Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
Ekstra Part I



Happy and enjoy reading 💜


sorry for typo 🙏


Aku tidak butuh kamu selalu ada. Hanya bertukar kabar dan tanya apa aku baik-baik saja. Karena tanpamu aku tak pernah bisa baik.


🐰


"Nay ... mau balik sekarang?"


Kanaya menoleh. Tersenyum ke arah Rio. "Iya ... Kak. Soalnya jam kerja aku juga udah selesai."


"Balik naik apa?" Rio bertanya khawatir. "Naik angkot umum lagi?"


Kanaya tertawa. "Emang ada yang salah sama angkot umum?"


"Serius Nay," ujar Rio kesal. "Gak ingat 5 bulan yang lalu pernah kecelakaan."


Kanaya semakin keras tertawa membuat Rio semakin masam. Kanaya yang melihat tampang Rio merasa tak enak juga. Ia berusaha menghentikan tawanya. Menepuk dadanya berulang.


"Emang kecelakaan di jalan cuman di angkot aja? Sekalipun aku naik mobil pribadi dan diantar jemput kak Rio, yakin 100% bisa aman?"


Rio menggeleng resah. "Bukan gitu. Lo tahukan gue hampir mau dibunuh gara-gara kecelakaan itu sama cowok gila lo."


"Tapi hampirkan ... masih belum?" goda Kanaya merasa sangat lucu melihat ekspresi Rio.


"Lo mau doain gue mati!" sewot Rio kesal. "Kalau dia dapat tiket malam itu juga, yakin dia udah balik ke sini buat bunuh gue karena biarin lo pulang malam naik angkot!"


Kanaya tertawa. Kejadian 5 bulan yang lalu hampir membuat semua orang takut. Bukan karena Kecelakaannya. Karena Kanaya hanya mendapatkan luka lecet waktu itu. Tapi reaksi cowok di seberang negara hampir membuat semua orang merasa nyawanya terancam.


Benar kata Rio jika saja waktu itu Alvaro dapat tiket mungkin bakal membuat banyak nyawa merasa terancam. Mereka semua masih ingat gimana reaksi marahnya Alvaro saat itu. Padahal cuman luka lecet tapi cowok itu sudah sangat murka. Alvaro kadang suka lupa bahwa Rio dan Kanaya adalah seorang dokter. Kalau Rio mengatakan luka lecet harusnya dia percaya. Bukannya malah ngamuk!


Tapi bagi Kanaya malam itu Alvaro tidak benar-benar akan pernah datang. Alasan dia sepertinya tidak cukup penting untuk membuat cowok itu pulang.


"Ngelamun jorok lo?"


Kanaya mendelik. "Aku bukan kak Diego yang suka mikir jorok!"


Rio tertawa. "Gak nyangka si otak mesum itu bakal nikah minggu depan. Gak nyangka dia laku juga. Malah dahului kita. Bahkan juga bisa ngalahin rekor pacaran terlama kalian."


"Iya ... aku aja sempat kaget dengar kabar pernikahan dia. Alvaro bahkan bilang aku lagi bikin hoax."


"Katanya Alvaro gak bisa datang?" tanya Rio hati-hati seakan tahu itu bisa merubah mood Kanaya.


"Iya. Dia lagi sibuk-sibuknya sama perusahaan." Kanaya terlihat murung. "Gak tahu ... kayaknya ... gak pernah gak sibuk juga."


Rio menepuk pelan pundak Kanaya. "Sabar aja. Kalau urusannya selesai dia juga bakal pulang."


Kanaya tersenyum tipis. "Udah lima tahun tapi gak selesai-selesai. Bahkan kuliahnya udah selesai dua tahun yang lalu. Saking sibuknya bahkan baru balik dua kali ke Indo. Cuman pas abis wisuda sama terakhir kemarin setahun yang lalu mau ngurusin perusahaan di sini karena ada masalah. Apa gue gak sepenting itu yah ... buat jadi alasan dia pulang?"


Kanaya kadang merasa Alvaro tidak pernah serius dalam hubungan mereka. Ia tahu kalau Alvaro di sana sibuk. Dulu pas saat kuliah Kanaya bisa memaklumi kalau dia tidak pulang bahkan saat lagi libur semester karena banyaknya tugas. Ia bisa memaklumi walau hanya bisa melihat Alvaro dari layar ponsel. Dia juga paham setelah lulus Alvaro punya beban untuk mengurus perusahaan karena kondisi kakek yang mulai sakit-sakitan. Ia juga mengerti saat Alvaro jarang mengabarinya tiap hari karena sibuk. Sering lupa ulang tahunnya karena alasan sibuk juga. Bahkan akhir-akhir ini lupa untuk hanya bilang sekedar rindu.


Tapi sampai kapan hubungan mereka seperti ini? Ia juga seorang wanita yang butuh kepastian? Pacaran lama-lama tanpa ada tujuan kadang membuatnya mulai jenuh. Bukannya ia sudah tidak sayang. Perasaan dia tidak pernah berubah sedikitpun dari dulu. Bahkan tiap hari makin rasanya bertambah. Tapi ia tidak yakin perasaan Alvaro masih sama seperti dulu apa tidak?


Tiba-tiba ia merasakan dirinya berada dalam sebuah pelukan. Seketika air matanya jatuh. Bahkan sudah beberapa hari ini Alvaro tidak memberi kabar. Tiap Kanaya telepon yang mengangkat pasti asistennya dan bilang Alvaro sibuk.


"Udah Jangan nangis. Kita tahu gimana sayangnya dia sama lo. Dia pasti beneran sibuk Nay. Beban dia besar banget, Lo juga tahu itu."


"Gue butuh kepastian Kak," lirih Kanaya pelan di sela isak tangisnya.


"Kalau waktunya tiba gue yakin Alvaro bakal ngasih lo kepastian. Sekarang lo cuman harus menunggu." Rio masih berusaha menguatkan Kanaya.


Kanaya melepaskan pelukannya. Menghapus kasar air matanya. "Gue pulang Kak."


Tanpa menunggu Rio nenjawab Kanaya sudah berjalan pergi. Ia sudah berada di titik di mana merasa bahkan nasihat Rio sudah tidak ada artinya. Mungkin dia memang tidak ada artinya juga untuk Alvaro. Mungkin Alvaro juga sudah dapat penggantinya yang lebih baik dari dirinya di sana. Apa dia masih harus menunggu?


**


"Tumben datang?"


"Sombong amat. Baru punya cafe aja udah larang gue ke sini. Tenang kali ini gue bayar kok!"


Maya yang duduk di kursi depan Kanaya tersentak. Maya menatap Kanaya heran atas sikapnya. Datang-datang sudah mengamuk. Maya baru ingat jika Kanaya dengan sekarela datang ke cafenya tanpa diminta, itu berarti memang sedang terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis itu.


"Ada masalah apa?"


Kanaya hanya dia. Memutar-mutar sedotan minumannya. Wajahnya terlihat sendu semakin membuat Maya khawatir.


"Lo mau makan apa?" Maya berusaha mengerti. "Gue masakin special buat lo mau? Kapan lagi bisa dimasakin pemilik cafe yang cantik kaya gue."


Kanaya mendelik. "Punya setengah cafe aja sombong. Cafe modal berdua juga berasa punya sendiri."


"Kalau kita nikah kan semua harta dia jadi milik gue. Jadi wajar dong kalau gue sombong!" seru Maya membela diri.


"Baru aja tunangan belum nikah udah kepikiran kuasai harta laki lo."


Maya tersenyum pongah. "Iya lah ... biar gak ada kesempatan buat pelakor datang."


Kanaya tersenyum tipis. "Taunya itu pelakor kalau tunangan lo kere karena hartanya diambil atas nama lo semua."


"Nah ... itu tau," balas Maya cengengesan.


"Dasar matre!"


"Bodo amat!"


Berbicara dengan Maya selalu bisa membantu suasana hati Kanaya menjadi lebih baik. Alasan itu juga yang selalu membuatnya  mengunjungi Maya saat sedang sedih di cafenya.


Kanaya tidak menyangka bahwa gadis pecinta shopping itu bisa menjelma jadi pembisnis. Merintis usaha cafe berdua dengan musuh yang sebulan lalu sudah sah menjadi tunangannya. Kanaya juga masih tidak menyangka jika mereka yang dulu selalu ribut sekarang malah menjadi sepasang kekasih.


Kanaya kembali sedih. Tunangan Maya sangat serius dalam hubungannya. Baru setengah tahun pacaran sudah diajak lanjut ikatan pertunangan. Beda dengan dirinya sudah 5 tahun lebih status masih pacaran dengan LDR. Padahal Kanaya yakin kalau Alvaro punya banyak uang untuk sekedar bolak-balik ke Indo sebulan sekali, 3 bulan sekali atau setengah tahun sekali. Tapi dirinya tak sepenting itu untuk jadi alasan Alvaro pulang dari semua kesibukannya di sana.


"Kamu kenapa Nay?" tanya Maya khawatir melihat wajah sendu Kanaya. "Apa karena cowok yang udah jadi bule itu?"


"Gue lelah May," lirih Kanaya. "Gue lelah menunggu dia tanpa kepastian kaya gini."


"Masih gak ada kabar?" Maya sudah tahu permasahan Kanaya. Jadi ia tahu apa yang sedang Kanaya rasakan.


Walaupun mereka jarang bertemu tapi komunikasi mereka tetap lancar. Mereka masih sering saling curhat untuk hal apapun. Walaupun hanya lewat telepon.


"Bahkan teman deketnya minggu depan mau nikah aja dia gak datang." Air mata Kanaya mulai jatuh. "Rasanya 5 tahun ini cuman gue yang berjuang."


Maya berpindah duduk ke samping Kanaya. Lalu merengkuhnya dalam pelukan. Membiarkan Kanaya menangis dalam pelukannya.


"Tetap positif thinking Nay. Gue yakin kak Alvaro juga sama berjuang kaya lo. Tapi caranya aja mungkin yang berbeda."


"Gue gak tahu. Apa gue masih sanggup jalanin hubungan ini?" Kanaya semakin menangis dipelukan Maya.


"Sabar yah ... Nay. Lo pasti kuat."


"Nay ... Kita nyalon yuk sebelum datang ke acara nikah Kak Diego," ujar Maya tiba-tiba.


Kanaya menggeleng. "Males ah ... ngapain. Kita cuman datang ke nikahan orang. Bukannya mau nikah."


"Walaupun gitu sebagai cewek kita tetap harus kelihatan kinclong Nay," ujar Maya masih berusaha meyakinkan Kanaya.


"Mau kinclong, mau ngapain? Mau nyari laki?"


Maya terkekeh. "Kalau ada yang mau yah ... Alhamdulillah."


Kanaya menyentil Jidat Maya. "Ingat tunangan lo woi!"


"Ingat lah," jawab Maya cepat."Dia lagi ada perjalanan bisnis ke Bali sekarang."


Kanaya mendelik kesal lalu Maya tersenyum lebar. "Bercanda gue. Pokoknya kita harus ke salon. Sekalian nyari gaun juga."


"Gak mau!"


"Pokoknya harus mau!"


"Gue gak--"


"Lo tega Nay!" rengek Maya seperti akan menangis.


Kanaya menghela napas panjang. "Ok ... gue kepaksa ikut lah."


"Horeee!" seru Maya riang. "Lusa gue jemput ke rumah lo!


"Terserah."


**


Hari ini Kanaya hanya bisa pasrah saat Maya menyeretnya masuk salon dan melakukan banyak perawatan. Gak ngerti siapa yang nikah? Kok malah mereka yang repot.


Dasar Maya centil!


Kanaya bahkan hampir lupa sama rencana ini. Tapi kedatangan Maya di rumahnya pagi buta bahkan sebelum ayam berkokok membuat Kanaya sadar bahwa ia sudah tidak bisa lagi menghindar. Bahkan ia terpaksa meminta Kak Rio mengizinkannya untuk  tidak masuk kerja dengan alasan sakit.


"Ayo pilih gaunnya?"


Kanaya hanya mengangguk dan menggeleng saat Maya beberapa kali menawarkan gaun padanya. Tenaganya sudah habis dipakai nyalon tadi. Dia memang merasa lebih segar tapi karena terlalu banyak perawatan yang dilakukan itu yang membuatnya lelah.


Setelah menghabiskan waktu hampir setengah hari di salon, Maya kembali menyeretnya untuk berburu gaun, sepatu, tas dan aksesoris lainnya.


Ini serius siapa yang nikah?


Tidak tanggung-tanggung Maya membawanya ke sebuah butik ternama di Jakarta. Selera Maya makin dewasa makin tinggi. Sombongnya semakin tidak ketulungan. Anti barang tidak brandit. Kanaya sampai pusing sendiri melihat harganya.


"Gaun ini bagus kan?" Maya sudah membawa gaun yang kesekian kalinya untuk Kanaya.


Kanaya langsung menggeleng keras. "Lo gila! Itu gaun pernikahan. Mau nyaingin yang nikah. Alamat ditendang kita!"


Maya cengengesan. "Eh ... iya salah gaun. Bentar gue cari lagi yang cocok."


"Jangan yang aneh-aneh!"


Setelah menunggu beberapa waktu Maya sudah kembali lagi membawa sebuah gaun.


"Gimana bagus kan?"


Kanaya mengamati gaun itu sesaat lalu seketika ia mengangguk pelan. Sebuah senyum kecil terbit di sudut bibirnya. Maya yang melihat Kanaya ikut senang karena setelah puluhan gaun akhirnya setuju. Tapi tiba-tiba wajah Kanaya berubah murung. Maya yang menyadari itu menjadi khawatir.


"Kenapa?" Maya bertanya sedikit kecewa. Mungkin ia merasa bingung juga harus mencari gaun seperti apa yang Kanaya suka.


"Mahal gak?" tanya Kanaya pelan.


Maya tertawa. "Kirain lo gak suka lagi. Tenang aja gue yang bayar pokoknya."


"Serius?" Kanaya masih tidak percaya. "Coba sini gue cek harganya berapa? Takutnya kemahalan."


Maya buru-buru mengamankan gaun itu dari Kanaya saat melihatnya berjalan. "Pokoknya deal gaun ini." Setelah itu Maya langsung berlari ke dalam.


"Eh ... May gue belum coba!" teriak Kanaya percuma karena Maya sudah jauh.


Setelah hampir tiga jam akhirnya mereka berhasil menemukan semua barang yang harus dipakai nanti. Kanaya merasa heran karena Maya membayar semua barang-barangnya. Padahal sebenarnya sekarang ia sudah mampu untuk membeli beberapa barang mahal seperti itu karena profesi dokternya tapi Maya tetap akan membayarnya.


Kanaya juga merasa berlebihan atas persiapan yang mereka lakukan hari ini. Mereka hanya pergi kondangan tapi hebohnya sampai begini.


"Siap Nay?"


Kanaya menganguk ragu. Ia memandang cermin sedikit resah. "Apa kita gak kepagian ini datang? Kita ini heboh banget tau!


Maya tersenyum. "Gak lah. Kitakan mau lihat ijab Qabulnya. Laki gue malah udah ada di sana sekarang. Rese banget gak bisa jemput!"


"Kok gue merasa berlebihan banget yah?" Kanaya masih merasa risih dengan penampilannya.


"Gak ... biasa aja. Lo cantik kok." Maya tersenyum cerah. "Eh ... Nay kak Alvaro udah ada kabar?"


Kanaya mengangguk pelan. "Ada kemarin malam sempat VC bentar. Katanya sibuk. Dia minta maaf gak kasih kabar. Dia juga nyuruh gue datang buat wakilin dia ke pesta pernikahan kak Diego."


"Kok muka lo masih murung? Kak Alvaro kan udah ada kabar dan kasih tahu kalau dia sibuk kemarin."


"Dia ngomong gitu doang habis itu selesai." Wajah Kanaya terlihat sedih. "Gak nanyain kabar. Bahkan gak bilang rindu sama sekali."


Maya kembali tergelak tertawa. "Ya ampun alay banget sih lo. Gitu aja baper."


"Lo gak tahu rasanya LDR dan rasanya gak dikasih kepastian untuk bertahun-tahun," ujar Kanaya kesal.


Karena berjuang sendiri itu benar-benar sangat lelah. Dia tidak meminta waktu lebih dari Alvaro. Tapi  setidaknya saat mereka masih bertukar kabar sedikit memberikannya  perhatian? Apa Kanaya harus mencari perhatian dari cowok lain? Tapi dia terlalu jatuh cinta dengan cowok itu. Cinta memang gila.


"Iya ... sorry Nay," ujar Maya merasa tak enak. "Senyum dong."


"Iya gak papa," balas Kanaya pelan.


"Ya udah ayo berangkat. Takutnya kita telat nanti!"


"Iya."


**Thank for reading🤗


Special untuk kamu 💜


Ada yang mau cerita Maya?


kalau ada kita lanjut di sini season 2. 🤗


Jangan lupa vote & coment💜**