
**Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏**
Kita berpisah untuk sementara, agar tahu rasanya merindu seberat apa saat tak saling menyapa...
🐰
Hari ini akhirnya Kanaya masuk sekolah setelah satu mingggu izin. Jika saja bukan karena ujian tengah semester yang sebentar lagi, mungkin dia masih akan menambah daftar Izinnya.
Telinga Kanaya sudah tidak tahan mendengar petuah dadakan Kadin. Apalagi Kadim sionta arab itu yang mendadak menjadi seorang ustadz yang setiap kesempatan bertemu selalu menceramahinya dengan judul 'Pentingnya arti sekolah untuk generasi bangsa'.
Ada alasan Kanaya selalu memanggil onta arab adalah karena pernah tak sengaja mergokin Dimas sedang bernyanyi karoke dengan penampilan gaya Arab. Padahal wajah Dimas sendiri asli Indonesia versi Jawa. Sejak saat itu Kanaya selalu meledeknya dengan sebutan 'onta Arab'
"Ya Tuhan Nay ... kemana aja gue kangen?"
Kanaya tersenyum, saat Maya sudah merangkul pundaknya. "Maunya gue kemana hayoh?"
Maya cemberut. "Gue nanya serius Nay."
"Iya gue juga serius. Ya udah entar gue ceritain semuanya sama lo. Tapi sekarang kita mesti buru-buru masuk kelas, soalnya bentar lagi bel nih."
"Oh ... ya ampun iya cepet!"
Lalu mereka berdua berlari menuju kelas dan mengikuti pelajaran sampai waktu istirahat dengan sangat mengantuk.
"Serius gak mau ke kantin?" tanya Maya yang entah keberapa kali dan kembali ditolak Kanaya.
"Enggak May ... gue nitip aja," jawab Kanaya. Tangannya sibuk mencoret-coret di buku.
Maya mengangguk pasrah. "Ok ... tapi lo masih punya hutang penjelasan sama gue Nay."
Kanaya mengangguk. "Ok," balasnya malas karena Maya kembali kepo.
Maya tahu jika ada sesuatu yang aneh dengan Kanaya hari ini. Walaupun Kanaya tidak bercerita, tapi Maya cukup mengerti tentang keadaannya. Maya akan menunggu sampai Kanaya benar-benar siap untuk bercerita kapanpun itu.
Maya memang termasuk anak yang jail dan selalu membuat rusuh. Tapi dia juga adalah teman yang tak pernah menuntut. Maya selalu ada untuk Kanaya untuk hal apapun. Ia bisa jadi pendengar yang baik saat Kanaya bercerita. Bisa jadi teman yang lucu saat Kanaya bersedih. Ia juga bisa menjadi teman yang sangat pengertian saat Kanaya tidak siap untuk bercerita dan siap untuk menunggu.
"Ya udah gue ke kantin dulu yah."
Kanaya hanya mengangguk lalu menyandarkan kepala ke meja. Menelungkupkan kepalanya diantara dua tangan.
Sebenarnya Kanaya tidak ingin pergi ke kantin bukan karena malas seperti tadi yang dikatakan pada Maya. Tapi alasan utamanya karena mencoba menghindar untuk tidak bertemu Alvaro.
Tapi tiba-tiba sebuah panggilan alam membuat Kanaya menjadi gelisah. "Ih nyebelin ... saat kaya gini malah ingin pipis."
Kanaya harus bisa mencari jalan yang tidak mungkin bertemu dengan Alvaro. Jadi dia mencari jalan menuju toilet dengan menghindari area-area ramai seperti kantin dan lapangan.
"Ok ... semangat Nay ... kamu pasti bisa!"
Kanaya hanya perlu memutar lewat lorong lain, lalu menuju perpus dan melewati ruang musik dan peralatan. Barulah ia bisa tiba di toilet.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang baru keluar dari ruang musik membawa sebuah gitar dan di sampingnya ada seorang gadis yang Kanaya tidak ketahui siapa.
Napas Kanaya tercekat saat ia beradu pandang dengan orang itu yang tak lain adalah Alvaro. Ia berjalan menunduk untuk menghindari tatapan Alvaro yang mengarah ke arahnya.
Saat jarak mereka sudah dekat dan bersampingan, tiba-tiba jantung Kanaya terasa berhenti saat mendengar Alvaro tengah terkekeh bersama gadis itu.
"Serius nih ... acaranya nanti ya udah gue dateng."
"Iya ... Alvaro dateng aja seru tau."
"Ok ... thank's yah."
Kanaya masih mendengar sangat jelas apa yang Alvaro bicarakan dengan gadis itu. Hal yang paling membuat Kanaya terluka adalah saat Alvaro mengabaikannya. Tidak menyapanya ataupun tersenyum dan menengok ke arahnya lagi, saat mereka berjalan bersebelahan.
Segampang itu semuanya berakhir. Semudah itu semuanya selesai dan secepat itu kata cinta itu hilang. Padahal dengan sangat bodonya Kanaya menjalani hari-hari kemarin dengan sangat kacau. Tapi lihat keadaan Alvaro, dia malah terlihat baik-baik saja dan bahkan bisa terkekeh lucu dengan gadis yang lain.
Kanaya sadar bahwa ia adalah satu-satunya pihak yang terluka di sini ....
**
Berkali-kali Maya mengusap punggung Kanaya yang sedang duduk menangis. Ia masih berusaha untuk bisa menenangkannya.
Maya terkejut dan panik saat di kantin, tiba-tiba Kanaya menelepon dan menyuruhnya ke rootrof sekarang juga. Maya semakin terkejut, pada saat sudah sampai di rootrof ia menemukan Kanaya dalam keadaan sedang menangis.
Setelah itu ceritapun mengalir dari mulut Kanaya. Semuanya ... termasuk kejadian di depan ruang musik barusan.
"Nay?" Maya mencoba membuka suara saat melihat Kanaya terlihat sedikit lebih tenang.
"May ...," lirih Kanaya, ia sudah mengangkat kepala dan menatap Maya sendu.
"Iya Nay."
Kanaya tersenyum dan malah terlihat menyedihkan di mata Maya. "Gue bodo yah nangisin orang yang bahkan gak inget sama gue dan udah bahagia sama cewek lain."
"Kadang apa yang dilihat mata kita, itu bisa menipu kejadian yang sebenarnya." Maya merengkuh Kanaya dalam pelukannya. "Jangan pernah nyimpulin sesuatu tanpa lo mencari tau dulu kebenarannya."
Kanaya menggeleng, melepaskan pelukannya Maya. "Kebenaran apa yang mau dicari tau? Gue pikir selama ini dia ngerasa bersalah, tapi nyatanya apa? Bahkan dia sama sekali gak peduli."
"NAY ... DENGERIN GUE!" bentak Maya membuat Kanaya terdiam. "Lo itu cuman terlalu banyak pikiran. Lo harus nenangin diri dulu baru bisa nyimpulin semuanya."
Kanaya melepas kasar tangan Maya yang mau kembali merengkuh dirinya. "Lo gak pernah ada di posisi gue. Lo gak tau gimana sakitnya gue May waktu dulu. Gimana traumanya gue dulu May, saat tau Ayah dan Dava meninggal. Saat tau Bunda sakit dan lo tau Alvaro masih ada benang merah sama semua kejadian pahit gue itu!"
Maya menghela napas lelah. Menatap Kanaya lembut. "Nay ... selama lo masih terpuruk dimasa lalu. Sampai kapanpun lo akan selalu terjebak dimasa itu dan gak akan pernah bisa bangkit Nay."
Kanaya semakin tertunduk menangis, menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut. Sementara Maya hanya bisa mengelus punggung Kanaya supaya bisa lebih tenang.
"Ini gak semudah itu May. Tiap kali gue lihat wajah Alvaro, saat itu juga kejadian itu selalu berputar-putar di kepala gue."
"Gue tau Nay ... tapi sampai kapan lo terus terjebak dimasa lalu? Apa lo mau kehilangan orang yang lo sayang untuk yang kesekian kalinya?"
"Tapi gue ...,"
Maya menggeleng memotong ucapan Kanaya. "Nay ... Alvaro tidak pernah meminta untuk lahir di keluarga itu. Alvaro tidak tau apa-apa. Kalo lo nyalahin Alvaro karena bagian dari keluarga itu, sama aja lo nyalahin takdir Tuhan."
Kanaya gelisah, menggigit bibir bingung. "Gue butuh waktu May," lirihnya pelan.
"Sampai kapan? Sampai Alvaro bosen nunggu lo dan dapetin cewek baru yang jauh lebih baik dari lo dan setelah itu lo patah hati!"
"Gue ... gak tau." Ada rasa tak rela saat ia membayangkan Alvaro bahagia bersama gadis lain.
Maya tahu mungkin caranya terlalu kejam terhadap Kanaya. Tapi ia sungguh sangat gregetan dengan sikap Kanaya yang selalu terpuruk dan jatuh ke masa lalu.
Kanaya diam, memandang Maya sangat gelisah. "Terus gue mesti kaya gimana?"
"Lupain masa lalu lo dan jaga kebahagiaan apa yang udah lo punya sekarang. Udah stop ... hidup lo bukan dimasa lalu. Tapi hidup lo adalah masa sekarang dan masa depan."
Maya lalu memeluk Kanaya, kembali berusaha membuat Kanaya agar bisa jauh lebih tenang.
Terkadang kepedulian yang tulus seorang sahabat bukan dengan saling memuji kata-kata manis. Tapi selalu menegur dan memberi tahu kita walaupun itu caranya sekalipun kasar.
Sesakit apapun itu kejujuran itu lebih baik dibanding sebuah kebohongan manis.
Akhirnya Maya menemani Kanaya untuk membolos sampai waktu pulang. Setelah pulang sekolah, Maya mengajak Kanaya untuk berkeliling mall. Sekaligus menyuruhnya untuk menemani berburu baju diskon.
"Gila aja May ... lo masih pemburu diskonan. Gue pikir lo udah sembuh," cibir Kanaya saat melihat Maya sedang asyik memilih baju yang ada nama di atasnya 75 %.
Maya mengambil satu baju, mencoba mengukurkan ke tubuh Kanaya. "Cocok Nay ... bagus terus kayaknya pas lagi," cerocos Maya heboh.
Kanaya merengut sebal. Resikonya seperti ini jika bersahabat dengan gadis yang katanya masa kini atau zaman now karena Kanaya harus rela menjadi korban pembullyan kegilaan shopping Maya.
Saat ini Kanaya tengah asyik mencibir kelakuan Maya, yang sedang berselfi dengan seorang cowok ganteng penjaga kasir, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Halo."
"......"
"Iya ... apa? Gak usah bercanda gak lucu deh."
" ...."
"Gue gak percaya Kak ...."
" ....."
"Jadi ini beneran. Gue ke sana sekarang!"
Dengan gerakan terburu-buru Kanaya berjalan ke arah Maya. Ia menarik paksa Maya yang cemberut, karena aksi meminta nomer ponsel abang kasir gantengnya gagal, gara-gara Kanaya menyeret paksanya.
"Duh Nay ... kita mau kemana sih?" Maya heran dengan kelakuan Kanaya yang gelisah.
"Nanti gue ceritain ... anterin gue ke rumah sakit sekarang!"
"Mau ngapain?" tanya Maya ikut panik.
"Nanti gue jelasin."
Sesampainya di rumah sakit, Kanaya tiba-tiba berlari ke luar mobil dan masuk meninggalkan Maya yang terbengong.
"Nay ... tunggu elah ngapain sih lari-lari!" Setelah sadar Maya pun ikut berlari mengejar Kanaya.
Sementara Kanaya semakin dibuat khawatir, gelisah dan takut. Pikirannya terus terngiang-ngiang percakapan ditelepon dengan Rio teman Alvaro.
"Alvaro ikut balap motor liar lagi dan ia tabrakan."
"Gue serius ... sekarang dia ada di rumah sakit dan kondisinya kritis."
Setelah sampai di kamar rawat Alvaro, tiba-tiba ada seorang dokter disusul Rio keluar dari ruang rawat Alvaro.
"Saya minta maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi maaf nyawa pasien tidak tertolong." Kanaya masih dapat mendengar ucapan dokter yang ada di depannya.
"Tapi dok ...," kata Rio putus asa.
Dokter itu menepuk bahu Rio pelan. "Semuanya sudah takdir Tuhan ... yang kuat. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Arghhh ... enggak gak mungkin!" teriak Rio sudah jatuh terduduk di depan pintu kamar Alvaro.
Kanaya bisa melihat bahu Rio yang bergetar menandakan cowok itu sedang menangis.
Kanaya lalu duduk di depan Rio. "Ad ... a a ... pa?" Suaranya bergetar, ia mencoba mengelak semua kemungkinan buruk yang terjadi.
Rio mendongak, menatap Kanaya dengan wajah penuh air mata. "Alvaro gak tertolong ... dia udah gak ada."
"Enggak ... enggak!" teriak Kanaya histeris. Lalu ia mendobrak masuk diikuti Maya yang sempat melirik Rio sebentar lalu ikut masuk.
"Duh ganteng ... pengen meluk deh ... huss lagi gengting gini masih aja genit."
"BERHENTI! apa yang kalian lakuin? Kenapa kalian nyopotin itu dari tubuh dia?" Kanaya histeris saat masuk melihat dua orang suster yang sedang mencopot alat-alat medis di tubuh Alvaro.
Semua orang yang ada di ruangan itu sontak menoleh ke arah Kanaya yang sekarang sudah berjalan ke arah mereka dengan menangis histeris.
Kanaya semakin berontak, saat suster masih terus mencopot alat-alat medis di tubuh Alvaro. "Jangan dicopot ... pasangin gak ... cepet pasangin!"
"Maaf Bu ... kami harus mencopotnya, karena pasien sebentar lagi harus segera dipindahkan ke kamar jenazah," kata suster masih mencopot alat-alat medis.
"Enggak ... dia masih ada! Dia masih hidup ... dia masih hidup!" Tangis Kanaya pecah, ia semakin berontak menghalangi suster.
"Lo harus terima kenyataan Alvaro udah gak ada," kata Vino dan di sampingnya ada Diego yang sedang meraung-raung menangis.
Kanaya menggeleng. "Enggak dia masih hidup!" Ia menghampiri tubuh Alvaro. "Bangun gak ... bangun cepet bangun!" Kanaya mengguncang-guncang tubuh Alvaro.
"10 menit lagi pasien harus segera dibawa ke kamar jenazah," kata suster setelah selesai mencopot semua alat medis.
"Iya dok," jawab Vino, lalu kedua suster itu telah pergi ke luar.
"Al ... gue gak nyangka kalo lo bakal pergi secepet ini. Gue gak nyangka Al!" Diego ikut histeris dan Vino berusaha menenangkan Diego.
Kanaya menggeleng lemah. "Bangun dan bilang sama mereka kamu masih ada ...."
Maya lalu merengkuh Kanaya dalam pelukannya. "Lo yang sabar yah Nay."
Kanaya menggeleng lemah. "Dia masih ada May."
"Nay dia udah pergi buat selamanya."
"Alvaro masih ada dia argghhh ... dia gak mati!"
"Dia masih ada di sini."
**Thanks for reading 🙏
Jangan lupa vote & comment💜**