
****Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏****
Sebenarnya simple ... cukup lupakan.
Tapi melupakan tidak sesimple mengedipkan mata...
Karena semuanya butuh proses dan waktu....
🐰
"Siap-Siap woy hari ini kita ulangan!" teriak Anton sang ketua kelas membuat seisi kelas yang tadinya heboh semakin heboh.
Mereka semua sibuk mempersiapkan diri untuk ulangan ini. Ada yang sibuk menyalin tulisan dari buku ke lembar kertas. Ada yang sibuk mencatat di meja dan di tembok. Ada yang sibuk memfoto buku pelajaran dengan handphone dan ada yang sibuk bermain mobil legend dan COC.
Wah ... sungguh murid-murid yang rajin sekali!
"Ih ... gue curiga kayaknya Pak Ramon pag-pagi udah dimarahin bininya," cerocos Maya kesal, tangannya sibuk menyalin contekan ke selembar kertas.
Kanaya hanya mengernyit mendengar celotehan Maya. Ia juga sedang sibuk membuka buku pelajaran dan menghafal beberapa rumus fisika yang sudah dihafal sebenarnya di luar kepala.
Ada yang pernah bilang di sini Kanaya pintar?
Kanaya memang termasuk salah satu murid pintar di kelas. Ia sangat menyukai pelajaran fisika. Dari zaman SMP ia sangat suka dengan pelajaran ini. Mempelajari dan menyelesaikan rumus-rumus fisika seperti mempelajari dan menyelesaikan rumus-rumus hidupnya yang tak pernah selesai. Ribet sekali hidupnyakan?
"Rese yah Pak Ramon dimarahin bini pagi-pagi imbasnya ke kita, ngasih ulangan dadakan," cerocos Maya lagi yang saat ini sudah memfoto setiap halaman buku dengan ponsel.
"Woy ... jangan pelit-pelit yah! Nanti bagi-bagi jawabannya. Aduh kita mabar dulu ayo cepet! " Kanaya menggeleng mendengar teriakan Bima yang saat ini sudah Kanaya pastikan sedang asyik bermain ML.
Braakkk...
"Oh my honey ... gimana hangpong me lombut ... gimandong nih!" histeris Doddy dengan gayanya membuat seisi kelas menoleh ke arahnya.
"Heh ... cabe keriting ... lo ngomong apa sih? berisik cong!" Anton yang sedang bermain ML di samping Bima protes atas kehisterisan Doddy.
Sungguh ketua kelas yang patut di contoh ini. Kanaya hanya menoleh sekilas ke arah keributan, karena ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Eh ... you punya mulut kurang ajor yah! Me itu intan berlian bukan cabe keriting. Emangnya yeay ... walaupun badan keker gede tapi pedang mini." Dengan gaya kemayunya Doddy berhasil membangunkan macan yang sedang tertidur.
Merasa tersinggung Anton datang di wakili Bima di sisinya menghampiri Doddy yang sudah ditemani Bayu juga di sampingnya.
"Wah .. ngomong apa lo mecin barusan?" Doddy hanya mengipaskan tangan di wajah sambil cekikikan bersama Bayu mendengar teriakan Anton.
"Benar-benar asli sakit jiwa lo!" Anton frustrasi saat kedua mecin di depannya masih cekikikan.
"Bener gak mas Bima kalo pedang si aa Anton itu mini semini kuku eke?" Sebenarnya Bima agak merinding bin jiji mendengan kata mas yang disebut Doddy untuknya, tapi dengan pelan ia mengangguk setuju juga.
"Anjrit lo belain tuh mecin!" Anton protes ke Bima saat sahabat seumur hidup mengkhianatinya.
"Emang kenyataannya kan bro," bisik Bima di telinga Anton yang masih didengar dua bohay di depan.
"Sekalian aja lo pake toa mesjid ngomongnya. Gak usah bisik-bisik." Anton semakin jengkel saat duo mecin itu semakin cekikikan di depannya.
"Ih ... a Anton marah ... lucunya," ujar Doddy manja membuat perut Anton tiba-tiba mual.
"Najis anjrit ngomong lo!"
"Wah ... serius gue kaya lagi nonton drakor secara live. Aa Anton sedang ngambek ke neng Doddy. Wah ... parah so sweet banget itu," celetuk Maya yang sudah ada di samping sang pemeran utama.
Kanaya yang sibuk dengan buku menoleh ke arah Maya yang sudah tidak ada di sampingnya lagi.
Kapan tuh anak ke sana? Padahal barusan masih di sini deh. Gercep banget deh kalo urusan beginian.
"Ih ... May ... makacih loh say ... eke dicoupelin aa Anton coco kyan?" Maya mengacungkan dua jempol ke arah Doddy membuat Anton merasa akan pingsan.
"A ... gimandong hubungan kita mau dibawa kemandong?" Anton benar-benar akan pingsan mendengar ucapan manja bin jiji Doddy.
"Jadian ... jadian ... jadian!" teriak Maya yang langsung diikuti oleh anak-anak seisi kelas.
"JADIAN ... JADIAN ... JADIAN!"
Dengan hebohnya Doddy ikut berteriak dan melirik manja Anton, yang saat ini tubuhnya sudah ditahan Bima karena dia serius mau pingsan.
"BERISIK ... NAJIS GUE ... DIEM GAK LO SEMUA!" teriak Anton di ujung kepeningan kepalanya.
Anton menatap tajam Maya si biang utama kerusuhan yang dibalas juluran lidah oleh Maya.
Kanaya yang menyaksikan semua drama di kelasnya tak kuasa untuk tertawa melihat kegilaan teman-temannya.
Kak lihat gue udah bisa ketawa lagi. Jadi lo gak usah khawatir dan lo harus tenang di sana.
Seberapa keras Kanaya mencoba melupakan tentangnya, tapi selalu ada hal kecil yang selalu membuatnya kembali mengingat. Tapi setidaknya sekarang ia bisa mengingatnya dengan sebuah senyuman dan semangat baru.
"Kembali ke tempat duduk kalian masing-masing dan persiapkan diri kalian untuk ulangan. Ingat saya tidak mau ada kecurangan di ulangan saya." Spontan dengan grasak-grusuk kerumunan di kelas tadi sudah duduk tenang di kursi masing-masing.
"Jadi serius gak mau kekantin Nay? Gak mau beli es batu gitu?" tanya Maya.
Kanaya mengernyit bingung. "Es batu buat apa?" Kanaya masih berjalan dengan kedua tangan membawa beberapa buku.
"Buat dinginin kepala lah. Lo tau kepala kita sebentar lagi pasti akan meledak saking panasnya gara-gara ulangan fisika tadi," seru Maya yang sudah memijat kening saking pusingnya.
"Lo duluan yang meledak nanti gue nyusul."
"Lo mah rese," rengek Maya yang hanya dibalas kedikan bahu oleh Kanaya.
"Ya udah gue mau ke perpus," kata Kanaya sudah berjalan ke arah berlawanan dari Maya yang akan ke kantin.
Maya menggeleng prihatin. "Dasar cewek kutubuku," gerutu Maya lalu melangkahkan kaki menuju ke arah sebaliknya dari Kanaya yaitu kantin.
Kanaya masih berjalan menuju perpustakaan. Bukannya tidak lapar tapi sekarang ia hanya tidak terlalu suka keramaian. Ia masih butuh tempat yang sepi dan perpustakaan adalah tempat yang tepat.
Kanaya tersenyum senang saat melihat suasana perpus selalu sepi di jam istirahat. Karena anak-anak lebih memilih kantin untuk mengisi perut di jam segini. Cuma ada beberapa anak di sini. Itu juga bisa dihitung dengan jari saking sedikitnya.
Kanaya lebih memilih duduk di kursi di pojok belakang untuk membaca. Setelah sebelumnya ia mengembalikan buku dan kembali mencari buku novel ringan untuk dibaca.
Kanaya merogoh saku rok untuk mengambil sebungkus roti untuk menemaninya membaca. Untung tadi pagi ia sempat membeli roti dulu di kantin.
Untuk beberapa waktu Kanaya masih asyik dengan bacaannya, sampai tidak sadar akan kehadiran seseorang yang duduk di depannya.
"Ehemmm ...." Deheman orang itu mencari perhatian Kanaya yang tidak menyadari keberadaannya.
"Eh ... balikin buku gue kalo eng--" ucapannya terhenti saat melihat kehadiran seorang cowok yang duduk cemberut di depannya.
"Alvaro ternyata kamu. Ngapain di sini?"
"Iya ... ini aku baru engeh." Kanaya mengernyit bingung saat mendengar nada jutek Alvaro.
"Kenapa sih kamu datang-datang udah cemberut?" tanya Kanaya masih bingung. Saat Kanaya akan mengambil buku di tangan Alvaro, tapi cowok itu dengan cepat menjauhkan bukunya dari jangkauan Kanaya.
"Balikin buku aku. Aku belum selesai baca!" Kanaya masih berusaha mengambil bukunya.
"Gak ... itu hukuman buat kamu karena udah mengabaikan aku dari tadi." Alvaro masih keukeuh mempertahankan buku Kanaya.
Kanaya menatap Alvaro jengkel. "Mau kamu apa sih?" tanya Kanaya mulai menyerah untuk merebut bukunya.
Alvaro tersenyum. Menatap kanaya penuh minat. "Mau aku kamu jangan mengabaikan dan dan selalu perhatikan aku," ujarnya.
Kanaya lalu memajukkan sedikit posisi wajah ke arah Alvaro. Menatap cowok itu dengan ekspresi serius yang dibuat-buat. Sementara Alvaro mendadak menjadi salah tingkah diperlakukan seperti itu oleh Kanaya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Alvaro gugup.
"Katanya suruh perhatiin kamu terus kan?" jawab Kanaya tanpa merubah posisi dan tatapannya ke Alvaro.
"Ih ... bukan kaya gini juga maksudnya. Tau ... ah ini ambil." Alvaro menyimpan buku itu dengan kasar di meja. Ia memalingkan muka ke arah samping dengan jengkel.
Kanaya mengambil buku itu dengan menahan senyum geli. Ia menatap Alvaro yang sedang merajuk.
Kanaya sangat menikmati ekspresi merajuk Alvaro. Kenapa pacarnya ini mendadak jadi menggemaskan dan lucu seperti ini jika sedang marah? Kemana sifat sombong, menjengkelkan dan samaunya sendiri dia sekarang? Kenapa sekarang mendadak menjadi menggemaskan?
Cup
Kanaya mencondongkan wajah ke pipi kiri Alvaro. Cuman bertahan 3 detik lalu menjauhkan wajahnya lagi. Sementara cowok itu sekarang sedang menatap ke arahnya dengan ekspresi gugup dan kaget.
"Tunggu sebentar yah ... aku mau baca ini tanggung." Alvaro mengangguk patuh membuat Kanaya tersenyum senang dan kembali melanjutkan membacanya.
Entah kenapa mendadak Alvaro menjadi penurut seperti ini. Apa karena efek ciuman Kanaya di pipinya barusan? Alvaro merasa lemah karena Kanaya. Sudah seperti budak cinta saja.
Setelah beberapa saat.....
"Kamu gak laper?" tanya Alvaro yang mulai merasa bosan hanya melihat Kanaya membaca buku.
"Aku udah makan roti. Emangnya kamu belum makan?" tanya balik Kanaya yang sudah menyimpan buku di meja. Ia menatap khawatir Alvaro.
Alvaro tersenyum senang karena akhirnya Kanaya kembali memperhatikannya dan mengabaikan buku sialan yang rasanya ingin dia bakar sekarang.
"Jam pelajaran terakhir aku kosong, jadi tadi aku udah makan di kantin," kata Alvaro. Ia bisa melihat helaan napas lega Kanaya setelah mendengar ucapannya barusan.
Jadi dia beneran khawatir barusan?
Saat Alvaro kembali akan berbicara, ia kembali mengatupkan mulut saat melihat Kanaya sudah asyik kembali membaca. Karena bosan dan mendadak mengantuk, ia menelungkupkan kepala ke meja. Membuat kepalanya masih menghadap Kanaya. Tanpa sadar dia tertidur.
Kanaya yang merasa susasana mendadak sepi. Ia juga tidak mendengar decakan kesal cowok itu, beralih melihat Alvaro.
Kanaya tersenyum. "Ternyata dia tidur. Lucu banget kaya bayi kalo lagi tidur kaya gini." Jari-jari tangannya dengan pelan menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menutupi kening Alvaro.
Kanaya sudah memposisikan diri sama seperti Alvaro. Ia terus menatap Alvaro dengan senyuman di wajahnya.
"Maaf yah ... aku sengaja ingin ngerjain kamu aja. Habisnya gemesin kalo lagi ngambek, jadi makin sayangkan."
"Aku juga sayang kamu," ujar Alvaro membuat Kanaya terkejut mendengar ucapan cowok itu.
Tapi saat Kanaya melihat Alvaro cowok itu masih memejamkan matanya, apa tadi ia salah mendengar? Apa cowok itu mengigau?
"Sekarang gantian temenin aku tidur," kata Alvaro masih memejamkan mata.
Akhirnya dengan posisi yang sama seperti Alvaro dengan jarak wajah mereka yang dekat, Kanaya lalu memejamkan matanya dan ikut tertidur.
Tett...tett...tett...
Suara bel berhasil mengganggu dua insan yang sedang tertidur nyenyak itu. Tanpa mengubah posisinya Alvaro terbangun. Ia tersenyum saat melihat Kanaya yang masih tertidur di depannya. Ia lalu meniup pelan wajah Kanaya, sehingga membuatnya terbangun.
"I love you," ucap Alvaro saat melihat Kanaya membuka mata.
Untuk sesaat Kanaya masih menatap Alvaro, masih dalam posisi yang sama. Hingga akhirnya ia sadar dan menjauhkan wajah dari Alvaro.
Tett..tett..tett..
Suara bel itu berhasil mencairkan suasana akward diantara mereka. Bukan mereka, tapi Kanaya karena Alvaro bersikap biasa saja, malah terkekeh melihat Kanaya yang sedang malu.
"Ya ... udah ayo masuk udah bel!"ajak Kanaya cepat langsung berdiri.
Alvaro mengangguk lalu mengikuti Kanaya yang sudah berjalan di depannya.
"Wah ... kalian bolos pelajaran yah?" tanya Bu Dian penjaga perpus.
"Bolos apaan sih Bu. Ini kan baru masuk habis jam istirahat," jawab Kanaya yang merasa heran dengan pertanyaan Bu Dian.
"Nah loh ... nah loh ... ini itu udah jam pulang tau," sahut Bu Dian yang sukses membuat dua orang itu syok.
"Masa sih?" tanya Kanaya tak yakin. Ia lalu melihat jam dinding di atas kepala Bu Dian.
"Ya ampun ternyata ini udah jam pulang!" pekiknya histeris tidak karuan.
"Memang ngapain aja sih di dalam tadi sampai gak ingat waktu?" goda Bu Dian yang membuat Kanaya berubah menjadi gugup.
"Kita gak nga ...."
"Permisi," potong Alvaro sebelum Kanaya kembali berbicara. Ia sudah menarik tangan Kanaya untuk keluar.
Kanaya hanya mengikuti langkah Alvaro yang masih menarik tangannya berjalan.
Mulai sekarang tolong ingatkan Kanaya lain kali siapapun itu. Dalam waktu dekat tidak akan ke perpustakaan dulu. Ia benar-benar masih malu dengan Bu Dian. Tolong juga ingatkan Bu Dian untuk jangan menyebar gosip sembarangan.
Cinta memang terkadang membuat kita lupa waktu.
Eh ... tunggu cinta apa tidur yah?
**Thanks for reading 💜
Jangan lupa vote & coment💜**