
Di pagi hari yang cerah, di lokasi yang suasananya sangat tentram dan ditambah lagi dengan cuaca yang terbilang sangatlah mendukung untuk melanjutkan tidur kembali.
Elina memang sedang ikut dengan kedua orang tuanya ke luar kota, dikarenakan ada pekerjaan yang harus keduanya selesaikan dan tentu saja Fenita maupun Thomas tidak bisa lepas tanggung jawab dengan begitu saja.
Elina anak semata wayang dan tentu membuat keduanya khawatir jika harus meninggalkan Elina sendiri di Jakarta untuk beberapa hari. Maka dari itu, Thomas pun meminta izin ke pihak sekolah agar Elina tidak mengikuti pembelajaran untuk sementara waktu.
Elina yang sesekali membuka matanya dikarenakan adanya sorotan cahaya matahari dari jendelanya pun memutuskan untuk melanjutkan kembali tidurnya dengan posisi membalikan badan agar matanya terlindungi dari sorotan cahaya matahari yang sudah sedaritadi mengganggunya.
"Pah kok Elina belum turun juga ya?" ucap Fenita dengan posisi tangannya yang sedang memasangkan dasi ke suaminya tersebut.
"Masih tidur kali. Udah biarin aja, lagian juga kan Elina gak sekolah mah. "
"Hm..iya juga sih pah. "
"Yaudah mah. Papah berangkat dulu ya, takut telat. Nanti kalo dah sampe pasti papah kabarin lagi, " ucap Thomas lalu meninggalkan Fenita yang saat ini masih berada di meja makan dan langsung pergi menuju teras depan.
"Hati-hati ya pah, " teriak Fenita.
"Oh iya mah ada yang lupa. "
Belum saja ia sampai di depan teras rumahnya, Thomas justru kembali lagi ke meja makan. Lalu, menghampiri Fenita yang terlihat sedang mengoleskan selai pada roti yang akan ia beri nanti ke anak semata wayangnya tersebut.
"Dompet pah? Hp atau apa?"
Chup
Chup
Chup
Thomas pun dengan sontak langsung mencium kening istirinya tersebut.
"Dasar. Kirain mamah apa, " ucap Fenita yang sedikit terkejut.
Bagaimanapun juga, selama mereka menjalani rumah tangga sekitar 20 tahun lebih, Thomas memang sudah jarang melakukan hal-hal yang romantis, setelah keduanya sudah resmi menikah, dikarenakan kesibukan dari dua belah pihak juga.
"Yaudah papah berangkat mah. Assallamu allaikum, " ucap Thomas lalu pergi menuju garasi.
"Waalaikumsalam. "
Fenita pun langsung meninggalkan meja makan dan beranjak pergi menuju kamar Elina.
Sesampainya Fenita di kamar, ia melihat Elina yang masih dalam keadaan tidur dengan pulasnya dan hal itu membuat Fenita sendiri tidak tega jika harus membangunkan anak semata wayangnya.
Fenita pun kembali ke ruang makan dan membawa roti yang sudah ia olesi selai strawberry sebelumnya dan segelas susu ultramilk rasa coklat.
Dibawanya makanan tersebut dan diletakannya lah di atas meja belajar Elina dan tak lupa Fenita pun membenarkan selimut yang Elina kenakan. Lokasi yang mereka tempati saat ini letaknya disebuah puncak dan belum lagi ditambah penyejuk udara yang Elina gunakan. Tentu saja membuat Elina sendiri terlihat seperti orang yang sedang menggigil.
Setelah ia usai membenarkan selimut Elina, saat itu juga Fenita langsung menutup kembali pintu kamar Elina dengan sangatlah pelan. Fenita pun pergi menuju kamarnya sendiri untuk bersiap-siap, dikarenakan hari ini juga, Fenita harus menghadiri rapat disebuah Hotel Bahtera yang letaknya tidak jauh dari Villanya tersebut.
Villa yang saat ini mereka tempati ialah Villa yang sudah resmi milik Thomas dan yang sebelum-sebelumnya telah ia beli dari rekan kerjanya tersebut dan memang sengaja Thomas beli untuk mereka tempati saat mereka ingin berlibur di puncak suatu saat nanti.
Tak lama kemudian, Elina pun terbangun dari tidurnya.
"Huh. Harusnya kan, sekarang gue lagi di kelas bareng Nabila. "
Elina pun bangun dengan posisi duduk di atas tempat tidurnya. Lebih tepatnya mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya, ia melihat ada roti tawar dan satu gelas susu berisi penuh di atas meja belajarnya, Elina sendiri tidak terkejut akan hal itu, karna Fenita selalu melakukan hal tersebut saat Elina masih dalam kondisi tertidur.
Elina pun langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya dan menggosok gigi terlebih dahulu.
Saat sudah selesai. Elina pun kembali ke kamar tidurnya dan memang letak kamar mandi Elina menyatu dengan kamar tidurnya, jadi ia tidak harus bersusah payah untuk turun ke bawah menuju kamar mandi tamu.
Saat itu juga, Elina pun langsung menyantap roti yang sudah mamahnya sediakan tadi dan meminum habis susu coklat kesukaannya tersebut.
Usainya Elina menghabiskan sarapannya. Ia pun keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambil buah yang sebelumnya memang sudah mamahnya sediakan di kulkas dan mengambil sebuah alat pemotong buah, dikarenakan Elina sendiri terlalu malas untuk menggunakan pisau yang jelas-jelas sudah Fenita sediakan di atas meja makan.
Elina pun beranjak ke ruang tamu dan duduk di atas sofa. Lalu, mengupas buah apel yang telah ia ambil tadi dan tak lupa Elina pun memeriksa notif yang sudah sangat menumpuk di ponselnya tersebut, dikarenakan saat malam tadi, Elina terlalu sibuk. Bahkan, dirinya sangat fokus menonton drakor yang sedang ia gemari akhir-akhir ini dan tanpa ia sadar ponsel miliknya lowbat, Elina pun langsung bergegas men-charger ponselnya tersebut dan tertidur lelap dengan kondisi laptop yang masih saja menyala.
Saat Thomas ingin melihat Elina sudah tertidur atau belum, ia pun pergi ke kamar Elina untuk memastikannya dan terlihat jelas Elina yang sudah tertidur dengan pulas. Thomas pun membenarkan posisi tidur anaknya tersebut, lalu merapihkan laptop Elina yang masih dengan setianya menyala. Saat sudah selesai merapihkan dan membenarkan posisi tidur Elina, Thomas pun menutup kembali pintu kamar Elina dengan sangtatlah pelan dan beranjak pergi untuk kembali ke dalam kamarnya.
Saat Elina memeriksa pesan-pesan yang masuk, hanya pesan Nabila dan Aldo saja yang ia balas. Selebihnya, hanya ia lihat.
Bilong.
Segitu sibuknya mpe lupa dunia El, hahaha.
Elina.
Cie kangen ya hahahaha.
Aldo.
El, kapan sekolah lagi? Gue bingung harus cuci mata dimana lagi kalo gak ada lo.
Elina.
Cindy ada, Nabila ada, Clara ada gosah sedih Doo,
hahahaha.
Aldo.
Elina.
Nikung temen? Nabila jomblo woy.
Aldo.
Jomblo dari mana. Orang jelas-jelas tuh anak kemana-mana sama si Kevin kok.
Elina.
Masa sih? Yaudah gosah patah hati gitu. Lo ganteng Doo,
yang mau ma lo bukan satu dua jadi buka hati buat
yang lain ok.
Aldo.
Maunya juga sama lo El, bukan yang lain.
Elina.
Udah ah, gue masih banyak urusan. Sampai ketemu
lagi di sekolah Doo.
Aldo.
Ok El.
Elina.
Read.
Elina sendiri, sedikit terkejut saat ia tau, kalo Nabila sedang dekat dengan Kevin saat ini. Elina saja sama sekali belum kenal dekat dengan Kevin, meski ia sudah hampir satu bulan lebih sekolah di sana. Kevin terlalu dingin baginya dan hal itu tentu saja membuat Elina sendiri merasa canggung.
Hanya saja hal yang membuat Elina lebih terkejut ialah, selama ia berteman dengan Nabila. Elina sendiri sama sekali belum pernah mendengar Nabila menceritakan perihal cowok yang ia suka atau cowok yang sedang dekat dengannya dan memang terlihat jelas, Nabila sangatlah acuh akan perihal asmara. Ia tidak terlihat seperti sedang menyukai atau bahkan mencintai seseorang.
Tapi Elina pun merasa senang akan hal itu, bagaimana pun juga Nabila sahabatnya dan pasti akan selalu ia dukung setiap langkahnya.
Elina pun kembali menyantap buah yang sudah ia kupas tadi. Lalu, membaringkan badannya di atas sofa yang berukuran panjang.
Dan sesekali ia membuka instagram miliknya, karna Elina sendiri memang sangatlah jarang aktif di media sosial. Ia lebih sering menghabiskan waktunya, untuk membaca ******* dan sontak Elina pun sedikit terkejut. Dikarenakan, saat ia membuka pemberitahuan dalam instagramnya tersebut terdapat sebuah notif yang berisi..
farellabhraham dan 24 lainnya mulai mengikuti anda.
"Farel?" Elina pun langsung menampar pipinya sendiri. Dikarenakan ia percaya tidak percaya akan hal itu.
"Eh. Jangan seneng dulu, yang namanya Farel kan banyak. "
Elina pun langsung mengunjungi akun instagram tersebut, untuk memastikan benar atau tidaknya.
Usainya ia stalking, tidak ada satu foto apapun yang terdapat di dalam akun tersebut dan foto profilnya pun menggunakan gambar "captain america. "
"Udahlah males. Paling juga akun fake, " ucap Elina.
Saat Elina sedang asik-asiknya bermain Mobile legends, ia pun mendapatkan sebuah notif dari aplikasi instagram miliknya tersebut. Tapi, dikarenakan Elina masih asik dengan dunianya sendiri, ia pun memutuskan untuk mengnon-aktifkan pemberitahuan dari aplikasi lainnya untuk sementara, tanpa melihat terlebih dulu isi notif yang ia dapatkan tadi dari siapa.
Dua jam sudah Elina bermain Mobile legends. Kedua matanya pun merasa lelah, hingga ia memutuskan untuk memejamkan matanya untuk sementara waktu. Sampai pada akhirnya, Elina pun tertidur pulas dengan posisi awal yang masih terbaring di atas sofa berukuran panjang dan ponselnya yang saat ini sudah ia letakan di atas meja sedaritadi.
Saat sudah hampir memasuki alam mimpi, Elina pun terbangun. Ia dibuat terkejut akan deringan ponselnya dan tanpa berpikir panjang, Elina pun langsung mengangkat teleponnya tersebut.
"Iya halo. " ucap Elina dengan suaranya yang khas orang bangun tidur dan kembali dengan posisi kedua mata yang masih terpejam.
"Kenapa gak bales DM gue?"
Elina pun langsung tersadar dan sesekali ia tersenyum layaknya orang yang sedang kasmaran.
"Berarti bener dong, kalo yang tadi itu akun ig Farel, " batin Elina yang masih diliputi rasa percaya tidak percaya akan hal yang baru saja ia dengar.
"Farel? Eum..itu gue tuh ketiduran tadi, makanya belum sempet jawab DM lo, " ucap Elina dengan jujur.
Elina sedikit menyesal karna telah mengnonaktifkan notifikasinya tadi, kalo saja Elina tau, pasti dia tidak akan sampai ketiduran dan tentunya lebih memilih membalas DM Farel, daripada harus bermain game yang telah membuat kedua matanya menjadi lelah.
Tanpa Elina sadari, ia tertidur dengan sangatlah pulas tadi dan kembali tersadar, saat ia tau bahwa orang yang menelponnya adalah Farel, orang yang selama ini ia cari.
"Kapan pulang?" tanya Farel.
"Secepetnya, " ucap Elina dengan antusias.
"Maksud gue, besok juga pulang, " ucap Elina memperjelas kembali, akan ucapannya tadi.
"Yaudah, jaga diri lo baik-baik. Ntar gue kabarin lagi, " ucap Farel lalu mematikan panggilan tersebut dari pihaknya.
"Padahal gue baru aja mau jawab, tapi udah keburu dimatiin duluan, kok Farel berubah sih. "
"Apa udah ada orang lain yang buat dia nyaman?" ucap Elina dengan kesal.
Lalu, ia pun beranjak dari sofa dan pergi menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur yang tadi sempat terganggu akan datangnya seorang pangeran yang memang selama ini ia cari.