
**Happy & enjoy reading💜
Sorry for typo🙏**
Kamu berada di tempat di mana aku bisa bahagia dan terluka secara bersamaan. Takdir mempermainkan kita seolah kita tidak berhak bahagia...
🐰
Untuk kesekian kalinya Kanaya mengabaikan suara dering nada panggilan di ponsenya. Bahkan ia juga mengabaikan puluhan pesan masuk yang sama sekali tidak dilirik ataupun dibaca satupun.
Pesan dan panggilan masuk yang berasal dari satu nama yaitu Alvaro.
"Maaf aku perlu waktu untuk bisa berdamai dengan masa lalu kita."
Kanaya menghela napas berkali-kali, tatapannya beralih melihat ke arah Bunda yang saat ini sedang menina bobokan bonekanya.
"Bunda apa yang harus Naya lakuin?" Bunda hanya melirik Kanaya dengan tatapan tidak suka.
"Jangan berisik Dava udah mau tidur," bisik Bunda pelan dan hanya diangguki lemah oleh Kanaya.
Tuhan kenapa takdir selalu mempermainkan hidupnya. Kenapa takdir tak pernah mengizinkan Kanaya untuk berbahagia? Kenapa takdir selalu membuatnya untuk selalu berada diposisi sulit?
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu menyadarkan Kanaya dari lamunannya. Ia melangkahkan kaki untuk membuka pintu. Sebuah pelukan di tubuhnya langsung dirasakan, setelah Kanaya membuka pintu. Pelukan itu berasal dari orang yang saat ini tidak ingin ia temui dan sedang dihindari.
"Ya Tuhan aku khawatir? Kamu pulang cepet dari sekolah gak ngabarin aku. Semua panggilan dan pesan aku gak ada yang kamu respon satupun. Aku khawatir takut kamu kenapa-napa." Kanaya berusaha untuk tidak membalas pelukan Alvaro.
Kanaya melepaskan pelukannya. "Aku gak papa," jawab Kanaya tanpa melihat ke arah Alvaro.
Alvaro menangkup wajah Kanaya untuk melihat ke arahnya. "Kamu kenapa Nay? Ada apa?" tanya Alvaro khawatir.
Kanaya menggeleng pelan. "Aku gak papa." Dengan pelan melepaskan tangan Alvaro di wajahnya. "Aku mau istirahat. kamu pulang yah," lanjut Kanaya lagi yang hanya mendapat gelengan tak percaya Alvaro.
"Kenapa Nay?" tanya Alvaro.
"Aku mau istirahat," jawab Kanaya berusaha sedatar mungkin.
"Kenapa Nay?"
"Please ... aku mau istirahat."
"Nay ...."
"Aku mau istirahat. Bisa kamu pulang sekarangkan!" Ini pertama kalinya Kanaya membentak Alvaro setelah mereka 'resmi'.
Alvaro mengangguk pelan. "Ok ... aku pulang," jawab Alvaro akhirnya mengalah.
"Ya udah aku masuk."
Alvaro tersenyum miris. "Iy--" kata-katanya terpotong karena Kanaya sudah menutup pintu seutuhnya.
"Kenapa Nay? Apa aku ada salah?" tanya Alvaro pelan yang mungkin Kanaya tidak bisa mendengarnya.
Tapi setidaknya ia merasa lega Kanaya dalam keadaan baik karena Alvaro benar-benar khawatir tadi. Pada saat istirahat di sekolah, Maya teman Kanaya mengatakan jika Kanaya pulang karena ada urusan mendadak. Betapa panikya tadi saat nomer Kanaya bahkan susah dihubungi dan sekalinya aktif tidak pernah diangkat. Kalau saja tidak ada urusan penting tentang kasus hukum keluarganya yang sedang butuh saksi darinya, Alvaro mungkin sudah mencari Kanaya sepulang sekolah. Tapi sayangnya ia baru bisa malam ini menemui Kanaya di rumahnya.
Walaupun beribu pertanyaan sudah bersarang dipikirannya tentang semua keanehan Kanaya hari ini. Tentang semua perubahan sikap Kanaya hari ini, tapi semuanya tertahan tak sempat ia tanyakan.
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah Kanaya. Sekali lagi untuk yang terakhir Alvaro kembali melihat rumah kanaya. Berharap ia bisa melihat Kanaya seperti biasanya sedang berdiri menunggunya pergi dan melambaikan tangan ke arahnya.
Tapi nyatanya itu hanya bayangannya saja. Karena pada kenyataannya Kanaya tidak ada di sana. Tidak melambaikan tangan ke arahnya dan tidak tersenyum manis untuk melepas kepergianya seperti biasanya.
"Aku pamit pulang Nay. Apapun itu aku harap semuanya besok udah kembali seperti biasanya." Setelah itu Alvaro benar-benar pergi meninggalkan rumah Kanaya.
Sementara dibalik pintu rumahnya Kanaya jatuh terduduk, dengan kedua tangan memeluk lutut dan menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya.
"Maafin aku ... maafin aku Al ... semuanya benar-benar sulit buat aku. Aku gak tau mesti bersikap kaya gimana sekarang."
Tangisnya pecah. Seakan ia benar-benar ingin menumpahkan semuanya sekarang dan berharap besok setelah bangun semua beban ini bisa hilang.
**
Semuanya tak lagi sama untuk Alvaro. Ia merasa pagi ini hanyalah sebuah kehampaan yang dirasakan.
"Kenapa nomernya masih gak aktif?" tanya Alvaro hampir membanting ponselnya ke lantai.
Suasana kelas yang ramai tidak berpengaruh apapun untuk Alvaro. Seakan dunia ini hanya dihuni dirinya sendiri dan dunia ini berhenti berputar untuknya.
Perubahan sikap Alvaro tak luput dari perhatian ketiga sahabatnya. Mereka terus memperhatikan sikap Alvaro yang berubah suram pagi ini. Lebih suram dari kehidupan jomblo Diego selama ini.
Diego menyikut lengan Vino. "Kenapa tuh bocah?" tanya Diego khawatir.
"Mana gue tau ... tanya aja sendiri," jawab acuh Vino, membuat Diego merengut sebal atas jawabannya.
"Lo mah gitu Vin, gak punya perasaan sama sahabat sendiri," protes Diego sudah duduk membelakangi Vino.
Sementara Vino memijat kening pusing. "Ya Tuhan sampai kapan gue akan sanggup untuk hidup berteman dengan makhluk satu itu!" keluhnya frustrasi.
"Vin lo ma--" kata-kata Diego tertahan saat melihat Alvaro sudah berdiri dan pergi ke luar kelasnya.
"Mungkin ini ada hubungannya dengan gadis itu," cetus Rio yang kemudian mendapat anggukan setuju dari kedua temannya.
Alvaro akan mencari Kanaya di kelasnya. Masa bodo dengan guru yang sedang mengajar di kelas Kanaya nantinya. Karena pokoknya saat ini ia harus bertemu Kanaya dan memastikan bahwa keadaan Kanaya baik-baik saja.
Tokk tokk tokk
"Permisi ...." Alvaro harap guru yang mengajar di kelas Kanaya bukan guru killer.
Setelah pintu terbuka sepenuhnya Alvaro dapat melihat dengan jelas semua mata di sana tertuju ke arahnya.
Apalagi tatapan tajam seorang guru yang ternyata memang guru killer sedang menatap ke arahnya. "Ada apa?" tanya sang guru dingin.
Alvaro tersenyum canggung. "Maaf Pak sebelumnya saya menganggu. Saya ada urusan sebentar dengan seorang siswi di kelas ini yang bernama Kanaya Azani Pak."
"Kanaya Azani ...," ucap guru itu bingung. Tatapannya teralih ke arah murid-muridnya. "Apa di sini ada yang bernama Kanaya Azani?"
"Pak ...," sahut salah satu muridnya sambil mengacungkan tangan.
"Oh ... kamu yang bernama Kanaya Azani. Saya beri kamu waktu 5 menit untuk berbicara dengan dia."
Muridnya menggeleng. "Maaf pak saya bukan Kanaya Azani Pak," katanya gugup karena pandangan semua orang kini menatapnya.
Sang guru berdecak. "Terus kalau kamu bukan Kanaya Azani, kenapa kamu acungkan tangan?" tanyanya sudah mulai emosi.
Murid itu terkekeh, menggaruk kepalanya gugup. "Saya izin ke kamar mandi," ucapnya pelan.
"Ya ampun! Ya udah silahkan jangan lama-lama." Muridnya hanya menganguk singkat dan berjalan ke luar.
Tepat pada saat murid itu berjalan melewati Alvaro di depan pintu, murid itu berbisik. "Ikut aku ... di taman belakang." Lalu murid itu pergi.
Alvaro yang mengerti mengangguk pelan dan beralih kembali menatap pak guru. "Saya permisi Pak. Sepertinya orang yang saya cari tidak ada di sini," pamitnya sopan.
"Ya udah sana pergi, mengganggu saja," gerutu guru itu kesal lalu kembali menerangkan materi kembali yang sukses membuat murid-muridnya secara masal menguap dan sebagian tertidur lagi.
Alvaro lalu menuju taman belakang untuk bertemu dengan murid tadi yang tak lain adalah Maya sahabat Kanaya. Karena tadi Alvaro menyadari juga jika Kanaya tidak ada di kelas dan ia menemui Maya untuk mengetahui keberadaan Kanaya.
Alvaro duduk di samping Maya. "Kanaya kemana?" tanyanya langsung, membuat Maya yang sedang berkunjung ke akun lambeturah mengusap dada kaget.
Maya menyimpan ponsel kedalam saku. "Dia nitip ini buat Kak Alvaro." Ia menyerahkan sebuah kertas dari sakunya ke Alvaro.
Alvaro mengambil kertas itu dan menatap Maya penuh tanya. "ini apa?"
Maya menggeleng pelan. "Gak tau ... sebelun pergi Kanaya cuman nitip itu buat Kak Alvaro."
"Pergi ke mana?" tanya Alvaro semakin penasaran.
Sekali lagi Maya menggeleng. "Aku gak tau Kak ... Kakak baca aja sendiri. Kalau gitu aku pamit, masih ada pelajaran." Tanpa menunggu jawaban Alvaro, Maya pergi.
Setelah kepergian Maya, Alvaro lalu membuka secara perlahan kertas yang diberikan Maya dan ia mulai membaca isinya.
**
*Untuk Alvaro
Norak yah aku malah kirim surat kaya gini ke kamu. Tapi kata orang sih, katanya lebih berarti sesuatu yang penting itu diucapin atau disampaikan lewat surat. Karena apa? Karena semuanya butuh perjuangan dan proses saat pertama surat ini ditulis dan dikirim agar sampai sama orang dituju. Intinya sih karena surat ini special buat kamu dari aku.
Aku pamit pergi. Aku gak tau kepergian ini untuk sementara apa selamanya. Biar semuanya waktu yang menjawabnya.
Kalau kamu penasaran untuk semuanya. Semua jawabannya ada di papa kamu, tapi aku harap kamu tidak menyakiti papa kamu dengan kata-kata kamu.
Satu hal yang harus kamu tahu aku sayang kamu, tapi gak tahu rasa sayang aku ke kamu apa sanggup untuk menggantikan rasa sakit ini.
Udah ah pegel...
Aku pamit ya Al...
Dari Kanaya*
**
Kertas itu terjatuh dari genggaman tangan Alvaro. Ada sebuah sesak yang tak mampu dijelaskan lewat kata bagaimana rasanya.
Alvaro hanya tahu dunianya sudah hancur saat ini juga. Kebahagiaannya telah pergi dari hidupnya. Meninggalkan ribuan pertanyaan dalam benaknya untuk semua yang telah terjadi.
"Nay ... kenapa?" tanya Alvaro lirih.
Saat ini ia sudah jatuh terduduk di atas rerumputan dengan kedua tangannya meremas rambutnya.
Tuhan jika ini permainan baru untuknya. Tolong beritahu dia bagaimana cara berhenti untuk bermainnya. Kenapa untuk kesekian kali kebahagiaanya diambil paksa darinya? Tanpa dia tahu alasan kepergiannya dan tanpa ada kata pamit.
"Nay ... kembali ... kembali Nay."
**Thanks for reading💜
Jangan lupa vote & comment💜**