
Happy and enjoy reading 💜
Sorry for typo🙏
Jika Tuhan mengirim kamu lewat cara yang tidak kuinginkan
Semoga Dia tak mengambilmu kembali tanpa persetujuanku...
🐰
"Ya Tuhan! Kalo niat lo numpang di sini cuman buat hancurin apartment gue. Mending lo cabut deh sekarang!"
Sementara cowok yang menjadi tersangka kekacauan hanya mendenguskan napas malas. Ia kembali melanjutkan permainan game tanpa sedikitpun terpengaruh.
"Alvaro udah seminggu lo di sini. Sebentar lagi gue positif terkena darah tinggi, akibat kelakuan lo yang ngehancurin Apartment gue!" jeritnya kesal. Dia berfikir mungkin tensi darahnya sudah naik sekarang.
"Berisik banget sih lo Rafa Perdana. Diem gue lagi konsen nih," balas Alvaro santai tanpa sedikitpun berhenti bermain dengan game-nya.
"Sepupu durhaka lo!" umpat Rafa frustrasi.
Alvaro hanya melirik lewat ujung mata, saat sepupunya Rafa akhirnya menyerah untuk berceramah. Sepupunya terlihat lebih memilih duduk pasrah di sofa samping, ketimbang beradu mulut lagi denganya. Ternyata modelan mak-mak kompleks seperti Rafa bisa diam juga.
Sebenarnya Alvaro sadar sikapnya memang rada kelewatan, selama seminggu tinggal di apartment sepupunya itu. Bagaimana ia setiap hari dengan santainya selalu membuat berantakan apartment Rafa. Hingga ujung-ujungnya selalu sepupu malangnya yang selalu membereskan.
Rafa Perdana adalah sepupu Alvaro dari pihak Ibu. Anak dari om yang punya jasa besar di hidupnya. Om yang merawat dan bertanggung jawab atas perusahaan Ibu yang sekarang berhasil sukses. Rafa sekarang sudah berumur 27 tahun. Ia adalah seorang dokter spesialis di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta
"Sampai kapan lo di sini? Lo mesti sekolah gak bisa bolos-bolos terus." Alvaro hanya mengedikkan bahu tidak peduli semakin membuat Rafa frustrasi.
"Lusa gue sekolah. Berisik amat sih!" jawab Alvaro ketus melebihi Rafa.
"Terserah lo! Alvaro Rabani Rajasa, masalah itu yah dihadapin bukannya malah lari," ujar Rafa jengkel. Sementara Alvaro tidak terpengaruh dan tidak bereskasi sedikitpun.
"Oh ... iya, tadi Tasya hubungin gue. Kebetulan sekarang dia lagi liburan di Indonesia. Dia lagi di Bandung dan nanyain lo. Sekarang dia mau ke sini," terang Rafa yang yakin saat ini Alvaro tidak akan mengabaikannya.
"Kok dia gak ngasih tau gue kalo ada di Indonesia?"
"Mana gue tahu," balas Rafa acuh seakan membalas dendam.
Seandainya Alvaro punya banyak sepupu, mungkin ia tidak akan memilih sepupu yang satu ini untuk tempat menenangkan diri. Dia terlalu cerewet dan banyak protes. Berhubung dia satu-satunya sepupu yang Alvaro punya. Jadi terpaksa dia harus menulikan telinga saat mendengar ceramah sepupunya itu.
Alvaro tahu salah karena lebih memilih lari dari semua masalahnya. Bahkan sengaja menonaktifkan ponselnya. Ia yakin 3 kucrut itu pasti juga mencarinya. Cewek itu, entahlah waktu itu ia emang kelewatan saat marah dengannya. Tapi hey ... emosinya saat itu sedang dalam tahap tidak stabil.
Tiba-tiba sebuah bunyi bel menghentikan aktifitas dua cowok tampan yang masih sibuk dengan aktifitas masing-masing.
Mereka saling melirik lewat ekor mata untuk saling menyuruh membuka pintu.
"Alva buka cepet!" perintah Rafa, sementara tangannya masih fokus ke ponsel.
"Lo aja napa nyuruh gue. Lo kan yang punya rumah," balas Alvaro tak mau kalah.
Akhirnya Rafa menyerah untuk berdebat dengan Alvaro. Menurutnya berdebat dengan bocah yang sedang galau akut hanya akan mempercepat umur sebelum waktunya. Jadi dengan terpaksa akhirnya ia yang membuka pintu.
Alvaro menatap penuh kemenangan saat Rafa telah berjalan untuk membuka pintu. Sebenarnya Alvaro dari tadi tidak fokus. Walaupun ia sekarang sedang bermain game tapi hati dan pikirannya terpusat pada satu titik yaitu cewek itu, Kanaya.
Seberapa keras dan lama gue ngehindar, tetep aja gue kepikiran terus.
Sebenarnya alasan utama Alvaro bersembunyi bukannya ingin lari dari semua masalah yang dihadapi saat. Alvaro hanya perlu waktu untuk menata hatinya agar bisa kembali seperti dulu. Alvaro sekarang hanya merasa benci pada dirinya sendiri. Pada sebuah perasaan sentimentil yang membuatnya menjadi lemah.
Ia berharap dengan menjauh dan menghindar. Perasaan sentimentil itu bisa hilang, karena ia yakin perasaan itu hanya bersifat sementara.
"Kangen ... kangen banget." Sebuah kecupan di pipi menyadarkan Alvaro kembali ke dunia nyata.
Ia tersenyum saat menemukan seorang gadis yang tengah memeluknya. Kemudian ia kembali memeluk gadis itu dan sebelah tangannya mengusap lembut kepala gadis itu.
"Iya ... aku juga kangen banget sama kamu," balas Alvaro. Sebuah kecupan di pucuk kepalanya membuat gadis dipelukan Alvaro semakin mengeratkan pelukan.
**
Bagi kalian yang merasa kurang perhatian atau merasa hidup kalian tidak ada yang peduli. Percayalah kalian harus menoba cara Kanaya saat ini.
Sepanjang perjalanan pulang dari cafe pukul 08 malam. Kanaya merasa geli sendiri atas tindakan yang akan dia lakukan sekarang. Tapi ini adalah cara ampuh yang sering diakukan untuk menghibur diri, saat ia merasa terlalu berat untuk menampung masalahnya sendiri.
"Selamat malam ... selamat datang, silahkan berbelanja." Kalimat pertama yang Kanaya dengar saat membuka pintu.
Kanaya mengangguk singkat, memberikan sebuah senyum simpul kepada pelayan yang menyapanya barusan.
Tuhkan baru aja masuk udah dapet ucapan selamat malam dan sebuah senyuman. Ini nih ... enaknya belanja di supermarket. Selain bisa belanja terus ada yang kasih perhatian.
Ini memang konyol. Karena hanya mendapat ucapan seperti itu sudah membuat Kanaya bahagia.
Tapi percayalah, saat kita merasa lelah atas aktifitas kita seharian ini. Bahkan dengan sebuah ucapan sederhana seperti ini pun bisa membuat hati kita bahagia dan menghangat.
Kanaya tahu karena saat di rumah nanti takan ada ucapan seperti itu. Takan ada sebuah senyuman hangat yang menyambut. Tiba-tiba jiwa melankolisnya muncul lagi. Padahal sudah mati-matian untuk tidak mengingat apapun itu yang membuatnya sedih.
"Ternyata aku gak sekuat itu Ayah," gumamnya lirih.
Kanaya tahu kalau ayahnya masih hidup, pasti beliau akan memarahinya karena akhir-akhir ini terlalu sering untuk menangis.
Anak ayah harus kuat. Apapun yang terjadi anak ayah harus kuat kaya pohon kaktus. Selalu bisa melindungi diri dari apapun dan masih bisa berdiri sendiri.
Kalimat ajaib ayahnya selalu mampu membuat Kanaya seperti mempunyai semangat baru. Sama seperti saat ini, Kanaya merasa lebih hidup kembali.
"Iya ... gue harus kuat. Pohon kaktuskan kalau diusik bukan dia yang keusik, tapi orang yang deketin dia yang keusik," ujarnya semangat.
"Aduh sakit!" Kanaya bisa mendengar seseorang yang tadi menabraknya meringis kesakitan.
"Kamu gak papa? Kan udah aku bilang tadi jangan lari-larian."
Deg..deg..
Suara itu suara yang Kanaya rindukan. Suara seseorang yang kehadirannya akhir-akhir ini menghilang dari hidupnya. Kanaya mencoba melihat pemilik suara itu yang ada di depannya. Ia terkejut saat matanya langsung tepat melihat dalam tatapan mata orang itu, yang tak lain adalah Alvaro.
Untuk sesaat mereka saling terikat dalam sebuah tatapan, seakan lewat tatapan mereka berbicara betapa mereka merasa saling kehilangan.
"Tuhkan lihat ... siku aku merah." Suara rengekan itu akhirnya memutus ikatan mata mereka.
Kanaya bisa melihat saat ini Alvaro tengah meniup-niup pelan luka di siku gadis di sampingnya. Sebuah senyuman dan candaan bahagia menjadi pengiring kegiatan itu.
Betapa bodohnya gue. Saat gue seminggu ini kaya orang gila mikirin dan khawatirin dia. Tapi orangnya sekarang lagi ketawa bahagia bareng cewek.
Rasanya Kanaya lebih rela menonton adegan Shaun the sheep menikah dari pada melihat adegan romantis sinetron kacangan di depan mata sekarang. Entah kenapa matanya terasa panas saat ini. Hey ... itukan drama romantis, kenapa dia seperti menonton drama sedih dan seperti akan menangis?
Akhirnya Kanaya tidak tahan menyaksikan pemandangan ini. Ia memutuskan untuk memilih balik arah dan kembali menyelesaikan acara belanjanya dengan cepat. Supaya ia cepat bisa pergi dari tempat ini.
"Hey ... tunggu! Kamu gak papa-papa? Saya minta maaf." Suara gadis itu kembali menghentikan langkahnya.
Demi sebuah kesopanan Kanaya membalikkan tubuh kembali menghadap dua orang tadi. Serius ini demi kesopanan, bukan karena ia ingin melihat wajah orang itu lagi, Alvaro.
Lagi dan lagi matanya kembali bertatapan dengan dia. Tapi tatapannya kali ini terasa berbeda. Seperti sebuah tatapan sendu yang penuh dengan luka dan perasaan khawatir. Sebelum Kanaya semakin hanyut dalam tatapan itu dan membuat suasana menjadi lebih canggung. Dengan cepat ia mengalihkan tatapannya ke gadis di samping Alvaro.
"Gak papa. Saya gak papa kok. Kalau begitu saya permisi," ucap Kanaya dengan sebuah senyum yang terlihat dipaksakan. Setelah memberikan anggukan singkat, Kanaya kembali berjalan.
Sementara Alvaro hanya mampu menatap kepergian Kanaya dalam diam. Matanya tertuju pada sosok Kanaya yang semakin menjauh dari pandangannya. Rasanya ingin mengejar gadis itu dan memeluknya. Tapi hatinya saat ini masih belum tertata rapih kembali. Kalau ia menemui Kanaya sekarang itu hanya akan membuat hatinya kembali kacau.
"Kak ayo! Temenin aku beli eskrim lagi," seru gadis di sampingnya.
Sepertinya keputusannya tepat kali ini untuk tidak mengejar Kanaya. Apalagi sekarang ada Nadia keponakan Rafa dari pihak ayahnya. Sekaligus sudah ia anggap seperti keponakan bahkan adiknya sendiri. Sepertinya menghabiskan waktu seharian bersama Nadia, itu ide yang menarik. Sebelum gadis itu besok kembali ke Bandung.
"Iya ayo," balas Alvaro yang gemas akhirnya mencubit pipi gadis di sampingnya yang membuat gadis itu cemberut.
"Jangan cubit. Nanti tambah lebar."
**
Bughhh
Sebuah kaleng minuman mendarat mulus di kepala Kanaya. Saat Kanaya akan memarahi si pelaku pelempar ia melihat tiga orang anak muda yang tengah berlari.
"Akh ... kurang sial apa coba gue malam ini? Gak sekalian aja tuh monas yang jatoh di kepala gue. Biar gue pingsan dan hilang ingatan!" teriaknya kesal.
Tangannya terus mengusap-ngusap bagian kepalanya yang sedikit sakit karena lemparan kaleng tadi. Akhirnya ia memilih duduk di sebuah bangku untuk istirahat.
"Seharusnya dari awal gue gak usah mikirin dia. Karena nyatanya dia lagi bahagia sama cewek lain."
"Seharusnya gue gak usah baper. Jadi kan gak sakit hati kaya gini."
Tiba-tiba Kanaya merasakan kursi di sebelahnya seperti ada yang menduduki.
"Hayoh udah baper-baperan. Udah jatuh cinta kayaknya nih bocah." Kanaya tersenyum saat tahu siapa yang duduk di sebelahnya.
"Kepo ... ngapain kak Ardi di sini hayoh? Ngikutin gue yah. Wah jadi stalker gue yah kak Ardi," tuduh Kanaya yang langsung meringis saat Ardi menyentil keningnya.
"Ini jalanan umum yah. Jadi bebas dong siapa aja di sini. Malahan lo ngapain coba di sini, duduk merana kaya orang di tinggal pacar." Andi menyuapkan roti yang ke mulutnya.
Kanaya melirik sekilas Ardi, lebih tepatnya ke roti yang Ardi makan dan membuatnya jadi lapar. Ia jadi ingat terakhir makan hari ini adalah tadi siang, pantas sekarang sangat merasa lapar hanya melihat roti.
Ardi yang sadar Kanaya memperhatikan rotinya penuh minat, akhirnya kembali mengeluarkan sebungkus roti lagi di tasn lalu memberikan ke Kanaya.
"Makasih ... tau aja gue lagi laper," ujar Kanaya girang dan semangat memasukan roti ke mulutnya.
"Gimana gue gak tau. Orang dari tadi mata lo menatap penuh minat dan nafsu. Gue yang lihatnya aja serem."
Kanaya berniat membalas ucapan, tapi Ardi langsung memasukan roti ke mulutnya.
"Udah makan dulu jangan banyak ngomong."
Untuk sesaat keheningan melingkupi mereka berdua, tiba-tiba Ardi merasakan Kanaya memeluknya. Ardi tidak bodoh untuk tidak bisa mengartikan apa yang terjadi dengan Kanaya. Ada rasa sakit saat mengetahui semuanya. Bukan rasa sakit karena Ardi tahu Kanaya jatuh cinta pada orang lain. Tapi rasa sakit saat Ardi tahu Kanaya merasakan perasaan sakit.
"Dalam hidup itu ada dua hal yang pasti akan kita alami. Pertama jatuh cinta dan kedua patah hati." Tangan Ardi mengusap lembut kepala Kanaya yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Saat lo sudah merasakan dua hal itu, berarti lo udah dewasa sekarang. Anggap aja perasaan itu akan ngebuat lo lebih kuat untuk ngehadepin hal selanjutnya." Kanaya semakin terisak di pelukan Ardi.
Ini yang Kanaya suka dari Ardi. Tanpa Kanaya berbicarapun Ardi seakan sudah tahu apa yang dia rasakan. Ardi selalu bisa dengan caranya untuk membuat Kanaya lebih tenang.
"Terimakasih Kak ... aku sayang Kakak."
Sementara tidak jauh dari tempat Kanaya dan Ardi ada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Berengsek! Sebenarnya siapa sih itu cowok? Ah ... berengsek!" Sebuah stir menjadi sasaran amukannya saat ini.
Karena tidak tahan rasanya untuk menghajar cowok itu sekarang. Akhirnya ia memutuskan pergi dari sana dengan melajukan mobilnya di luar batas kecepatan minimal dengan sebuah rasa sakit yang baru menggantikan rasa sakit yang belum sembuh.
**Thanks for reading🙏
Jangn lupa vote & comment💜**