
Maaf di sini banyak banget kata-kata dan umpetan kasar 😄
Happy and enjoy reading😄
Sorry for typo🙏
Karena banyak cara untuk bahagia dan tersenyum. Terkadang hanya perlu mengingatnya untuk kita tahu apa arti dia buat kita...
🐰
"Kayaknya kita mesti pergi ke Banten nih. Di sana kan banyak banget dukun yang sakti-sakti kata orang-orang." Akhirnya keheningan di antara mereka berempat mencair dengan obrolan pertama yang dibuka oleh Diego.
Saat ini mereka tengah berkumpul di sebuah cafe langganan mereka. Namun sayang sejak pertama mereka kumpul tak ada satupun orang yang mengeluarkan suara. Karena orang yang pertama mengajak bertemu Alvaro, sejak pertama datang hanya senyum-senyum sendiri. Membuat tiga temannya merasa aneh dengan sikap Alvaro.
"Eh ... iya gue baru inget. Gue juga punya sodara yg punya kenalan begitu. Katanya sakti," kata Diego kembali membuka suara. Berusaha untuk mendapat tanggapan dari ketiga teman-temannya.
"Ngapain monyet manggil yang kaya begituan. Lo udah ngerasa tingkat kewarasan lo udah habis. Sampe-sampe manggil kaya begituan!" Diego langsung melotot kaget mendengar ucapan Vino yang di luar prediksinya akan menanggapi ucapannya.
Karena Vino selama ini di antara mereka berempat paling jarang berbicara. Dia selalu diam dan sibuk dengan permainan di ponselnya.
" Eh ... bangke ... itu mulut lo jarang dipake ngomong, tapi sekalinya dipake ngomong nyablak banget," protes Diego tidak terima.
Vino hanya mendengus malas mendengar omongan Diego. Baginya meladeni makhluk setengah ons seperti Diego adalah hal yang percuma. Ketimbang menguras kerja otaknya demi meladeni otak kosong kaya Diego mending melanjutkan permainannya yang tertunda.
"Eh ... si bangke malah main hp lagi. Jadi gimana nih kapan kita ke dukun?" tanya Diego kembali belum menyerah.
Mendengar ucapan Diego lagi, membuat Vino akhirnya mem-pause gamenya. "Terus kenapa lo manggil dukun? Buat melet cewek karena udah bosen kelamaan jomblo dan gak laku-laku," ujar Vino membuat Diego merengut sebal.
Pletak...
Diego akhirnya menjitak kepala Vino. Saat Vino akan membalas menjitak Diego tapi sayangnya Diego berhasil menghindar.
"*******! Sakit monyet, kepala gue masih punya otak dan berharga gak kaya lo yg otaknya udah gak ada!" protes Vino tidak terima dan Diego hanya cengengesan.
"Kalian bisa diem gak? Urusan rumah tangga jangan dibawa ke sini dulu dong!" sentak Rio yang dari tadi diam memperhatikan perdebatan mereka.
"Elah ... dikira kita suami istri kali Vin," timpal Diego meminta persetujuan Vino, tapi Vino hanya mengangkat bahu tidak peduli membuat Diego mengerucutkan bibir jengkel.
"Stop kalian berdua! Mending kita pikirin temen kita yang satu itu," ucapan Rio membuat Vino dan Diego kompak menolehkan kepala mereka ke Alvaro.
"Maka dari itu, kita mesti panggil dukun buat balikin kewarasan si Alvaro," ujar Diego tetap pada pendirian awalnya.
Vino menatap tajam Diego. "Sekali lagi lo bilang Dukun. Gue gantung lo di tiang listrik depan rumah gue." Diego hanya meringis ngeri mendengar ucapan Vino.
"Sadis lo Vin, Rio tolongin atut aku," adu Diego, sementara Rio melihat Diego akan terlihat memeluknya buru-buru menjauh.
"Diego disitu diem ... najis gue!" teriak Rio jiji.
Tiba-tiba Alvaro yang dari tadi diam, bangun. Terlihat akan beranjak pergi.
"Mau kemana lo Al?" tanya Rio yang pertama sadar terlebih dahulu melihat Alvaro.
"Suasana cuaca di luar cerah banget. Sayangkan kalo kita di dalem ruangan mulu. Mending cari angin segar di luar."
Tanpa menunggu jawaban ketiga temannya, Alvaro mulai melangkahkan kakinya keluar cafe meninggalkan ketiga temannya yang masih bengong. Mereka bertiga kompak menolehkan kepala mereka keluar dan tanpa sadar mereka kompak menggelengkan kepalanya.
"Ini serius mata gue yang katarak atau gimana. Di luar lagi gerimis loh. Kok tuh anak bilang cuaca cerah di luar."
Kedua temannya kompak menggeleng atas ucapan Diego. Karena apa yang Diego pikirkan sama dengan apa yang mereka pikirkan juga.
"Mungkin dia lagi jatuh cinta," celetuk Vino asal lalu mengedikan bahunya.
Kalimat ajaib yang keluar dari mulut Vino, kompak membuat Rio dan Diego menutup mulutnya tidak percaya.
"Jatuh cinta ... itu gk mungkin," ucap Rio dan Diego bersamaan.
Mereka bertiga berjalan mengikuti langkah Alvaro sampai terhenti saat Alvaro duduk di kursi depan cafe sambil memandang langit yang masih penuh dengan rintik hujan dengan senyuman manis. Seketika mereka bertiga bergidik ngeri saat melihat tingkah aneh Alvaro. Karena setahu mereka Alvaro adalah cowok yang tidak mudah untuk tersenyum. Terlalu langka malah melihat senyuman di wajah cowok itu. karena mulut Alvaro lebih sering digunakan untuk mengumpat dan berbuat dosa.
Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berjalan mendekati Alvaro. langkah bocah kecil itu tersandung dan menumpahkan eskrim yang dipegang ke baju Alvaro. Ketiga teman Alvaro yang melihat itu sudah bersiap untuk menghentikan segala umpatan makian yang akan Alvaro lakukan terhadap anak kecil itu.
"Kamu gak papa?" tanya Alvaro lembut diluar perkiraan ketiga temannya. Bahkan mereka saling mencubit tubuh teman di sampingnya untuk memastikan jika ini bukan mimpi.
Gadis itu yang awalnya menunduk ketakutan seketika mendongak dengan wajah penuh ketakutan. "Ma ... ma ... af," cicitnya pelan.
Alvaro tersenyum. "Mau beli eskrim lagi?" Alvaro malah balik bertanya.
"Aku ... gak punya uang kak," jawab bocah itu mulai terlihat tidak takut. Mungkin dia tahu bahwa lelaki ini adalah orang baik.
"Ayo! Kita beli eskrim di toko depan sana! Oh ... iya orangtua kamu mana?" ajak Alvaro sudah berdiri menggandeng bocah kecil itu.
Bocah itu menggeleng. "Aku sendiri. Ibu aku sudah meninggal. Sementara Ayah sedang kerja. Kakak sedang sekolah. Rumah aku dekat kok Kak di belakang bangunan itu."
Seketika Alvaro menatap iba bocah itu. Ia kembali teringat dengan Ibunya. ternyata masih banyak orang lain yang sama kehilangan Ibu di saat masih kecil. Tapi Alvaro sedikit senang saat bocah itu mengatakan bahwa dia masih mempunyai Ayah dan saudara yang masih tinggal bersamanya. Tidak seperti dirinya ditinggal dan dibuang.
"Ayo kita beli eskrim!" ajak Alvaro lagi berusaha terlihat ceria. Karena hari ini suasana hatinya terlalu sempurna untuk dirusak oleh momen masa lalu yang harusnya sudah terkubur. .
"Iya ayo!"
Alvaro sudah menggandeng bocah itu berjalan menyebrangi jalan. Semua yang dilakukannya sedari tadi tidak luput dari penglihatan teman-temannya.
"Kayaknya gue setuju usul di Diego buat bawa Alvaro ke dukun," ujar Rio masih menatap kepergian Alvaro.
Vino mengangguk. "Gue juga."
"Tadi aja pada gak setuju. Sekarang sudah pura-pura lupa yah menolak," rajuk Diego kesal karena sekarang kedua temannya itu tadi sudah membullinya.
"Sekalian kita jadiin si Diego buat tumbal. sudah gak tahan gue temenan sama dia," usup Rio yang langsung bertos ria dengan Vino.
"Ita bener ... udah bodoh berisik lagi," timpal Vino setuju.
Kemudian Vino dan Rio sudah berjalan kembali memasuki cafe meninggalkan Diego yang sedang merajuk kesal.
"Yah ... kalian memang teman-teman kurang ajar!" teriak Diego kesal lalu berlari menyusul kedua temannya.
**Thanks for reading🙏
Jangan lupa vote end commentnya🙏**