Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
38. Rumah Sakit



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


Jika maaf bisa mengembalikan semuanya mungkin setiap orang akan selalu berbuat salah...


🐰


Kanaya tahu untuk saat ini, bahkan untuk nantipun Alvaro tidak akan pernah siap untuk hari ini.


Tapi ini bukan perkara masalah siap tidak siap. Bukan juga masalah kapan waktu yang tepat dan pas. Karena nyawa dan umur tidak akan pernah bisa menunggu dan menentukan kapan waktu yang tepat.


Kanaya menggenggam sebelah tangan Alvaro yang masih terlihat gelisah. "Al ... kamu bisa lewatin ini," katanya lembut.


Alvaro menggeleng. Matanya jauh menerawang ke depan mobil yang terdapat sebuah bangunan besar. "Aku belum siap Nay."


Alvaro tahu ia memang tidak akan pernah siap untuk hari ini sampai kapanpun. Tapi hari ini ia harus dipaksa untuk bisa siap. Ini bukan masalah egonya atau harga dirinya yang terlalu tinggi, tapi ini jauh lebih spesifik dari itu semua karena ini masalah hati.


"Papa kamu gak bisa nunggu lebih lama lagi Al. Dia gak bisa nunggu sampai kamu siap. Kalau kamu mau menyesal nantinya, sekarang lebih baik kita pulang." Putus Kanaya lalu memasang kembali sealbelt nya.


Alvaro menghentikan gerakan tangan Kanaya. "Ya udah ayo masuk. Anggap aja ini yang pertama dan yang terakhir."


Kanaya mengangguk, tersenyum lega menatap Alvaro. "Kamu cukup temuin dan kalau gak kuat kita bisa langsung pulang."


Setelah bertanya kepada recepsionis tentang kamar Papa Alvaro, mereka sekarang sudah berada di depan pintunya. Dengan sangat ragu dan pelan Alvaro membuka pintu. Sehingga setelah pintu terbuka seutuhnya mereka bisa melihat ada beberapa orang yang sedang duduk serius di sofa. Sementara Papa Alvaro tergolek tak berdaya di tempat tidur dan sepertinya belum sadar.


"Cucuku akhirnya datang. Sini duduk di samping kakekmu ini." Alvaro hanya menatap datar sementara Kanaya menatap bingung dan kaget.


"Kenapa kakek bule itu ada di sini?" Kata-katanya hanya tertahan di tenggorokan. Karena sekarang ia sudah diseret Alvaro dan sudah duduk di antara Alvaro dan kakek bule itu.


Kanaya bisa merasakan aura yang sangat mencekam di sini, lebih mencekam dan mistis dibanding saat ia menoton film horor sekalipun.


"Syut ... syut ... akhirnya kita ketemu juga gadis pengumpat." Kanaya menoleh ke samping, tepatnya ke arah suara bisikan yang berasal dari kakek bule.


Kanaya mencoba berbisik ke arah kakek.  "Ngapain kakek di sini?" tanyanya to the poin.


"Duh ... gak ada sopan-sopannya kamu. Saya coret kamu dari calon cucu mantu," bisiknya lagi yang kali ini mampu didengar oleh semua orang di ruangan itu.


"Ehemmmm ...." Suara deheman Alvaro itu membuat Kanaya kembali mengatupkan mulut saat akan kembali bersuara.


Kanaya hampir lupa kalau sekarang dia sedang berada di tempat yang penuh aura mencekam. Gara-gara kakek bule yang mengajak bisik-bisikan, mereka jadi bahan tontonan sekarang.


Untuk sekedar pemberitahuan dari pengamatan Kanaya, di ruangan atau yang lebih tepatnya di kamar rawat ini dihuni oleh beberapa orang yang sedang duduk di sofa.


Ada tiga sisi bagian sofa. Di sisi kanan ada Dennis dan seorang wanita yang Kanaya pikir itu pasti Ibu Dennis. Di sofa bagian tengah diduduki oleh seorang bapak-bapak yang berpakaian rapi dan disisi sofa kiri diduduki oleh kakek itu, dirinya dan Alvaro.


"Ini ada apa?" Pertanyaan Alvaro cukup membuat suasana tegang menjadi lebih tegang lagi.


"Semuanya udah kembali. Semua yang yang menjadi milik lo udah kembali," kata Dennis membuka suara.


"Pemuda tampan itu sudah menyerahkan bukti cctv rumah kamu, yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh nyonya cantik itu. Cctv saat kematian mama kamu," jelas kakek Peter serius, mempu membuat Kanaya takjub bisa melihat keseriusan si kakek.


"Kenapa?" tanpa Alvaro. Tanpa menyebut orangnya semua orang tahu pertanyaan itu untuk siapa.


"Karena semuanya adalah milik lo. Selama ini gue udah berada dipihak yang salah. Gue cuman mau semuanya mendapatkan apa yang pantas seharusnya mereka dapatkan." Dennis tahu akan ada orang yang tersakiti lagi atas keputusannya ini. Tapi setidaknya kali ini ia sekarang telah berada dipihak yang sudah benar.


"Termasuk mencebloskan Mama kamu sendiri ke penjara. Oh ... terima kasih kau juga juga telah membuat kita bangkrut dan melarat secara bersamaan," ujar seorang Ibu yang duduk di samping Dennis yang tak lain Ibu Dennis.


Jika bisa Kanaya ingin segera pergi dari tempat ini. Tempat yang suasananya bukan yang pas untuk ia tinggal dalam sebuah drama keluarga seperti ini. Tapi sayangnya genggaman tangan Alvaro di tangannya seakan menahan untuk tetap tinggal.


"Temenin aku di sini sebentar. Jangan pergi," bisik Alvaro membuat Kanaya akhirnya mengangguk pelan.


"Den ... semua sudah selesai. Aset rumah dan perusahaan semua sudah atas nama Aden. Untuk nyonya urusan anda tinggal menunggu diselesaikan di pengadilan nanti atas kasus pembunuhan dan penggelapan dana perusahaan," kata pengacara akhirnya.


Seperti mendengar sebuah petir di siang bolong tiba-tiba Ibu Dennis menjerit histeris, membuat Dennis terpaksa harus membawanya ke luar.


"Saya pamit ... terimakasih semuanya dan mohon maaf atas keributan ini." Dennis menatap Alvaro dalam. "Alva seandainya gue bisa balikin waktu ke waktu itu. Gue cuman mau gue berada dan percaya dipihak yang benar," ucap Dennis lirih. Setelah mengatakan itu ia benar-benar menghilang dibalik pintu bersama Ibunya.


Kanaya bisa merasakan genggaman tangan Alvaro di tangannya mengeras setelah kepergian Dennis. Kanaya tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Alvaro. Tapi satu hal yang ia tahu bahwa Alvaro saat ini sedang tertekan akan sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan.


"Tenang semuanya bakal baik-baik aja. Semuanya udah selesai," bisik Kanaya membuat Alvaro menatap ke arahnya.


Alvaro mengangguk pelan.  "Yah ... semuanya udah selesai." Ia lalu mengecup pipi Kanaya cepat. " Terimakasih."


"Ehemm ... inget di sini masih ada orangtua loh untuk kalian bermesraan," tegur kakek Peter berusaha memasang tampang terlihat kesal tapi malah menjadi terlihat lucu di mata Kanaya.


"Kakek gak cocok akting kaya gitu." Kakek Peter semakin mengerucutkan bibir kesal atas godaan Kanaya.


"Dasar anak muda zaman sekarang tidak punya aturan," ujar kakek Peter kesal yang malah semakin terlihat lucu di mata Kanaya.


"Terimakasih." Seketika suasana kembali hening atas ucapan Alvaro. Bahkan Kakek Peter berubah menjadi serius.


Kakek Peter mengangguk. "Saya hanya berusaha mengembalikan apa yang seharusnya kamu miliki." Ia memejamkan mata sesaat. "Semoga setelah ini mereka bisa tenang di sana."


Ada sebuah senyum simpul di wajah Alvaro untuk kakek Peter dan Kanaya bisa melihatnya.


"Sebenarnya Kakek ini siapanya Alvaro?" tanya Kanaya akhirnya benar-benar penasaran.


"Saya ...."


"Dia adalah tua bangka yang meninggalkan Omah demi seorang gadis bahenol," potong Alvaro santai, membuat kakek merasa kesal karena Alvaro memperkenalkannya dengan cara tidak benar.


"Bisakah Kakekmu ini mempunyai wibawa di mata calon cucu mantu kakek?" Ia lalu tersenyum menatap Kanaya. "Kakek adalah kakek dari cucu laknat itu Alvaro, alias kakek kamu juga nantinya."


Untuk beberapa saat Kanaya termenung. Otaknya mencoba memahami perkataan kakek, lalu ia akhirnya mengangguk paham balas tersenyum.


"Alva ... kamu di sini nak?"


Semua orang yang berada di sana langsung tertuju pada asal suara yaitu dari tempat papa Alvaro yang sedang terbaring.


"Kakek harus pergi. Dia memang bersalah tapi dia tetap papa kamu. Kakek harap kamu bisa menyelesaikannya dengan baik." Ia lalu beralih menatap Kanaya. "Saya titip dia sama kamu."


"Kalau begitu saya dan Kakek pamit," ujar pengacara itu, lalu pergi keluar bersama kakek Peter.


"Alva ...." Suara lirihan itu kembali membuat mereka melihat ke arah Papa Alvaro.


Kanaya menggenggam tangan Alvaro, membuat Alvaro melihatnya. "Ayo ... kamu pasti bisa."


"Iya."


Sebuah keheningan mewarnai suasana pertemuan antara seorang Papa dan anaknya. Sebenarnya Kanaya tidak merasa nyaman berada disituasi ini, tapi sekali lagi saat akan pergi Alvaro kembali menahannya.


"Maafin papa ... maafin papa untuk semua yang udah papa lakuin ke kamu." Alvaro hanya menatap diam papanya.


"Semua udah terjadi. Sebuah kata maaf gak bisa ngembaliin mama. Tapi saya senang setidaknya sekarang anda sudah sadar." Entahlah Alvaro masih merasakan perihnya luka itu saat melihat wajah papanya.


"Papa tau kesalahan Papa tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi Alva Papa mohon, beri Papa kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Alvaro menggeleng. "Enggak ... semuanya gak bisa diperbaikin lagi. Tapi anda masih bisa memperbaiki diri anda untuk menjadi jauh lebih baik lagi."


Demi apa rasanya Kanaya benar-benar ingin pergi dari situasi ini. Kanaya tahu Alvaro hanya butuh waktu untuk semuanya. Tapi rasanya ia juga benar-benar tidak tega melihat kondisi papa Alvaro.


"Anda tenang saya tidak akan membawa anda ke jalur hukum untuk semua masalah ini. Tapi maaf saya tidak bisa membebaskan istri anda begitu saja."


"Dia memang pantas mendapatkan itu semua." Matanya beralih menatap Kanaya. "Terima kasih ... saya tau kamu yang sudah membawa anak saya ke sini untuk menemui saya," kata Papa Alvaro tulus.


"Eh ... iya Om ... semoga lekas sembuh ya ... Oh," jawab Kanaya sedikit salah tingkah.


"Kalau begitu kita pamit. Oh iya ... biaya rumah sakit saya yang tanggung." Tanpa menunggu papanya membalas ucapannya, Alvaro sudah pergi ke luar menyeret Kanaya.


"Papa sayang kamu Alva," lirihnya yang ia yakin Alvaro tidak bisa mendengarnya.


Sebenarnya Kanaya ingin protes saat Alvaro menyeret paksanya ke luar kamar papanya. Ia merasa tidak sopan saat tidak sempat berpamitan dengan papa Alvaro.Tapi sebelum Kanaya akan mengajukan protes, tatapan dan raut wajah cowok itu membuat Kanaya mengurungkan niat untuk berbicara. Akhirnya ia memilih hanya berjalan mengikuti Alvaro.


**


Hussssshhhhh....


Entah hembusan napas lelah yang keberapa Kanaya hembuskan karena saking bosannya. Rasanya seluruh badannya terasa kaku saking lamanya duduk dan mendadak jadi patung.


Apa sih mau dia? ngomong gak boleh terus pergi juga gak boleh.


Setelah menyeret paksanya tadi dari rumah sakit. Alvaro lalu mengajak paksanya lagi untuk ber traveling menemaninya di dalam mobil untuk mengelilingi kota Jakarta.


Sampai akhirnya setelah berjam-jam Alvaro menepikan mobil di pinggir jalan, yang hanya dikelilingi oleh pohon-pohon. Kanaya jadi merinding sendiri melihat suasana sepi ini. Ia menjadi tidak yakin jika sekarang masih di daerah Jakarta.


"Al ..." Kanaya memberanikan diri untuk membuka suara. Tapi seperti sudah menjadi sifat alamiah cowok itu jika sedang ada masalah mendadak menjadi pendiam.


Karena merasa diabaikan, akhirnya Kanaya memutuskan bermain ponsel untuk membunuh rasa jenuhnya.


Kanaya terkejut saat Alvaro mengambil ponselnya. "Balikin hp aku Al!" protes Kanaya frustrasi. Ia semakin tidak mengerti apa mau cowok itu.


Alvaro menggeleng, lalu menyimpan ponsel Kanaya di saku celananya. "Enggak ... kamu mengabaikan dan nyuekin aku gara-gara Hp ini."


Kanaya membuang napas kasar. Siapapun itu tolong ada yang bisa memberitahu Alvaro, sebenarnya di sini dari tadi siapa yang diabaikan dan mengabaikan!


Bukankan sudah jelas bahwa di sini Kanaya korban, tapi kenapa tatapan memelas Alvaro malah membuatnya menjadi seperti tersangka.


Ok ... untung ganteng ... dia ganteng.


Kanaya mencoba tersenyum dan menatap Alvaro. "Iya ... terus sekarang mau kamu apa?" akhirnya Kanaya mengalah. Saat ini ia harus bisa mengerti keadaan pacar gantengnya itu.


Alvaro menyentuh pelan pipi Kanaya. "Aku maunya kamu."


Kanaya menggigit bibir bawahnya gugup. "Apaan sih gak jelas?" Ia memalingkan muka ke arah lain. "Dasar aneh."


Alvaro terkekeh, menyentuh pelan wajah Kanaya agar kembali menatapnya. "Aku serius aku maunya kamu Nay."


Rasanya menggoda Kanaya adalah memamg salah satu hobinya. Hobi yang bisa membuat Alvaro sejenak bisa melupakan semua masalahnya. Wajah merona Kanaya seakan bisa membuat hati Alvaro menghangat.


Sepertinya niat menggodanya malah kebalik menjadi ia yang tergoda. Lihat pipi merah dengan bibir manyunnya membuat gadis itu semakin cantik , lucu dan menggemaskan.


Dengan perlahan Alvaro mendekatkan wajahnya ke Kanaya, semakin menipis jarak diantara mereka.


Cup..


Kanaya memejamkan mata saat benda bertekstur lembut milik Alvaro menyentuh dan ******* bibirnya secara perlahan. Sedang Alvaro benar-benar menikmati semua sensasi ini, membuatnya benar-benar dibuat seperti melayang.


Sampai akhirnya Alvaro merasa pasokan udaranya habis lalu melepaskan tautan mereka dengan kening mereka yang masih saling bersentuhan.


"Makasih," bisik Alvaro lembut. 


Bahkan dengan jarak sedekat ini Kanaya bisa merasakan bibir cowok itu sedikit menyentuh bibirnya saat Alvaro berbicara.


Alvaro mencium kening Kanaya. "Maaf karena aku udah nyuekin kamu dari tadi."


"Akhirnya sadar juga," balas Kanaya jengkel. Walaupun sebenarnya ia masih merasa malu karena Alvaro belum menjauhkan wajahnya.


Alvaro mencubit pipi Kanaya pelan. "Lucu dan gemesin"


Setelah itu Alvaro menjauhkan wajah dan mulai menyetir. "Ayo kita pulang!"


Sementara Kanaya masih berusaha menormalkan detak jantungnya agar kembali normal lagi atas sikap Alvaro barusan.


Di sela-sela menyetirnya Alvaro melirik Kanaya. Ia benar-benar bersyukur karena Tuhan menggantikan semua yang telah diambil darinya dengan mempertemukannya dengan Kanaya.


Seorang gadis yang mampu membuat hatinya kembali menghangat.


**Thanks for reading 🙏


Jangan lupa vote & comm**ent 💜