Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
23. Calon Mantu



****Happy & enjoy reading💜


Maaf untuk typo🙏**


Pertemuan dan perpisahan adalah dua hal yang saling terikat....


Bersiaplah jika perpisahan itu terjadi antara kita...


🐰


Kanaya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Bukan karena ia sesak napas, tapi karena udara di sini sangat sejuk dan udaranya jauh lebih segar dari udara kota yang sudah tercemar polusi.


"Ah ... rasanya gue pengen banget bikin rumah di tempat kaya gini. Pasti betah," kata Kanaya benar-benar merasa kagum dengan tempat beradanya sekarang.


"Yakin?" tanya Alvaro datar tanpa menoleh membuat Kanaya bingung dengan pertanyaan ambigu cowok itu.


"Yakin lah. Kenapa mesti gak yakin? Siapapun pasti ingin tinggal di tempat kaya gini termasuk gue," balas Kanaya antusias. Sementara Alvaro mengedikan bahu tidak peduli tanpa menoleh dan kembali berjalan.


Kanaya menghentak-hentakan kakinya kesal atas sikap Alvaro yang berubah-ubah. Dia kesal atas sikap Alvaro yang tidak konsisten menurutnya, percis seperti bunglon.


Seharusnya Alvaro bisa bersikap sedikit manis saat melihatnya kembali ceria. Bukannya sedari tadi dalam perjalanan dalam mobil, dia selalu protes karena Kanaya selalu mengabaikanya dan terus  bersikap jutek. Terus kenapa saat Kanaya sekarang sudah kembali ceria, dia yang malah mengabaikan Kanaya dan bersikap jutek?


Apa cowok itu sedang balas dendam?


"Udah gak usah cemberut gitu. Muka lo tambah jelek kalo kaya gitu."


"Gue yakin lo gak bakal  nyesel ikut sama gue nanti."


"Lo aneh tau kalo diem gitu. Biasanya kan lo cerewet banget."


"Dasar cowok bunglon." Kanaya semakin menggeram kesal saat mengingat perkataan-perkataan cowok itu dalam mobil tadi. Berbanding terbalik dengan sekarang.


Tapi lihat sekarang cowok itu malah mengabaikannya dan bersikap acuh. Lebih tepatnya seperti tidak menganggap kehadirannya. Bahkan sekarang ia sudah berjalan jauh di depan. Tanpa berniat menunggu Kanaya yang sedang kesusahan berjalan di belakang.


Seharusnya yang harus bersikap marah itu Kanaya bukan cowok itu. Karena dengan seenaknya cowok itu membawa paksa dan mengganggu hari libur santainya hari ini.


"Jalan yang cepet jangan lelet kaya siput gitu. Entar ada binatang buas baru tau rasa," ujar alvaro berhenti sebentar lalu menoleh ke belakang.


"Apa bedanya binatang buas sama lo? Sama-sama nyeremin. Gak lihat apa jalannnya susah buat dilewatin!" omel Kanaya semakin kesal saat cowok itu hanya melihatnya datar tanpa berniat kembali dan membantu berjalan.


Kanaya benar-benar mengutuk cowok di depannya. Kenapa cowok itu selalu bisa menjungkir balikan moodnya? Kanaya jadi menyesal saat tadi sempat-sempatnya memuji cowok itu, pada saat mereka baru tiba di sini.


Sebenarnya siapapun pasti akan sangat senang saat dibawa ke sini. Sebuah tempat yang jauh dari perkotaan dengan suasana alam yang mendominasi. Mungkin tepatnya bisa disebut sebuah hutan. Bukan sebuah hutan yang menyeramkan, tapi sebuah hutan yang terkesan indah. Sebuah hutan yang ditumbuhi berbagai pohon  pinus yang tersusun rapi.


Entah karena alasan apa Alvaro berubah menjadi lebih diam dan datar saat mereka tiba di sini.


"Ayo ...!" Kanaya terkesiap saat suara Alvaro kembali melembut dan terasa begitu dekat.


Bahkan Kanaya tidak sadar saat Alvaro saat ini telah berjalan kembali ke arahnya dan telah menggenggam tangannya mengajak berjalan bersama.


"Jangan bengong ayo jalan," kata Alvaro lembut, berhasil membuat Kanaya mengerjap dan mengangguk tanpa sadar.


Kanaya masih berusaha menormalkan detak jantung yang kembali menggila atas sikap lembut Alvaro saat ini. Apalagi tangannya yang masih digenggam erat oleh Alvaro. Ia merasa sangat tidak berdaya dibuatnya.


Kanaya memang benar jika sikap cowok itu berubah-ubah seperti bunglon.


"Sebebentar lagi kita sampai. Tapi jalanannya mungkin akan lebih kecil dan susah dari ini. Lo bisa kan?" tanya Alvaro lembut. Ia sedikit heran saat melihat Kanaya hanya diam dan menatapnya dengan wajah memerah.


"Ehh ... iyyy ... yya, apa oh iya bisa kok," jawab Kanaya gelegapan.


"Ya udah ayo!"


Mereka akhirnya berjala bersama melewati sebuah jalan setapak yang semakin kecil. Tapi Kanaya bersyukur karena Alvaro sekarang selalu berjalan di sampingnya dan selalu menggenggam tangan Kanaya erat.


"Kita udah sampai."


Kanaya yang sedari sibuk menormalkan detak jantungnya yang menggila, akhirnya mendongak melihat sekeliling. Ia terkejut bahwa saat ini mereka tengah berada di sebuah area pemakaman yang luas. Area pemakaman yang ditumbuhi rerumputan hijau yang tertata rapi di sekitarnya. Lebih tepatnya sebuah pemakaman yang berada di atas bukit.


Kanaya mendongak melihat Alvaro yang sekarang sudah memejamkan mata. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada cowok itu. Tapi melihat kembali ekspresi datar dan dingin Alvaro membuat Kanaya mengurungkan niatnya.


"Di sini tempat terakhir wanita special dalam hidup gue beristirahat. Gue mau ngenalin lo sama dia," ucapan ambigu Alvaro membuat Kanaya semakin bingung.


Ada rasa terluka saat Kanaya melihat kedua mata Alvaro yang tengah menatapnya. Walaupun hanya sekilas tapi Kanaya sempat melihat tatapan pilu itu.


"Ya udah ayo!" ajak Alvaro lagi. Kanaya hanya mengangguk dan mengikuti Alvaro yang sudah berjalan lebih dulu.


Sebenarnya ada apa? Kenapa dia begitu terluka?


Langkah Kanaya berhenti saat ALvaro sudah duduk di samping sebuah batu nisan, Kanaya akhirnya ikut duduk di sampingnya.


"Ini nyokap gue. Tempat peristirahatan terakhir nyokap gue," kata Alvaro lirih. Kanaya bisa melihat tatapan Alvaro yang kembali sangat terluka.


"Tempat yang paling aman di dunia ini buat nyokap gue," katanya lagi lirih.


Rasa kehilangan adalah rasa yang paling menyakitkan dalam hidup. Kanaya tahu seberapa sakitnya luka dari rasa itu karena ia pun pernah mengalaminya.


Saat ini yang dibutuhkan Alvaro adalah seorang pendengar. Bukan seseorang yang sok bijak menasehati dan memberikan motivasi. Saat ini Kanaya mencoba menempatkan dirinya pada posisi itu. Mencoba mendengarkan apapun yang cowok itu ceritakan tanpa sedikitpun menyela ucapannya.


Alvaro menoleh sekilas pada tangannya yang Kanaya genggam. Lalu ia kembali menatap Kanaya sebentar, setelah itu kembali menatap batu nisan di depannya.


"Kita berdo'a dulu buat nyokap gue!" ajak Alvaro, Kanaya lalu mengikuti cowok itu yang sudah mulai berdo'a.


Sejenak hanya keheningan yang menyelimuti suasana mereka berdua. Mereka sama-sama larut dalam sebuah lantunan do'a.


"Gue mau ngenalin lo sama nyokap. Mau kan?" pinta Alvaro, lebih terdengar seperti perintah bukan permintaan.


"Eh... ap..  pa barusan?" Alvaro hanya tersenyum menjawab pertanyaan Kanaya yang terbata.


Tatapan mata Alvaro kembali tertuju pada batu nisan Ibunya lagi. Ia terlihat memejamkan mata sebentar dan mecoba menghembuskan napas secara perlahan. Kanaya hanya menatap dalam diam memperhatikan semua yang Alvaro lakukan.


"Mah ... maaf kalo Alva baru datang nengokin makam Mama sekarang. Mah ... hari ini Alva gak datang sendiri. Alva bawa seorang Putri yang selalu mamah ceritain dulu. Kenalin namanya Kanaya," kata Alvaro yang sontak membuat Kanaya sedikit terkejut.


Kanaya menatap Alvaro yang saat ini tengah menatapnya, lalu ia mengangguk singkat. Pandangannya lalu tertuju pada batu nisan di depannya.


"Selamat sore tante. Kenalin aku Kanaya, temannya Alvaro. Salam kenal tante," sapa Kanaya ramah, Alvaro tersenyum simpul melihatnya.


Alvaro tersenyum. "Dia bukan teman Alva mah. Dia wanita special kedua buat Alva setelah mamah. Lebih tepatnya calon menantu mamah," bisik Alvaro di akhir kalimatnya yang masih didengar oleh Kanaya.


Alvaro terkekeh geli melihat Kanaya yang wajahnya kembali memerah. Sementara Kanaya merengut sebal. Tapi jauh dalam lubuk hatinya ia sangat lega dan bahagia saat melihat Alvaro bisa kembali tersenyum.


"Tuh mah ... calon mantu mamah itu suka baperan. Mukanya gampang banget berubah merahnya," adu Alvaro pada batu nisan mamahnya yang membuat Kanaya semakin merengut sebal.


"Eh... siapa yang jadi calon mantu?" tanya Kanaya baru sadar.


"Lo ... dan nyokap gue udah nerima lo jadi calon mantunya," jawab Alvaro santai dan sukses buat Kanaya terkejut.


"Apaan sih? Masih sekolah ngomongnya mantu-mantuan!" sewot Kanaya mencoba menatap ke arah lain dan berusaha untuk menghindari tatapan Alvaro.


Alvaro terkekeh gemas melihat wajah Kanaya yang kembali memerah. Rasanya ia semakin ingin menggoda Kanaya.  Kedua Tangannya menyentuh pipi Kanaya, membuat wajah Kanaya kembali melihat ke arahnya.


"Gue kan cuman bilang calon mantu bukan mantu. Apa jangan-jangan ini kode buat ngajakin cepet nikah," goda Alvaro yang semakin membuat Kanaya salah tingkah.


Kanaya melepaskan tangan Alvaro di wajahnya lalu ia membelakangi Alvaro. Ia berusaha menormalkan kembali detak jantung yang kembali menggila atas tindakan Alvaro barusan.


"Tapi gue serius, soal lo yang bakal jadi calon mantu mamah gue Nay."


Kanaya refleks menoleh ke arah Alvaro, mencoba melihat ekspresi wajah cowok itu. Ia terkejut saat melihat raut wajah serius cowok itu. Kanaya mencoba meyakinkan dirinya bahwa Alvaro sedang bercanda dan sedang menggodanya sekarang.


"Gue bukan cowok yang pandai mengucapkan kata-kata romantis. Tapi gue cuman akan bilang ini hanya sekali dan lo harus denger  baik-baik."


Kanaya diam saat kedua tangannya telah digenggam oleh tangan Alvaro. Ia menjadi gugup saat melihat Alvaro yang terus menatap intens.


"Di depan makam nyokap gue. Gue yakin nyokap pasti ada di sini buat lihat ini. KANAYA AZANI terimakasih udah hadir di kehidupan gue. Terimakasih udah melengkapi kekurangan hidup gue menjadi lebih sempurna. Terimakasih udah menjadi obat penyembuh untuk luka gue dan terimakasih udah ngajarin gue apa itu artinya cinta," kata Alvaro lembut mampu membuat Kanaya tersipu.


"Kanaya ... maukah lo jadi pendamping hidup gue dan menjadi Ibu dari anak-anak kita suatu hari nanti?"


Kanaya terkesiap atas ucapan Alvaro barusan. Perasaan menjadi bimbang saat ini. Ia senang atas ucapan perasaan cowok itu, karena pada nyatanya ia pun merasakan perasaan yang sama terhadap Alvaro.Tapi di satu sisi ia takut. Takut kalau Alvaro tidak serius dan sedang mempermainkannya. Sekali lagi dia mencoba mencari kebohongan di mata Alvaro dan tidak menemukannya. Kanaya hanya melihat sebuah keseriusan di mata Alvaro.


"Lo serius?" tanya Kanaya lirih. Ada sebuah keraguaan dalam ucapannya.


"Lo tau gue gak pernah seserius ini dalam hidup gue. Lo lihat gue, apa gue kelihatan sedang bercanda sekarang?" tanya Alvaro sungguh-sungguh.


Kanaya mengeleng resah. Rasanya keseriusan Alvaro malah semakin membuatnya takut.


"Hey ... lo kenapa?" tanya Alvaro khawatir yang melihat tingkah Kanaya yang terlihat ketakutan.


"Gue cuman takut. Takut kalo lo bakal nyakitin dan ninggalin gue pada akhirnya," jawab Kanaya mencoba memberanikan diri menatap Alvaro.


"Guk gak bisa janji buat gue gak nyakitin lo. Karena kita gak pernah tau kehidupan kita kedepannya seperti apa. Tapi gue bakal janji bakal selalu menjaga dan ngebahagiain lo selama gue masih bernapas. Selama jantung gue masih berdetak, gue gak akan pernah ninggalin lo. Kecuali kematian yang buat gue ninggalin lo," jawab Alvaro serius.


Tangis Kanaya pecah mendengar ucapan Alvaro barusan. Sementara Alvaro yang melihatnya menjadi khawatir. Ia lalu menangkup wajah Kanaya dengan tangannya. Berusaha menghapus air mata Kanaya dengan ibu jarinya.


"Gue mohon jangan nangis. Gue gak minta lo buat nerima gue. Please  ... gue mohon berhenti," kata Alvaro khawatir karena Kanaya masih terus menangis.


Kanaya mendongak melihat Alvaro sekali lagi untuk memastikan semuanya. Supaya dia yakin atas jawabannya.


"Gue mau... gue mau atas semua permintaan lo," balas Kanaya disela isak tangisnya.


Tiba-tiba Alvaro memeluk Kanaya senang atas jawabannya. Sementara Kanaya semakin terisak menangis. Untuk kali ini dalam hidup Kanaya air matanya adalah air mata kebahagiaan. Bukan air mata kesakitan seperti biasanya.


"I love you Kanaya Azani."


Hari ini di depan makam Ibu Alvaro,  mereka telah resmi terikat dari dua hati menjadi satu cinta.


Semoga dua insan ini lebih kuat untuk menghadapi kedepannya. Karena setelah ini perjalanan panjang baru mereka akan dimulai.


   


T**hanks for reading🙏


Jangan lupa vote & comment**💜