Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
37. Truth or Dare



**Happy & enjoy reading💜


Sorry for typo🙏**


🐰


"Gimana bisa datang gak dia May?" Maya hanya menatap malas Anton yang sudah menanyakan kalimat itu lebih dari 10 kali. Ah ... mungkin lebih dari 100 kali.


"May aw!" Anton meringis memegang kepalanya yang digetok Maya menggunakan benda keras.


Mata Anton memicing melihat ulekan sambal ada di tangan Maya. Ia mengelus dada karena ternyata kepalanya digetok menggunakan ulekan sambal oleh Maya. Ia merasa heran juga dari mana Maya dapat ulekan sambal itu.


Seketika Anton sadar bahwa sekarang mereka sedang berada di rumah bencong Doddy.  Karena jika di rumah si bencong jangankan ulekan sambal, kawat gigi juta ada. Saat itu Anton masih ingat saat mereka ke sini menemukan kompor dan gayung di ruang tamu.


Lebih parahnya lagi Anton pernah menemukan BH dan CD cewek di sofa ruang tamu. Saat ditanyakan kepada Doddy jika ini punya siapa? Dengan entengnya dia menjawab 'punya eike."


Memang gila si bencong! Kadang Anton juga sering tertular kegilaannya. Kenapa jadi membicarakan si bencong? Kita fokus ke cerita ini saja.


"Mana sih Naya?" Anton hanya menatap bosan Maya yang bolak balik di depannya seperti setrikaan pendek. Karena memang kenyataannya si Maya cebol.


"Hay ... beb!" seru seseorang. Seketika perasaan Anton menjadi tidak enak. Ia mendadak menjadi merinding bulu kuduk.


Hawanya seperti ada apa gitu?


"Beb ... kok ngelamun sih? Kok pertanyaan aku gak dijawab!" Setelah mendengar suara makhluk halus, sekarang Anton bisa merasakan sentuhan makhlus halus di pipinya.


"Beb ... ngapain gitu? Bete nih aku." Sekarang waktunya Anton bertindak untuk mengusir makhluk halus itu.


Dengan perasaan was-was Anton menoleh ke samping, seketika mukanya berubah menjadi masam. "Astagfirullahaladzim ... subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar."


Makhlus halus ... maksudnya Doddy merengut sebal. "Kok gitu ... memangnya aku setan dibacain gituan beb."


Anton mengelus dadanya sambil komat kamit. "Ya Allah ... hamba mendengar suara. Suara apakah itu? Ih ... di sini serem, pergi ah." Ia berdiri pergi. Seolah-olah takut dan mengabaikan kehadiran miss univers kita ... wew?


***** gila ... ****** lo bencong!


"Beb kemana kamu? Tunggu dong aku ikut!" Anton menatap ngeri Doddy yang sudah setengah berlari menuju ke arahnya.


Dengan menggunakan langkah seribu Naruto, tapi tunggu memangnya Naruto mempunyai langkah seribu? Bukannya dia hanya mempunyai jurus seribu bayangan? Abaikan itu.


Karena saking terburu-burunya berlari, Anton menabrak seseorang yang akhirnya ia jatuh tertahan didekapan orang itu.


Anton mencoba membuka mata secara perlahan. Ia menatap kagum, bukan maksudnya menatap ngeri Maya yang sedang menatapnya tajam. Seketika sadar bahwa ia sekarang ada dalam dekapan Maya. Sekarang Anton merasa sedang melakukan adegan romantis di drama India. Tapi ia merasa ada yang aneh dengan posisinya. Ternyata posisinya terbalik, harusnya dia yang menangkap Maya bukan sebaliknya.


"Aww ...!" pekik Anton. Tadi Anton masih merasa bermain film India, tapi sekarang mendadak ia seperti bermain film action yang ada adegan terjatuhnya.


Brukk


"Aww ...." Baru saja pantatnya yang sakit, terus sekarang mendadak menjadi kepalanya yang sakit.


"Lo merusak adegan romantis gue tau!" Anton mendongak menatap Maya yang sedang menatapnya penuh dendam kusumat di depannya, dengan sebelah tangan memegang wajan.


Tunggu ... jadi dia tadi dipukul wajan. Benar-benar tidak elit sekali! Dari mana coba Maya dapat wajan? Seketika Anton langsung geleng-geleng tidak mengerti memikirkannya.


"Beb ... kamu gak papa?" Lagi dan lagi dia datang. Anton merengut sebal akan nasibnya.


"***** bencong lo ... lepasin tangan lo jiji gue!"


"Udah deh main drama keluarganya bosen gue. Gimana kalo kita main truth or dare?" Anton menatap Maya yang sekarang sudah duduk santai di sofa.


Kapan tuh anak pindah?


"Iya ... gue setuju," sahut Bima yang sudah duduk di samping Maya.


"Gue juga."


"Iya ... gue juga ikutan."


"Eike ikutan say." Doddy sudah duduk di samping Anton, tapi Anton sudah berdiri dan pindah duduk di samping Maya mengusir Bima.


"Jangan tinggalin eike dong!" seru Bayu yang muncul dari tangga dengan memakai high heels.


Eh ... high heels siapa tuh?


"Punya eike," jawab Doddy seakan bisa membaca tatapan penasaran teman-temannya ke Bayu.


Seperti biasa kelas XI IPA 2 selalu mempunyai kegiatan rutin sebulan sekali untuk berkumpul pada malam minggu. Katanya itu untuk menambah cemistry, tapi ya sudahlah terserah mereka saja untuk apa.


Tempat kumpul biasanya diadakan bergiliran di salah satu rumah. Kebetulan malam ini sedang ada giliran di rumah Doddy.


Biasanya dari 38 jumlah murid tidak semua bisa hadir. Terkadang hanya 29, 15 atau 10 orang seperti malam ini. Mungkin karena diakibatkan cuaca di luar sedang gerimis syantik , jadi anak-anak lebih milih bobo syantik  atau mengapel dan diapelin pacar. Biasa siklus anak muda!


Kanaya menjadi salah satu yang jarang hadir, seperti malam ini gadis itu seperti biasa selalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Peraturannya lo semua ngerti dong!" ujar Bagas yang sudah menyimpan sebuah botol kosong di atas meja yang dikelilingi oleh mereka semua.


Hy ... kenalin sebelumya gue Bagas anak Pak Arnas yang selalu ganas kalo diremas. Eh ... kok jadi ngaco. Intinya kenalin gue Bagas pemain baru di sini yang gak kalah tampan dari si Alvaro pemeran utamanya.


"Mulai." Anton sudah memutar botolnya yang ditatap was-was oleh mereka sambil berkomat-kami dalam hatinya 'jangan gue.'


"Yah ... ***** gue!" seru Anton malas. Ia harus menyiapkan mentalnya untuk ini semua.


"Hawanya?" tanya Maya antusias, terlalu antusias membuat Anton mendengus malas.


Anton terlihat berpikir. "Truth," jawabnya semakin malas.


"Jawab beb berapa kali kita pernah berciuman?" Anton menatap jiji dan penuh permusuhan ke Doddy yang tertawa geli di depannya.


"Lebih dari 100 kali pokoknya." Maya hampir keselek gelas eh ... maksudnya air yang akan dia minum mendengar jawaban Anton.


"Serius?"


"***** parah ternyata lo playboy juga?"


"Gila beb kita lebih dari itu loh?"


"Lo serius?" Pertanyaan Maya lebih ke syok.


"Iya gue serius sama Bryan kucing kesayangan gue," jawab Anton santai sambil mencomot cemilan di toples.


Terdengar helaan napas lega secara masal di ruangan itu.


"***** gue kirain lo beneran," ujar Bima mengelus dadanya lega.


Anton masih mencomot cemilan di toples. "Kan si Maya nanya berapa kali gue pernah berciuman? Bebas dong berciuman sama siapa aja, bener gak?"


Maya mengangguk pelan. "Iya juga yah, tumben  pinter lo ketua kelas," ucapnya ceria. Sebelah tangannya mengacak-ngacak rambut Anton tanpa sadar.


Karena jarak mereka yang dekat membuat Maya dan Anton sama-sama terdiam saling menatap, sampai suara deheman menyadarkan mereka.


"Ehem ... eike cemburu loh," sewot doddy membuat keduanya bersemu merah dan Bima menyadari itu. Akhirnya munculah ide laknat di otaknya untuk kedua orang itu.


Botol pun kembali diputar dan secara bergiliran di mulai dari Bima yang memilih dare dan ditantang untuk menari balet. Kemudian Bagas yang berkata jujur pernah mengompol waktu ujian kelas 3 SMP saking gugupnya. Terus Bayu yang ditantang bergaya dan bersuara maco dan serius Bayu beneran maco.


Tiba giliran Doddy yang ditantang berdansa dengan Anton oleh Maya dengan penuh antusias dan pengacau seperti biasanya.


"Ayo!" Doddy telah berdiri di depan Anton dan mengulurkan satu tangannya untuk mengajak Anton berdansa.


"Bencong sana jiji gue!" tolak Anton yang tidak meruntuhkan semangat Doddy.


"Ayo dong beb ... jangan malu-malu," ajak Doddy keukeuh.


"Pergi gak lo, kalo enggak gue laporin Bu Susi kalo lo ke sekolah suka bawa alat make up sama suka pake BH," ucapan Anton sukses membuat nyali Doddy menciut. Akhirnya ia menyerah dan memilih duduk syantik lagi di singgasananya tadi.


Sebagai pemberitahuan Bu Susi itu mamminya Doddy.


"Serius tau dari mana lo?"  tanya Maya berbisik yang dibalas dengusan malas oleh Anton.


"Rese lo!" omel Maya karena diabaikan oleh Anton.


Kali ini Bima menggantikan Doddy yang mendadak bete untuk memutar botol. Putaran botol akhirnya kembali berhenti tepat di depan Anton lagi.


"Kok gue lagi ... si Maya belum tuh!" protes Anton tidak terima karena merasa terdzhalimi dan menjadi korban di sini.


"Namanya juga permainan, sportif dong." Kali ini Dina membuka suara yang dibalas anggukan setuju Maya karena merasa terselamatkan.


Hai kenalin gue Dina pradina. Gue cewek tercantik di rumah gue....


Anton mendengus malas. "Ok terserah," jawab Antos akhirnya, karena merasa percuma berdebat yang ujung akhirnya ia pasti akan selalu kalah.


"Truth or dare?" tanya Bagas yang mendapat dengusan malas lagi oleh Anton.


"Gue pilih dare." Kali ini Anton kapok memilih truth yang pastinya mereka sangat semangat membongkar aibnya.


"Kalau gitu cium Maya tepat di bibirnya di depan kita semua sekarang juga." Sontak semua menatap kaget Bima terutama Anton dan Maya.


"Gak mau gue!" tolak kompak Maya dan Anton.


"Amit-amit gak mau gue!" tolak mereka secara bersama lagi. Tapi ada rasa aneh saat keduanya mendengar ucapan satu sama lain.


"Terserah ... berarti kalian gak sportif. Iya gak guys?" seru Bima yang mendapat anggukan setuju dari yang lainnya.


Akhirnya dengan penuh pertimbangan panjang Anton menyerah dan setuju. Dari pada jabatan ketua kelasnya hilang. Padahal ia masih butuh jabatan itu agar terlihat keren di mata cewek-cewek.


Sungguh mulianya niatmu ketua kelas....


Anton menatap Maya meminta persetujuan dari gadis itu yang langsung mendapat gelengan gugup dari Maya.


Kok ... gugup May?


Dengan sangat perlahan Anton mendekatkan wajahnya ke arah Maya. Awalnya Maya menatap syok Anton, tapi karena mungkin terbawa suasana Maya refleks menutup mata.


Salahkan juga lagu Anji Dia yang entah kenapa tiba-tiba terdengar di sana. Maya yakin itu ulah Bima yang sengaja membuat suasana menjadi semakin aneh.


Akhirnya dua benda bertekstul lembut itu bertemu, menciptakan sebuah sensasi aneh di antara mereka berdua. Hanya beberapa detik sampai Anton melepaskan tautannya dan suasana diantara mereka mendadak menjadi canggung.


Ya Ampun itu ciuman pertama gue!


"Emm ... udahan yuk bosan nih. Mending kita nonton yuk!" Akhirnya Bima membuka suara di tengah suasana yang tiba-tiba menjadi akward akibat ulahnya juga barusan.


Ajakan Bima tiba-tiba diangguki setuju oleh yang lainnya. Meninggalkan dua orang yang masih terdiam akan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.


Sampai acara malam ini selesai dua orang itu masih merasakan perasaan canggung luar biasa. Bahkan saat mata mereka tiba-tiba tak sengaja bertemu.


Nah loh ... Kenapa dengan mereka?


**Thanks for reading 🙏


Jangan lupa vote & comment 💜**