
3 minggu kemudian.
Dari saat kejadian itulah. Zahra tidak pernah terlihat lagi sama sekali di sekolah maupun di luar sekolah.
Nabila merasa sangat bersalah. Ia merindukan sosok Zahra, meski sikap Zahra yang seperti anak-anak, hanya Zahra lah yang paling bisa mengerti Nabila.
Dan sekarang, Zahra sendiri sudah tidak ada kabar sama sekali, seperti hilang ditelan bumi. Hal itu cukup membuat Nabila merasa terpukul, ia kembali mengingat ucapan yang ia lontarkan pada saat itu. Nabila sadar betul, ucapannya jauh lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan ucapan Zahra pada Elina kala itu.
Sudah 3 minggu lebih, Zahra tidak ada kabar. Begitupun sebaliknya, Nabila sendiri tidak bisa menghubungi Zahra, dikarenakan kontaknya yang telah diblokir oleh pihak Zahra itu sendiri.
"Sebenci itu lo sama gue Zah, " ucap Nabila dengan kedua bola matanya yang saat ini mungkin sudah berkaca-kaca.
Nabila menatap foto kebersamaannya dengan Zahra yang telah ia simpan dengan sebaik mungkin di dalam album galeri miliknya tersebut.
Nabila tidak pernah menangis akan hal-hal spele. Ia hanya akan menangis jika hal itu memang sangatlah penting bagi dirinya ataupun menyangkut orang yang ia sayang. Dan tentu saja, ia sangat menyayangi Zahra. Nabila sendiri sudah menganggap Zahra seperti adiknya dan ia menyayangi Zahra melebihi ia menyayangi dirinya sendiri.
Sampai pada akhirnya, Nabila pun berniat mengunjungi kediaman Zahra, untuk meminta maaf akan perkataannya 3 minggu yang lalu. Terlebih lagi, dikarenakan besok juga hari minggu, Nabila pun akan lebih leluasa untuk mencari keberadaan Zahra.
Namun nihil. Info yang Nabila dapatkan saat sudah tiba di kediaman Zahra, ialah Mansion Zahra yang telah diambil alih.
"Baru saja seminggu yang lalu, saya menempati rumah ini dan soal pemilik rumah yang lama, pindah kemana-kemananya. Saya kurang tau de, " Perjelas pemilik rumah yang baru.
"Sebelumnya makasih ya pak. Maaf udah ganggu waktunya, " ucap Nabila lalu pergi dengan rasa putus asa.
Tin
Tin
Tak lama kemudian, datanglah sebuah mobil dari arah sampingnya dan sesekali membunyikan klakson. Lalu, membuka kaca jendela untuk menyapa Nabila yang saat ini sedang berjalan di area pejalan kaki dengan perasaan yang sudah sangatlah putus asa.
"Nabila?" ucap orang yang ada di dalam mobil tersebut.
"Eh. Gue kira siapa. "
"Kok lo bisa ada di sini?"
"Gue lagi lari pagi aja. Sekalian refreshing otak juga, " balas Nabila dengan santai.
Itulah Nabila, ia sangatlah pandai menyembunyikan suatu hal. Tapi bodoh dalam mengumbar, Nabila hanya tidak ingin orang lain tau-menau akan rasa sedih yang ia alami. Karna ia paham betul, tidak semua manusia peduli dengannya dan tidak sedikit di antara mereka yang hanya sekedar penasaran lalu, akan mentertawakan jika tau yang sebenarnya.
"lo wanita yang kuat Bil, " batin Elina.
Orang yang ada di dalam mobil tersebut ialah Elina dan tanpa Nabila sadari, Elina memang sudah sengaja mengikutinya dari awal pertama keberangkatannya untuk mencari informasi tentang Zahra.
"Yaudah gue duluan ya, " ucap Nabila lalu melajukan langkah kakinya kembali dan berhenti saat Elina memanggilnya.
"Bil. "
"Ya El?"
"Lo ada acara gak hari ini?" tanya Elina.
"Acara? Hm, gak ada sih. Gue lagi ambil cuti soalnya. "
Seperti yang kita tau, Nabila seorang pelajar sekaligus tulang punggung keluarga. Saat kecelakaan ayahnya tersebut, Nabila sendiri sudah berinisiatif untuk membantu Farida dalam mencari uang. Tentu saja Farida sendiri tidak mengizinkannya. Tapi ya bagaimana lagi, Nabila tetap bersikeras untuk membantu Farida, dengan catatan tidak akan mengganggu saat jam sekolah berlangsung.
Sampai pada akhirnya, Nabila rela mengambil cuti untuk mencari informasi perihal Zahra. Tapi semuanya sia-sia, jauh dari ekspektasi Nabila itu sendiri.
"Lo di mana sih Zah? Gue harus kemana lagi cari keberadaan lo sekarang?" batin Nabila.
"kalo harus nemenin gue hari ini bisa gak?" ucap Elina yang sontak membuat lamunan Nabila pun buyar.
"Hah? Apa? Eh apa El?" tanya Nabila. Karna sedaritadi, Nabila sendiri sama sekali tidak fokus akan ucapan Elina padanya.
"Iya. Lo bisa kan nemenin gue hari ini?" Perjelas Elina kembali dan terukir senyuman di bibir mungilnya, tentu saja membuat Elina sendiri terlihat sangatlah manis.
"kemana?" tanya Nabila.
"Udah. Lo ikut aja dulu, ntar juga lo tau sendiri, " Ajak Elina dan saat itu juga ia turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Nabila, agar ia masuk ke dalam mobilnya.
"Makasih, " ucap Nabila dengan tulus.
Elina pun duduk bersamanya di jok belakang, ia menemani Nabila di sepanjang perjalanan. Berniat menghibur Nabila dengan semampu yang ia bisa. Meski Elina sendiri tau, Zahra tidak akan pernah tergantikan!
Setidaknya, Elina telah berhasil membuat Nabila kembali tersenyum bahkan tertawa, sekalipun ia tau, sebenarnya itu hanyalah kebohongan semata.
Walaupun baru tiga minggu Elina mengenal Nabila, Elina sendiri, bahkan sudah paham betul akan sifat Nabila dan di saat tiga minggu Zahra tidak ada kabar pun Nabila tetap saja dengan setianya menunggu kedatangan Zahra sampai ia kembali lagi.
Nabila tidak mengkhianati Zahra sama sekali, ia bersikap dingin kepada semua orang dan itu semua Nabila lakukan karna ia tidak ingin mengingkari janji yang telah mereka buat sebelum-sebelumnya.
ELINA POV
"Bil kita udah nyampe nih. Lo mau turun atau diem aja di dalam mobil?" Goda Elina.
"Turun-turun, " ucap Nabila dengan sontak membuat Elina bahkan, Pak Joko sendiri pun terkejut.
"Lo ngusir gue?"
"Bu..bukan. Maksud gue, iya gue ikut turun. "
"Bukan ngusir lo biar turun, " ucap Nabila dengan rasa tak enak hati. Ia takut Elina sakit hati akan nada ucapannya yang salah tadi.
"Hahahaha, iya-iya gue ngerti kok. "
"Santai aja sih, gue gak sebaperan itu, " ucap Elina untuk mencairkan suasana yang tadinya sempat sedikit menegang.
Elina dan Nabila pun turun dari mobil. Elina mengajak Nabila ke sebuah tempat yang bisa terbilang cukup menenangkan untuk hati yang sedang hancur-hancurnya, akan masalah yang selalu saja mengalir tanpa henti-hentinya.
Lalu, kemana Pak Joko? Elina menyuruhnya agar kembali ke rumah dan menjemputnya nanti, saat ia sudah usai menghibur Nabila. Dan pada saat itu juga, Pak Joko pun langsung menjalankan kembali mobilnya. Lalu, kembali ke Mansion mewah milik Thomas.
Sampainya mereka di sana, Nabila hanya terdiam seribu bahasa saat melihat tempat yang Elina maksud.
"Kok diem? Lo nggak suka ya sama tempatnya?" tanya Elina.
"Sukalah. Banget malah, nih ya suasana hati gue jadi jauh lebih tenang, " balas Nabila dengan antusias.
Elina pun ikut senang, melihat Nabila yang kembali ceria. Yang selalu antusias saat bertanya maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.
"Kalo lo ada masalah. Lo bisa cerita, anggep aja gue temen lo yang udah lama lo kenal, " ucap Elina.
"Gue. "
"Gue gak tau harus cari Zahra ke mana lagi, " ucap Nabila dengan tatapan kosong ke arah danau yang saat ini sudah ada di hadapannya. Dengan sesekali ia melempar batu-batu kecil, ke dalam danau tersebut.
"Ini salah gue Bil. "
"Gue tau lo kehilangan banget sosok Zahra, tapi gak seharusnya lo nyalahin diri lo terus-terusan, " Elina sendiri berniat menenangkan suasana hati Nabila agar tidak terus-menerus larut dalam kesedihan.
"Hm. Yaudahlah gosah dibahas lagi. "
"Makasih juga ya, lo selalu ada buat gue. Nemenin gue bahkan udah ngeluangin waktu lo, cuma buat ngehibur gue saat ini. "
"Kembali kasih Bil. "
"Kalo lo gak keberatan. Lo bisa kok curhat tentang apapun itu ke gue dan gue juga pasti bakal dengerin kalo lo butuh pendengar, " ucap Nabila dengan sangatlah jelas.
Bagaimanapun juga, Elina ialah wanita yang baik. Selama mengenalnya, Nabila sendiri tidak sama sekali merasa risih, maka dari itu Nabila sangatlah wellcome padanya.
"Makasih ya bil, " ucap Elina disertai senyum yang membuatnya semakin cantik, manis bahkan.
"kembali kasih. Anggep aja gue kakak lo, " balas Nabila. Dan karna usianya juga yang 1 tahun jauh lebih tua dari Elina.
Keduanya pun tersenyum dan Elina dengan sontaknya memeluk Nabila. Tentu saja membuat Nabila sendiri merasa terkejut. Tapi Nabila tetap harus membalas kebaikan Elina selama ini padanya dan mau tidak mau, Nabila pun membalas pelukan Elina dengan sesekali ia mengusap-usap pundak milik Elina, seperti halnya saat ia menghabiskan waktunya bersama Zahra kala itu.
Mereka terlihat seperti dua orang sahabat yang sudah berteman lama dan hal tersebut tentu saja mengingatkan Nabila kembali akan sosok Zahra.
Tak lama kemudian, Elina pun melepaskan pelukannya tadi. Lalu, kembali menatap Nabila dengan tatapan sendu.
"Bil, "
"Iya El, apa?"
"Lo mau gak kalo gue ajak mampir dulu ke rumah?" Ajak Elina.
"Sekarang?"
"Iya Bil. Udah hampir 1 bulan gue di sini, tapi belum ada juga yang mau temenan sama gue, " ucap Elina dengan raut wajahnya yang terlihat sedih.
"Ada..lo nya aja yang belum sadar. "
"Yaudah lo jangan sedih, Ada gue El. "
"Kan udah gue bilang tadi. Gue gak masalah kok jadi temen lo, " ucap Nabila dengan antusias.
"Makasih ya. "
"Sama-sama. "
Nabila sendiri tidak tega melihat Elina yang saat ini larut dalam kesedihan. Elina selalu bersikeras membuat dirinya bangkit. Membuat Nabila pun memutuskan untuk membalas budi akan kebaikan Elina terhadapnya selama 3 minggu belakangan ini.
"Yaudah yuk keburu sore, katanya pengen ke rumah lo. Gue juga pengen liat kedua orang tua lo El. "
"Pasti mamah lo cantik makanya bisa ngelahirin bidadari secantik lo. "
"Udah ah gosah nangis, cengeng amat. "
"Hm. hahaha rese banget emang, " balas Elina.
Saat itu juga, ia pun menghapus air matanya, lalu bangkit dan disusul juga oleh Nabila yang terlihat sedang menyamakan kedua langkah kakinya. keduanya pun pergi menuju arah sebrang jalan untuk menunggu kedatangan Pak Joko.
Tak lama kemudian, datanglah mobil berwarna hitam pekat dari sebrang jalan.
"Nah itu mobilnya. Ayo Bil, " ucap Elina dan ia pun dengan sontak menarik salah satu pergelangan tangan Nabila dengan begitu antusias.
Sampainya mereka di sebrang jalan. Pak joko pun keluar dari dalam mobil dan sesekali ia meminta maaf akan keterlambatannya tadi.
"Maaf ya non, saya tadi ada urusan dulu sebentar. "
"Non gak diganggu sama orang jahat kan?" ucap Pak Joko dengan penuh rasa bersalah. Karna ia telah telat 2 menit dan terlebih lagi, hanya dibalas dengan anggukan oleh Elina secara singkat.
Lalu, Joko pun membukakan pintu mobil untuk Elina dan juga Nabila.
Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka sampai di tempat tujuan. Ketiganya pun telah sampai di pintu gerbang utama, tepatnya di rumah Elina itu sendiri.
Lalu, Elina dan Nabila pada saat itu juga langsung keluar dari dalam mobil. Dan ada Joko yang kembali memarkirkan mobil majikannya di garasi.
Saat ia melihat rumah Elina, sama sekali tidak ada rasa terkejut dibenak Nabila, dikarenakan ia sendiri sudah terbiasa akan kehidupan Zahra yang terbilang sangatlah tajir-melintir.
"Yaudah masuk yuk, " Ajak Elina dengan antusias. Lalu, menarik salah satu pergelangan tangan Nabila agar ikut masuk bersama dengannya.
"Sayang Kamu dari mana aja nak?" tanya Fenita.
Terlihat ada Fenita yang sedang merapihkan rambutnya disebuah kaca besar yang terdapat di ruang tamu yang terbilang cukup megah.
"Abis main mah, oh iya kenalin. Nabila temen aku. "
"Cantik amat El, " Goda Fenita.
Tentu saja Fenita sendiri merasa senang, dikarenakan melihat Elina yang sudah kembali lagi menjadi sosok yang sangatlah periang. Mempunyai seorang teman, bisa membuat anak semata wayangnya akan semakin bersemangat dan betah di sekolah yang saat ini ia tempati.
"Ih mamah mah, aku aja jarang dikata cantik, " Kesal Elina dengan sesekali ia mengerucutkan bibir mungilnya.
"Dua-duanya cantik kok, " balas Fenita. Lalu tersenyum ke arah Elina dan juga Nabila.
"Mamah mau ke mana? kok rapih gitu?" tanya Elina.
"Maaf ya sayang, sekarang mamah gak bisa nemenin kamu sama Nabila. "
"Mamah sama papah ada urusan mendadak, ini juga mamah harus nyusul ke kantor papah kamu dulu, " ujar Fenita. Dengan sesekali, ia masih saja sibuk merapihkan rambut yang hampir sedikit rusak karna terlalu banyak bergerak sedaritadi.
"Iya mah. Gak papa, yaudah mamah hati-hati ya, Elina juga mau ajak Nabila ke kamar Elina dulu, " ucap Elina. Dan hanya dibalas senyuman manis oleh mamahnya.
Lalu, Fenita pun pergi menuju teras depan rumahnya untuk masuk ke dalam mobil dan akan menyusul Thomas, suaminya yang memang saat ini sedang menjalankan meeting di kantor miliknya sendiri.
Begitupun Elina dan juga Nabila, keduanya berjalan menaiki anak tangga dan sampainya mereka di lantai 2. Elina pun mengajak Nabila untuk masuk ke dalam kamarnya.
Saat keduanya sudah berada di dalam kamar, Nabila maupun Elina, keduanya saling mencurahkan isi hatinya satu sama lain.
Hingga pada akhirnya, Nabila sendiri harus menginap di kediaman Elina untuk sementara waktu. Dikarenakan mamahnya yang mendadak harus pulang ke kampung halaman untuk menjenguk nenek Nabila yang sedang sakit keras saat ini dan akan meninggalkan ibukota dalam jangka waktu beberapa hari.
Sudah pasti Elina sendiri tidak tega, maka dari itu, Elina menyuruh Nabila agar menginap untuk sementara waktu bersama dengannya dan meminta izin kepada Fenita dan juga Thomas terlebih dahulu.
Thomas dan Fenita pun tak merasa keberatan dan sebelum Nabila terima tawaran dari Elina, ia sudah lebih dulu menghubungi mamahnya. Meski awalnya Farida sendiri menolak, karna ia merasa hanya akan merepotkan kedua orang tua Elina.
Mau tidak mau, baik Thomas ataupun Fenita, keduanya lah yang menjelaskan dengan secara baik-baik untuk meyakinkan Farida kembali, agar Nabila bisa tetap tinggal bersama dengan Elina untuk sementara waktu, selama Farida sendiri tidak ada di Jakarta.
Farida pun berusaha memahaminya dan pada akhirnya, Farida pun megizinkan Nabila untuk menginap sementara waktu di kediaman Elina. Dikarenakan Farida sendiri juga tidak ingin mengganggu jam belajar Nabila, jika ia harus mengajak Nabila pulang ke kampung halaman bersamanya.
Dan tak lupa, Farida pun sempat menitipkan sejumlah uang kepada Fenita untuk memenuhi kebutuhan Nabila selama dirinya tidak ada.
Seiring berjalannya waktu, sudah hampir seminggu Nabila tinggal di kediaman Elina dan kabarnya hari minggu pun Farida akan datang untuk menjemput Nabila. Dikarenakan, senin pagi Farida sendiri juga sudah harus bisa masuk kerja kembali.
Selama satu minggu penuh, Elina dan Nabila pun selalu berangkat-pulang sekolah bersama dan lebih sering menghabiskan waktu bersama tentunya. Hari-hari mereka jauh lebih menyenangkan dari hari yang sebelum-sebelumnya.
Semenjak itulah, Elina dan juga Nabila, keduanya bersikap layaknya adik kakak. Mereka jadi lebih sering bertukar cerita dan terlebih lagi, saling melindungi satu sama lain.
Nabila tidak melupakan sosok Zahra. Hanya saja, jika terus-menerus harus larut dalam kesedihan, Nabila sendiri tidak bisa.
Adanya sosok Elina pun bisa membuat Nabila sendiri menjadi orang yang terbuka kembali. Bahkan, saat Nabila sudah jauh lebih dalam mengenal Elina, ternyata selain parasnya yang cantik, Elina sangatlah asik jika sudah berteman. Elina pun terlalu baik dan dari cerita-cerita yang selama ini Nabila dengar darinya, bisa digaris bawahi. Elina bodoh dalam perihal asmara.