A LIFE FULL OF MYSTERY

A LIFE FULL OF MYSTERY
PAPAH



Jam menunjukan pukul 07.43 WIB.


Cindy pun terbangun dari tidurnya yang sangatlah lelap sedaritadi malam dan terlihat adanya Zacky yang masih saja dengan setianya menemani Cindy dari kemarin.


"Lo pikir gue bakal terharu apa. Gak bakal, " batin Cindy.


Zacky yang masih dengan posisi badan terbaring di atas sofa berukuran minimalis pun terlihat jelas dari raut wajahnya menunjukan bahwa sebenarnya dirinya sangatlah letih.


Tentu saja tanggung jawab Zacky sebagai pemilik sekaligus kepala sekolah, membuat dirinya pun harus terus-terusan bekerja keras setiap harinya. Belum lagi otaknya yang harus selalu terus-menerus berjalan demi kemajuan pesat dalam perusahaan-perusahaannya yang terdapat di luar negri maupun dalam negri.


Cindy terus saja memandang wajah Zacky. Pria yang selama ini tinggal bersamanya dan belum sama sekali ia panggil dengan sebutan papah.


"Tapi kok gue gak tega ya lama-lama, " batin Cindy.


Zacky terbangun dari tidurnya dan langsung menghampiri Cindy yang terlihat sudah siuman.


"Gimana sekarang? Jauh lebih baik apa masih sakit?" tanya Zacky dengan penuh rasa cemas.


"Jauh lebih baik. "


"Syukurlah, papah khawatir banget sama keadaan kamu. "


"Kenapa gak pulang aja, kan aku dah gede. Bisa jaga diri, " ucap Cindy dengan dingin.


"Kalo kamu bisa jaga diri, gak bakal masuk rumah sakit. "


"Kalah cepet aja itumah, " batin Cindy.


"Mamah kapan balik?" ucap Cindy mengalihkan pembicaraan.


"Bulan depan juga balik, sabar aja ya sayang. "


"Ih apaan sih, sayang-sayang, " Ketus Cindy.


"Kamu kan anak papah, anak perempuan satu-satunya, orang tua yang lain juga gitu kok. "


"Terserah. "


"Papah paham, kamu masih belum bisa nerima papah maupun Farel. "


"Papah sendiri gak masalah kalo kamu dingin sama papah, cuma papah minta tolong. "


"Apa?" Ketus Cindy.


"Jadi papah harap, coba kamu usaha buat nerima Farel sebagai layaknya kakak kamu sendiri. Gak ada perbedaan di antara kalian. Dimata papah, keduanya sama. "


"Sial, " batin Cindy.


"Iya sih bener juga, duh gue jadi tambah gak tega gini, tapi gue masih gengsi, " batin Cindy.


"Gak janji, " balas Cindy dengan singkat.


"Yaudah, lupain aja jangan dibahas sekarang. "


"Kamu juga perlu istirahat yang cukup, jangan terlalu mikirin yang nggak-nggak, biar kamu juga cepet sembuh ya nak. "


"Nak? " batin Cindy.


"Kamu mau dibawain apa? Papah ada meeting mendadak soalnya, jadi harus pergi sekarang. "


"Tapi, ntar kalo dah beres pasti bakal papah usahain dateng ke sini lagi. "


"Ehm. Gak usah, yang penting pa..papah bisa balik lagi ke sini. "


"Papah? Kamu udah mau nyebut papah dengan sebutan papah?"


"Hm. Iya. "


Selama mereka tinggal bersama, Cindy memang tidak pernah menyebut Zacky dengan sebutan papah. Jangankan menyebut papah, memulai percakapan terlebih dahulu pun ia sangatlah gengsi.


Tapi sekarang, Cindy sendiri mulai membuka hatinya dan menerima semua kenyataan yang memang seharusnya sudah ia ikhlaskan sedaridulu.


"Maafin Cindy ya pah. "


"Kenapa harus minta maaf? Harusnya papah yang minta maaf. "


"Cindy udah jahat sama papah maupun Farel selama ini. "


"Nggak usah dibahas lagi, yang terpenting sekarang kamu udah gak dingin sama papah juga itu udah lebih dari cukup. "


Cindy pun dengan sontak langsung memeluk Zacky dan tentu saja Zacky membalas pelukan Cindy dengan penuh rasa kasih sayang, layaknya orang tua kepada darah dagingnya sendiri.


Dan memang untuk pertama kalinya, Zacky melihat Cindy senyum dengan sangatlah tulus bukan lagi dengan senyuman smirk andalannya.