Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
45. Together Forever



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


Ada alasan dimana semuanya dimulai dan berakhir dalam kehidupan ini....


🐰


"Dia masih ada kan May? Dia masih ada?" tanya Kanaya lirih untuk kesekian kalinya.


"Nay ... dia ud ...."


Kanaya menggeleng cepat memotong ucapan Maya. "Gak ...  dia masih ada. Dia masih ada May!" Ia menggenggam tangan Alvaro dan menatapnya. "Kamu harus bangun. Kamu harus nepatin janji kamu sama aku. Katanya kamu gak bakal ninggalin aku ...."


"Udah berhenti dramanya. Dia udah gak ada. Mau lo ngemis-ngemis minta dia bangun percuma! Bukannya ini yang lo mau bukan?" bentak Vino membuat Kanaya langsung terdiam.


Maya mendelik tajam ke arah Vino, seolah sedang memperingati cowok itu untuk jangan bicara sembarangan. Sementara Vino hanya mendengus malas.


Diego jatuh terduduk di lantai. "Terakhir dia ngomong waktu itu. Dia ngomong mau pergi dari dunia ini, karena orang yang dia sayang juga menginginkan dia pergi dari hidupnya," kata Diego membuat Kanaya tertegun oleh sebuah perasaan sesal.


"Enggak ... enggak ... aku mohon bangun aku sayang kamu. Aku gak mau kehilangan kamu aku ...." Kanaya menghapus air matanya. Terus menggguncang-guncang tubuh Alvaro. "Bangun ... kita lupain masa lalu kita. Kita mulai semuanya dari awal ... bangun gak! Aku sayang kamu."


"CUT ...!" teriak Maya, membuat semua orang di ruangan itu menoleh ke arahnya termasuk Kanaya.


Vino menatap kesal Maya. "Eh ... kecebong siapa yang suruh berhenti? Ini belum selesai."


Diego berdiri, ia merengut sebal. "Padahal lagi seru-serunya gue akting lagi nangis. Yah malah udahan."


Maya menatap galak Vino dan Diego, membuat mereka langsung menciut. "Udah yah stop kasian temen gue. Kita cuman mau bikin Kanaya jujur sama perasaannya. Sekarang udah kan?"


"Eh udahan yah ... lah gue ketinggalan. Sorry kebelet tadi pengen kencing," seru Rio yang baru masuk.


Kanaya yang masih bingung, tiba-tiba merasakan tangannya digenggam. Ia melihat tangannya sudah digenggam oleh sebuah tangan yaitu tangan Alvaro.


Tunggu ... dengan perlahan Kanaya melihat wajah Alvaro yang saat ini tengah tersenyum ke arahnya.


"Hai ...," sapa Alvaro membuat Kanaya hanya terdiam mematung.


Kanaya mencoba mundur dari Alvaro. "Se ... sebenar ... nya ap ... pa yang se ... dang ter ter jadi?" tanyanya bingung.


"Nay ... makasih udah mau nerima masa lalu kita dan udah mau mulai menjalani kehidupan baru kita," kata Alvaro yang sudah duduk bersandar di ranjang. "Aku sayang sama kamu Nay."


Kanaya menggeleng tidak percaya, menatap Maya menuntut penjelasan. "May bisa jelasin ini semua!"


Maya tersenyum kikuk ke arah Kanaya. "Jadi gini Nay ... waktu di kantin mereka nemuin gue dan ngajakin gue buat kerja sama."


Kanaya menatap Maya tajam. "Kerja sama ... maksudnya apa?"


"Jadi gini ...."


"Berhenti! Aku gak nyuruh kamu ngomong tapi Maya yah ... jadi tolong diam!" bentak Kanaya membuat Alvaro bungkam seketika.


Kanaya benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Ia sangat sulit paham akan kondisi ini. Entah apa yang harus dipercaya?


"Jadi gini ... mereka ngajakin gue  kerjasama buat nyusun rencana ini ... re ...." Maya terkejut saat melihat Kanaya berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Ayo cepat jelasin May!" bentak Kanaya mulai kesal.


"Gini Nay ... kita sengaja buat Alvaro pura-pura kecelakaan dan meninggal biar sadar kalau sebenarnya lo gak mau kehilangan Alvaro," ujar Maya hati-hati lalu mengangkat dua jari dengan senyum manisnya. "Habisnya gregetan sih Nay ... gengsi dan ego lo tinggi banget."


Tanpa berkata apapun Kanaya lalu mengambil tasnya yang jatuh ke lantai tadi. Tanpa melihat ke arah orang-orang di sana kanaya berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Alvaro yang menyadari Kanaya akan pergi ke luar, dengan terburu-buru bangkit untuk mengejar Kanaya sampai akhirnya berhasil memegang tangannya.


"Nay ... dengerin dulu. Semua rencana ini demi kebaikan kita."


"Lepas!" bentak Kanaya berusaha menghentakan tanganya yang dipegang Alvaro.


"Kamu tau aku hampir mati terkena serangan jantung barusan atas ulah gila kamu dan mereka. Sekarang kamu bilang ini cuman rencana. Hal ini itu hampir membuat aku mati barusan!"


Alvaro lalu memeluk Kanaya dari belakang. Awalnya Kanaya berontak  tapi karena Alvaro semakin erat memeluknya lama-lama ia diam menerima pelukan Alvaro.


Sementara 4 orang lainnya yang berada di ruangan itu berkirim pesan lewat lirikan. Setelah itu mereka saling mengangguk dan Maya terlebih dahulu keluar kemudian disusul Rio dan Vino. Sementara Diego masih diam mematung, Vino yang sudah di depan pintu sadar Diego tidak ikut ke luar lalu kembali lagi dan menarik paksa Diego yang sedikit berontak.


"Nay ... mungkin cara aku salah. Tapi aku cuman gak mau kehilangan Kamu Nay,"  bisik Alvaro sambil meletakan dagunya di bahu Kanaya.


"Kamu tuh yah!" Kanaya memejamkan mata sesaat. "Kamu gak tau gimana khawatir, panik dan takutnya aku tadi."


Alvaro membalikan tubuh Kanaya menghadap ke arahnya. Ia menatap lekat wajah Kanaya, kedua ibu jarinya menghapus pelan air mata Kanaya.


"Tatap aku." Alvaro mengangkat wajah Kanaya yang menunduk, sehingga menatap ke arahnya. "Maaf ... mungkin cara aku salah. Tapi satu hal yang harus kamu tau aku lakuin ini karena aku sayang kamu dan gak mau kehilangan kamu."


Kanaya tersenyum tipis lalu memeluk Alvaro, membenamkan wajahnya di dada bidang Alvaro.


"Jangan bikin aku khawatir lagi."


"Iya Nay ... aku janji. Gak bakal bikin kamu khawatir lagi."


"Kalau kamu bohong bisul yah di pantat."


"Iya biarin, biar kamu gak bisa duduk. Berdiri sana terus jangan duduk-duduk."


"Nanti aku tularin bisulnya di jidat kamu ini."


"Ih gak mau ...." Kanaya melepaskan pelukan dan menutup jidatnya dengan tangan.


Alvaro terkekeh geli. "Siniin jidatnya!" Alvaro berusaha mengejar Kanaya yang sudah berlari.


"Gak mau ... jidat kamu aja jangan jidat aku!" protes Kanaya masih terus berlari.


"Pengennya jidat kamu gimana?" 


Alvaro berhasil memegang kerah belakang baju Kanaya. "Yeay ... ketangkep!"


Kanaya berusaha berontak saat Alvaro menariknya dari belakang. "Lepasin emang aku kucing ditarik-tarik gini!"


"Diam mau aku tularin bisul!"


Hup...


Alvaro berhasil mendudukan Kanaya di ranjang rumah sakit, sementara dirinya masih berdiri di depan Kanaya.


Sementara ada empat manusia yang sedang mengintip mereka dari celah pintu yang sedikit terbuka dari luar.


"Udah selesai ngintipnya sekarang!" Maya menutup pintu membuat tiga orang cowok itu menatapnya jengkel.


"Apa?" tanya Maya heran yang membuat tiga cowok itu merenggut kesal.


"Udah yuk kita balik! Misi kita udah selesai juga," ujar Rio membuka suara.


"Enggak masih seru tau. Gue masih pengen nonton," rengek Diego seperti anak kecil.


Vino mengerang, ia benar-benar sangat jengkel dengan kelakuan Diego. "Lo mau balik sekarang atau mau gue tinggal?"


"Gue masih mau nonton, tapi kalo kalian tinggal gue balik sama siapa?" tanya Diego terlihat memelas.


"Gue pusing lihat drama keluarga kalian. Gue balik duluan." Tatapan Rio lalu beralih ke Maya. "Mau balik bareng?" ajak Rio.


Maya menggeleng, tersenyum malu-malu. "Enggak ... gak usah Kak aku bawa mobil kok."


"Bagus deh gak nyusahin," sahut Vino tiba-tiba.


Maya menatap Vino jengkel. Benar-benar ini cowok selalu membuatnya darah tinggi. Maya masih ingat saat kejadian waktu itu, saat ia dikejar orang gila dan menumpang di mobil cowok rese itu. Sampai akhirnya ia terpaksa harus ikut andil dalam cinta segi lima cowok itu.


"Ya udah gue balik duluan. Sekali lagi terima kasih sudah mau bekerja sama dengan kami," kata Rio tulus lalu mengusap pelan kepala Maya.


Maya tersipu malu dengan perlakuan Rio barusan, bahkan sampai Rio sudah pergipun ia masih tersenyum malu-malu.


Ctakkk...


"Aw ... sakit!" Maya meringis menyentuh keningnya, lalu menatap tajam Vino. "Apa yang lo lakuin hah?"


Vino mengangkat bahu tidak peduli. "Cuman mau bangunin lo dari dunia khayal lo," jawabnya santai lalu pergi.


"Hai ... imut gue pergi yah," pamit Diego lalu berlari mengejar Vino. "Vin ... tungguin woy elah!"


Maya mengusap dadanya pelan. "Sabarkan hamba ya Rabb." Setelahnya ia pun pergi.


Sementara di dalam dua manusia yang sedang dimabuk cinta masih saling menatap satu sama lain.


"Ayo kita balik." Kanaya memutus kontak mata dengan Alvaro lalu mengarahkan tatapan ke arah lain.


Alvaro tersenyum melihat tingkat malu-malu Kanaya. Sungguh gadisnya terlihat semakin menggemaskan membuatnya selalu merindukan semua tingkah gadisnya ini kemarin.


Alvaro mengangkat dagu Kanaya agar kembali menatapnya. Secara perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Kanaya, sampai hidung mereka sudah saling bersentuhan. Sebentar lagi kedua tekstur lembut itu bertemu, sampai tiba-tiba terdengar pintu yang terbuka refleks membuat mereka menjauhkan wajah mereka masing-masing.


"Permisi ... saya pikir sudah tidak orang di ruangan ini. Saya hanya ingin membereskan kamar ini karena ada pasien yang akan menempatinya."


"Pasien beneran suster?" tanya Kanaya seolah menyindir.


Suster itu hanya tersenyum canggung, karena ia juga terlibat dalam drama barusan. "Iya ...," jawabnya kikuk.


Alvaro mengangguk. "Ya udah kalau begitu kami permisi. Terimakasih atas kerja samanya suster," pamit Alvaro lalu membuka baju pasien. Setelahnya berjalan menarik tangan Kanaya ke luar.


"Kapan saya punya cowok tampan dan romantis seperti itu," gumam suster itu berharap.


Ternyata memang ini kebahagiaan Kanaya yang sebenarnya. Sederhana mungkin, hanya bisa bersama Alvaro rasanya ada sebuah perasaan tenang, nyaman dan merasa dilindungi.


Tuhan ... jika Kanaya boleh meminta satu hal dalam hidupnya untuk sekarang. Biarkan semuanya tetap seperti ini. Biarkan apa yang dia punya sekarang tetap selalu menjadi miliknya dan biarkan ia selalu bersama-sama dengan orang yang dia sayang.


Kanaya tahu ini bukan akhir dari semuanya, tapi ini adalah awal untuk kehidupan dia dan Alvaro yang baru.


**Thanks for reading 💜


Jangan lupa berikan vote & comment💜**