Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
46. Kehidupan Baru



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


Jika kamu sudah menggengam jangan lepaskan. Karena sekali kamu lepaskan takan pernah bisa kamu genggam lagi..


Karena ini hati...


🐰


Semuanya berlalu dan berjalan begitu cepat. Setelah hari itu, mereka menjalani hidupnya dengan normal kembali.


Ada banyak kejadian yang terjadi setelahnya. Kasus hukum Laras dua minggu setelah hari itu telah selesai. Dimana Laras dihukum 25 tahun penjara dan denda 3 milyar atas kasus hukum penggelapan dana dan perencanaan pembunuhan.


Bram papa Alvaro, setelah dua bulan dirawat akhirnya kondisinya membaik dan dibolehkan pulang. Alvaro butuh waktu satu bulan untuk bisa berdamai dan memaafkan papanya. Walaupun masih ada kecanggungan diantara mereka, tapi percaya seiring berjalannya waktu kecanggungan itu akan mencair dengan sendirinya.


Dennis tinggal kembali dengan Bram di rumahnya dulu, hubungan mereka semakin terlihat baik-baik saja. Alvaro memilih tinggal di apartment tapi masih sering berkunjung dan menginap di sana. Jangan lupakan satu orang lagi, kakek bule yaitu kakek Alvaro kembali pulang ke negeri asalnya setelah sebulan kasus itu selesai.


Kehidupan Kanaya tidak ada yang berubah. Bundanya masih sama dan malah semakin parah. Akhirnya dengan sangat terpaksa Kanaya harus menitipkan Bunda di Rs Jiwa. Bukan tidak mau merawat, tapi tujuannya dengan harapan Bunda mendapatkan perawatan lebih baik. Supaya kondisi Bunda bisa cepat sembuh dan bisa kembali berkumpul dengannya.


"Nay ... ngelamun aja udah selesai nih." Tepukan Maya di pundak membuat Kanaya terkejut.


Lalu Kanaya melihat ke cermin, di mana rambutnya sudah terpotong menjadi sedikit lebih pendek.


"Tuhkan ... ngelamun lagi. Udah mau  naik kelas tiga ubah dong hobi ngelamun lo," kata Maya yang masih sibuk dengan poni barunya di cermin.


Kanaya mendesis menatap Maya. "Setidaknya hobi gue lebih bagus suka ngelamun. Dari pada lo yang suka stalking akun lambe turah mulu, yang berakhir dengan lo yang menjadi ratu gosip di kelas."


Maya cemberut, meniup-niup poni yang baru dipotong. "Rese lo dasar." Ia melihat jam tangan. "Ayo cepat Nay udah siang nih, kita belum beli baju buat entar malam."


Jika Kanaya tidak mengingat nanti malam ada acara prom night. Mana mau Kanaya hari ini pergi eh ... lebih tepatnya mengikuti Maya untuk ke salon dan belanja. Sebenarnya Kanaya dan Maya tidak wajib datang ke acara itu. Tapi berhubung Alvaro pacar pemaksanya mengajak, lebih tepatnya memaksa untuk ikut acara nanti malam. Sedangkan Maya adalah panitia acara, maka dengan terpaksa mereka terpaksa harus hadir. Jadi berakhirlah mereka di sini sekarang.


"Nay ... bentar yah gue mau selfie dulu sama pramuniaganya, ganteng banget tau!" Sebelum Kanaya menjawab, Maya sudah pergi dan menitipkan semua belanjaannya di tangan Kanaya.


Dengan malas Kanaya duduk di salah satu kursi, menyimpan semua belanjaannya. "Kebiasaan deh kalau belanja sama dia, selalu aja dapet cowok ganteng buat diajak selfie," gumamnya kesal saat dari kejauhan melihat Maya benar-benar sedang selfie.


Tiba-tiba ponsel Kanaya berbunyi. Ia melihat nama pemanggil, Kanaya lalu tersenyum tipis dan mengangkat panggilan.


"Hallo ... di mana?" tanya Alvaro di seberang telepon.


Kanaya tersenyum tipis. "Di mall."


"Ngapain?"


"Belanja."


"Belanja apa saja siapa?"


"Belanja baju buat nanti malam sama Maya."


"Ingat yah Nay jangan nakal. Jangan genit ... bla ... bla ... bla ...."


Kanaya memutarkan kedua bola mata malas mendengar ocehan yang sama setiap harinya dari Alvaro.


Ini yang berubah dari Alvaro, yaitu lebih cerewet dan lebih protektif. Tapi Kanaya senang karena itu berarti tandanya Alvaro khawatir. Walaupun terkadang sedikit membosankan dan membuat kepalanya pusing.


"Nay ... hello kamu denger aku kan?" tanya Alvaro lagi karena Kanaya diam.


"Iya ... aku denger kamu kok."


"Apa?"


Kanaya mengelus dada mencoba bersabar. Bergumam pelan 'Untung ganteng.' "Jangan nakal, jangan genit, jangan ganjen, jangan lirik-lirik mata sama cowok lain, jangan ngobrol sama cowok lain dan cepet pulang."


"Salah!" bantah Alvaro di seberang telepon.


Kanaya mengernyitkan kening bingung. "Apanya yang salah coba?"


"Yang salahnya itu ... selalu ingat aku disetiap detiknya." Terdengar kekehan Alvaro di seberang telepon.


"Mulai kambuh lebay dan alaynya," cibir Kanaya kesal. Sesekali melirik malas Maya. "Udah ... yah aku mau nyeret dulu Maya, mau belanja lagi."


"Jangan galak-galak. Cukup aku yang digalakin, jangan dia atau mereka kasian. Nanti gak kuat gak kaya aku." Terdengar helaan napas sejenak. "Baju apapun yang kamu pakai nanti di mata aku, kamu akan tetap paling cantik. Jadi tetap jadi diri kamu sendiri. Aku jemput nanti jam 7."


Kanaya tersenyum. Mengangguk pelan. Sadar Alvaro yang tidak melihatnya. "Iya ... ya udah yah jangan lupa makan ... by."


"By ... love you." Alvaro memutus sambungan teleponnya.


"Love you too." Kanaya mengamati ponselnya, di mana ada foto Alvaro jadi walpaper yang sedang tidur. Foto yang dia ambil secara diam-diam.


Kanaya tersenyum. "Terimakasih ya ..  Tuhan telah mengirimkan dia di hidupku." Ia menyimpan ponsel, berjalan ke arah Maya.


"Mau sampai kapan lo selfie? Ini udah sore May kita belum beli gaunnya!" omel Kanaya pada saat sudah di depan Maya.


Maya tersenyun kikuk ke arah Kanaya. "Bentar lagi deh Nay ... oh ya udah sekali lagi tapi tolong fotoin gue sama dia." Maya menatap malu-malu cowok di sampingnya.


"Udah selesai." Kanaya lalu menarik paksa Maya, tapi sebelumnya melihat ke arah cowok itu. "Saya minta maaf atas kalakuan gila teman saya." Cowok itu hanya tersenyum dan mengangguk membalas ucapan Kanaya.


Setelah berkeliling mall hampir 3 jam 45 menit 29 detik. Akhirnya mereka berhasil menemukan gaun, sepatu dan tas yang akan mereka gunakan ke pesta prom night nanti malam.


Sebenarnya dari awal Kanaya tidak berniat untuk membeli semua, karena ia pikir masih ada gaun dan sepatu lama yang masih bisa dipakai. Tapi Dinda dan Maya bekerjasama memaksanya untuk membeli gaun, tas dan sepatu baru, dengan jaminan semua belanjaan dia dan Maya ditanggung oleh kartu kredit Dimas.


Sebenarnya itu atas paksaan Dinda dengan ancaman batal nikah, akhirnya Dimas merelakan kartu kreditnya menjadi korban. Kanaya merasa sangat senang atas penderitaan Dimas itu. Jadi dia memutuskan setuju untuk belanja.


"Uh ... lelahnya ...," keluh Maya yang sudah berbaring di atas kasur Kanaya lebih tepatnya kasur di kamar ARDI.


Karena sekarang Bunda Kanaya dirawat di Rs jiwa. Akhirnya ia memilih tetap tinggal di rumah Ardi karena Dinda khawatir jika Kanaya tinggal sendirian.


"Ini salah lo yang kelamaan genit sama cowok," omel Kanaya yang juga ikut merebahkan diri di samping Maya.


"Lumayan kan Nay rezeki. Genit juga gue berkelas cuman khusus buat orang-orang ganteng," jawab Maya membanggakan diri, membuat Kanaya mendelik ke arahnya.


"Holla girls and ... are you ready?" tanya Dinda heboh setelah masuk ke kamar Kanaya.


Maya berdiri heboh. "Ready ... ayo kita di make up!" seru Maya tak kalah heboh.


"Yeay ...!" teriak Dinda dan Maya heboh bersamaan.


Kanaya menghela napas lelah, melihat kelakuan dua orang di depannya. Seperti ini jika dua orang cewek heboh dan rempong dipertemukan, sudah dipastikan hancur dunia ketenangan Kanaya.


"Ok ... mau Maya atau Kanaya dulu yang di makeup?" tanya Dinda menatap Kanaya dan Maya bergantian.


"Maya dulu Kadin. Aku tidur dulu, nanti kalo Maya udah selesai bangunin aku yah," kata Kanaya, lalu membaringkan tubuh bersiap tidur.


"OK ... ayo May!"


"Siap Kak!"


Dinda mulai merias Maya, sementara Kanaya mulai menjelajah ke alam mimpi.


"Nay bangun ... Nay Bangun!" Maya sudah greget membangunkan Kanaya, temannya satu ini jika tidur sudah seperti kerbau.


Tiba-tiba Maya tersenyum misterius. "Nay ... bangun ada Alvaro udah jemput!" teriak Maya tepat di kuping Kanaya.


Kanaya langsung bangun dan berdiri. " Ya Tuhan lo serius! Mana gue belum dandan coba gimana dong!" heboh Kanaya panik.


Sementara Maya hanya cekikikan melihat tingkah Kanaya, tiba-tiba kanaya melihat ke arah Maya. "Kenapa lo senyum-senyum? bukannya bantuin gue." Ia melihat ke arah ditunjuk Maya. "Baru jam 5 ... rese lo!"


"Habisnya lo tidur kaya kebo susah dibangunin. Cepat sana cuci muka bentar lagi Kadin masuk mau makeup lo."


"Ok," jawabnya pasrah.


1 jam 45 menit kemudian.....


"Gue kok jadi degdegan yah," ujar  Kanaya gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan Maya dan Dinda.


"Nay ..  perlu kita bilang berapa kali sih. Lo tuh cantik banget Nay. Gue aja yang cewek udah pangling banget sama lo, apalagi Kak Alvaro," jawab Maya yang mulai gemes dengan tingkah Kanaya.


"Serius?" tanya Kanaya masih tak yakin.


"Terserah deh," jawab Maya jengkel. Maya benar-benar menyerah dengan cewek yang sedang dimabuk cinta.


Dinda berdiri, membalik tubuh Kanaya menghadap cermin. "Coba kamu lihat ... apa secantik itu bisa dibilang jelek?"


Kanaya tertegun melihat penampilannya di cermin. Ia menatap Dinda yang tengah mengangguk membenarkan.


"Terimakasih Kak," kata Kanaya akhirnya. Ia benar-benar pangling dengan dirinya saat ini.


"Percaya deh pacar kamu pasti bakal terpikat."


Kanaya tersipu. "Apaan sih Kak?"


"Sok pura-pura polos lo Nay!" sahut Maya melempar bantal ke arah Kanaya.


Pada saat Kanaya akan balik melempar bantal, tiba-tiba bel pintu berbunyi.


Ting Tong


Deg...


Tiba-tiba Kanaya merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Entah kenapa ia mendadak menjadi sangat gugup. Lebih gugup dibanding saat akan dipanggil ke depan kelas oleh guru killer untuk mengerjakan soal matematika.


Kanaya melirik ke arah Maya dan Dinda. Mereka berdua mengangguk dan tersenyum membuat Kanaya malah semakin gugup. Ia benar-benar berharap Alvaro menyukai penampilannya.


**Thanks for reading 💜


Jangan lupa vote & Komen💜**