
Jam menunjukan pukul 04.25 WIB.
Nabila pun terbangun dari tidurnya dan dibuat terkejut akan sosok Kevin yang sedang menjalankan ibadah sholat subuh dan dilanjutkannya lah dengan tadarus.
Nabila yang menyadari hal itupun, langsung terdiam seribu bahasa, dikarenakan menurutnya Kevin ialah sosok yang sempurna.
Dan saat Kevin sudah selesai menjalankan ibadah sholatnya, Nabila pun langsung menghampiri Kevin dan meminta penjelasan kembali, kenapa bisa dirinya tidur di sebuah kamar yang terbilang cukup mewah, sedangkan Nabila sendiri sudah memutuskan untuk tidur di depan pintu apartemen kevin tadi malam. kevin pun menjelaskannya dengan secara detail.
"Aduh. Jangan baper Bil, ayolah hati lo kuat, jangan lemah napa, " batin Nabila saat mendengar semua penjelasan secara detail dari mulut Kevin itu sendiri.
"Daripada lo di sangka gembel. Emang mau?" sarkas Kevin.
"Ya nggaklah. Gila kali lu. "
"Lagian, tidur kayak ******. Ada kebakaran sekalipun, kayaknya gak ngejamin buat lo bangun. "
"Ya kalo ada kebakaran, pastinya gue bangunlah. "
"Iya terserah lo aja Bil. "
"Masih malem, kenapa bangun?"
"Gue tadi denger ada suara yang lagi ngaji. Eh pas gue bangun, ternyata lo yang ngaji, " ucap Nabila dengan penuh rasa kagum.
"Biar di dalem diri lo gak ada setannya lagi. "
"Ih ngeselin banget sih lo. "
"Gosah marah-marah, masih terlalu pagi buat gue makin jatuh cinta ke lo, " ucap Kevin, lalu meninggalkan Nabila dengan begitu saja.
"Makin jatuh cinta? Maksudnya?" ucap Nabila yang bingung akan perkataan yang Kevin lontarkan tadi padanya.
"Kalo makin. Berarti emang udah cinta dong? Eh, apa gimana sih? Tau ah gak paham gue, " ucap Nabila.
Nabila pun pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya tersebut. Dan akan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah hari ini.
...***...
Kevin pun kembali ke kamar utamanya, mengambil sebuah seragam yang akan Nabila kenakan nanti dan memang sudah Kevin siapkan dari sebelum-sebelumnya.
Lalu ia pergi menuju kamar khusus pribadinya, yang tadi malam Kevin dan Nabila tiduri.
Sampainya ia di kamar, Kevin pun terdiam seribu bahasa, saat melihat Nabila yang hanya menggunakan handuk setengah badan dan terlebih lagi dengan kondisi rambutnya yang masih terbilang sangatlah basah.
Ahhhh
Nabila yang sadar akan hal itupun, langsung berteriak dengan sekeras mungkin. Lalu menutup seluruh badannya dengan selimut yang tadi malam Kevin kenakan.
Kevin hanya terdiam dan meletakan seragam Nabila yang sudah ia bawa tadi, diletakannya lah di atas kasur.
Lalu pergi meninggalkan Nabila tanpa sepatah dua patah pun dan tak lupa, Kevin menutup pintu kamarnya kembali, lalu bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan yang akan keduanya santap nanti.
Sedangkan Nabila, tentu saja ia masih sangat syok akan kejadian yang baru saja menimpannya. Lalu dengan secepatnya ia menggunakan seragam yang sudah Kevin letakan di atas kasur.
"Dia beliin seragam buat gue. Niat amat. "
Dan lagi-lagi ia pun mengingat kejadian tadi. Sudah Nabila sendiri pastikan, rasa malu yang teramat dalam, akan membuatnya kembali canggung saat di hadapan Kevin nanti.
"Aduhhh. Malu kan gue, harus gimana lagi coba, bener-bener malu, " batin Nabila disertai tangannya yang sedang sibuk menyisir rambut panjangnya yang terurai, lalu diakhiri dengan mengikat rambut yang sudah ia keringkan sebelumnya.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara ketukan dari luar pintu kamar.
"Aduhh. Gimana nih, " batin Nabila dengan sibuknya berjalan ke sana-ke mari, dikarenakan ia masih malu akan kejadian tadi.
"Bil lo gak kenapa-kenapa kan? Yuk makan. Ntar telat, " Ajak Kevin dari luar pintu kamar khusus pribadinya tersebut.
Tidak dikunci memang, hanya saja Kevin tidak ingin jika hal tadi terulang kembali. Ia paham Nabila sangatlah malu saat ini.
Ya walaupun sebenarnya hal itu membuatnya sedikit terangsang, tapi Kevin pun telah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan merusak Nabila sebelum Nabila resmi menjadi pasangan hidupnya kelak nanti.
Ciuman dan pelukan adalah hal lumrah baginya. Tapi, untuk perihal membuat Nabila tidak bisa jalan dalam jangka waktu seminggu, ia akan menahan nafsunya sampai Nabila sendiri resmi dengannya nanti.
Nabila kikuk, ia kehabisan kata karna rasa malu yang membuat otaknya sedikit susah untuk berpikir harus menjawab dengan kata apalagi. Sampai pada akhirnya ia pun berteriak dari dalam kamar yang saat ini ia tempati.
"Hah? Eh, iya iya. Lo duluan aja, ntar gue nyusul. "
"Yaudah. Jangan lama-lama, lo harus sarapan, " ucap Kevin.
Saat itu juga, Kevin pun meninggalkan pintu depan kamar miliknya yang masih saja tertutup dan kembali ke meja makan.
"Kenapa dia kayak yang biasa aja, apa dia gak normal. "
"Iss, gue benci dengan pikiran gue sendiri. Baguslah kalo gitu, jadi ke gue nya juga, gak begitu gugup nantinya. "
"Tarik napas. Huh, buang, " ucap Nabila yang sedang berusaha untuk tidak segugup mungkin di hadapan Kevin nanti.
Nabila pun keluar dari kamar. Lalu pergi menuju meja makan untuk menghampiri Kevin yang terlihat sedang sibuk dengan ponselnya saat ini.
Dan sampainya Nabila di meja makan, Kevin pun langsung mempersilahkan Nabila untuk duduk dan sarapan bersama dengannya pagi ini.
Keduanya pun saling menyantap nasi goreng yang sudah Kevin buat sebelum ia mandi tadi. Kejadian tadi pagi, tentu saja membuatnya keduanya kembali canggung untuk menyapa satu sama lain.
Hingga pada akhirnya, piring keduanya pun bersih dan tanpa pikir panjang, dengan sontak Kevin memegang salah satu pergelangan tangan Nabila, untuk meyakinkan agar Nabila tidak takut lagi dengannya.
"Jadiin pelajaran aja buat ke depannya, lo gak usah malu soal itu, gausah di inget-inget lagi. Gue sendiri aja udah lupa. "
"Tap..tapi gue malu banget Vin, " ucap Nabila dengan sedikit menundukan kepalanya.
"Udah-udah, yuk ah berangkat. Emang lo mau apa, kalo harus keliling lapangan di jam pelajaran?"
"Nggak, " ucap Nabila.
"Yaudah ayo. "
Kevin pun langsung menggenggam salah satu pergelangan tangan Nabila dan menuju arah parkiran. Nabila tersenyum simpul, akan tindakan yang Kevin lakukan padanya saat ini, setidaknya ia tidak salah dikarenakan sudah menyukai Kevin.
"Pantes aja Zahra tergila-gila sama lo. "
Keduanya pun berjalan menuju arah parkiran dengan raut wajah yang terlihat jelas bahagia.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke parkiran, saat itu juga, Kevin pun memutuskan untuk menggunakan motor dan Nabila dengan senang hati menerima keputusan Kevin. Dikarenakan, menurut keduanya, menggunakan motor tidak akan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sekolah.