
**Happy & enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏**
Biarkan cinta hadir dan tumbuh dengan berjalannya waktu..
Karena sesuatu yang terburu-buru tidak pernah berujung baik. Malah sebaliknya selalu berujung penyesalan.
🐰
"KANAYA AZANI!"
Suara teriakan dan beberapa pukulan pelan di tubuhnya, membuat Kanaya terlonjak kaget dan refleks berdiri dan berteriak.
"Jangan semar mesem napa. Mendingan sambalado aja!" teriak Kanaya spontan di tengah keheningan dan langsung membuat suasana kelas riuh oleh suara tawa.
"Lagi dangdutan Nay, lagi manggung di mana emang Nay?" celetuk Bima salah satu teman kelasnya yang langsung mendapat gelak tawa teman-teman kelasnya yang lain.
Kanaya yang masih dalam tahap bingung dengan keadaan sekitar, langsung tersenyun kikuk. Saat matanya sedang menyusuri seisi kelas, tiba-tiba bertatapan langsung dengan sebuah sorot mata yang sedang menatapnya tajam.
Mati aku ... kok bisa ketiduran di kelas. Kenapa juga pas pelajaran Fisika? Udah mati aja aku ini.
"Kalau kamu tidak niat belajar. Silahkan kamu berdiri di lapangan sampai jam istirahat dengan menghormat tiang bendera SEKARANG!"
Suara bentakan dari satu-satunya Radja di kelas. Maksudnya guru di kelasnya mampu membuat nyali Kanaya ciut sebelum sempat membela diri. Dengan pelan Kanaya menganggukan kepalanya patuh.
"Iya Pak," jawab Kanaya pelan. Karena bukankah perintah radja adalah mutlak dan tidak bisa dibantah. Kalau mencoba membantah hasilnya pasti gawat.
Sebelum meninggalkan kelas untuk melaksanakan tugas mulianya dari sang radja, mata Kanaya sempat bertemu dengan mata Maya.
May kenapa lo gak bangunin gue?
Gue udah bangunin lo yah? Tapi lo nya aja yang kebo terus susah banget buat dibangunin.
Gara-gara lo nih, gue dihukum.
Kok gue? Lah itu mah salah lo ya Nay yang kebo. Bukan salah gue.
"Ada apa lagi? Cepat keluar sekarang KANAYA!" bentak sang radja kelas yang berhasil memutus kontak komunikasi mata Kanaya dengan Maya.
"Iy ... iy ... ya Pak," jawab Kanaya gugup.
Akhirnya dengan perasaan dongkol sangat terpaksa, saat ini Kanaya tengah melaksanakan tugas penting dan mulia dari radja kelasnya. Yaitu menghormat sang tiang bendera sambil berdiri dengan agung di depannya sampai jam istirahat.
"Ya Tuhan! Kenapa gue mesti lupa bahwa pelajaran Fisika hari ini ditambah jadi 2 jam pelajaran sampai jam istirahat." Walaupun terik matahari belum ada di puncaknya sekarang tapi cukup mampu menyengat kulitnya.
Rasa mengantuk Kanaya sudah diujung batas. Bahkan saat sedang dijemur sekarang, rasa ngantuknya masih mendominasi dirinya.
"Ini semua gara-gara tuh cowok sialan. Jadinya kan gue semalem cuman tidur 2 jam. Ya Tuhan ngantuknya."
"Mau makan aja ribet. Udah tau udah malem."
Kanaya ingat bagaimana semalam mereka ribut hanya karena memilih tempat makan. Alvaro yang terbiasa makan di restoran mewah menolak mentah-mentah saat Kanaya mengajaknya makan di warung kaki lima di pinggir jalan. Karena merasa pertengkaran mereka tak berujung, akhirnya dengan sepakat mereka mencari supermarket 24 jam dan makan mie cup di depan supermarket.
"Dasar konyol," gumam Kanaya pelan tanpa sadar sebuah senyuman terbit di wajahnya.
"Rajin amat ... pagi-pagi udah berjemur aja dan ngehormat tiang bendera," tegur seseorang bersamaan dengan rasa teduh Kanaya rasakan.
Saat Kanaya mendongak ke atas melihat sebuah jaket yang melindunginya dari terik matahari. Ia terkejut saat tahu siapa orang yang sedang memegang jaket itu.
"Kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Kanaya sedikit gugup dengan posisi mereka sekarang.
"Lo yang ngapain di sini? Rajin amat udah berjemur pagi-pagi," balas Alvaro santai.
"Jangan ganggu gue dulu. Gue lagi dihukum," ujar Kanaya malas.
"Gue gak mau ganggu lo tapi gue mau lindungin lo dari panasnya terik matahari," ujar Alvaro santai tanpa memikirkan efek ucapannya terhadap cewek di depannya.
Please Nay jangan baper. Tenang lo harus tenang.
Alvaro tersenyum samar saat melihat muka merah Kanaya. Ia heran kenapa gadis ini selalu menggemaskan dan cantik dalam satu waktu. Kalau tidak di lingkungan sekolah mungkin sekarang ia telah melakukan sesuatu pada bibir mungil gadis yang sedang cemberut di sampingnya sekarang.
Astagfirullahaladzim, pagi-pagi udah pikiran kotor.
"Emm ... ya udah lanjutin aja hukumannya. Kalau kehadiran gue ganggu anggap aja kehadiran gue gak ada. Niat gue cuman mau melindungin lo doang," ucap Alvaro masih sedikit canggung dengan pikiran kotornya barusan.
"Emang lo gak ada kelas?" tanya Kanaya semakin gugup karena Alvaro kembali menggeser posisinya lebih dekat dengannya.
Entahlah Kanaya benar-benar merasa tidak nyaman dengan posisi mereka sekarang. Bahkan dari jarak sedekat ini ia bisa mencium bau farpum cowok itu yang sedikit memabukan untuknya.
Gue udah janji bakal selalu ngelindungin lo.
Hubungan mereka memang tidak ada tahap lebih lanjut dan dalam sekarang. Tapi perasaan Alvaro semakin dalam saat ini. Bahwa ia telah masuk dalam perasaan sentimentil yang selalu ia hindari.
Cinta ... apakah perasaan ini termasuk dalan definisi kata itu? Tapi apapun itu yang ia rasakan sekarang. Ada sebuah rasa nyaman saat berdekatan dengan cewek itu dan keinginan yang selalu ingin melindunginya.
**
"Itu botol mahal atau hidup? Sampai-sampai isinya udah habis juga masih lo pegang terus disenyumin," celetuk Maya yang langsung mendapat delikan tajam dari Kanaya.
Botol...
Kenapa hanya dengan mengingat benda itu perasaannya rasanya kembali berbunga-bunga?
Kanaya kembali ingat saat akhirnya selesai menyelesaikan hukumannya sampai istirahat. Dengan Alvaro yang masih setia melindunginya dengan sebuah jaket dari terik sinar matahari.
Jangan tanya perasaan Kanaya waktu itu seperti apa? Karena waktu itu Kanaya mati-matian menahan diri untuk tidak pingsan. Bukan pingsan karena terik matahari, tapi karena jantungnya yang hampir copot dengan posisi mereka yang terlalu dekat waktu itu.
Ia kembali mengingat tindakan manis Alvaro....
"Nih ...." Kanaya menoleh saat sebuah botol telah ada di depannya.
"Buat gue?" tanya Kanaya saat melihat Alvaro memberinya minuman.
"Enggak! Tolong kasihin Pak Bambang kasian kayaknya dia haus habis ngajar," balas Alvaro kesal dengan kepolosan dan kebodohan cewek di depannya.
"Ya udah kasih pak Bambang aja sendiri, kenapa nyuruh gue!" sewot Kanaya yang telah cemberut jengkel ke arah Alvaro.
Alvaro terkekeh lucu melihat sikap Kanaya. Lalu ia mengacak pelan rambut Kanaya, kemudian membuka tutup botol dan menyerahkan botol minumannya Kanaya.
"Ini buat lo. Lo pasti haus habis berjemur barusan," kata Alvaro lembut.
"Tapikan lo yang kepanasan bukan gue," jawab Kanaya sedikit gugup karena Alvaro tersenyum begitu manis saat ini.
"Udah kodrat cowok buat ngelindungin cewek." Sebelah tangannya mencolek hidung Kanaya, membuat yang punya hidung bersemu.
"Makasih," gumam Kanaya pelan.
"Oh iya... gue duluan yah. Gue mau tidur dulu. Jangan lupa makan entar istirahat."
"Tuhkan udah mulai setres nih anak malah senyum-senyum sendiri," gumam Maya yang mulau risih dengan tingkah Kanaya.
"Nay ... hello Nay!" teriak Maya tepat di dekat telinga Kanaya.
Sementara Kanaya yang tersadar dari lamunannya langsung kaget dan menatap jengkel Maya yang tengah cengengesan melihatnya.
"Apaan sih May ganggu gue aja!" omel Kanaya ketus.
"Kebanyakan ngelamun entar gila lo Nay. Emang ngelamunin apa sih Nay?" tanya Maya antusias.
Kanaya sedikit berpikir tentang jawaban apa yang diberikan ke Maya. Apa mungkin ia harus jujur dengan apa yang dirasakan kepada Maya? Tapi ia juga belum yakin atas perasaannya sekarang.
"Yang pasti bukan ngelamunin jorok kaya lo," jawab Kanaya akhirnya memilih tidak membicarakannya.
"Rese lo Nay," sewot Maya kesal.
"Bodo," balas Kanaya acuh.
Akhirnya Maya meninggalkan Kanaya dan lebih memilih bergabung dengan dua sejoli untuk manggung di depan kelas. Berhubung hari ini kelas mereka setelah Jam istirahat free, karena semua guru mengadakan rapat dadakan. Membiarkan semua murid dalam pelajaran kosong untuk tetap tinggal di sekolah sampai jam pulang.
Sementara Kanaya hanya tersenyum simpul memperhatikan kelakuan Maya dan dua sejoli di depan kelas.
Semua yang terjadi akhir-akhir ini terlalu cepat untuk disimpulkan dalam satu definisi, sebuah perasaan sentimentil yang dinamakan cinta untuk Kanaya. Hatinya hanya belum siap untuk terluka. Jadi saat ini ia lebih membiarkan semuanya mengalir seperti air. Membiarkan waktu untuk menjawab semuanya.
Bukannya air selalu mengalir dalam satu arah karena berjalannya waktu air selalu mengalir ke tempat tujuannya tanpa tersesat.
**Thanks for reading💜
Jangan lupa vote & comment**💜