
**Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏**
Dunia ini terlalu kejam untukmu..
Sekarang kamu pantas berbahagia dengan dunia barumu...
🐰
Seandainya Alvaro mempunyai mesin waktu? Rasanya ia ingin memutar semua waktu agar kembali ke masa lalu. Ia ingin memperbaiki semuanya agar tidak pernah ada sebuah kata penyesalan akhirnya.
"Alvaro sebaiknya kita pulang, ini sudah mulai sore."
Alvaro menoleh mencoba untuk tersenyum. "Nanti Bu ... saya masih mau di sini nemenin Silla."
Ibu panti mengangguk mengerti. "Iya sudah ... saya tunggu kamu di panti nanti. Ada sesuatu yang ingin saya berikan ke kamu."
"Iya bu."
Ibu panti telah pergi, meninggalkan Alvaro sendiri duduk terdiam di samping sebuah batu nisan.
"Maafin aku sayang. Seharusnya aku lebih cepat bawa kamu tinggal sama aku. Maafin aku, karena seharusnya saat ini kamu masih di sini bareng aku." Sebelah tangannya mengelus batu nisan itu berulang-ulang.
Batu nisan yang bertuliskan nama ......
SILLA ANZANI
BINTI
BUDIMAN
**
''*Silla tertabrak motor waktu dia kabur dari panti karena mau nemuin kamu.''
''Nyawanya tidak dapat tertolong ... ia meninggal.''
Arrghhhhh*
**
Seharusnya Alvaro bisa lebih cepat membawa Silla menjadi anak asuhnya. Seharusnya tidak berlarut dalam masalah dan melupakan Silla. Seharusnya ia bisa mewujudkan keinginan sederhana gadis kecil itu, yang hanya ingin mempunyai orang tua. Seharusnya ia yang ... mati bukan Silla.
"Hukum aku ya Tuhan ... hukum aku jangan gadis kecil ini. Dia masih kecil, tidak tau apa-apa. Seharusnya Kau hukum aku ya Tuhan."
Alvaro terisak. "Maafin aku, aku sayang kamu." Ia melihat jam tangannya. "Silla ... aku pulang dulu yah. Aku janji bakal selalu nengokin kamu ke sini."
Dengan sangat berat Alvaro harus merelakan Silla. Seorang gadis kecil ceria yang hanya mempunyai impian sederhana, yaitu mempunyai kedua orang tua. Impian sederhana yang dimiliki hampir seluruh anak. Namun itu tak sempat terwujud. Karena Tuhan lebih sayang gadis kecil itu. Mungkin karena Tuhan tahu gadis kecil itu lebih bahagia bila bersamanya.
"Selamat jalan Silla."
**
''*Kak Alvalo beliin Silla esklim sama beluang.''
''Kak bisa gak yah wajah Silla bagus kaya temen-temen Silla?''
''Kak kenapa meleka gak mau jadi olang tua Silla?''
''Kak kali ini Silla belajal main piano ... mau dengelin gak?''
''Kak meleka jahat ledekin Silla.''
'''Kak janji yah bakal bawa Silla jadi anak Kak Alvalo.''
''Silla sayang papa dan mama.''
*
Alvaro yakin Silla tidak benar-benar pergi meninggalkannya. Karena gadis kecil itu akan selalu hidup bersama semua kenangan-kenangannya di hati orang-orang yang mengenal dan menyayanginya.
Sebelum kembali pulang Alvaro menyempatkan untuk mampir ke Panti untuk menemui Ibu Panti. Entah ada urusan apa Ibu panti menyuruhnya ke sini, tapi entah kenapa ia yakin kalau ini ada hubungannya dengan Silla.
"Permisi Bu sa ...," ucapan Alvaro terhenti saat melihat seorang gadis yang sedang duduk di samping Ibu Panti.
"Eh Alvaro ... sini duduk ada sesuatu yang ingin Ibu berikan ke kamu dan Kanaya," ujar Ibu Panti terlihat antusias tanpa tahu ada suasana akward antara dua manusia di sampingnya.
Alvaro mengangguk. "Iya ibu." Sementara matanya fokus ke gadis yang sekarang duduk di depannya sedang menunduk.
"Jadi begini saya menyuruh kalian di sini karena ada sesuatu yang ingin saya berikan ke kalian," kata Ibu panti. Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. "Ini surat dari Silla untuk kalian."
Kanaya mendongak dan tak sengaja matanya bertemu dengan Alvaro yang dari tadi terus melihat ke arahnya. Sungguh Kanaya benar-benar menjadi salah tingkah saat ini.
Alvaro berdehem untuk mengurangi kecanggungan. "Terimakasih Bu." Ia mengambil surat dari Ibu panti, tapi sekali lagi matanya tetap fokus melihat Kanaya.
"Ini surat dari Silla buat saya Bu?" tanya Kanaya mengambil surat itu dan berusaha fokus untuk mengabaikan tatapan Alvaro.
"Iya ... katanya surat untuk Mama dan Papa barunya." Kanaya dan Alvaro kompak terdiam mendengar ucapan Ibu Panti.
Ibu panti yang mengerti kesedihan mereka, kemudian memegang tangan Kanaya dan Alvaro dan menyatukannya dalam satu genggaman.
"Silla bahagia karena saat terakhirnya ia bisa mempunyai kedua orang tua yang bisa ia panggil Mama dan Papa, karena itu impian terbesarnya. Terimakasih kalian sempat mewujudkannya."
Mereka sama-sama terdiam mendengar ucapan ibu panti. Seperti ada sebuah cubitan keras di hati mereka saat mendengar ucapan Ibu Panti yang semakin membuat mereka sangat merasa bersalah.
Kanaya melepaskan tangannya perlahan, menatap Ibu Panti dengan air mata yang tertahan. "Seandainya saya bisa mengulang waktu Bu? Saya ingin bisa benar-benar merawat Silla jadi anak saya."
"Ini sudah takdir Tuhan. Kita sebagai manusia hanya mampu berencana dan semuanya kembali lagi kepada Tuhan." Ibu Panti merengkuh Kanaya dalam pelukannya. "Silla sekarang udah bahagia di sana. Sekarang kita yang masih hidup harus bisa bahagia juga demi Silla."
Kanaya mengangguk. "Terimakasih telah merawat Silla selama ini." Nelepaskan pelukannya, berusaha tersenyum menatap Ibu Panti. "Saya pamit pulang yah Ibu."
"Permisi Ibu."
"Nay tunggu!" Suara Alvaro menghentikan langkahnya.
Kanaya berbalik dan menatap Alvaro. "Aku mau pulang," katanya berusaha sedatar mungkin.
Kanaya benar-benar berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Alvaro. Karena jujur ia sangat merindukan Alvaro. Bertemu cowok itu di sini membuatnya ingin sekali memeluk cowok itu untuk bisa melepaskan kerinduannya.
Tapi sekali lagi tidak untuk sekarang, karena semuanya tidak semudah itu. Ia benar-benar butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Apakah hatinya bisa dengan mudah berdamai dengan masa lalu? Apakah hati dan cintanya ke Alvaro sekuat itu untuk bisa memaafkan?
Kanaya melepaskan tangan Alvaro yang sudah menggenggamnya. "Aku mau pulang."
"Enggak Nay ... kita harus bicara ... kit ...."
"Aku harus pulang sekarang," tolak Kanaya lagi memotong ucapan Alvaro.
Secara tiba-tiba Alvaro menarik tangan Kanaya, membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Aku mau pulang ... lepas!" tolak Kanaya lagi, saat Alvaro memasangkan saltbethnya
"Nay lihat aku ... kita harus BICARA!" Untuk pertama kalinya Alvaro membentak Kanaya dan membuatnya terdiam.
Alvaro menggeram frustrasi. "Kita harus bicara Nay ... kita harus bicara," lirihnya lemah membuat Kanaya tertegun mendengarnya.
Kanaya mencoba menatap Alvaro. "Ok ... silahkan berbicara," katanya datar.
Kanaya benar-benar sangat sulit untuk bersikap sekarang terhadap Alvaro. Satu sisi dalam dirinya merindukan cowok itu, tapi satu sisi dalam dirinya lagi menyimpan sebuah luka yang masih ada hubungannya dengan cowok itu.
Setiap kali melihat wajah Alvaro entah kenapa seakan ia melihat wajah om Bram yaitu papa Alvaro. Ia masih ingat saat dulu om Bram main ke rumahnya dan memberinya boneka. Ia juga masih ingat saat Om Bram datang ke rumahnya dengan beberapa preman yang memarahi dan memukuli ayahnya. Ia juga masih ingat wajah frustrasi ayahnya atas tuduhan om Bram waktu itu. Bahkan ia masih ingat wajah ayahnya dan Dava untuk yang terakhir kalinya yang sudah tergolek lemah tak bernyawa.
Kanaya menggeleng berusaha menahan tangisan. "Semuanya gak semudah itu Al ... aku butuh waktu."
"Nay aku tau ... aku ...," ucapannya terpotong saat melihat Kanaya menangis.
"Aku butuh waktu Al. Aku tau aku egois dengan melibatkan kamu di sini. Tapi tiap aku lihat kamu, aku selalu ingemat wajah terakhir ayah dan Dava saat yang terakhir kalinya," lirih Kanaya. Pada tahap ini tangis Kanaya sudah pecah.
Sakit ... ini yang Alvaro rasakan saat melihat orang yang dia sayang menangis terluka di hadapannya dan itu semua ada hubungannya dengan dia. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk bisa menyembuhkan luka dan rasa sakit Kanaya saat ini.
"Aku butuh waktu Al ...." Sekali lagi Kanaya menepis tangan Alvaro yang merengkuh wajahnya.
"Nay aku sayang kamu." Hanya kalimat itu yang mampu Alvaro katakan.
Kanaya lalu menyeka air matanya dengan punggung tangan, menatap Alvaro dalam. "Aku gak tau apa rasa sayang aku sekuat itu untuk bisa memaafkan. Aku mohon aku butuh waktu Al untuk sekarang."
"Nay ... aku sa ...."
Tok..tok..tok..
Suara ketukan di kaca mobil menghentikan ucapan Alvaro, membuat mereka sama-sama menoleh ke kaca samping Kanaya.
Kanaya menghembuskan napas lega setelah kaca mobil terbuka dan melihat siapa yang mengetuk kaca mobil.
"Sorry ... gue ganggu kalian tapi ...." Lalu tatapannya beralih menatap Kanaya. "Nay ... kayaknya kita mesti balik sekarang deh. Urusan lo udah selesai kan?" tanya seorang cowok yang mengetuk kaca mobil.
Kanaya mengangguk. "Udah Kak ... ayo kita balik," jawabnya mantap, membuat Alvaro hanya menatap kebingungan interaksi dua orang di hadapannya.
"Tunggu!" Alvaro menahan tangan Kanaya yang akan membuka pintu mobil.
Kanaya menoleh, menggeleng menatap Alvaro. "Aku mesti pulang sekarang dan ..." Ia melepaskan tangan Alvaro yang menggenggamnya. "Aku mohon beri aku waktu untuk semuanya."
"Nay ... aku ...." Sekali lagi tangan Alvaro ditepis oleh Kanaya, saat dia berusaha merengkuh wajahnya.
"Please ... ngertiin aku dan beri aku waktu untuk memikirkan semuanya Al."
Cup....
Alvaro mengecup kening Kanaya singkat. "Aku sayang kamu. Aku bakal nunggu kamu sampai kamu siap. Aku bakal nunggu kamu Nay."
Tanpa membalas ucapan Alvaro, Kanaya membuka pintu mobil dan ke luar tanpa menatap Alvaro untuk yang terakhir kalinya. Ia mengangguk ke arah cowok itu dan mereka berjalan bersama menuju sebuah mobil yang tak jauh berada di depan mobil Alvaro.
Sementara Alvaro hanya menatap kepergian Kanaya dalan diam sampai Kanaya dan cowok itu masuk ke dalam mobil. Alvaro menyadarkan punggungnya ke kursi mobil dan membiarkan Kanaya pergi. Alvaro memejamkan mata perlahan, tiba-tiba ia menggeleng.
Alvaro ingat bagaimana 5 hari ini susahnya payah mencari Kanaya. Tapi sekarang dengan gampang melepas Kanaya begitu saja saat gadis itu sudah ada di depan matanya.
Dengan gerakan terburu-buru Alvaro ke luar dari mobil dan berusaha mengejar Kanaya. Tapi sayang mobil yang Kanaya tumpangi sudah melaju.
"Nay ... tungggu ... berhenti Nay ... tunggu!" teriak Alvaro berusaha mengejar mobil yang ditumpangi Kanaya.
"Nay ... tunggu ... tunggu!" teriak Alvaro dan mobil yang ditumpangi Kanaya sudah melaju semakin jauh di depan.
Alvaro jatuh terduduk saat mobil Kanaya sudah benar-benar melaju jauh. Ia sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk berdiri. Apalagi untuk menyetir mobil dan menyusul Kanaya lagi. Ia hanya mampu terduduk di pinggir jalan raya dengan tangisan yang sudah tidak bisa ditahan.
Alvaro kembali membiarkan gadisnya pergi lagi dari dirinya untuk yang ke sekian kalinya.
"Nay ... maaf Nay ... maaf ... aku sayang kamu ...."
Sementara Kanaya berusaha menahan isakan tangisnya, saat dari kaca spion melihat Alvaro berusaha berlari mengejarnya.
"Kamu gak papa Nay?"
"Gak papa kok Kak."
Kanaya yakin semuanya akan baik-baik saja, karena ini yang terbaik untuk semuanya terutama untuk hatinya.
**Thanks for reading💜
Jangan lupa vote & comment💜**