapi tidak dapat dipungkiri perhatian cowok itu sangat manis buat Kanaya.
Kanaya akhirnya hanya menyaksikan teman-temannya yang sedang berdiri dihukum di lapangan dan Alvaro yang menggantikan hukumannya. Ia hanya duduk di pinggir lapangan dengan memakan beberapa bungkus roti yang tadi diberikan Kak Rio.
I love you Alvaro.
**Thanks for reading 💜
Jangan lupa vote & comment💜**