Alvaro & Kanaya

Alvaro & Kanaya
12. Ma! Aku Lelah



**Happy and enjoy reading💜


sorry for typo 🙏**


Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kenangan masa lalu yang pahit, mampu menghancurkan kenangan indah di masa kini yang telah kita bangun.


🐰


Seperti dugaan Kanaya kemarin jika hari ini ia pasti akan menjadi bulan-bulanan kekepoan teman-temannya di sekolah. Khususnya teman-teman sekelasnya. Ia tidak menyangka kejadian penculikan kemarin bisa merubah hidupnya sampai sederastis ini.


 


Kanaya hanya murid biasa awalnya. Ia tidak mempunyai keunggulan lebih dalam suatu bidang apapun di sekolah. Dia hanya gadis ceria dan penuh semangat yang tidak terlalu ikut berbaur dengan kegiatan apapun di sekolah.


Kanaya memang mempunyai wajah yang cantik bahkan sangat cantik. Bahkan ada beberapa teman cowok yang pernah menyatakan cinta kepadanya. Tapi bagi Kanaya hal-hal berbau cinta bukan hal yang terlalu penting untuknya saat ini. Karena yang terpenting saat ini, hanya harus lulus sekolah, bekerja dan merawat bunda supaya cepat sembuh.


"Nay ... lo serius pacaran sama si Alvaro?"


"Nay sejak kapan kalian mulai jalan dan jadian?"


"Kanaya ... lo beruntung banget sih bisa pacaran sama dia."


"Nay ... jangan-jangan lo pake pelet yah biar bisa pacaran sama si Alvaro!"


Itulah rentetan pertanyaan yang sejak pertama Kanaya menginjakkan kaki di kelas. Bahkan mungkin saat pertama ia memasuki gerbang sekolahnya. Sebenarnya ia mulai merasa risih dengan tatapan aneh dari setiap murid-murid saat mereka berjalan melewatinya.


    


Kanaya bisa bernapas lega saat guru jam pertama sudah masuk. Otomatis membuat semua murid-murid yang mengerubungi dan mewawancarai dadakan akhirnya membubarkan diri.


"Akhirnya ... mereka pergi juga," ujarnya lega.


"Nay ... lo masih hutang penjelasan sama gue yah! Lo bisa nyuekin mereka tadi tapi gak sama gue," ujar Maya pelan di sampingnya.


Kanaya menolehkan kepala sekilas ke arah Maya. Setelah itu ia kembali menolehkan kepalanya ke depan,  mencoba mengabaikan Maya.


"Jadi bisa lo jalasin sekarang Nay?" tanya Maya yang langsung mendapat helaan napas lelah dari Kanaya.


Kanaya pikir usahanya kabur dari anak-anak yang lain dengan menghabiskan waktu istirahat di taman belakang sekolah, akan membuatnya tenang.


"Maya ... bisa gak sebentar aja lo buat gue tenang. Biarain gue makan dulu. Lo sahabat gue May. Pasti lo ngerti apa yang gue rasain sekarang," keluh Kanaya benar-benar lelah.


Maya yang melihat kondisi Kanaya, akhirnya menyerah mengintrogasinya lagi. Ia jadi merasa bersalah dengan sikap keponya yang tidak tahu batas. Bahkan terhadap sahabatnya sendiri.


"Sorry Nay ... sikap kepo gue keterlaluan. Gue janji gak bakal maksa lo buat cerita. Tapi gue bakal nunggu sampai lo siap cerita," kata Maya akhirnya.


Kanaya lega karena Maya akhirnya mulai mengerti kondisinya. Walaupun sahabat adalah tempat kita berbagi. Tapi terkadang ada sesuatu hal yang tidak harus kita bagi dan hanya bisa kita simpan sendiri. Kanaya merasa senang karena Maya menghargai batasan itu. Bukannya Kanaya tidak mau berbagi tapi ini belum waktunya. Ia tidak tahu harus dari mana mulai  bercerita. Sekarang ia hanya butuh waktu untuk semuanya.


"Lo tau May, gue gak pernah menginginkan hubungan apapun dengan siapapun itu untuk saat ini. Walaupun hubungan itu sekarang ada, itu bukan mau gue tapi takdir yang maksa gue buat ngelakuinnya."


Kanaya menghembuskan napas sesaat sebelum melanjutkan kembali bercerita. Sementara Maya mencoba menjadi pendengar yang baik. Karena terkadang saat seseorang bercerita dia tidak butuh tanggapan, tapi hanya butuh pendengar untuk mendengarkan ceritanya. Kanaya hanya butuh itu sekarang.


"Lo tau kan, hidup gue kayaknya gak ngizinin gue buat mengenal kesenangan berbau remaja kaya gitu. Gue harus bertahan dan berjuang demi bunda."


"Gue tau Nay. Lo gak sendiri karena gue bakal selalu ada buat lo."


Maya mencoba menenangkan Kanaya. Mengusap lembut punggung Kanya, berusaha memberitahu Kanaya bahwa dia akan selalu ada untuknya.


"Makasih May," kata Kanaya lirih.


Sebuah pelukan menutup segala yang terjadi saat itu antara mereka berdua. Membuat Kanaya sadar bahwa diantara semua kepedihan hidupnya, bahwa Tuhan selalu mengirimkan dia orang-orang yang baik di sekitarnya.


**


Suara detak jam dinding dan helaan napas berat yang terdengar di keheningan yang terjadi saat ini. Alvaro memandang nanar tiga orang yang duduk di depannya. Rasanya bila Tuhan mengizinkan, ia ingin sekali membunuh mereka bertiga. Karena dengan tenangnya dan tanpa dosa masih berani menunjukan batang hidung di depan matanya.


"Saya tidak ada waktu untuk mengurusi hal-hal seperti ini. Jadi cepat selesaikan urusan ini dan segera pergi dari rumah saya."


Alvaro tersenyum remeh, saat  mendengar ucapan satu-satunya perempuan yang ada di ruangan ini. Seandainya tadi pengacara kepercayaan Ibunya tidak memaksa untuk datang ke rumah ini, karena harus membicarakan sesuatu yang penting yang menyangkut tentang Ibunya. Dia tidak akan sudi untuk duduk berhadapan dengan tiga manusia di depannya ini.


"Sebenarnya ada apa anda mengumpulkan kami semua di sini?"  tanya Bram yang tak lain adalah papa Alvaro.


Tanpa sengaja mata Alvaro melihat papa yang tengah melihatnya. Entah hanya perasaannya saja, karena ketika saat ia melihat tatapan mata papa kali ini berbeda. Kalau biasanya ia hanya melihat tatapan mata yang sangat datar dan dingin. Tapi sekarang ia seperti melihat tatapan mata penuh rasa bersalah dan penyesalan.


"Kenapa Bapak menyuruh saya bertemu dengan mereka?" tanya Alvaro mencoba mengabaikan tatapan papah.


Saat ini ia hanya ingin urusan ini cepat selesai dan segera pergi dari rumah ini. Selama satu tahun ini ia selalu berusaha untuk tidak bertemu dengan mereka. Orang-orang yang pernah menorehkan luka yang sangat dalam untuknya. Rasanya setiap kali melihat wajah mereka, setiap saat itu juga memorinya kembali teringat akan kejadian waktu itu. Kejadian di mana kebahagiaan direnggut secara paksa darinya.


"Baiklah saya akan mulai. Ini tentang apa yang Almarhumah nyonya dulu ingin sampaikan," ucap pengacara membuka suara.


Sang pengacara berusaha memberi waktu untuk mereka semua yang ada di sana untuk meresponnya. Tapi karena tak ada respon satupun dari mereka, akhirnya pengacara kembali melanjutkan ucapannya.


"Pak Bram ... Anda tau kan kalau dari awal saham di perusahaan 60 % milik Pak Bram dan 40 % milik almarhumah nyonya. Seiring berjalannya waktu, saham yang berada di tangan bapak mulai berpindah tangan. Sekarang bapak hanya mempunyai 30 % saham di perusahaan"


"Apa maksud anda membicarakan masalah saham?" tanya istri papah penuh emosi.


 Alvaro kembali menghembuskan napas jengah, saat melihat papa tengah berusaha menenangkan istrinya. Sementara satu orang anak laki-laki yang ada diantara mereka pun ikut menenangkan wanita itu. Dennis seseorang yang pernah menjadi sosok kakak dan sahabta waktu dulu sebelum semuanya berakhir sekarang.


"Tanpa anda ketahui. Sebelum meninggal nyonya sudah merintis sebuah usaha properti kecil-kecilan yang dikelola dan diurus langsung oleh sepupunya. Sekarang perusahaan itu sudah berkembang pesat dan sangat maju."


 Alvaro kembali ingat saat dua tahun lalu pengacara itu memberitahunya tentang usaha Ibu yang sekarang berkembang sangat pesat. Demi apapun ia selalu bersyukur dengan apa yang Ibu dulu lakukan dan persiapkan untuknya. Seolah-olah Ibunya tahu kalau hal buruk itu akan terjadi pada mereka.


"Pak Bram harus tau, kalau 30 % saham anda itu sudah dibeli oleh perusahaan nyonya. Jadi secara tomatis 70 % saham perusahaan milik nyonya itu sudah menjadi milik Den Alvaro dan Den Alvaro menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan anda saat ini," ucap pengacara itu tenang tanpa terpengaruh sedikitpun oleh tatapan penuh amarah dari sekitarnya.


"Pergi! Pergi kalian dari sini. Pergi kalian dari rumah saya!" bentak satu-satunya wanita di ruangan itu.


"Oh ... satu hal lagi Pak Bram masih ingatkan kalau rumah ini masih sah atas nama nyonya. Jadi Ibu tidak ada hak untuk mengusir Den Alvaro. Karena malah sebaliknya den Alvaro bisa mengusir kalian dari rumah ini sekarang juga."


Alvaro tak habis pikir. Entah dari mana pengacara Ibunya punya kekuatan untuk berbicara begitu tenang saat ini. Padahal semua orang di sana kecuali dirinya terlihat ingin membunuhnya.


    


Untuk kedua kalinya Alvaro kembali melihat tatapan penuh terluka dan bersalah yang ditunjukan oleh papa saat melihatnya. Bukannya seharusnya tatapan itu amarah bukan tatapan rasa bersalah? Sama seperti tatapan amarah yang ditunjukkan oleh istrinya sekarang.


"Demi apapun saya tidak menginginkan rumah ini. Biarkan mereka tinggal di sini. Tapi soal perusahan, saya serahkan semuanya pada Bapak dan Om. Sudah selesai dan saya pergi."


Sebelum Alvaro pergi, ia tanpa sengaja mendengar sebuah kalimat yang mampu membuatnya diam tak mampu bergerak.


 "Maafin Papah Alva, maafin Papah," ujar Bram terdengar sangat lirih.


 Sebenarnya Alvaro ingin kembali memastikan apa yang ia dengar barusan dari papahnya. Setelah semua yang terjadi selama ini, kenapa kalimat itu baru keluar dari mulut papahnya sekarang?


    


Terus kemana papahnya selama ini? Kemana ia saat mamahnya dibunuh ? Kemana saat ia sedih sendiri atas kepergian mamahnya? Kemana saat istrinya menyiksanya tanpa belas kasih? Terus kemana papahnya saat istri tercintanya itu hampir melecehkannya dan membuat ia mempunyai trauma terhadap wanita sampai dewasa?


    


Rasanya semua pertanyaan itu ingin ia lontarkan di depan papahnya saat ini juga. Tapi Alvaro sadar, semuanya telah terjadi dan satu buah kalimat permintaan maaf tidak akan merubah apapun yang sudah terjadi.


"Apa permintaan maaf anda bisa mengembalikan semuanya? Itu sudah basi ... mama saya sudah pergi," balas Alvaro datar tanpa menoleh sedikitpun


Lalu Alvaro beranjak pergi dari hadapan mereka. Rasanya ia ingin cepat-cepat meninggalkan rumah ini. Rumah yang hanya menyimpan sejuta kenangan luka untuknya. Tiba-tiba Saat akan memasuki mobilnya sebuah tangan menahan lengannya.


"Kita harus bicara."


Tanpa Alvaro lihatpun ia sudah tahu siapa orang itu. Orang yang sama begitu memuakan untuknya.


"Sorry ... kita tidak ada urusan untuk saling berbicara, Dennis," katanya datar menepis tangan Dennis.


Saat ia akan kembali membuka pintu mobil, sebuah tangan kembali menahannya.


"Kita harus bicara Alva."


Alvaro sangat muak saat orang di depannya kembali memanggil nama yang dulu menjadi nama panggilannya.


"Ok," Jawab Alvaro akhirnya.


Suasana taman yang sepi malam ini menjadi saksi dua orang yang dulu pernah sangat dekat bertemu kembali. Sampai akhirnya sekarang harus menjadi orang yang seperti tidak saling mengenal.


"Cepat katakan ada apa? Gue gak ada waktu," kata Alvaro datar.


Sementara Dennis yang duduk tak jauh darinya terlihat seperti sedang berusaha menyusun kalimat yang pas untuk diucapkan.


"Dari dulu, nyokap adalah orang yang paling gue sayang. Lo tau gue gak suka dengan orang yang berlaku tidak sopan terhadap nyokap gue," ujar Dennis akhirnya.


Alvaro mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka saat ini.


"Waktu lo dulu bilang kalo nyokap lo mati karena dibunuh oleh nyokap gue. Gue bener-bener gak terima. Dan sekarang lo mau ngambil kebahagiaan nyokap gue. Dan gue gak bakal biarin itu."


Alvaro mulai jengah dengan arah pembicaraan mereka saat ini. "Lo dulu selalu bilang kalo gue bohong. Gue suatu hari nanti bakal buktiin kalo apa yang gue bilang itu nyata."


Tanpa menunggu Dennis kembali bersuara, Alvaro telah lebih dulu pergi dari tempat itu. Dari dulu Dennis selalu berbicara hal yang sama. Selalu bilang kalau Alvaro seorang pembohong dan selalu bilang Alvaro hanya tidak suka mamahnya menikah dengan papah Alvaro.


"Mamah ... aku lelah," lirihnya sedih.


Alvaro saat ini butuh tempat untuk pulang. Tempat ia kembali dan bisa melupakan semua yang terjadi barusan. Sekarang ia sepertinya tahu di mana tempat itu.


    


Alvaro kembali melajukan mobilnya untuk menuju tempat yang ia maksud. Tempat di mana seorang gadis berada. Seorang gadis yang menjadi alasan bahagianya untuk saat ini. Alvaro yakin setelah bertemu gadis itu, semuanya pasti akan baik-baik saja.


**Thanks for reading🙏


Jangan lupa vote & comment 💜**