
Happy and enjoy reading💜
Sorry for typo🙏
Cinta mengajarkan apa itu arti memiliki. Arti saling percaya dan saling memahami.
Tapi cinta terkadang bisa membuat kita lupa diri. Selalu membuat kita tersesat untuk membedakan mana yang salah dan benar....
🐰
Saat ini Alvaro tengah duduk tenang di mobilnya yang telah di parkirkan di depan sebuah toko tepat di samping cafe tempat Kanaya bekerja. Sengaja ia ingin membuat suprise emosi untuk Kanaya.
Sebuah senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Saat ia membayangkan muka jutek, kesal dan marah Kanaya saat menyambut kedatangannya nanti.
"Dua jam lagi. Lebih baik gue tunggu di mobil dari pada masuk cafe. Gue lagi males lihat muka orang-orang."
Alvaro yakin Tuhan pasti telah merencanakan semua ini untuknya. Semua gejolak masalah yang terjadi di dalam kehidupannya sekarang berangsur surut dan reda. Dia benar-benar bersyukur mempunyai Ibu yang begitu kuat dan pintar sampai menjelang hari akhirnya.
Padahal dia sudah mulai merelakan semuanya, tapi secara perlahan Tuhan mulai mengembalikan lagi kepadanya.
Lamunannya buyar saat melihat dua orang yang baru keluar dari pintu cafe. Ia mencoba menajamkan penglihatannya. Mencoba meyakinkan diri kalau apa yang dia lihat salah. Kanaya gadisnya sedang berjalan bersama seorang lelaki yang sedang merangkul bahunya akrab. Mereka terlihat sangat dekat dan sesekali disela obrolan mereka diselingi tawa.
"******* siapa tuh cowok!" makinya, setir mobil menjadi sasaran amarahnya saat ini.
Ada rasa sakit entah di bagian mana saat ini ia rasakan. Seakan pemandangan itu adalah sebuah belati tajam yang telah berhasil melukai dan menusuk tubuhnya.
"Gue mesti cari tempat lain untuk nenangin diri."
Sebenarnya ia ingin sekali menghampiri kedua orang itu. Tapi sepertinya saat ini Alvaro merasa benar-benar dalam kondisi tidak baik. Ia tidak ingin melampiaskan di sini dalam kondisi seperti ini.
Akhirnya Alvaro mencoba menguatkan diri meninggalkan tempat itu. Meninggalkan dua orang yang telah membuat luka baru dan menambah luka yang telah ada yang belum sembuh. Sekarang ia butuh tempat lain. Tempat yang benar-benar bisa membuatn tenang. Ia tahu tempat itu di mana.
**
Hari ini begitu melelahkan untuk Kanaya, karena cafe hari ini di reservasi khusus untuk sebuah acara ulang tahun. Acara diadakan dari pagi sampai jam 6 malam. Beruntungnya Kanaya hanya mengikuti dari jam 4 sore, karena ia tidak masuk pagi. Kalau dari pagi mungkin ia sudah tidak kuat berjalan saking lelahnya.
"Akhirnya setelah semua kelelahan ini. Gue bisa pulang cepet juga."
Kanaya merasa senang karena acara ulang tahun ini berakhir cepat. Walaupun ia dan seluruh karyawan cafe lainnya sebelum pulang harus membersihkan cafe terlebih dahulu dan berakhir tepat pukul 08 malam untuk bisa pulang.
"Gimana jadi gak?"
Kanaya tersentak kaget saat sebuah tangan merangkul bahunya. Ia lalu tersenyum saat melihat siapa yang melakukannya.
"Jadi lah, siapa yang mau nolak kalo mau ditraktir," jawab Kanaya antusias.
Kebahagiaan Kanaya bertambah lengkap. Saat tadi sebelum pulang Ardi mengajaknya pergi makan Soto pak Dadang. Soto yang terkenal enak dan menjadi favoritnya. Ardi berjanji akan mentraktir Kanaya sepuasnya dan Kanaya tidak akan menolak kesempatan ini.
"Kalo masalah gratisan mah paling depan lo bocah," sahut Ardi sewot, Kanaya hanya nyengir mendengarnya.
Saat Kanaya mulai berjalan meninggalkan area cafe. Ia merasa ada seseorang yang dari tadi terus memerhatikannya dari jauh. Entahlah perasaannya mengatakan seperti itu.
Kenapa perasaan gue ada yang liatin terus?
Malam ini Kanaya merasa sangat bahagia. Apalagi ia tadi benar-benar makan sepuasnya makan soto. Bahkan ia juga membungkus soto untuk Bunda. Sementara Ardi hanya geleng-geleng melihat porsi makan Kanaya yang luar biasa.
Tapi ada sesuatu perasaan hilang yang Kanaya rasakan. Kehilangan seseorang yang bahkan ia tidak menginginkan keberadaannya hadir di hidupnya.
Kenapa gue selalu mikirin dia?
Ada kata yang tak mampu diucapkan. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan dan ada rindu yang tak bisa disampaikan. Terkadang biarkan rindu itu tetap mencari kemana dia berlabuh tanpa kita tahu bagaimana cara untuk berhentinya.
**
Bukannya Tuhan selalu memberikan kita cobaan sesuai dengan batas kemampuan umatnya. Tapi rasanya Tuhan terkadang tidak tahu takeran ukuran kemampuan kesabaran kita sampai mana, sampai kita merasa cobaan itu terasa begitu berat.
Malam ini semua memori buruk yang telah lama Alvaro simpan rapat-rapat kembali muncul kepermukaan. Semua beban itu terlalu besar untuk ia tanggung seorang diri.
"*******! Semua orang emang *******!"
Entah gelas keberapa saat ini ia minum, tapi yang pasti Alvaro telah kehilangan kesadarannya. Sebenarnya Alvaro bukan pecinta dunia malam. Dia juga bukan pecinta minuman beralkohol.
Tapi ia menjadikan semua itu hanya sebagai pelampiasan sementaranya saat semua beban itu benar-benar tak sanggup ia tanggung.
Jangan pernah salahkan dia jika seperti ini. Hidup bebas tanpa aturan. Percuma kalaupun dia berbuat baik takkan ada yang peduli dan menghargainya. Begitupun saat ia berbuat kelewat bataspun, takkan ada yang melarang semua tindakannya. Karena kenyataannya dia hidup sendiri.
"Kita cabut sekarang. Kondisi lo udah parah."
Rio mencoba membawa paksa Alvaro pergi dari club, karena dari tadi usahanya selalu ditolak oleh Alvaro. Sebenarnya kedatangan Rio di sini diberitahu oleh seorang bartender yang sudah mengenal ia dan teman-temannya. Rio langsung buru-buru pergi ke sini setelah tahu kalau Alvaro sedang dalam kondisi mabuk parah.
Akhirnya Rio berhasil membawa pulang Alvaro pulang ke Apartment tepat pukul 02:00 pagi.
"Sebenernya ada apa lagi sih sama lo?"
Saat ini Alvaro telah tertidur nyenyak di kasur, sementara Rio sangat kelelahan dan terdampar di sofa di kamar Alvaro.
Walaupun saat ini sang penguasa siang telah berada di puncaknya. Tapi tak sedikitpun mempengaruhi seseorang yang masih asyik berkelana dalam dunia mimpi untuk sekedar membuka mata.
Sampai sebuah deringan suara ponsel mengusik tidur nyenyaknya. Membuat ia harus tahu siapa orang yang telah mengganggu tidurnya dan berjanji akan memarahi siapapun itu.
"Hallo, ******* ini masih pagi! Lo cari mati ganggu tidur gue!" makinya dengan suara khas bangun tidur.
"Eh lo yang *******! Ini udah tengah hari. Pagi nenek lo perawan. Lihat jam makannya. Jam segini masih molor."
Terdengar makian protes di seberang telepon.
Seketika Alvaro, cowok yang masih tidur itu refleks melihat jam weker di sampingnya yang menujukan pukul 11:30 siang.
Sebenarnya dalam hati Alvaro ingin merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa sampai bangun tengah hari seperti ini. Kepalanya masih pusing dan ia ingat kalau semalam sedang di club malam. Lalu dia minum dan mabuk. Setelah itu ia tidak mengingat apapun lagi. Bahkan tidak ingat kenapa sekarang bisa tidur di apartmentnya.
"Hallo ... hallo ... lo masih di sana Al? Jangan bilang lo tidur lagi? Terus kalo lo gak kuat jangan so-soan minum kaya semalam!" maki orang di seberang telepon yang tak lain adalah Rio.
Sementara Alvaro hanya tersenyum mendengar ucap Rio. Sekarang akhirnya ia tahu bagaimana semalam bisa pulang ke Apartement.
"Berisik *******!"
Sebelum mendengar Rio kembali berbicara, Alvaro sudah memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu.
Hari ini ia harus segera pergi menemui cewek itu. Dia harus memastikan semuanya, tentang apa yang dilihat semalam. Rasanya sudah cukup semalam ia telah lari melampiaskan semuanya pada minuman. Dan hari ini Alvaro akan meyelesaikan semuanya.
Apa kalian pernah merasakan perasaan hancur-sehancurnya? Dimana rasanya hidup kalian berhenti sampai di sini. Saat kalian mati-matian berjuang dan orang yang kalian perjuangkan menghancurkan perjuangan kalian dalam satu kedipan mata.
Entahlah perasaan hancur apalagi untuk mengdeskripsikan hancurnya Alvaro saat ini. Saat ia kembali menemukan gadis yang dicari sedang tertawa bersama seorang pria. Bahkan sesekali pria itu mengusap lembut kepalanya. Alvaro tahu itu adalah pria yang sama dengan semalam.
Langkah lebar membawanya menghampiri dua sejoli yang sedang asyik tertawa itu.
"Kita harus bicara," kata Alvaro datar.
Kanaya terkejut melihat kedatangan tiba-tiba Alvaro. Ardi hanya mengerutkan kening bingung dan seolah sedang bertanya lewat mata pada Kanaya.
"Ya udah ngomong aja. Cepet gue lagi buru-buru nih," jawab Kanaya malas.
Sebenarnya saat ini Kanaya sedang mencoba menyembunyikan kebahagiaannya. Karena orang yang ia cari dan selalu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini ada di depannya.
"Ini tengtang kita. Gue gak mau ada orang lain yang tau tentang di antara kita," ujar Alvaro penuh penekanan, berusaha membuat Ardi mengerti.
Ada yang aneh dari Alvaro dan Kanaya merasakan itu. Ia tahu Alvaro bukan cowok manis penuh lemah lembut. Karena Alvaro adalah cowok pemaksa dan semaunya sendiri. Ada tatapan mata yang berbeda yang dilihat dari tatapan Alvaro sekarang. Bahkan tatapan itu tajam dan mampu membuat siapapun yang melihatnya tidak berkutik.
Kanaya mencoba menilai situasi. Ia bisa melihat saat ini Alvaro tengah menatap tajam Ardi. Seakan ia percaya lewat tatapan mampu membunuh Ardi. Sementara Ardi sama sekali menunjukan hal sebaliknya. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan Alvaro.
Bahkan ia masih terlihat tenang dan sebuah senyuman manis masih berada di wajahnya.
"Ok ... kita bicara di tempat lain. Kak duluan aja maaf yah," putus Kanaya merasa bersalah ke arah Ardi.
Jujur Kanaya sangat merasa bersalah sekarang pada Ardi. Karena Ardi sudah jauh-jauh datang untuk menjemputnya.
Sebelum Kanaya sempat mendengar Ardi berbicara, tangannya sudah ditarik paksa oleh Alvaro. Walaupun sebelumnya ia sempat melihat Ardi tersenyum begitu manis dan mengangkat dua jempol tangannya, seolah lewat senyuman Ardi mengatakan kalau ia baik-baik saja.
Kanaya jadi berpikir sebenarnya hati Ardi itu terbuat dari apa. Karena selama ia mengenal Ardi tak pernah sekalipun melihatnya marah. Walaupun Ardi adalah orang yang jahil, tapi sedikitpun ia tak pernah marah tentang hal apapun itu.
Bahkan saat ada seseorang yang tanpa sengaja mengguyurnya dengan air bekas cuci mobil. Bahkan orang itu hanya memarahi Ardi dan menyalahkannya dan saat itu Ardi hanya tersenyum tanpa terlihat marah sedikitpun, hebat kan.
Cengkraman tangan Alvaro di tangannya semakin kencang membuat ia merasa sakit. Kanaya yakin tangannya pasti sudah merah sekarang.
"Kita mau kemana sih? Sakit tau tangan gue lepasin!" maki Kanaya saat Alvaro masih menyeretnya paksa.
Sementara Alvaro tidak sedikitpun menggubris ucapan Kanaya. Ia malah semakin menyeret Kanaya paksa dan cengkraman di tangan Kanaya semakin kencang.
Sampai di atas rootrof Alvaro melepaskan tangan Kanaya dan mendorongnya sedikit kasar, sehingga punggung Kanaya membentur tembok. Saat Kanaya masih meringis merasakan sakit di tangann dan ditambah rasa sakit di punggung, Alvaro telah mengurungnya dengan kedua tangan telah berada di kedua sisi Kanaya.
"Lo kenapa sih? Kasar banget tau jadi cowok!" omel Kanaya kesal.
Sementara Alvaro hanya menatap tajam dan tatapan Alvaro mampu membuat Kanaya salah tingkah.
"Ke ... ke ... napa lihatin gue ka ... ka ... ya gitu? Ka ... tanya ada yang mau diomongin."
Kanaya ingin merutuki kenapa setiap kata yang keluar dari mulutnya terbata. Bahkan ia yakin saat ini wajahnya pasti sudah merah.
"Kalo emang gak ada yang mau diomongin gue ...."
Ucapannya terputus saat ia merasakan Alvaro semakin mendekatkan wajahnya. Rasanya jantung Kanaya seakan akan copot dari tempatnya saking gugupnya,
saat hidung mereka saling bersentuhan. Bahkan saat ini Kanaya bahkan bisa merasakan hembusan napas Alvaro di wajahnya dan aroma mint bisa mencium dari napas Alvaro.
"Gue ... gak ... suka ... lo ... deket ... sama ... cowok ... manapun termasuk cowok yang ... tadi ... karena lo ... milik gue Kanaya," ucap Alvaro penuh penekanan.
Setelah itu Alvaro menjauhkan Wajahnya dari Kanaya yang masih merasa syok dengan tindakannya barusan.
"Lo gak ada hak buat deket sama cowok lain selain gue. Karena hidup lo udah milik gue."
Kanaya akhirnya kembali sadar dan bisa menguasai dirinya. Ia merasa tersinggung dengan apa yang Alvaro ucapkan barusan.
"Gue bukan barang. Gue juga bukan milik siapa-siapa. Asal lo tau gue kenal kak Ardi jauh sebelum kenal lo. Jadi lo gak ada hak buat ngelarang gue!" jawab Kanaya mulai emosi.
Keadaan emosi Alvaro saat ini sedang tidak stabil dan ia gampang tersulut.
"Terserah lo! Gue gak peduli lagi sama lo. Atur hidup lo sesuka lo KANAYA!" bentak Alvaro penuh emosi.
Kanaya hanya diam mematung mendengar Alvaro membentaknya. Ini memang bukan pertama kalinya di hidupnya dibentak dan dimaki-maki oleh orang. Tapi kenapa rasanya bisa sesakit ini saat bentakan itu keluar dari mulut Alvaro. Kenapa ia tidak seperti biasanya, tidak pernah peduli, bukannya merasakan sakit ini.
"*******!" ucapan terakhir Alvaro Sebelum pergi meninggal Kanaya dan membanting pintu sekeras mungkin.
"Kenapa rasanya sakit? Di sini beneran rasanya sakit hati gue."
Pertahanan Kanaya runtuh saat ini. Air matapun tak mampu ia tahan lagi akhirnya jatuh menemani rasa sakitnya. Ia jatuh terduduk menangis meratapi semuanya. Kanaya pikir harusnya senang saat Alvaro tidak peduli lagi dengannya. Karena hidupnya kembali tenang seperti dulu. Tapi Kenapa ia harus merasa sakit dan seperti tidak rela saat Alvaro pergi meninggalkannya.
Akhirnya hari itu ia habiskan dengan menangisi semuanya di sini, di rootrof sekolah. Berusaha mencari jawaban atas semuanya. Atas semua yang ia rasakan.
Thanks for reading💜
Jangan lupa vote & comment💜