
Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏
Ini bukan akhir tapi awal dari kisah kita yang baru dimulai........
🐰
3 Jam sebelumnya...
"Ini masih jam 4 Al ... tapi lo udah pake baju dan jasnya dari sekarang!" seru Rio yang mulai muak dengan tingkah berlebihan cowok kasmaran seperti Alvaro.
Alvaro melirik sinis Rio. "Berisik diem lo!" jawabnya ketus yang masih sibuk merapikan jas.
Diego mengelus punggung Rio. "Maklum anak perawan baru jatuh cinta kaya gitu tuh ... kelakuannya aw ...!" Diego menyentuh hidungnya yang dilempari botol parfum oleh Alvaro. "Sialan sakit tau gimana kalau hidung gue jadi pesek!"
"Serius kehadiran kalian di rumah gue cuman bikin gue darah tinggi," keluh Rio, lalu melirik satu temannya lagi yang duduk di ujung kasur tengah sibuk dengan ponsel. "Itu lagi bocah satu lagi mulai kasmaran."
"Berhasil ngajakin dia entar malem?" tanya Diego antusias sudah duduk di samping Vino.
"Kepo lo," balas Vino ketus lalu duduk membelakangi Diego.
Rio hanya memperhatikan tingkah ketiga temannya dengan helaan napas lelah, tapi jauh di lubuk hatinya bersyukur karena semuanya menjadi lebih baik sekarang. Rio berharap semuanya akan selalu baik-baik saja seperti ini sampai kapanpun.
**
Pkl 19: 00 WIB
Sudah lebih dari 15 menit Alvaro berdiri di depan sebuah pintu berwarna coklat. Alvaro hanya menatap diam pintu itu, tanpa ada niat untuk mengetuk atau memencet bel. Bahkan tadi dia sudah berniat akan pergi, kalau tidak ingat harus menjemput pacarnya di dalam.
Entahlah jika kata Diego ... Alvaro itu seperti anak perawan yang baru pertama kali jatuh cinta.
Tet...tet...tet....
Akhirnya Alvaro memencet bel. Dengan perasaan was-was dan cemas ia menunggu seseorang yang akan membuka pintu.
"Eh ... ada si ganteng ayo masuk," kata Dinda menyapa Alvaro dengan senyum ramahnya saat membuka pintu.
Alvaro mengangguk canggung. "Iya Kak," jawabnya sopan. Tidak mungkinkan di depan keluarga pacar songong. Bisa dicoret dari calon mantu dia. Itu urusannya lebih berbahaya.
"Ayo masuk ... Kanaya udah gak sabar nungguin kamu dari tadi loh," seru Dinda antusias. Ia benar-benar kagum melihat Alvaro. Bagaimana caranya Kanaya bisa menemukan cowok yang nyaris ketampanannya mendekati sempurna seperti ini? Dinda juga mau satu.
Alvaro mengangguk, ikut masuk dan duduk di sofa setelah dipersilahkan Dinda sebelum pergi ke lantai atas.
Tap...tap....tap....
Alvaro mendongak saat mendengar suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga. Di depan matanya memang ada mahkluk Tuhan yang paling cantik yang pernah Alvaro lihat selama hidup 18 tahun di dunia ini. Bahkan Ia hanya mampu terbengong saat melihat Kanaya yang bahkan sudah berdiri di depannya.
"Hey ...," sapa Kanaya melambaikan tangannya di depan wajah Alvaro.
Alvaro tersentak dari lamunannya. "Eh ... kapan udah sampai di sini?" tanya Alvaro spontan yang langsung merutuki ucapannya barusan.
"Aneh ... kamu kenapa sih?" tanya balik Kanaya. Menjongkokan tubuh, sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Alvaro yang masih duduk.
Kanaya mengamati wajah Alvaro yang menurutnya sedikit aneh, karena wajahnya sekarang terlihat memerah. Kanaya jadi khawatir jika cowok itu sedang sakit.
"Kamu sakit Al?" tanya Kanaya lagi. Sebelah tangannya menyentuh kening Alvaro yang langsung dipegang Alvaro dibawa dalam genggaman.
"Eh ...?" Kanaya terkejut saat Alvaro malah menyentuh dagunya dan menipis jarak diantara mereka.
Alvaro tersenyum tipis. Menatap Kanaya dalam. "Jangan buat aku gak bisa nahan diri." Sebelah tangannya menyentuh pipi Kanaya pelan.
Kanaya tersipu. "Apa ... an sih mak ... sudnya?"
Alvaro semakin menipiskan jarak wajah dengan Kanaya. Ia ingin kembali mengulang setiap momen manis di antara mereka. Ia selalu ingin menciptakan momen baru dengan gadis ini. Karena semuanya terlalu indah untuk terlewat sedikitpun.
Cup...
Akhirnya dua benda bertekstur lembut itu bertemu kembali. Membuat keduanya dengan refleks memejamkan kedua mata. Mencoba menikmati sensasi manis yang mampu membuat tubuh mereka seakan melayang.
Hanya bertahan 10 detik Alvaro membiarkan bibirnya bertemu dengan bibir Kanaya tanpa melakukan pergerakan apapun. Walaupun ia tidak rela melepasnya, Tapi ia harus bisa menahan sekarang, karena sebentar lagi mereka harus segera berangkat.
Mereka masih dalam posisi sangat dekat tanpa ada salah satu yang berusaha untuk menjauhkan posisinya.
Alvaro tersenyum. "Dari awal aku ngerasain ini." Satu ibu jarinya mengusap lembut bibir Kanaya. "Rasanya masih sama. Ini milik aku."
Kanaya menahan napas, saat ibu jari Alvaro bermain-main di bibirnya, membuat Alvaro terkekeh melihatnya. Ia lalu menyentil kening Kanaya pelan.
Kanaya meringis menyentuh kening. "Aw ... sakit tau!" protesnya.
Alvaro semakin terkekeh melihat Kanaya yang cemberut. Gadis itu berdiri dengan melipat tangan di atas dada. "Nyebelin dasar!" Sebelah tangan Kanaya menyentuh pinggangnya. "Kok pinggang gue sakit yah?"
Alvaro berdiri ikut menyentuh pinggang Kanaya. Sehingga posisi mereka sekarang berpelukan, membuat wajah Kanaya tenggelam di dada Alvaro. Bahkan Kanaya bisa merasakan hembusan napas cowok itu di punggungnya.
"Mana yang sakit?" tanya Alvalo lagi. Tanpa sadar Kanaya semakin merinding karena hembusan napas cowok itu semakin menggelitik punggungnya.
"Nay ... mana yang sakit?" tanya Alvaro lagi, karena Kanaya tidak menjawab pertanyaannya.
"Nay?"
Karena merasa masih tidak ada jawaban Alvaro lalu melepas dekapan tak langsungnya. Ia melihat Kanaya, lalu tersenyum saat melihat gadis itu ternyata tengah menutup mata dan tersenyum. Sepertinya Kanaya tengah menikmati momen mereka barusan.
Tanpa sadar Alvaro ikut terhipnotis dan kembali mendekatkan wajahnya untuk menipis jarak di antara mereka. Sampai saat tinggal kira-kira satu centi lagi, dua benda bertekstur lembut itu bertemu. Tiba-tiba sebuah suara deheman mengagetkan keduanya.
"Aduh ... mau sampai kapan sih kalian mau main drama koreanya? Udah setengah jam loh kita nonton kalian Sekarang malah mau mulai lagi," ujar Maya yang saat ini tengah duduk di anak tangga terakhir bersama Dinda.
Dinda mengangguk, menyetujui ucapan Maya. "Iya ... tapi aku suka kok, uh ... so sweet. Dimas aja gak pernah gituin aku."
Maya berdecak sebal. "Itu bukan so sweet, tapi alay Kadin."
Dinda lalu menatap Maya tidak terima. "Itu so sweet May."
"Alay!"
"So sweet!"
"Alay!"
"So sweet May!"
"Ih ... alay Kadin."
Kanaya dan Alvaro hanya saling lirik melihat Maya dan Dinda yang sedang berdebat. Lalu mereka berdua mengangguk bersamaan. Alvaro menggenggam tangan Kanaya, membawanya ke pintu keluar meninggalkan dua orang yang masih berdebat itu.
**
Suasana sekolah yang biasanya hanya ramai di siang hari, tapi malam ini terlihat sangat ramai oleh siswa-siswi yang hilir mudik berdatangan pergi ke aula sekolah. Tempat yang sekarang sudah disulap menjadi tempat pesta dansa yang bernuansa romantis, dengan tema dekorasi mengusung warna putih dan biru.
Alvaro dan Kanaya berjalan bergandengan tangan layaknya seperti pangeran dan putri. Sehingga menjadi tontonan dan menimbulkan keirian bagi siapa saja yang melihatnya.
"Al ... kok mereka lihatin kita mulu sih? Emang ada yang salah yah sama kita?" tanya Kanaya yang mulai merasa risih karena terus diperhatikan.
Alvaro tersenyum, merengkuh pinggang Kanaya dalam dekapannya. "Gak usah dipikirin, mereka cuman iri," bisik Alvaro lembut.
Kanaya mengangguk pelan. "Ok," jawabnya tak yakin.
Saat mereka baru memasuki aula semua tatapan mata juga hampir tertuju ke arah mereka. Sampai Kanaya bisa mendengar bisikan orang-orang di sana tentang dia dan Alvaro.
"Wah ... mereka serasi banget yah."
"Cocok banget ... sama-sama cantik dan ganteng."
"Uh ... jadi iri."
"Gak cocok ah ... cantikan juga gue. Jadi gue yang lebih cocok sama Alvaro."
"Apalagi bodynya ... kalah sama gue. Dijamin kalo sama gue Alvaro puas."
"Kapan sih mereka putus? Dia cantik banget sumpah. Rasanya gue pengen meluk dan jadiin pacar."
"Bibir cewek nya tuh sexy banget. Pengen nyoba rasanya gimana."
Kanaya merasakan rangkulan Alvaro di pingganggnya semakin erat. Bahkan ia bisa melihat rahang cowok itu mengeras, seperti sedang menahan sebuah emosi.
"Kamu kenapa Al?" tanya Kanaya khawatir.
Alvaro menatapnya tajam. "Seharusnya kamu pakai baju tidur. Gak usah pake makeup apalagi lipstik. Kamu itu milik aku. Jadi gak ada yang boleh melihat, apalagi memiliki kamu selain aku."
Kanaya terpaksa berjalan cepat mengikuti langkah Alvaro yang semakin cepat, menuju sebuah meja yang telah ada teman-teman Alvaro.
"Wis ... pangeran dan Cinderella pesta ini udah datang," seru Diego heboh.
Alvaro menatap Diego tajam. "Berisik!" Lalu tatapannya beralih ke Rio. "Vino mana?"
"Biasa lagi jemput calon pacarnya," jawab Rio yang mendapat anggukan mengerti oleh Alvaro.
"Pacar kamu galak kalo lagi cemburu. Hati-hati yah Nay," bisik Diego ke Kanaya yang duduk di depannya, yang masih didengar oleh Alvaro.
"Tuhkan dia galak," bisik Diego lagi karena ditatap tajam oleh Alvaro. Sementara Kanaya hanya terkekeh lucu melihat tingkah Diego.
"Nanti aku cubit dianya Kak Diego, biar gak galak lagi."
Diego mengacungkan kedua jempolnya yang dibalas dua jempol juga oleh Kanaya.
Sementara di luar aula. Lebih tepatnya di depan pintu aula, Maya memutarkan kedua bola mata malas melihat pertengkaran kedua orang cowok di depannya.
"Lo tuh jadi ade kelas belagu yah. Gak ada sopan-sopannya. Gue udah bilang yah malam ini Maya bareng gue!" bentak Vino sinis, menatap remeh cowok di depannya.
Anton mengangkat dagu menatap Vino. "Gue sopan ke kakak kelas yang gak belagu kaya lo. Pokoknya Maya milik gue malam ini!"
"Stop ... gue bukan barang dan bukan milik siapa-siapa!" Maya lalu menatap dan menunjuk Vino. "Gue bukan milik lo!" Lalu tatapanya beralih ke Anton. "Dan gue juga bukan milik lo!"
"May ... udah sama gue aja malam ini," bujuk Vino meraih dan memegang tangan kanan Maya.
"Gak ... lo bareng gue malam ini yah May," bujuk Anton yang meraih dan memegang tangan kiri Maya.
Maya menatap galak dua cowok di depannya. "Lepas ... malam ini gue bareng sama ...." Matanya melihat ke sekitar, sampai melihat seseorang yang ia kenal dan meraih tangannya. "Doddy."
Doddy tersentak, karna Maya tiba-tiba memegang tangannya. "Hey ... apa say kaget eike May. Hai ... pacar oh hy ... calon suami." Doddy menatap genit Anton dan Vino bergantian.
"Ayo masuk!" ajak Maya, tatapannya kembali melihat dua cowok normal di depannya. "Buat kalian ... malam ini jangan ganggu gue. Karena malam ini gue bareng Doddy."
Setelah itu Maya masuk menyeret Doddy, yang sempat melambaikan kiss jauh ke arah Anton dan Vino. Mereka pergi menjauh masuk, meninggalkan kedua cowok yang menatapnya kecewa.
Maya heran, apa sih maunya dua cowok itu? Karena sudah satu bulan ini mereka berdua selalu menerornya. Maya memang cewek genit pecinta cowok ganteng, tapi jika ada dua cowok ganteng yang mengejar ia tidak mau. Karena ia pecinta dan pengejar cowok ganteng. Tapi tetap tidak suka dikejar cowok ganteng pokoknya.
Lagu Bryan mcknight_ marry your daughter mengalun dengan nada lebih slow. Membuat pasangan muda-mudi berdansa di tengah aula. Tidak terkecuali Kanaya dan Alvaro, yang sudah ikut berdansa di tengah-tengah pasangan yang lain.
Kedua tangan Kanaya memeluk leher Alvaro, sedang kedua tangan Alvaro sudah berada di pinggang Kanaya. Tatapan mata mereka saling beradu pandang, menyalurkan berbagai emosi rasa yang mereka ingin disampaikan.
Alvaro menyatukan keningnya dengan kening Kanaya. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu Nay."
Kanaya tersipu dengan jarak sedekat ini. "Ya udah ngomong aja," jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan.
"Kakek menyuruh aku buat tinggal di sana dan nerusin kuliah bisnis aku di Paris." Alvaro sengaja menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Kanaya terlebih dahulu.
Kanaya menjauhkan sedikit wajahnya. "Terus?" Ada sebuah rasa sesak saat Kanaya menanyakannya.
Alvaro menyentuh dagu Kanaya agar kembali melihat ke arahnya. "Lihat aku ... kalau kamu nyuruh aku tinggal aku akan tinggal. Tapi kalau kamu nyuruh aku pergi aku bakal pergi."
Kanaya menunduk menatap lantai. "Kenapa gitu? Itu keputusan ada di tangan kamu bukan aku."
"Nay ... karena mulai saat ini kebahagiaan aku adalah kamu. Selama kamu bahagia aku ikut bahagia. Sebaliknya kalau kamu sedih, aku bakal jauh lebih sedih," kata Alvaro tulus, membuat Kanaya kembali menatapnya.
Ini adalah keputusan sulit untuk Kanaya. Melepaskan Alvaro itu sama saja membuatnya harus siap LDR dengan cowok itu. Tapi menahan Alvaro, Kanaya merasa tidak ada hak untuk membatasi impian dan cita-cita Alvaro.
Mereka pernah mendapatkan masalah yang jauh lebih buruk dari ini tapi mereka mampu melewati itu semua. Kanaya memejamkan matanya, meyakinkan dalam diri jika ia dan Alvaro juga akan sanggup melewati ini semua.
Kanaya menatap Alvaro dengan bulir air mata yang tertahan. "Kamu boleh pergi. Kejar impian kamu. Aku bakal nunggu kamu di sini."
Alvaro menatap Kanaya tidak yakin. "Kamu yakin sama keputusan kamu? Aku gak bakal pergi kalo kamu ...."
Kanaya menggeleng, memotong ucapan Alvaro. "Enggak aku yakin kok. Lagian ini kan zaman canggih. Kita masih bisa tetap komunikasian. Aku bakal nunggu kamu sampai kamu pulang."
Alvaro lalu merengkuh Kanaya dalam pelukannya "Ya Tuhan Nay ... aku janji bakal pulang demi kamu. Karena masa depan aku yang sebenarnya adalah kamu. Hidup aku kamu Nay."
Kanaya terisak dalam pelukan Alvaro. "Iya Al ... aku bakal nunggu kamu. Kamu janji pulang yah."
"Iya aku Janji Nay ... aku pasti pulang demi kamu."
"Jangan nakal."
"Iya kamu juga yah ... jangan genit-genit sama cowok."
"Selalu kasih kabar."
"Iya ... kamu juga tiap detik malah kasih aku kabar."
"Jangan selingkuh."
"Hati aku udah aku taroh dikamu. Jadi aku gak ada hati lagi buat selingkuh apalagi jatuh cinta."
Tiba-tiba lampu di aula mendadak mati, membuat suasana berubah histeris karena suara teriakan.
Saat Kanaya akan kembali bersuara, ia merasakan sesuatu yang lembut meyentuh bibirnya. Kanaya tersenyum dan memejamkan mata, saat merasakan sebuah ******* lembut di bibirnya.
Kemudian kedua tangan Kanaya sudah memeluk leher Alvaro dan sebelah tangan Alvaro berada di belakang kepala Kanaya. Semakin membuat Alvaro leluasa merasakan manis bibir kanaya secara penuh.
Di antara kegelapan, disaat semua orang sedang histeris. Mereka berdua sedang saling menikmati rasa manis satu sama kain. Kali ini sebuah gejolak gairah mendominasi kegiatan mereka yang semakin lama semakin panas.
Sampai 8 menit kemudian, lampu akhirnya menyala. Mereka secara refleks melepaskan pugutannya. Kanaya menunduk dan tersipu, sementara Alvaro semakin intens menatap Kanaya, terutama bibirnya yang sedikit membengkak karena ulahnya.
Cup
Alvaro mencium kening Kanaya. Ia mendekap Kanaya dalam pelukanya, membuat Kanaya semakin menenggelamkan wajah di dada bidang Alvaro.
"Aku sayang kamu Kanaya."
"Aku juga sayang kamu Alvaro."
Ini adalah keputusan yang tepat untuk Kanaya. Membiarkan Alvaro pergi, karena ia percaya Alvaro pasti akan kembali pulang kepadanya.
Biarkan jarak dan waktu menjadi penghalang kisah cinta mereka. Tapi kekuatan dan ketulusan cinta mereka akan membuat semuanya menjadi lebih mudah.
Karena cinta mereka akan selalu saling menguatkan satu sama lain.
~ The end~
Salam perpisahan juga dari Kanaya yang pasti kangen sama kalian😗
**Thanks for reading 🙏
Terimakasih yang sudah menikmati cerita ini sampai akhir. Terimakasih reader noveltoon💜
Borahae💜
Sampai bertemu di ekstra chapter💜**
Jangan lupa vote and komen 💜