A LIFE FULL OF MYSTERY

A LIFE FULL OF MYSTERY
KONFLIK



Kondisinya yang sudah terbilang cukup membaik pun, membuatnya memutuskan untuk lanjut mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolahnya kembali.


Tapi tidak dengan pikiran Farel, alih-alih mendukungnya, Farel justru menyuruh Zahra untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah lain.


Hal itu pun membuat Zahra sendiri merasa kesal. Zahra sudah lama berjuang agar dirinya lekas sembuh dan bersikeras untuk bisa beraktifitas kembali bersama sahabatnya yaitu Nabila. Tapi, kekasihnya sendiri pun malah menyuruhnya untuk tidak satu sekolah lagi dengannya.


Sampai pada akhirnya, terjadilah sebuah adu cekcok antara Farel dan juga Zahra.


"Kok gitu sih? kamu takut semua orang tau yang sebenernya hubungan kita?"


"Bukan gitu sayang. "


"Terus apa?"


"Nih ya dengerin, aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa, pokoknya kamu nurut aja ya. "


"Toh ini demi kebaikan kamu kok, " ucap Farel dengan sangat lembutnya dan memposisikan kedua tangannya tersebut dengan ikut serta memegang kedua bahu milik Zahra.


"Tapi aku pengen ketemu Nabila. Kamu tau sendiri, aku gak ada temen selain dia. "


"Kan ada aku sayang. "


"Pacar sama temen itu beda Rel. Aku juga takut, kalo Nabila mikir yang nggak-nggak, karna udah 2 bulan aku gak ngabarin dia. "


"Bakal aku jelasin semuanya ke dia nanti dan aku pastiin dia bakal ngertiin kamu, " balas Farel dengan kedua tangannya yang sedaritadi sibuk mengusap air mata yang selalu saja berjatuhan dari kedua mata gadisnya tersebut.


"Emang kenapa sih Rel? Kenapa tiba-tiba kamu nyuruh aku pindah sekolah?"


"Apa jangan-jangan. Selama aku gak ada di sekolah, kamu selingkuh?"


"Ntar juga kamu bakal tau Zah, " batin Farel.


"Udah ah. Jangan nangis, ntar kalo aku makin sayang, repot Ra, " goda Farel.


"Gue lagi nangis-nangisnya dan dia masih aja sempet-sempetnya gombal, " batin Zahra yang bingung akan pemikiran kekasihnya tersebut.


"Yaudah iya. Aku bakal pindah sekolah, " ucap Zahra dengan pasrahnya.


"Nah gitu dong, kan jadi nambah falling in love ke akunya juga. "


"Tapi dengan satu syarat, " ucap Zahra dengan dingin.


"Apapun syaratnya, bakal aku penuhin, " ucap Farel disertai senyuman yang terukir di bibirnya dan sangatlah tampan jika diperpadukan dengan paras yang ia miliki.


"Izinin aku buat seminggu ini sekolah di tempat yang sama, " Perjelas Zahra disertai dengan ekspresi puppy eyes yang membuat Farel sendiri pun luluh.


"Nggak!" ucap Farel dengan tegasnya.


Ia pun pergi meninggalkan Farel yang masih terdiam disebuah ruang tamu yang terbilang cukup megah, tepatnya di rumah Zahra itu sendiri.


Zahra pun naik ke tangga menuju lantai dua dan sampainya ia di depan pintu kamar tidurnya, Zahra pun langsung masuk dan sontak mengunci pintu kamarnya tersebut dari dalam.


Tak lama kemudian, Farel pun menyusul Zahra ke kamarnya dan saat Farel mencoba membuka pintunya, ternyata sudah terlebih dulu dikunci dari dalam oleh kekasihnya sendiri.


Tidak terhitung sudah berapa kali Farel memanggil nama Zahra, tetap saja tidak ada sahutan dari gadis manisnya tersebut dan hal itu pun tentu saja membuat Farel sendiri sangatlah frustasi. Ia bingung harus bagaimana lagi, tapi semua yang ia katakan tadi memang ada alasan tersendiri baginya.


Zahra yang sangatlah berat matanya dikarenakan terlalu banyak mengeluarkan air mata sedaritadi, akhirnya pun memutuskan untuk membaringkan badannya dan memejamkan kedua matanya untuk menuju alam mimpi. Setidaknya hal itu bisa membuat dirinya sedikit membaik, pikirnya.


Sedangkan Farel, ia masih saja dengan setianya duduk di depan pintu kamar gadisnya tersebut dan seketika muncul dibenaknya, lalu meninggalkan Zahra yang masih di dalam kamarnya tersebut. Farel pergi menuju mobil yang sebelumnya ia parkirkan di garasi depan.


Alih-alih meninggalkan Zahra atau pulang ke rumahnya, Farel malah kembali dan membawa sebuah kunci yang memang sengaja sudah ia gandakan sedaridulu dan memang sudah ia pastikan untuk waspada jika terjadi hal yang seperti ia alami saat ini. Farel sendiri baru saja mengingatnya tadi.


Farel pun membuka pintu kamar Zahra dengan kunci ganda yang ia buat saat itu dan tentu saja memang sudah jadi kebiasaan Zahra setelah mengunci pintu kamarnya dari dalam, ia selalu saja melepas kunci tersebut dari pintu itu sendiri dan menaruhnya di atas meja belajar. Tentu saja hal itu mempermudah Farel untuk membuka pintu dengan kunci ganda miliknya tersebut.


Ceklek


Pintu pun terbuka dan Farel membuka pintu kamar Zahra dengan sangatlah pelan, hingga tidak menimbulkan suara.


Farel pun terdiam dan terukir senyuman dari wajah tampannya, ia menghampiri Zahra yang terlihat jelas sedang tertidur dengan pulasnya dan tentu saja membuat Farel sendiri menjadi kembali tenang akan kekhawatirannya pada gadisnya tersebut.


Wajahnya yang sangat tentram membuat Farel pun semakin jatuh hati dan membuat Farel sendiri tidak bisa berpaling untuk mengalihkan tatapannya sedaritadi.


Krik


Krik


Krik


Suasana pun hening. Tapi hal itu justru membuat Farel sangatlah nyaman saat dirinya di dekat Zahra.


Sampai pada akhirnya, Zahra pun mengeluarkan dengkuran halus yang membuat Farel sendiri semakin gemas.


Dan sesekali, Farel pun mengusap-usap rambut milik Zahra dan tentu saja hal itu membuat Zahra semakin terlelap dalam tidurnya.


2 jam berlalu, tiba-tiba saja ada yang menelponya dari sebrang sana. Mau tidak mau, Farel pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, dikarenakan masih ada urusan yang harus ia urus pada saat itu juga.


Farel pun memakaikan selimut dan menutupi semua badan gadisnya tersebut sampai leher. Lalu mencium kening milik Zahra dan menutup kembali pintu kamarnya dengan sangatlah pelan.


Farel berjalan menuju garasi dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangatlah tinggi.


SEBUAH MISTERI.


Hal apa yang membuat Farel sendiri menjadi kembali cemas? Dan siapa yang telah menelponnya tadi?