
Saat Cindy dan Kevan membalikan badannya, ternyata Farel lah yang saat ini sudah berada dibalik pintu ruang pasien. Membuat, Cindy sendiri panik. Ia tau, Farel sangatlah membenci Kevan.
"Farel?" ucap Cindy dengan terkejut.
"Ngapain lo di sini?" Ketus Farel menatap Kevan dengan tatapan sinis.
"Niat gue ke sini baik. Kalo lo ngerasa keberatan, gue bakal pergi sekarang juga. "
"Gak perlu, " ucap Cindy dengan dingin.
"Kalo punya masalah pribadi jangan dibiasain ngelampiasin ke orang lain. "
Farel pun terdiam saat Cindy mengatakan hal seperti itu padanya.
"Hari ini lo aman, " ucap Farel dengan penuh penekanan.
Kevan pun melanjutkan kegiatannya kembali. Ia menyuapi Cindy dengan penuh ketulusan. Terlihat dari kedua sorotan mata Kevan saat menatap Cindy.
"Jangan bilang lo bolos?" tanya Cindy pada Farel yang terlihat masih menggunakan pakaian seragam sekolahnya.
"Bolos juga buat nemuin lo. "
"Kenapa mereka tiba-tiba baik gini sih. "
"Apa perlu gue masuk rumah sakit tiap hari, biar orang-orang perhatian ke gue. "
"Makasih sebelumnya. Tapi sekarang kondisi gue udah jauh lebih baik. Jadi lo bisa lanjutin jam pelajaran lo sekarang, " Perjelas Cindy.
"Bagus deh kalo gitu. "
"Dan lo..jaga adik gue. "
"Sampe gue denger dia kenapa-napa apalagi karna lo. Kalo sampe hal itu terjadi, detik itu juga lo habis di tangan gue. " ucap Farel dengan penuh penekanan.
Kevan sendiri tidak membalas ucapan Farel seperti biasanya. Untuk saat ini ia memutuskan untuk tidak banyak bicara. Karna kondisi Cindy yang terlihat masih kurang membaik.
"Huh. Kalo gue gak ada rasa sama adik lo. Yang ada, lo yang udah gue habisin detik ini juga. "
Farel pun pergi meninggalkan ruangan pasien. Lalu bergegas dengan cepat menuju parkiran untuk kembali ke sekolah.
"Maafin dia ya Van. "
"Kenapa harus minta maaf?"
"Bahasanya gak enak buat didenger. Gue sendiri jadi gak enak sama lo, " ucap Cindy dengan merasa bersalah akan sikap Farel tadi.
"Gak masalah. Cowok sama cowok emang gitu kalo gak suka satu sama lain. "
"Tapi gue tau kok, aslinya dia gak kek gitu, " Kevan sendiri berusaha memahami sikap Farel padanya tadi. Karna baginya, semua ada alasan tersendiri.
"Emang lo kenal deket ya sama Farel?"
"Nggak sih. "
"Dia ngelakuin itu ke gue ya karna dia sayang sama lo. "
"Gue juga kalo punya ade cewek pasti bakal kek gitu, " lanjut Kevan.
"Lo sendiri emang berapa saudara sih?"
"Setau lo?"
"Setau gue..lo cuma punya satu adik dan itu si Kevin doang, iya kan?"
"Emang iya..gue cuma punya dia doang. "
"Tapi kenapa lo berdua jarang banget gabung sih?"
"Gila ya nih cewek, keponya sampe ke ubun-ubun."
"Eh..gue banyak nanya ya? Maaf-maaf, gak usah dijawab pertanyaan gue tadi. Sekali lagi maaf ya. "
"Kenapa manis banget sih *****, " batin Kevan.
"Kevan?"
"Van?"
"Ih kok bengong sih. Emang ada yang salah ya sama muka gue?"
"Kevan!!"
"Cakep-cakep cempreng amat sih, " umpatnya yang terdengar jelas di telinga Cindy.
"Hah?"
"Hah? Eh. Maksud gue suara lo cempreng banget sih. "
"Segini merdunya. "
"Merusak dunia maksudnya?"
"Jahat banget sih. "
"Sadar kok, gue tampan emang..jadi gosah repot-repot muji gue nona. "
"Ih apa sih gajelas bat. Orang ngomong apa jawab apa. "
"Emang lo tadi ngomong apa?" tanya Kevan.
"Yang lo denger emang apa?"
"Mau gak jadi pacar gue?"
"Hah?"
"Kenapa? Kok hah?"
"Lo nembak gue? Ditempat kek gini? Apa gak terlau higienis?" ucap Cindy.
"Yang gue denger, lo tadi ngomong kek gitu. "
"Hah? Aduh..untung ni orang gak konek. Malu gue karna udah mikir dia nembak gue tadi. "
"Malah bengong. "
"Coba usahain kalo punya uang tuh tabungin. Terus beli tuh korek kuping biar gak congek doang isinya. " Sarkas Cindy.
"Bar-bar amat jadi manusia. "
"Bodo amat. "
"Yaudah lanjutin makannya. Kenapa jadi marah-marah gajelas gini coba. "
"Marah-marah gajelas dia bilang. Emang ya, cowok jaman sekarang tuh susah pekanya. "
"Padahal gue berharap tadi dia bakal nembak gue beneran. "
"Ayo buka mulutnya. "
"Sini ah. Gue bisa makan sendiri, " Cindy pun merebut sendok yang sedaritadi telah Kevan pegang.
"Gemes gue lama-lama. Gue peka, cuma belum waktunya aja. "
"Van. "
"Hm?"
"Ada yang mau gue omongin. "
"Omongin aja. "
"Gue serius. "
"Emang gue ngajak bercanda?"
"Gak jadi ngomongnya juga. "
"Dasar wanita. "
"Siapa bilang gue bencong hah?"
"Lo pms ya? Serem gue dengernya. Dari tadi marah-marah mulu perasaan. Aneh. "
"Iyain. "
"Yaudah ayo, katanya ada yang mau diomongin. "
"Dengerin ya. "
"Iya. "
"Sebenernya gue.. "
SEBUAH MISTERI.
Hal apa yang akan Cindy ucapkan pada Kevan?