Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
26. Menjaga Bukan Merusak



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


Karena cinta diciptakan untuk saling melindungi..


Karena semuanya tentang rasa bukan tentang nafsu...


🐰


"Kamu harus ngambil keputusan secepatnya. Obat tidak selamanya akan membantu. Kamu harus segera melakukan kemo."


Hanya sebuah helaan napas yang dilakukan oleh seseorang yang kini telah menyandarkan badannya ke sandaran kursi.


"Di ... apa yang Dokter bilang benar. Kamu gak bisa kaya gini terus. Kamu bukan kucing yang punya nyawa 9. Kamu harus jalanin kemo." Ardi yang menjadi objek pembicaraan di sana, hanya menatap kakaknya dalam diam.


"Aku mau kemo. Tapi aku enggak mau kalau mesti dirawat di sini," jawab Ardi akhirnya.


"Kamu tenang saja. Kamu bisa jalani kemo tanpa harus dirawat. Tapi tetap kamu harus menjalani rawat jalan. Sel kanker kamu udah ditahap stadium 3. Ini sudah menjadi masalah serius," terang Dokter itu lagi.


"Ok ... Kadin bisa urus jadwal aku sama dokter. Aku permisi dulu Dok. Aku duluan yah Kadin," pamit Ardi meninggalkan dua orang dalam ruangan itu yang masih diam menatap kepergiannya.


"Saya bingung. Dia sangat keras kepala Dok," keluh Dinda setelah kepergian Ardi.


"Ibu yang sabar. Dia sekarang butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya. Setidaknya sekarang dia sudah mau menjalani kemo."


"Iya Dok saya mengerti," jawab Dinda akhirnya.


Dinda benar-benar merasa khawatir atas kondisi Ardi adiknya. Tapi sikap keras kepala dan acuhnya Ardi terhadap penyakitnya, membuat Dinda harus berusaha keras untuk selalu membujuk agar mau menjalani pengobatan.


Ya Tuhan ... sembuhkanlah adikku.


Di lain tempat...


Langkah Ardi berjalan menyusuri lorong rumah sakit dalam diam. Entahlah sekarang pikirannya entah sedang berkelana kemana. Tapi yang pasti yang ia rasakan hanyalah sebuah rasa hampa.


Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang ia kenal sedang bejalan, sambil mendorong sebuah kursi roda. Tanpa sadar senyum terbit di wajahnya, pengaruh gadis itu untuknya memang luar biasa. Hanya dengan melihat wajahnya saja, mampu membuat semua beban dalam dirinya seakan hilang dalam seketika.


"Hey ...," sapa Ardi saat sudah berada tepat di depan gadis itu.


"Ya Tuhan ... Kak Ardi lo ngagetin aja! Gue pikir tadi siapa," balas Kanaya kaget, sebelah tangan mengusap dada.


Ardi terkekeh. "Sorry ... sengaja," ujar Ardi yang dibalas delikkan tajam Kanaya.


"Lagi mau cek up Bunda yah? Gue temenin yah?" tawar Ardi yang mendapat anggukan setuju dari Kanaya.


Oh ... iya Ardi adalah salah satu dari teman dekat Kanaya yang sudah tahu tentang kondisi Bunda. Sebenarnya hanya dua orang yang tahu, yaitu Ardi dan Maya. Karena memang teman dekat Kanaya hanya mereka berdua.


Jangan lupakan sekarang Alvaro yang juga sudah mengetahui kondisi Bunda baru-baru ini.


Ardi berjongkok di depan Bunda Kanaya. "Selamat siang Bunda. Bunda masih inget kan sama aku. Aku Ardi Bunda," ujar Ardi ceria.


"Dava ...," lirih Bunda Kanaya, tangannya menyentuh pelan wajah Ardi.


"Dava ini Bunda," ujar Kanaya cepat. Ia menyerahkan sebuah boneka ke pangkuan Bunda. Melirik tajam ke arah Ardi. "Kak jangan mulai deh," ujar Kanaya malas.


Ardi terkekeh. Ia berdiri, menatap Kanaya bersalah. "Sorry ... lupa Nay," ujarnya.


Kanaya tidak mau kejadian waktu itu terulang. Kejadian waktu Bunda menganggap Ardi adalah Dava. Bunda harus membuat Ardi menginap di rumanya selama seminggu. Sungguh itu sangat merepotkan.


"Oh iya Kak ... ngapain lo ke sini?" tanya Kanaya saat mereka sudah di depan pintu ruangan Dokter Bunda.


"Itu ... itu tadi gue jenguk sepupu gue yang lagi sakit. Iya jenguk sepupu gue," jawab Ardi sedikit kikuk membuat Kanaya memicingkan mata curiga.


"Emang siapa nama sepupu lo?" Ardi kembali dibuat kikuk atas pertanyaan Kanaya yang sudah mulai curiga padanya.


"Itu ...," ucapannya terpotong saat keluar seorang dokter tepat di depan ruangan yang akan mereka masuki.


"Selamat siang. Silahkan masuk Dokter Dimasnya ada di dalam. Kalau begitu saya permisi," ucap Dokter itu sopan lalu permisi pergi.


"Iya Dok, terimakasih," balas Ardi antusias. Ia benar-benar berterimakasih karena dokter itu berhasil menyelamatkannya dari suasana kikuk barusan.


"Mencurigakan," cibir Kanaya yang dibalas oleh kedikan bahu santai oleh Ardi.


"Jangan sudzhon  pamali Nay," kata Ardi.


"Terserah," balas Kanaya malas.


Hari ini pemeriksaan Bunda kanaya berjalan lancar. Ardi benar-benar menemani Kanaya dalam pemeriksaan Bunda. Setelah itu mereka pulang dan Ardi permisi pulang setelah mengantarkannya pulang, karena ada urusan mendadak katanya.


Setelah Bunda istirahat. Sore itu Kanaya berjalan di sekitar danau di taman dekat rumahnya. Sudah lama ia tidak ke sini. Tempat ini menyimpan banyak kenangan untuknya. Kenangan saat keluarganya masih bahagia. Setiap ia ke sini juga sering merasa sedih karena kenangan tentang Ayahnya sangat kuat di tempat ini.


"Hey ... akhirnya kita ketemu lagi." Kanaya terkejut akan sebuah suara yang menyapanya.


Kanaya menoleh mendapati seorang cowok yang sekarang sudah berdiri di sampingnya tengah tersenyum ke arahnya. Kanaya mengernyit, mencoba untuk mengenali cowok di sampingnya. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada kejadian malam itu.


"Gimana udah inget? Apa perlu kita reka adegan lagi biar lo inget?" tanya Dennis cowok yang ada di samping Kanaya.


Kanaya menggeleng malu. "Gak usah gue inget kok. Inget malah," jawab Kanaya sedikit kikuk.


"Oh ... iya kita belum kenalan," kata Dennis mengulurkan sebelah tangannya. "Gue Dennis," katanya.


Awalnya Kanaya ragu untuk membalas perkenalan cowok di depannya. Tapi melihat senyuman tulus dan manisnya membuat Kanaya luluh, eh ... maksudnya sungkan.


Kanaya kadang suka khilaf dan lupa diri kalau sudah bertemu cowok ganteng. Rasanya Kanaya ingin membawa pulang saja ... eh kok menjadi ngaco.


Dengan kikuk Kanaya menjabat tangan Dennis. "Gue Kanaya," katanya.


"Oh iya ... ya udah ayo!" seru Kanaya antusias. "Ehm ... maksudnya kebeneran gue juga mau ke sana. Jadi bareng aja." Kanaya terlihat malu.


Dennis tersenyum melihat sikap polos Kanaya, lalu mengajak Kanaya berjalan bersama. Sementara Kanaya sedang merutuki dirinya karena menjawab ajakan Dennis terlalu antusias.


"Gue gak ganggu kan dengan ngajak lo ngobrol di sini?" tanya Dennis saat mereka sudah duduk di sebuah bangku memanjang.


Kanaya menoleh. Ia selalu ikut tersenyum saat melihat senyuman Dennis. "Engga kok ... kebetulan juga gue lagi ingin menikmati suasana di sini," katanya pelan.


Untuk sesaat mereka menikmatinya dengan keheningan. Hanya deru napas mereka yang menandakan keberadaan mereka di tempat itu.


"Lo pernah gak ngerasa apa yang lo percayai salah?" tanya Dennis, membuat Kanaya bingung saat melihat ekspresi lain dari Dennis.


"Eh sorry ... lupakan aja yang gue omongin barusan," ujar Dennis bingung kenapa barusan ia bisa-bisanya hampir bercerita ke cewek yang baru dikenal.


"Menurut gue percaya sama suatu yang salah itu enggak pernah ada." Kanaya memandang Dennis sesaat. "Percaya itu di mana kita udah yakin kalau apa yang kita percaya sesuai dengan logika kita," lanjutnya.


"Sorry ...  maksudnya?" tanya Dennis bingung.


"Karena kita sejatinya udah percaya sama satu hal, berarti kita yakin kalau apa yang kita percayai itu benar. Sebaliknya kalau kita merasa apa yang kita percaya itu salah, berarti itu bukan percaya tapi rasa empati."


Dennis hanya terdiam mendengar penjelasan Kanaya. Ia terkejut saat merasakan sebuah tangan menyentuh lengannya pelan.


"Ikuti apa kata hati lo. Karena kata hati itu gak akan pernah membohongi. Kadang mata dan telinga kita bisa tertipu tapi hati tidak akan pernah ketipu."


Dennis tersenyum. "Makasih," balasnyam lalu menyentuh tangan Kanaya yang menyentuh lengannya.


Kanaya terkesiap lalu melepaskan tangannya di lengan Dennis. Kanaya bahkan baru sadar saat tangannya dengan lancang sudah ada di sana. Gerakan tangannya itu di luar kendalinya tadi.


"Oh iya ...," kata Kanaya. "Ya ... udah kalo gitu gue balik duluan, udah mau gelap."


"Eh ... iya sekali lagi terima kasih." Dennis memandang Kanaya sesaat. "Berkat lo sekarang gue mengerti," lanjutnya.


Kanaya tersenyum lalu membungkuk singkat pamit dan berjalan pergi. Sementara Dennis hanya tersenyum memandang kepergian Kanaya sampai ia sadar dan teringat sesuatu.


"Ya Tuhan ... kok gue lupa gak minta kontaknya yah!" Seru Dennis sesal. "Semoga kita bertemu lagi Kanaya."


**


Tok..tok..tok...


Kanaya yang baru selesai memasak mie di dapur terkejut oleh suara ketukan pintu yang begitu keras dan berulang.


"Duh ... siapa sih malem-malem bertamu? Ngetuk pintu rumah orang udah kaya yang mau ngancurin?" gumam Kanaya kesal.


Dengan langkah malas Kanaya berjalan untuk membuka pintu. Kanaya sedikit terkejut saat melihat Alvaro yang sudah berdiri di depan pintunya dengan baju basah. Dia baru sadar kalau di luar sedang hujan gerimis, pantas cowok di depannya bajunya basah.


"Ehemmm ... di luar dingin lo gak disuruh masuk gitu," ujar Alvaro memeluk tubuhnya sendiri kedinginan.


Tanpa menunggu Kanaya menjawab Alvaro sudah masuk dan langsung duduk di sofa. Kanaya mendelik tajam ke arah Alvaro. Bahkan ia belum mempersilahkan masuk tapi cowok itu dengan santainya sudah duduk di sofa.


"Ini gue bawa martabak tadi nemu di pinggir jalan," kata Alvaro. Melihat Kanaya yang akan protes dengan cepat  ia menggeleng. "Gue bercanda sayang ... mana mungkin lah gue nemu. Ini gue beli, sajiin gue laper nih." Matanya mengerling jahil.


"Jadi intinya bawa makanan buat lo makan sendiri, bukan buat lo ngasih ke gue?" tanya Kanaya menajamkan setiap katanya.


"Emang lo mau? Bercanda deh ...," Alvaro tertawa pelan. "Yah ... buat kita makan bareng-bareng lah. Sana cepet sajiin gue laper nih."


Tanpa menjawab ucapan Alvaro, dengan masih menggerutu kesal Kanaya berjalan ke dapur untuk menyajikan martabak. Karena meladeni Alvaro malam-malam seperti ini tidak  baik untuk  perpanjangan umurnya.


"Ya ampun mie gue! hampir lupa ngembang deh." Kanaya Memandang mie prihatin. "Ini salah tuh cowok ... jadi nasibmu terabaikan."


Setelah menyajikan martabak di sebuah piring. Kanaya lalu kembali ke ruang tamu dengan membawa martabak dan mangkuk mie di kedua sisi tangannya.


Saat melihat Alvaro seakan Kanaya baru ingat kalau baju cowok itu basah. Ia bisa melihat Alvaro yang menggosok-gosokan kedua tangannya karena kedinginan. Tanpa menunggu Alvaro mulai berbicara, Kanaya telah terlebih dahulu meninggalkannya setelah menyimpan piring martabak dan mie di meja. Alvaro hanya menatap heran ke arah perginya Kanaya.


"Ini pake ... sorry gue gak ada baju cowok. Jadi gue cuman bisa ngasih lo baju ini. Kaos kegedean punya gue," kata Kanaya. Ia telah duduk di samping Alvaro dan menyerahkan sebuah baju ke cowok itu.


Alvaro tersenyum simpul lalu mengambilnya. Kemudian melepaskan bajunya di depan Kanaya, menyisakan dirinya bertelanjang dada. Ia melirik Kanaya lalu terkekeh saat melihat Kanaya menutup muka malu.


"Apa harus gue ingetin kalo di samping lo ini ada seorang cewek?" tanya Kanaya sarkartis, masih menutup mata.


Sebenarnya serius tadi Alvaro hanya refleks membuka baju. Ia benar-benar lupa tentang kehadiran Kanaya di sampingnya, tapi melihat ekspresi Kanaya Alvaro jadi ingin terus menggodanya.


"Udah kok," kata Alvaro menahan tawa.


Kanaya lalu melepaskan tangannya di wajah. Ia langsung dibuat terkejut, saat melihat posisi Alvaro yang sedang membungkuk di depannya dengan posisi wajah tepat didepannya. Satu hal lagi kalau cowok itu juga masih bertelanjang dada.


"Lo gila yah!" jerit Kanaya. Saat tangannya akan kembali menutup wajah, Alvaro menahannya.


Alvaro mengulum bibir menahan senyum. "Kenapa emang?" tanya Alvaro pura-pura polos.


Kanaya hanya menggigit sedikit bibir gugup. Ia juga tidak berani menatap Alvaro yang ada di depan. Ia lebih memilih untuk menatap lantai di bawah yang jauh lebih baik ditatap untuk kerja jantungnya.


Alvaro yang gemas melihat tingkah Kanaya, lalu sebelah tangannya memegang dagu Kanaya membuat Kanaya menatapnya. Tanpa melihat reaksi Kanaya Alvaro lalu dengam cepat mencium Kanaya tepat di bibir, membuat Kanaya terkejut. Sebelah tangan Alvaro  menyentuh kepala Kanaya, mencari posisi ternyaman untuk menciumnya. Ia ******* lembut bibir Kanaya membuat Kanaya terbuai dan ikut memejamkan mata menikmati semua sentuhan Alvaro.


Shit gue harus berhenti sekarang. Jangan sampai gue berbuat lebih!


Dengat sangat terpaksa dan berat hati Alvaro menjauhkan wajah dari Kanaya. Sebelumnya ia mencium lembut keningnya saat Kanaya masih memejamkan mata.


Kanaya terlalu berharga untuk dia rusak. Bukannya dia sudah berjanji untuk melindungi dan menjaga gadis itu. Termasuk menjaga dari nafsu dirinya yang terkadang tidak bisa dikendalikan. Alvaro yakin ada waktunya nanti sampai mereka menjadi halal di mata Agama dan Negara.


Karena cinta ini terlalu indah bagi Alvaro untuk dirusak untuk hal-hal tidak baik apalagi itu tentang nafsu.


**Thanks for reading💜


Jangan lupa vote & comment💜**