
Happy & enjoy reading guys💜
Sorry for typo🙏
Jika ada banyak jalan untuk membuka sebuah pintu...
Hanya ada satu jalan yang akan ku pilih, yaitu jalan di mana kamu yang menggenggam tanganku..
🐰
"Selamat sore ayah, Dava. Maaf ... Naya baru bisa datang sekarang."
Alvaro hanya terdiam memperhatikan Kanaya yang sedang berinteraksi dengan dua buah gundukan tanah yang ada di depannya.
"Kita do'a dulu ayo!"
Alvaro mengangguk lalu mengikuti Kanaya yang sudah mulai berdo'a. Untuk beberapa saat mereka hanyut dalam lantunan do'a, sampai akhinya mereka sama-sama mengakhiri do'a mereka.
Alvaro menundukan kepala ke arah sebuah batu nisan di depannya. "Selamat sore om. Perkenalkan saya Alvaro, pacar Kanaya."
Kanaya tersenyum. "Iya ... tolong jaga putri saya yang paling cantik ini yah."
Alvaro tersenyum saat Kanaya mengubah intonasi suaranya, berusaha menyerupai suara bapak-bapak. Kanaya berbicara seolah itu adalah suara ayahnya.
"Iya ... saya janji om, akan selalu menjaga putri tercantik Om. Saya juga ingin minta tolong juga ke Om," ujar Alvaro mengikuti permainan Kanaya.
"Minta tolong apa kamu anak muda?" Sebenarnya Kanaya juga merasa geli sendiri dengan intonasi bicaranya, tapi sepertinya ini akan menjadi menarik. Ia merasa senang.
"Emm ... saya mau Om juga tolong awasi Kanaya dari sana. Kalau dia nakal pukul saja kepalanya dengan palu Om. Terus kalo enggak cabut aja hidungnya eh ... enggak jangan hidungnya tapi pipinya supaya gak tembem lagi," kata Alvaro membuat Kanaya di sampingnya cemberut.
Kanaya mencubit pinggang Alvaro, ia masih cemberut. "Ayah kayaknya pikir-pikir dulu deh mau nerima dia jadi calon mantu ayah."
Kanaya semakin cemberut saat Alvaro malah tertawa. "Tuh ... yah dia ketawain aku. Udah delete aja jadi calon mantu deh yah."
Masih menahan ketawa, Alvaro kembali menunduk untuk menatap batu nisan Ayah Kanaya. "Anak Om ngambekan."
"Biarin ... siapa suruh cinta?" omel Kanaya sekarang sudah melipat kedua tangan di atas dada.
"Enggak kok ... siapa bilang cinta," goda Alvaro santai.
Alvaro terkekeh saat kanaya mengembungkan kedua pipi kesal dan malah terlihat lucu di matanya. Kedua telunjuknya menekan pelan pipi kanaya berulang kali.
"Meletus ... dorrrrrr ...."
"Enggak cinta tapi sangat cinta dan sangat sayang," sambung Alvaro lagi cepat sebelum Kanaya kembali akan berbicara.
Kanaya tersenyum malu. "Apaan sih?"
Alvaro mengusap pelan kepala Kanaya. Matanya kembali tertuju ke batu nisan ayah Kanaya. "Om ... terimakasih sudah menjadi salah satu perantara Tuhan untuk menghadirkan dia di bumi ini." Alvaro kembali menatap Kanaya lembut. "Dan terimakasih Om ... telah menjaga dmsampai dia tumbuh menjadi gadis kuat dan cantik."
Dengan gerakan perlahan Alvaro mendekatkan wajah ke Kanaya membuat Kanaya secara refleks menutup matanya.
Sebuah kecukan di kening Kanaya rasakan untuk beberapa detik, sampai ia membuka mata wajah Alvaro masih berada sangat dekat dengannya.
"Tadinya mau di sini." Satu jari telunjuk Alvaro berada di atas bibir Kanaya. "Tapi masa mau berbuat itu di depan calon mertua. Bisa langsung didelete aku dari calon mantu idaman," bisiknya lembut.
Kanaya semakin tersenyun malu. "Iya ... nanti ayah marah sama kamu."
Kanaya lalu memeluk Alvaro, membuat Alvaro juga membalas pelukannya."Mau dengar cerita sinetron keluarga aku gak?"
Kanaya juga ingin berbagi kisah hidupnya dengan Alvaro. Karena Alvaro juga sudah membagi kisah hidupnya kepadanya tadi. Jadi apa salahnya jika dia juga mempercayai cowok itu.
"Iya ayo ... nanti seruan mana cerita keluarga aku apa keluarga kamu?"
"Ok."
**
*Keluarga Rama Jayakusuma bisa dibilang keluarga Kaya di ibukota Jakarta ini. Keluarga ini menempati sebuah rumah mewah di salah satu kompleks elit.
Hidup bahagia dengan dua orang anak yang hidup dengan berlimpah kasih sayang.
Seperti siang ini terlihat dua anak kecil. Seorang anak perempuan berumur sekitar 10 tahun dan yang satunya seorang anak laki-laki berumur 6 tahun sedang asyik menggambar di ruang tamu. Sampai kehadiran seorang Ibu yang tak lain Bunda mereka menghampiri dengan sepiring biskuit coklat kesukaan mereka.
"Serius amat anak-anak Bunda. Lagi gambar apa sih?" Kedua anak itu langsung menunjukan gambar mereka ke hadapan bundanya.
"Bunda lihat Naya gambar pantai. Indahkan Bunda pantai Naya?" Si gadis sulung betapa cerianya menunjukan gambarnya.
Si bungsu laki-laki cemberut melihat gambar kakaknya yang jauh lebih bagus dari gambarnya. "Punya Dava juga baguskan Bun?" tanyanya tak mau kalah.
Ibu mereka tersenyum dan mengambil kedua gambar anak-anaknya. "Punya Naya dan Dava sama-sama bagus. Bunda suka kok."
"Tapi yang Naya lebih bagus Bun."
"Punya Dava lebih bagus kan Bun."
"Dava!"
"Nay!"
"Ayah!"
"HAH!"
Bunda tersenyum lega karena akhirnya dewa penyelamat datang juga untuk menyelamatkannya.
"Tebak ayah pulang bawa apa?" Bunda tahu kalau suaminya selalu punya cara tersendiri untuk membuat kedua anak-anak mereka senang.
"Bawa apa yah?" Si gadis sulung sudah menggeser duduknya berada dekat ayahnya.
"Kakak sakit ih ...." si Bungsu laki-laki mendorong kakaknya karena menduduki kakinya.
"Geser dong!" Si sulung tetap tidak mau bergeser dari tempat duduknya dan membuat si bungsu akhirnya mengalah lalu memeluk Bunda untuk mengadu.
Sementara kedua orangtua mereka hanya tersenyum melihat keributan kecil kedua anak mereka yang sudah menjadi hal biasa.
" Tarrraaaa ... tiket liburan ke jungleland!"
"Horeee!"
"Asyiikkk!"
Sebahagia itu kisah kebahagiaan keluarga itu. Pada saat itu keluarga mereka diwarnai dengan kebahagiaan yang tiada tara tanpa mereka tahu suatu hari nanti kebahagiaan itu takkan pernah ada lagi di keluarga mereka.
Bukannya hidup di dunia ini seperti roda yang berputar. Ada kalanya kita di atas dan ada kalanya kita di bawah.
Seperti keluarga ini....
Karena beberapa bulan setelah itu perusahaan mereka bangkrut. Karena ayahnya tertipu habis-habisan oleh perusahaan milik sahabatnya sendiri.
Yah ... semudah itu persahabatan mereka dari zaman masa muda menjadi hancur oleh sebuah pengkhianatan......
Hingga akhirnya semua aset milik mereka dari mulai mobil, rumah semuanya habis disita oleh bank. Akhirnya kehidupan bahagia mereka hancur dan lenyap. Setelah itu mereka pindah dan tinggal di sebuah rumah yang berpuluh kali lipat jauh dari layak huni dibandingkan dari rumah mereka yang dulu.
Dan semuanya tak lagi sama karena sebuah kemiskinan..
Kepala keluarga mereka menjadi seorang yang tempramental dan sedikit defresi. Hidupnya hanya dihabiskan dengan minum-minuman. Sampai akhirnya mungkin ia sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung pahitnya kehidupan ini.
Akhirnya.....
Hari itu tiba di mana orang yang disebut Ayah itu mengakhiri hidup dengan meminum racun serangga dan mengajak anak bungsunya untuk ikut bersamanya.
Hari itu di mana semuanya mulai hancur lebur. Kepergian kedua orang itu membuat Bunda menjadi 'defresi' dan membuat si gadis sulung harus menanggung semuanya sendiri. Ia harus memulai berjuang dari kerasnya hidup untuk dirinya dan kesembuhan Bundanya*.
**
Selama ini yang Alvaro tahu jika Tuhan sangat tidak adil dengan hidupnya. Ia selalu merasa hidupnya yang paling menderita. Tapi ternyata Tuhan selalu memberikan kisah-kisah tersendiri untuk setiap umatnya. Seakan Tuhan selalu tahu jenis kisah yang cocok untuk setiap umatnya.
"Nay ...." Hatinya sakit saat melihat gadis yang ia sayangi masih menangis sesenggukan dipelukannya.
Alvaro jadi menyesal menyetujui Kanaya yang ingin bercerita kisah hidupnya tadi. Karena akhirnya gadis dipelukannya terpaksa harus mengenang kembali kisah perih itu.
"Nay ...." Sekali lagi ia mencoba memanggil Kanaya berharap gadis itu menjawabnya.
"Al ...." Akhirnya setelah sekian lama menangis Alvaro bisa mendengar suara Kanaya.
"Iya Nay ... tenang ada aku di sini." Seperti dejavu Alvaro hanya ingin mengulang kalimat itu untuk menenangkan Kanaya.
"Ayah pasti marah lihat aku nangis di depan kuburannya. Aku takut ayah marah Al," kata Kanaya lebih tenang, membuat Alvaro lega mendengarnya.
"Kata ayah kamu gak papa katanya. Tapi katanya lagi kamu harus janji ini yang terakhir kamu nangis lagi karena masalah ini."
Masih dalam pelukan Alvaro kanaya mengangguk. "Iya aku janji." Ia melepas pelukannya. "Kamu serius Ayah gak marah?"
Alvaro menghapus air mata Kanya dengan ibu jarinya. "Iya serius ... emm ... duarius malah."
Mereka Akhirnya terdiam dalam sebuah tatapan untuk beberapa alasan yang hanya hati mereka yang mampu berbicara untuk saat ini.
Alvaro memutus kontak mata dengan Kanaya, beralih menatap batu nisan ayah dan adik Kanaya. "Kalian tenang di sana. Di sini saya janji akan selalu menjaga dan membuat Kanaya bahagia."
"Iya Ayah ... Dava ... Naya sekarang udah gak sendiri lagi."
"Iya ... karena ada aku di sini Nay," ujar Alvaro serius.
Masalah mereka memang belum berakhir. Tapi satu hal yang mereka syukuri saat ini, bahwa setidaknya tidak ada lagi rahasia diantara mereka. Mulai sekarang mereka bisa bersama-sama melewati semua ini dengan sebuah lembaran buku yang baru.
**Thanks for reading🙏
Jangan lupa vote & koment 💜**