A LIFE FULL OF MYSTERY

A LIFE FULL OF MYSTERY
GADIS KECIL



MISTERI TERPECAHKAN.


Lalu, ada hubungan apa Elina dengan Farel? Kenapa keduanya bisa saling mengenal satu sama lain? Bahkan dalam biografi masing-masing pun sudah jelas, sangat bertolak belakang bukan? Pendidikan Elina dilanjut di Amsterdam sedangkan Farel di Berlin. Dan di mana mereka bisa saling mengenal satu sama lain sebelum-sebelumnya?


Elina sempat tinggal di Indonesia saat beberapa tahun yang lalu dan pindah ke Amsterdam saat usianya menginjak 12 tahun, dikarenakan Thomas harus mengurus perusahaannya yang terletak di Negara Kincir Angin kala itu.


Dan kembali lagi ke Jakarta saat usia Elina menginjak 16 tahun dikarenakan perusahaan milik papahnya yang telah diambil alih oleh musuh bubuyutannya itu sendiri. Maka dari itu, Thomas memutuskan untuk kembali lagi ke tanah air dan mendaftarkan Elina ke SMAN BHAKTI KENCANA untuk melanjutkan sekolahnya.


Thomas sendiri masih memiliki perusahaan yang tepatnya terletak di Negri Paman Sam. Elina pun bahkan tidak tau-menau akan hal itu. Yang Elina tau, papahnya sedang di posisi paling bawah untuk saat ini, lebih tepatnya bangkrut.


Tapi nyatanya tidak, Thomas maupun Fenita, keduanya sangat pandai dalam mengatur uang dari hasil kerja mereka masing-masing. Walau terlihat sangatlah bergelimangan harta, tetap saja, keduanya lebih banyak bekerja keras dibandingkan berfoya-foya. Mereka pun tidak terlalu begitu memanjakan anak semata wayangnya.


Dan bagaimana bisa Elina dan Farel saling mengenal satu sama lain?


Saat usianya menginjak 9 tahun, Farel sempat mengikuti ekstrakulikuler dibidang musik yang telah difasilitasi oleh pihak sekolahnya tersebut dan dengan senang hati, Farel pun memilih lebih fokus untuk mendalami cara bermain biola dengan baik dan itu memang keinginannya sendiri.


Tapi nyatanya, semuanya tidak berjalan dengan lancar, mamahnya sendiri sama sekali tidak mendukungnya. Bahkan, tidak mengizinkan Farel untuk mengikuti ekstrakulikuler itu lagi. Sekalipun Siska tau, bahwa suaminya sendiri pun pasti akan mengizinkan Farel untuk mengikuti ekstrakulikuler yang memang Farel minati.


Tapi dibalik itu semua ada alasan tersendiri. Siska hanya tidak mau jika Farel lebih mengutamakan ekstrakulikulernya tersebut. Karna yang sebenarnya Siska harap, ia hanya ingin Farel anak semata wayangnya tetap fokus dalam sekolahnya tanpa harus mengikuti ekstrakulikuler yang Farel sangat idam-idamkan.


Sampai pada akhirnya.


"Sayang ayo ganti baju dulu, " ucap Siska.


"Iya mah, " balas Farel lalu ia melangkahkan kakinya ke lantai atas menuju kamarnya tersebut.


Sampainya ia di kamar, Farel pun langsung menyimpan tasnya di atas tempat tidur. Lalu, dilanjut menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya terlebih dahulu.


Saat sudah selesainya ia mandi, Farel pun langsung mengenakan baju yang memang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari.


Kaos rajut bernuansa putih lalu dilapisi jas berwarna hitam di luarnya, membuat Farel sendiri terlihat lebih menggemaskan saat mengenakannya.


Usainya ia bersiap-siap, Farel pun turun ke lantai bawah, ia berniat untuk pamit terlebih dahulu pada mamahnya dan di sisi lain, ada Siska yang terkejut akan penampilan Farel yang sudah sangatlah rapih.


Tanpa pikir panjang, Siska pun langsung datang menghampiri Farel yang kala itu masih di atas anak tangga dan langsung dengan spontannya menanyakan hal yang membuatnya sedaritadi bertanya-tanya.


Padahal baru saja Farel berniat untuk menghampiri mamahnya, tapi justru Siska lah yang lebih dulu menghampirinya.


"Farel mau kemana kamu?" tanya Siska.


"Mau ke acara ulang tahun temen Farel mah, soalnya Farel bagian yang main biolanya, " ucap Farel dengan polosnya.


"Nggak. Kamu harus diem di rumah, nggak ada acara keluar rumah-keluar rumah. "


"Tapi mah. Farel udah janji. "


"Janji sama siapa? Masih kecil aja udah main janji-janjian, " bentak Siska.


"Terserah. Farel cuma mau pamit, bukan minta izin ke mamah, Farel pergi dulu mah, " ucap Farel lalu pergi  meninggalkan siska yang masih berdiam diri di bawah anak tangga kala itu.


"Farel.. " teriak Siska.


Siska sangatlah marah. Siska sendiri memang tidak menyukai hal-hal yang berbau alat musik apapun itu, dikarenakan ada perihal di masa lalunya yang membuat dirinya trauma. Maka dari itu, ia sangat membenci hal yang justru Farel sukai bahkan sangat Farel minati.


Tak lama kemudian, Farel pun sampai ke tempat acara ulang tahun temannya tersebut dan tanpa pikir panjang, Farel pun langsung bergegas mencari keberadaan temannya.


Terlihat jelas acara ulang tahun temannya sangatlah ramai digandrungi para anak-anak seusianya dan ada juga beberapa orang tua yang terlihat sedang mendampingi anak mereka masing-masing. Farel sedikit menyembunyikan rasa sedihnya saat ia melihat hal tersebut. Karna ia sama sekali tidak bisa merasakan sentuhan kasih sayang dari orang tuanya sendiri.


Siska maupun Zacky, mereka lebih mementingkan kariernya dan jarang sekali mereka meluangkan waktu untuk kumpul bersama. Maka dari itu, Farel bisa terbilang sangat kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Tapi bagaimanapun juga, Siska maupun Zacky mereka tetap selalu mengawasi pergaulan maupun pendidikan Farel. Hanya saja, mereka tidak bisa jika harus selalu tetap berdiam diri di rumah untuk menemani Farel setiap harinya. Dikarenakan, Siska yang berprofesi menjadi seorang Dosen di UI dan Zacky sendiri yang harus menjadi kepala sekolah di SMAN NUSA BANGSA pada saat itu.


Hal itu membuat Farel sendiri sedikit frustasi, ia jadi lebih sering menyendiri. Harus terbiasa akan hal yang selalu dikekang, terlebih lagi, ia harus selalu berdiam diri di rumah. Maka dari itu, Farel tidak mempunyai banyak teman, hanya satu dua orang yang ingin berteman dengannya. Selain daripada itu, mereka acuh. Dan sampai pada akhirnya, Farel mempunyai seorang sahabat sekaligus yang telah ia klaim menjadi gadis kecilnya.


"Waw, kamu terlihat sangatlah tampan. "


Saat itu juga, Farel dibuat terkejut, karna tiba-tiba saja ada seseorang yang  telah mengampirinya dari arah belakang dan menepuk bahu milik Farel dengan lembut.


"Eum. Makasih Elina. "


"Dan maaf El, untuk sekarang aku belum bisa ngasih kamu hadiah yang lebih, tapi aku punya ini. Aku harap kamu suka, " ucap Farel lalu membuka sebuah kotak yang terbuat dari kayu.


Farel menghadiri acara ulang tahun Elina dan ia telah berjanji dengannya. Farel akan berusaha sebisa mungkin untuk hadir di acara ulang tahunnya. Farel sendiri pun tidak ingin mengecewakan gadis kecilnya tersebut.


"Gak papa kan, kalo aku kasih ini dulu ke kamu El? Tapi ntar aku janji. Kalo aku udah punya uang sendiri, aku bakal kasih apa aja yang kamu mau, " ucap Farel dengan fokusnya memakaikan liontin yang berbentuk bulan sabit tersebut ke lingkaran leher gadis kecilnya.


"Kamu ada di sini aja itu lebih dari cukup Rel. "


"Hahah iya El, " ucapan Elina membuat Farel salah tingkah bahkan, tersipu malu.


Dan dengan senang hati Elina pun langsung memeluk Farel dengan antusias. Bagaimana pun juga, perasaan Elina tidak bisa dibohongi. Elina memang menyukai Farel dan begitupun sebaliknya.


Hanya saja, Farel belum memberi kepastian terhadapnya, dikarenakan usia mereka juga yang terbilang masih di bawah umur pada saat itu. Tapi Farel sendiri yakin, suatu saat Elina akan menjadi miliknya untuk selamanya.