
**Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo 🙏**
Jika memaafkan semudah bernapas...
Mungkin takkan pernah ada dendam di dunia ini...
🐰
Alvaro mengecek jam tangannya berkali-kali. Ia juga menengok ke arah pintu masuk restoran berharap orang yang dia tunggu datang.
"Tumben Pak Dani telat. Ini udah lebih dari setengah jam dari yang dijanjiin."
Jika bukan pengacara Ibunya yang mengajak untuk bertemu. Mungkin Alvaro tidak akan sudi untuk menunggu selama ini.
Karena merasa bosan Alvaro lalu memainkan ponsel sampai tidak sadar akan kehadiran dua orang yang sudah duduk di kursi di depannya.
"Den Alvaro, maaf saya telat. Tadi saya harus menjemput Kakek dulu," ujar sebuah suara di depan.
Alvaro mendongak untuk melihat orang yang sudah duduk di depannya. Matanya memicing melihat seorang kakek yang sudah duduk di samping Pak Dani, pengacara Ibunya. Pak Dani yang mengerti tatapan bertanya Alvaro lalu dengan sigap memperkenalkannya.
"Den ... kenalin ini Kakek Peter Alexandro Domanil," kata pengacaranya ramah.
Alvaro hanya menatap datar saat pengacara Ibunya itu memperkenalkan seorang kakek yang duduk di sampingnya. Ia masih tak mengerti apa maksud pengacaranya itu memperkenalkan seorang kakek yang sepertinya seorang bule untuk dikenalkan kepadanya? Terus kenaoa dibawa dalam pertemuan yang katanya penting ini?
Apalagi ekspresi kakek itu yang menatapnya datar tanpa ekspresi. Tidak ada sedikitpun kesan ramah yang sedang ingin berkenalan. Bahkan terkesan sedang menatapnya seperti sedang menilai. Alvaro juga melihat Kakek bule itu berbisik ke arah pengacaranya yang langsung diangguki oleh pengacaranya.
"Ehemmmm ...."
Alvaro berdehem mencoba memperingati dua orang yang sedang berbisik-bisik di depannya. Sekedar hanya ingin mengingatkan bahwa di sini ada dia juga diantara mereka. Sungguh ia tidak ingin menjadi orang yang diabaikan dan tentunya tidak ingin menjadi objek pembicaraan dua orang di depannya.
"Lansung saja Pak, sebenarnya ada apa Bapak mengajak saya bertemu di sini?" tanya Alvaro to the poin. Ia sungguh tidak suka berbasa basi. Apalagi saat melihat kakek bule itu masih menatap dan menilainya.
"Angkuh ...," decak kakek itu yang masih menatapnya datar.
Alvaro langsung menatap horor kakek bule itu. Ia sungguh tidak mengerti maksud perkataan kakek itu. Apa kakek itu sedang menyindirnya? Tolong siapapun ingatkan Kakek itu apa hak dia untuk menyindirnya barusan!
"Tolong mulutnya dijaga." Alvaro balik menatap datar kakek itu yang dibalas seringaian oleh kakek itu.
Pak Dani yang memperhatikan interaksi mereka berdua hanya menggeleng tidak percaya. Harusnya saat ini menjadi pertemuan pertama yang dramatis dan mengharukan. Tapi kenapa menjadi pertemuan yang seakan sudah siap untuk saling membunuh.
"Maaf apa kalian tidak mau untuk pesan makanan terlebih dahulu?" tanya Pak Dani hati-hati. Ia tidak mau menjadi sasaran amukan dua orang yang saling ingin membunuh itu.
"Gak perlu ... gak lapar." Pak Dani hanya bengong saat dua orang di depannya menjawab kompak secara bersamaan.
"Gak usah ikut-ikut," sewot Alvaro menatap penuh permusuhan ke arah kakek itu.
"Kepedean siapa yang ikutin kamu," balas kakek tak kalah sewot.
"STOP!" bentak Pak Dani mulai pusing melihat dua orang di depannya yang memancarkan aura permusuhan.
Tiba-tiba nyali keberanian Pak Dani saat membentak barusan menciut saat mendapat pelototan tajam dari dua orang di depannya. Seolah mereka berkata 'siapa kamu berani bentak-bentak saya?'
Pak Dani menghela napas sejenak. Ia
harus bisa menguasai diri agar bisa menjinakan dua harimau yang siap menerkam di dekatnya.
"Jadi begini Den Alvaro, perkenalkan ini Kakek Peter Alexandro Domanil. Kakek Peter ini adalah mantan suami dari Ibu Andin yang tak lain adalah nenek Den Alvaro. Lebih jelasnya lagi dia ayah dari Ibu den Alvaro."
Tak ada reaksi yang berarti dari Alvaro. Ia masih menatap datar Pak Dani dan Kakek Peter.
"Terus?" Alvaro bertanya dengan malas seakan tidak tertarik tentang percakapan saat ini.
"Iya berarti Kakek adalah ...." ucapan pak Dani terpotong saat mendapat pukulan di pahanya oleh Kakek Peter.
"Saya itu Kakek kamu bodoh! Ah ... dosa apa saya punya cucu kurang ajar kaya kamu," ujar Kekek dramatis.
Alvaro bedecak malas. "Oh ... jadi ini pria tua bangka yang menduakan omah demi perawan bahenol yang 20 tahun lebih muda darinya," ujar Alvaro santai seolah sedang mendongengkan anak kecil sebuah dongeng tidur.
Alvaro tidak sadar ucapan dan sikap santainya barusan mampu membuat kakek bule itu kebakaran jenggot karena emosi.
Eh ... tunggu memang si kakek punya jenggot? Enggak ah ... jangankan jenggot rambut saja sudah tinggal bebapa helai.
"Eh ... omah kamu itu yang tidak perhatian sama saya. Bahkan dia lebih memilih arisan dengan teman soasialitanya dari pada menemani saya di ranjang." Pak Dani hampir memuncratkan minumannya mendengar ucapan prontal Kakek Peter.
Sementara Alvaro masih bersikap santai. Tidak ada reaksi yang berarti untuknya atas ucapan Kakek Peter. Ia bahkan malah menguap seakan hanya mendengar sebuah bualan belaka.
"Ngomong-ngomong kemana perawan? Eh ... udah gak perawan yah sekarang mah. Emmm ... piaraan bahenolnya itu?" Bahkan Alvaro kembali menguap saat bertanya barusan.
Sementara Pak Dani hanya memijit kening saking pusing dengan kelakuan dua orang di depannya. Ia jadi menyesal saat tadi sebelum mampir ke sini sempat-sempatnya membeli tisu. Ia pikir awalnya akan ikut terharu melihat kejadian drama melankolis nantinya, tapi kenyataannya malah seperti ini. Seharusnya membawa obat darah tinggin, karena ia yakin sebentar lagi tensi darahnya pasti naik drastis melihat kelakuan dua orang di depannya.
"Oh saya tau ... jangan-jangan anda didepak oleh peliharaan bahenol anda karena senjata anda sudah tidak mampu bertarung lagi," kata Alvaro semakin membuat sang kakek merah padam karena emosi.
"Dasar cucu kurang ajar. sebenarnya apa mau kamu hah?" bentak Kakek Peter emosi. Ia merasa setres karena kalah telak dalam perdebatan ini.
"Kembalikan apa yang menjadi milik omah dan Mama. Kembalikan apa yang harus menjadi milik mereka dan berikan pelajaran yang berharga untuk mereka yang seharusnya diberi pelajaran," ucap Alvaro serius membuat dua orang di depannya terdiam.
Tiba-tiba kakek Peter mengangguk dan tersenyum samar ke arah Alvaro dan dibalas senyuman juga oleh Alvaro.
Sementara Pak Dani hanya mampu bengong melihat insteraksi dua oang di depannya.
"Kamu memang cucu saya."
"Dan anda memang tua bangka yang didepak oleh perempuan bahenolnya."
"Terimakasih atas pujiannya."
"Sama-sama tua bangka."
Sementara Pak Dani akhirnya bisa bernapas lega, saat melihat insteraksi damai dan aneh ala dua orang di depannya. Setidaknya saat ini mereka telah berbaikan.
**
"Selamat sore ada yang bisa saya bantu. Mau pesan apa?" sapa Kanaya pada salah satu pengunjung cafe yang masih duduk menunduk sambil memainkan ponsel.
Lelaki itu mendongak membuat Kanaya dan lelaki itu sama-sama terkejut.
"Lo ...," ucap mereka bersamaan dan membuat mereka akhirnya tertawa bersama.
"Jadi lo kerja di sini?" tanya lelaki itu pada Kanaya. Ia memperhatikan penampilan Kanaya yang memakai baju karyawan cafe.
Kanaya mengangguk, tersenyum ramah. "Iya ... gue kerja di sini."
Lelaki itu meyodorkan ponsel ke arah Kanaya. Menatap Kanaya dengan senyuman. "ini."
Kanaya mengernyit bingung, menatap ponsel dan lelaki itu bergantian. "Maksudnya buat apa?" tanyanya benar-benar bingung.
Lelaki itu masih tersenyum. "Tulis kontak lo di sini. Biar kita bisa berteman."
"Oh ... kontak gue." Kanaya mengangguk paham lalu mengambil ponselnya. Ia menulis kontaknya. Walau dalam hati ia masih bertanya untuk apa cowok di depannya minta kontak dan mengajak berteman. Padahal mereka tidak dikategorikan dekat.
"Iya ... oh .. ya Dennis sampai lupa ... mau pesen apa?"
Setelah mencatat pesanan Dennis, Kanaya lalu pergi untuk mengambil pesanan Dennis. Sementara Dennis hanya melihat kepergian Kanaya dengan senyuman.
"Gadis manis," gumam Dennis memperhatikan kontak Kanaya di ponsel.
Setelah beberapa saat.....
"Ini pesanannya ... selamat menikmati." Dennis mendongak, ia tersenyum saat melihat Kanaya ada di depannya dan menyimpan pesanan ke meja.
"Lagi sibuk gak?" tanya Dennis.
kanaya mengernyit bingung atas pertanyaan Dennis. "Emm ... gak juga sih. Soalnya cafe agak sepi juga," jawabnya menatap sekeliling Cafe yang memang kenyataannya terlihat sepi.
"Boleh ngobrol sebentar?" tanya Dennis hati-hati.
Walaupun Dennis kurang yakin Kanaya mau menerima ajakannya, tapi ia masih berharap. Ia benar-benar butuh teman bicara saat ini. Ia rasa gadis di depannya adalah gadis yang cocok.
Kanaya terlihat berpikir untuk mempertimbangkan ajakan ngobrol cowok di depannya. Bukannya tidak mau tapi ia hanya terlalu takut dengan Managernya. Jika sampai manager cafe melihatnya mengobrol-ngobrol santai di jam kerja, sudah pasti kerja omel.
"Kalau takut sama manager lo, nanti gue yang izinin. Kebeneran dia teman kampus gue. Apa perlu gue bayar jam kerja lo hari ini ke dia?" tanya Dennis membuat Kanaya menjadi tidak enak untuk menolak.
"Ok," jawab Kanaya akhirnya lalu mendudukan diri di kursi depan Dennis.
"Thanks." Kanaya hanya tersenyum menjawab ucapan Dennis.
Kanaya merasa ada yang berbeda dengan Dennis. Walaupun Kanaya baru beberapa kali bertemu cowok itu tapi dari raut ekspresi Dennis terlihat murung saat ini. Ia yakin terjadi sesuatu yang buruk dengan dengan Dennis.
"Gue nyesel ...," ujar Denni akhirnya. "Ternyata selama itu gue salah. Gue nyesel ...."
Entah kenapa Dennis merasa Kanaya adalan orang yang cocok untuk diajak bercerita. Walaupun mereka baru bertemu beberapa kali, tapi ada aura yang berbeda dari gadis itu. Aura yang membuat semua orang bisa langsung menyukai dan merasa nyaman dengannya.
"Di satu sisi gue marah, kecewa karena ternyata selama ini gue dibohongin. Tapi di satu sisi lagi gue sayang dan gak bisa benci," kata Dennis terlihat sangat terpukul. "Ada seseorang yang tak pernah bersalah yang udah gue sakitin gara-gara ini."
"Dennis ... sorry gue emang gak ngerti masalah apa yang sedang lo hadapi. Tapi jujur satu hal yang gue tau. Penyesalan emang selalu datang terlambat, tapi selalu ada kesempatan untuk kita memperbaiki penyesalan kita." Dennis hanya menatap Kanaya dalam raut wajah yang sulit diartikan.
Dennis memijit kening pelan. "Rasanya udah terlambat. Luka yang gue torehkan terlalu sakit buat diperbaiki."
Kanaya menggeleng, menatap lembut Dennis. "Gak ada yang terlambat. Selama lo dan orang yang lo sakitin masih hidup di bumi, selalu masih ada kesempatan-kesempatan lainnya."
"Gue ... gak tau," ujar Dennis putus asa.
Kanaya merasa iba dengan Dennis. Sebelah tangannya mengusap lembut sebelah tangan Dennis, membuat Dennis menatapnya.
"Kan lo belum mencoba."
Dennis akhirnya tersenyum dan mengangguk membuat Kanaya merasa lega sekarang.
Sretttt..
"Aw ...!" Kanaya memekik sakit saat sebelah tangannya ditarik paksa oleh seseorang dipaksa untuk berdiri.
Kanaya menoleh untuk melihat siapa orang yang sudah menarik paksa tangannya. Ia terkejut saat orang itu adalah Alvaro. Kanaya meringis saat melihat raut wajah alvaro terlihat merah menahan amarah.
"Berengsek apa mau lo hah!" bentak Alvaro murka.
Awalnya Kanaya pikir bentakan itu untuknya, tapi saat melihat tatapan cowok itu mengarah ke Dennis ia menjadi merasa bingung.
"Kenapa?" tanya Dennis pelan seakan tidak terpengaruh oleh aura Alvaro yang suda siap untuk membunuh.
"********!"
Kanaya terkejut saat melihat Alvaro begitu marah ke Dennis. Tapi kenapa harus semarah itu? Apa karena cemburu? Tapi itu menurutnya terlalu berlebihan.
"Apa mau lo hah? Belum cukup lo ngambil semuanya dari gue dulu sampai sekarang. Kenapa lo selalu ngambil kebahagiaan gue?" Kanaya belum pernah melihat ekspresi marah Alvaro sampai semarah ini.
Tapi tunggu dulu ... jadi mereka udah saling kenal?
"Gue menyesal Alva atas semuanya." Dennis hanya mampu tertunduk melihat kemarahan Alvaro karena tahu ia memang salah.
"Ah ... basi!" bentak Alvaro lagi.
Jika Kanaya perhatikan lebih seksama lagi, sepertinya ada benang merah dibalik semua kejadiaan ini. Cerita Dennis tadi dan kata-kata kemarahan Alvaro seperti berhubungan.
Kanaya menoleh ke sekeliling, ia terkejut saat ia dan dua makhluk yang sedang debat pilkada ini eh ... maksudnya yang sedang beradu sengit ini menjadi tontonan semua orang di cafe.
"Alvaro udah ... kita malu udah jadi tontonan orang-orang di cafe. Kita bisa cari tempat lain buat bicarain ini baik-baik," bisik Kanaya ke Alvaro yang masih didengar oleh Dennis di depannya.
Alvaro mengusap wajah kasar. Ia meredam emosinya agar tidak membunuh cowok di depannya sekarang juga. Lalu ia menarik tangan Kanaya pergi berjalan ke luar cafe.
"Alvaro sakit." Tarikan Alvaro di tangan Kanaya benar-benar kencang. Bahkan ia yakin saat ini tangannya pasti merah.
"Berengsek!" maki Alvaro sudah menendang semua benda yang ada di depannya.
Lalu Alvaro merasakan sebuah pelukan di tubuhnya dari belakang.
"Udah yah ... dengan emosi semuanya gak bakal selesai." Kanaya harap dengan cara seperti ini bisa membuat Alvaro sedikit tenang.
Butuh waktu beberapa saat mereka bertahan dalam posisi ini, sampai akhirnya Alvaro berbalik dan menghadap ke arah Kanaya. Ia menangkup wajah Kanaya dengan kedua tangannya, membuat Kanaya harus mendongak melihatnya.
"Janji sama gue kalo lo bakal jauhin cowok berengsek tadi," kata Alvaro tegas.
Kanaya mengangguk, sebenarnya bukan berarti dia setuju atas permintaan Alvaro. Tapi setidaknya cowok itu sedang butuh jawaban iya, agar bisa jauh lebih tenang. Dari pada nanti Kanaya bilang enggak Alvaro menjadi tambah mengamuk.
"Sorry ... kalo gue ganggu."
Mendengar sebuah suara kompak membuat mereka melepaskan diri masing-masing, lalu menoleh ke arah seseorang yang sedang berdiri di depan mereka.
Kanaya menggeleng mencoba memberitahu cowok di depannya, yang tak lain adalah Dennis untuk pergi dari sini. Karena ini bukan waktu yang tepat untuk muncul di depan Alvaro yang emosinya masih labil.
"Apa lo kurang cukup mengerti tentang apa yang gue ucapkan tadi." Tidak ada bentakan dalam ucapannya. Tapi serius siapapun yang mendengarnya pasti akan merinding dan merasa terintimidasi.
"Ini tentang Papa dan nyokap lo," kata Dennis lagi membuat Alvaro seketika diam.
Dennis tahu dua orang itu adalah kelemahan Alvaro. Walaupun ia sekarang membenci papanya, tapi bagaimanapun ia tetap menyayangi papanya jauh di lubuk hatinya paling dalam. Dennis butuh berbicara dengan Alvaro sekarang juga, karena ini sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi.
Alvaro menoleh sekilas ke arah Kanaya dan gadis itu tersenyum mengangguk. "Ok," jawab Alvaro akhirnya membuat Dennis tersenyum senang.
"Kita butuh privasi," ujar Dennis dan Alvaro hanya mengangguk untuk menjawabnya.
Sebelum berjalan pergi menyusul Dennis, Alvaro kembali menoleh ke arah Kanaya seolah sedang mencari kekuatan.
"Semangat ...," ucap Kanaya tanpa suara membuat Alvaro mengangguk dan tersenyum.
Kanaya menatap kepergian mereka dengan penuh harapan. Semoga semua berjalan baik-baik saja. Ia lalu kembali masuk ke cafe untuk kembali bekerja.
**Thanks for reading 🙏
Jangan lupa vote & comment 💜**