
**Happy & enjoy reading💜
Maaf untuk typo🙏**
Baru ku tahu...
Ternyata sebuah bahu adalah tempat ternyaman untuk bersandar..
🐰
Rumah sakit adalah rumah terakhir yang ingin dikunjungi oleh setiap orang. Karena tempat ini penuh dengan aroma kematian bagi setiap orang. Jadi rumah sakit juga adalah tempat yang harus dihindari dalam hidup sebisa mungkin.
Beberapa helaan napas keluar dari mulut Ardi. Sudah dari 30 menit ia duduk di ruangan dokter, menunggu dokter dan kakaknya yang sedang berbicara hal penting di ruangan lain.
Sudah lebih dari 3 hari Ardi absen kerja di cafe. Selama itu pula ia tidak bertemu dengan bidadari kecilnya. Bahkan ia juga tidak menghubungi Kanaya lewat apapun.
"Lebih baik gue menjauh dari lo sekarang. Agar lo terbiasa tanpa gue atau gue yang terbiasa tanpa lo."
Bukannya Ardi menyerah pada hidupnya. Hanya rasanya akhir-akhir ini kondisi tubuhnya semakin tidak bisa bekerjasama. Ia hanya tidak ingin Kanaya melihatnya dalam kondisi seperti ini. Karena akhir-
akhir ini bahkan Ardi tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.
Uhukk..uhukk..uhukk...
Lagi dan lagi darah keluar dari mulutnya setelah batuk. Setelah itu pasti kepalanya akan dilanda rasa sakit teramat menyiksa. Kondisi seperti ini sudah Ardi rasakan beberapa hari ini. Itu alasan yang membuat Ardi perlahan mencoba menghilang dari kehidupan luarnya termasuk dari Kanaya.
"Di ... ayo masuk. Kamu harus periksa dulu sebelum jalanin kemo kamu." Ardi menengok ke arah Kakaknya Kadin yang sudah memanggil untuk memasuki ruang pemeriksaan.
"Ok." Ardi sekarang sudah merasa menyerah pada takdir.
Ini udah waktunya. Saatnya dunia neraka.
Dengan langkah pelan dan terpaksa Ardi memasuki ruangan yang mungkin akan menjadi ruangannya untuk beberapa waktu kedepannya.
**
Kanaya berjalan memasuki cafe dengan langkah semangat. Ia sudah gregetan ingin bertemu Ardi yang sudah beberapa hari ini tidak masuk dan tidak ada kabar. Bahkan tidak ada satupun nomer akses yang bisa menghubungi Ardi. Beruntung Alvaro tadi ada latihan basket. Jadi dia punya waktu tanpa diikutin pacar gemesnya itu.
Kanaya jadi gregetan sendiri setiap mengingat sikap menyebalkan Alvaro akhir-akhir ini. Coba bayangkan dari mulai pagi berangkat dijemput lalu di sekolah juga tetap dibuntuti. Lanjut dari mulai diantar sampai kelas kemudian dijemput di depan kelas saat mau istirahat. Sampai makan di kantinpun bersama, membuat Maya pun tidak ada waktu untuk mengobrol dengannya.
Jika saja saat waktu belajar di kelas Alvaro di izinkan masuk, mungkin dia juga sudah ikut belajar di kelasnya.
"Kenapa kamu ngintilin aku terus?"
"Jagain kamu dari mata-mata keranjang cowok jelalatan di sekolah."
Kanaya menjadi pusing sendiri!
"Eh ... Nay udah dateng. Tumben cepet, biasanya 5 menit lagi baru dateng. Ini 20 menit lagi loh Nay ... rajin amat," tegur Putri saat melihat Kanaya masuk.
Kanaya hanya cengengesan karena memang kenyataannya ia datang lebih cepat dari biasanya, karena memang ingin bertemu Ardi.
"Kak Ardi di mana Kak?" tanya balik Kanaya tanpa menjawab pertanyaan Putri tadi.
"Dia masih belum masuk terus juga belum ada kabar," jawab Putri sedikit murung, karena bagaimanapun hatinya masih menjadi milik yang sama.
"Dia kemana? Gak ada kontak atau nomer dia yang bisa dihubungin?" tanya kanaya mulai merasa khawatir. Pasalnya Ardi tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Gue juga gak tau Nay," gumam Putri lirih. "Gue kerja dulu Nay." Ia lalu meninggalkan Kanaya menuju dapur restoran.
Kanaya mendudukkan dirinya di salah satu kursi kosong di restoran karena ini juga belum termasuk jam kerjanya. Sekarang ia sedang ingin merasakan menjadi pelanggan sekalian menunggu Ardi juga siapa tahu dia belum datang.
Kanaya tiba-tiba tersenyum cerah saat melihat seniornya lewat. "Kak Rian aku mau pesen nih!" teriak Kanaya semangat. Siapa tahu Rian tahu tentang Ardi.
Senior yang bernama Rian itu berjalan ke arah Kanaya dengan langkah malas. Setelah sampai dia lalu menyentil kening Kanaya pelan persis seperti yang Ardi lakukan. Kanaya jadi mengingat Ardi lagi sekarang.
Kanaya berubah murung dan Rian yang melihatnya menjadi khawatir. Rian yang awalnya akan mengomeli gadis itu karena duduk santai malah berubah menjadi tidak tega.
"Kenapa murung? Apa tadi sakit?" tanya Rian khawatir. Ardi benar jika kita tidak akan pernah bisa marah kepada gadis ini.
"Kak Rian ada kabar dari kak Ardi gak? Kenapa udah beberapa hari ini dia gak masuk?" Kanaya balik bertanya membuat Rian menggeleng.
"Di kampus gimana? Kakak kan sekampus sama dia?" tanya Kanaya lagi. Kanaya berharap Rian tahu sesuatu karena dia adalah salah satu teman terdekat Ardi.
"Sama gak ada. Dia juga udah beberapa hari ini gak ngampus. Oh ... iya terakhir gue ketemu waktu di kampus wajahnya pucat gitu," jelas Rian, ia juga berharap tidak terjadi apapun dengan Ardi.
"Apa dia sakit? Kakak punya gak alamat rumahnya?" tanya Kanaya benar-benar khawatir.
Rian menggeleng pelan. "Sorry ... Nay, gak ada. Lo tau sendirikan dia agak tertutup orangnya. Gue kira malah lo tau," jawab Rian menyesal membuat Kanaya semakin khawatir.
Kanaya tertunduk, menggeleng pelan. "Gue juga gak tahu Kak. Setiap gue tanya dia selalu bilang di negeri dongeng," ucapnya pelan.
Rian mengusap kepala Kanaya pelan. "Gue yakin Ardi pasti baik-baik aja," katanya berusaha menenangkan. "Ya udah Nay gue balik kerja lagi. Jangan dipikirin." Setelah itu Rian sudah pergi kembali bekerja.
Lo kemana Kak?
Ardi sangat berarti untuk Kanaya. Walaupun Kanaya baru mengenal Ardi dua tahun ini, tapi dalam waktu sesingkat itu mampu membuat dia dan Ardi mempunyai ikatan yang dekat. Bahkan lebih dekat dibanding ikatan dia dengan Alvaro.
Waktu jam kerjanya sudah dimulai, Kanaya garus mulai bekerja. Jangan sampai telat dan ketahuan manager. Karena Kanaya masih sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya hidupnya dan Bunda. Biarkan urusan Ardi nanti dia pikirkan lagi.
Karena tanpa Ardi hidupnya tak akan sama lagi seperti saat Ardi masih ada.
**
From : Alumunium 😍
Nanti pulang gue jemput..
Jangan kabur💜
"Nay ... udah mau balik sekarang? Mau bareng gak?" tanya Putri saat mereka sudah berada di luar restoran.
Kanaya menggeleng. "Gak kayaknya Kak."
"Cie ... udah dijemput yah lo? Ardi pasti seneng lihat lo udah punya pacar dan udah ada yang jagain ...," ucapan Putri terpotong saat melihat raut wajah Kanaya berubah murung.
Sorry .. Nay gue gak bisa ngasih tau yang sebenarnya. Karena Ardi ngelarang gue buat ngasih tau lo.
"Ya ... udah gak usah terlalu dipikirin. Gue yakin Ardi gak papa kok. Gue duluan soalnya taxi-nya sudah datang," pamit Putri mengusap lembut kepala Kanaya sebelum meninggalkannya.
Berkali-kali Kanaya menghela napas, berusaha menghilangkan pikiran negatifnya tentang Ardi.
Tit..tit..tit..
Suara klakson mobil membuat Kanaya kaget. Ia menoleh dan mencibir saat mengetahui siapa pelakunya.
"Bisa gak jangan ngagetin orang! Kamu itu bikin aku jantungan tau!" omel Kanaya saat sudah duduk di kursi mobil.
Alvaro terkekeh. "Sengaja biar kamu kaget, abisnya kamu ngelamun." Ia meyentil hidung Kanaya. "Kaya anak kecil ngambekan."
"Bodo amat suka-suka aku," sewot Kanaya masih kesal. "Ya udah ayo jalan!"
Alvaro lalu menjalankan mobilnya. Sesekali ia melirik ke arah Kanaya yang masih diam. Ada yang beda dari Kanaya dan Alvaro bisa merasakan itu. Tiba-tiba ia berbelok arah dari jalan ke rumah Kanaya. Tapi Kanaya tidak menyadarinya karena masih asik melamun.
Beneran ada yang aneh dengan Kanaya.
"Ayo turun!" ajak Alvaro saat mereka sudah sampai di suatu tempat.
Kanaya memandang ke arah luar mobil, memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Sedang berada dimana dia sekarang? Ia menoleh ke arah Avaro yang sedang menatapnya intens.
"Kita di mana? Kok kamu bawa aku ke sini?"
Tanpa menjawab pertanyaan Kanaya, Alvaro lalu membuka seatbethnya. Kemudian ia juga membuka seatbeth Kanaya, membuat Kanaya menahan napas sebentar karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Ayo turun!" ajak Alvaro lagi. Menatap intens Kanaya. "Kamu pasti bakal suka tempatnya. Aku cuman gak suka lihat kamu murung kaya gini." Kali ini sebelah tangannya telah mengangkat dagu Kanaya agar melihat ke arahnya.
Kanaya semakin tersipu diperlakukan seperti ini. Dalam benaknya ia bertanya sebenarnya apa mau cowok itu. Kenapa sikapnya selalu berubah-ubah?
"Ayo turun!" ajak Alvaro lagi sudah menjauhkan wajah dari Kanaya
Kanaya akhirnya bisa bernapas dengan benar lagi. Sungguh pengaruh Alvaro sangat besar untuk dirinya terutama tubuhnya.
"Ayo ... gak usah deg-degan terus," goda Alvaro lagi sambil terkekeh.
Kanaya melirik tajam ke arah Alvaro, tunggu kenapa cowok itu terkekeh melihatnya. Apa sangat kelihatan jika dia gugup barusan? Apa pipinya memerah?
Kanaya membuka kasar pintu mobil kemudian juga menutupnya kasar. Tiba-tiba semua rasa kesal dan amarahnya lenyap saat pandangannyan tertuju pada tempat beradanya sekarang.
"Gimana suka?" tanya Alvaro yang telah menyandarkan tubuh pada depan mobilnya.
Kanaya menghirup napas sebanyak mungkin. Sungguh tempat ini sangat tenang dan jauh dari hirup pikuk Jakarta jika malam seperti ini.
"Sini bentar lagi mulai!" ajak Alvaro menepuk pelan sisi tempat di sampingnya. "Kamu pasti suka."
Kanaya sudah memposisikan dirinya di samping Alvaro. "Emang mau mulai apaan?" tanya Kanaya penasaran.
Kanaya menoleh ke arah Alvaro, cowok itu tengah memejamkan matanya. Dia terlihat begitu tenang dan damai. Cahaya bulan sabit menerangi mereka, membuat wajah Alvaro yang terkena pantulan cahaya bulan semakin menarik untuk dipandang.
Ganteng
Entah apa maksud Alvaro membawanya ke sini. Tapi tempat ini mampu membuat Kanaya lebih merasa tenang dan damai.
Saat ini mereka sedang berada di pinggir jalan di sebuah jambatan. Dari sini mereka bisa melihat sebuah sungai yang terbentang luas. Ini masih di daerah Jakarta. Tapi berada di pinggiran. Tempat yang sebenarnya jarang ada yang melewati jika sudah malam.
"Tuh ... udah mulai!" Alvaro terlihat semangat menunjuk sesuatu di depannya. "Lihat depan bukan lihat aku," godanya ke Kanaya.
Dengan kesal Kanaya memalingkan wajahnya. "Kepedean banget sih. Apaan ...," ucapannya terhenti saat pandangannya jatuh pada pemandangan di depan. "Waw ... indah banget, itu apa?"
"Itu lampion. Hari ini ada sebuah pameran lampion di daerah sini. Para lampion akan diterbangkan selama satu bulan penuh setiap malam. Mereka akan bergerak terbang melewati sungai," terang Alvaro membuat Kanaya tersenyum memandangnya.
"Indah seperti lilin yang bertaburan di atas air," gumam Kanaya merasa kagum. "Kamu tahu dari mana tempat ini?"
Alvaro menatap Kanaya. "Rahasia." Setelah itu kembali memalingkan wajah dan tertawa.
Entah kenapa Kanaya sama sekali tidak merasa kesal digoda Alvaro. Mungkin semua keindahan malam ini menutupi semuanya.
Tiba-tiba Kanaya merasakan sebuah tarikan lembut di sisi kepalanya, membuatnya kini telah menyandarkan kepala di bahu Alvaro. Sementara sebelah tangan Alvaro merangkul bahu Kanaya erat.
"Apapun masalah yang sedang kamu pikirin sekarang. Kamu harus inget ada aku di sini. Aku bakal selalu ada buat kamu."
Alvaro benar bahwa Kanaya sekarang mempunyai cowok itu. Kanaya sekarang sudah punya tangan lain yang selalu menghapus air matanya. Ia juga sudah menpunyai pundak lain untuk bersandar saat merasa lelah.
Tuhan begitu baik padanya. Dia selalu mengirimkan orang-orang baik yang selalu menyayanginya. Setelah Ardi sekarang Tuhan mengirimkan Alvaro di sisinya. Mereka berdua mempunyai tempat masing-masing yang berbeda di hidupnya. Karena mereka sama-sama berarti untuk Kanaya.
Kak Ardi aku sekarang bahagia. Aku udah nemuin dan ngerasain cinta yang kakak bilang. Aku harap di manapun kakak berada sekarang, kakak juga ngerasaain bahagia sama kaya aku. Aku rindu kak.
"Terimakasih ... aku sayang kamu," bisik Kanaya masih bisa didengar Alvaro.
"Aku juga sayang kamu," balas Alvaro lalu semakin mengeratkan dekapannya.
Karena cinta tahu tempat terbaik untuk singgah.......
**Thanks for reading💜
Jangan lupa vote & comment💜**