
Elina terlihat sedang berbicara dengan seseorang di luar kelasnya. Zahra yang sadar akan hal itupun dengan sontak menyipitkan kedua matanya untuk memastikan lebih lanjut siapa yang sedang Elina temui.
Zahra yang penasaran pun, mau tidak mau pergi meninggalkan Nabila lalu menghampiri Elina. Nabila sendiri tidak masalah, bahkan, tidak menaruh rasa curiga. Dikarenakan ada Kevin yang sudah sedaritadi menemaninya.
Semua siswa berada di dalam, di depan teras kelas, terlihat hanya ada Elina dan orang yang saat ini ia temui. Elina terdengar sedang berbicara dengan nada yang sedikit penuh penekanan dengan orang yang sedang bersamanya saat ini.
"Lo sendiri yang pengen dapetin dia, tapi sekarang lo juga yang ngejauhin. "
"Gue cuma mau lupain dia, sekalipun dia balik ke dalam pelukan gue juga ya percuma Hans. " ucap Elina.
Hans? Seseorang yang Elina temui saat ini memanglah Hans. Tangan kanan Elina itu sendiri.
Sampainya Zahra dibalik pintu kelas, Zahra pun sempat sedikit menguping pembicaraan Elina dengan orang yang Elina temui saat ini.
Zahra sendiri belum mengetahui pasti, siapa orang yang sedang berbicara dengan Elina di depan kelas dan tentunya terlihat sangatlah mencurigakan bagi dirinya.
"Kalo lo emang bener sayang, lo pasti bakal perjuangin, mau segimanapun juga. "
"Gue udah berjuang selama ini, tapi nyatanya dia malah ngehianatin gue. " ucap Elina dengan sendu.
"Bentar-bentar. Kok kayak gak asing ya suaranya, " batin Zahra.
Dikarenakan rasa penasarannya yang begitu besar. Zahra pun memutuskan untuk melihat siapa orang yang Elina temui, untuk memastikan suara yang menurutnya tidaklah asing di telinganya.
Deg
Betapa terkejutnya Zahra saat ia melihat dengan kedua matanya sendiri dan lagi-lagi harus menerima kenyataan bahwa Hans lah yang sedaritadi berbicara dengan Elina.
Zahra pun langsung menghampiri ke sumber suara tadi berasal.
"Lo kenal?" tanya Zahra dengan kedua matanya yang menatap Hans dengan penuh rasa heran.
"Iya. " ucap Hans dengan dinginnya.
"Iya gue kenal sama dia. " Perjelas Hans.
"Sial, " batin Zahra.
Elina dan Zahra pun saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang sulit diartikan.
Zahra yang tidak menyukai hal basa-basi pun langsung menanyakan perihal ucapan Farel tadi pagi pada Elina. Dan menghiraukan, akan penjelasan Hans tadi padanya.
"Ada hubungan apa lo sama cowok gue?" tanya Zahra.
"Seperti yang tadi pagi lo lihat. "
"Gue minta lo jelasin sekarang juga. "
Elina pun menceritakan semuanya dengan secara detail.
Skip
Zahra yang mendengarnya pun merasa tidak tahan akan kenyataan yang sebenarnya. Dikarenakan, selain Farel menjadikannya pelampiasan di saat peran utama tidak ada, Farel pun telah membohongi Zahra dengan pernyataan bahwa dirinyalah cinta pertama Farel.
Dan terlebih lagi, sekarang ia harus mengetahui semua faktanya dari mulut orang lain. Padahal Farel sendiri sudah berjanji akan menjelaskannya nanti, hanya saja rasa penasaran lah yang membuat hati Zahra sendiri tidak tenang sedaritadi. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menggunakan waktu dengan sebaik-mungkin, dengan cara menanyakan secara langsung kepada salah satu pihak yang memanglah bersangkutan.
"Tapi lo tenang aja, gue gak bakal rebut dia dari lo. " lanjut Elina.
"Tapi maaf. Gue gak yakin sama ucapan lo tadi. "
"Gue gak nyuruh lo yakin sama ucapan gue. Karna gue bakal buktiin itu semua, jadi bukan cuma omong kosong. "
"Bukannya lo suka sama Farel?"
"Jadi perebut, bukan gue banget. " Sarkas Elina. Yang sebenarnya, ia sedikit menyindir keras pada Zahra, orang yang telah merebut miliknya selama ini.
"Gue pegang omongan lo. "
"Dan lo Hans. kenapa lo jahat banget hah?" ucap Zahra.
"Jahatnya?"
"Lo tau semuanya, tapi kenapa lo nutupin semuanya dari gue?"
"Cinta itu buta. Mau segimanapun orang lain ngasih tau yang sebenernya, kemungkinan besar bakal masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. "
"Seenggaknya lo ngasih tau gue lah. "
"Kan gue dah ngasih tau lo dengan cara nyuruh ke rooftop tadi pagi. "
"Lo sebenernya berpihak ke siapa sih. Kalo gini caranya lo tuh kayak yang ngadu domba tau nggak, " ucap Elina.
"Gue gak berpihak ke siapapun. "
"Tapi lo waktu itu nyulik dia demi gue, terus sekarang lo bilang gak berpihak ke siapapun. "
"Gue bantu lo bukan berarti gue berpihak ke lo. "
"Nyulik? Siapa yang lo culik Hans?" tanya Zahra dengan penuh rasa syok.
"Udahlah bodo amat, lagian kenapa gue **** banget sih. Pake keceplosan segala, " batin Elina.
"Cindy, " Perjelas Hans.
"Gila lo. Benci gue sama lo Hans, gue kira lo baik ternyata.. lo lebih busuk dari seorang pembunuh. "
"Baguslah, kalo lo benci. "
Zahra pun sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar semua jawaban Hans dengan sangatlah tenang tanpa ada rasa gugup ataupun merasa bersalah.
"Gila ya ni orang, apa dia salah satu dari psikopat di dunia ini, " batin Zahra.
"Iya. Gue benci banget sama lo sekarang. Jangan lagi-lagi lo hubungin gue, " ucap Zahra dengan penuh kekecewaan.
"Dengan senang hati. "
"Lo sendiri yang bilang tadi, kalo emang bener sayang lebih baik diperjuangin tapi sekarang? Lo sendiri yang malah mau ngejauh. Manusia aneh, " Sarkas Elina.
"Elina, " bentak Hans dengan seketika panik.
"Apa maksud lo?" tanya Zahra dengan menatap tajam ke arah Elina.
"Cinta pertama Hans itu lo. Dan dia jadiin Cindy pelampiasan biar bisa lupain lo, " Perjelas Elina.
Dari mana Elina tau? Hans bukanlah orang yang terbuka, ia cenderung introvet, hanya saja, Elina juga bukanlah orang yang bodoh. Ia cerdas dalam menelaah. Terlihat jelas terdapat banyak foto-foto Zahra yang terpajang di dalam dinding kamar Hans. Elina pun menyadarinya saat dirinya salah memasuki kamar di apartemen Hans pada saat ia mengunjungi Cindy kala itu.
Tentu saja Elina sendiri terkejut. Ia pun dengan spontan langsung meminta penjelasan ke Hans mengenai hal tersebut saat itu juga.
Hans yang tadinya masih tidak bisa mempercayai Elina sepenuhnya, mau tidak mau Hans pun membuka suara, dikarenakan ancaman yang mendesak dari Elina.
Ancaman Elina ke Hans ialah, jika Hans masih saja tidak ingin memberi tahunya, Elina dengan secara tidak segan-segan akan memberi tau Zahra perihal itu. Hans yang tidak ingin Zahra mengetahuinya pun, mau tidak mau dirinya harus membuka suara. Hans menceritakan semuanya ke Elina. Dan betapa terkejutnya, saat ia mengetahui Zahra lah cinta pertama Hans.
Zahra pun terdiam seribu bahasa. Baginya, sosok Hans sudah ia anggap layaknya kakak kandungnya sendiri, tapi sekarang, ia sudah lebih dulu mengetahui perasaan Hans padanya saat ini.
"Apa bener Hans?" tanya Zahra untuk memastikan.
"Hm..iya Zah. "
"Lo bisa jauhin gue kalo lo emang udah bener-bener benci sama gue sekarang, " lanjutnya.
Mungkin salah satu faktor Hans membantu Elina juga, dikarenakan adanya peluang besar untuknya mendapatkan hati Zahra, pikirnya.
Elina yang melihat adanya sebuah drama genre romantis di hadapannya pun memutuskan untuk kembali ke dalam kelas. Elina sendiri, berniat tidak ingin merusak suasana dan lebih baiknya untuk tidak ikut campur lagi ke dalam urusan percintaan Hans maupun Zahra.
"Hans.. " ucap Zahra lalu memeluk Hans dengan erat dan air mata pun sukses jatuh dikedua pipinya.
Tanpa berpikir panjang Hans pun membalas pelukan Zahra dengan salah satu pergelangan tangannya yang sedaritadi mengusap-usap rambut Zahra, bertujuan untuk menenangkan.
"Maafin gue.. " ucap Zahra.
"Gue yang harusnya minta maaf. "
"Gak seharusnya gue ada rasa sama orang yang udah punya pacar. "
"Hans.. " Masih dengan air mata yang selalu saja berlinang dari kedua matanya.
"Udah udah, jangan nangis. Kalo lo nangis, hati gue sakit liatnya. "
Dibalik itu semua ada seseorang yang sudah sedaritadi memperhatikan Zahra maupun Hans. Dengan posisi kedua tangan yang mengepal dan wajah yang sudah merah padam.
"Gue pastiin lo gak bakal bernafas dengan tenang malam ini. " ucap seseorang dari sebrang sana.
SEBUAH MISTERI.
Wajahnya yang tampan bak pangeran, apakah sebenarnya ada jiwa psikopat dalam diri Farel? Kata-kata seram selalu saja ia ucapkan saat emosinya sedang memuncak.
Setelah Zahra mengetahui semuanya, apakah Hans akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan cinta Zahra dalam waktu dekat? Atau justru sebaliknya.