
Masih dengan penuh rasa emosinya yang ia pendam. Tak lama kemudian, sampailah Farel di rooftop, ia pun langsung menghampiri Elina yang memang sudah sedaritadi menunggunya.
"Udah lama?" tanya Farel.
"Lumayan. "
"Ada yang mau gue omongin ke lo. "
"Omongin apa yang mau lo omongin. Gue gak ada waktu buat bahas hal-hal yang gak penting, " ucap Elina dengan dingin.
"Itu kan kata-kata gue *****, " batin Farel.
"Lo dendam?" tanya Farel.
"Menurut lo?" ketus Elina.
"Itu kan kata-kata yang selama ini gue ucapin ke lo. "
"Emang ada hak ciptanya?" Ketus Elina.
"Dasar cewek!"
"El gue belum jelasin semuanya, gue harap lo dengerin gue dulu. "
"Langsung ke intinya aja. " ucap Elina.
3 menit berlalu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Farel, sehingga membuat Elina sendiri merasa kesal karna waktunya yang telah terbuang sia-sia.
"Gajelas, " ucap Elina lalu melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelas.
Belum saja Elina sampai tangga, Farel sudah lebih dulu menahannya, dengan memegang salah satu pergelangan tangan milik Elina.
"Gue belum aja ngomong sepatah-dua patah pun, tapi lo udah pergi gitu aja, " ucap Farel.
"Lo denger gak sih hah? Langsung ke intinya aja, " ucap Elina dengan penuh penekanan.
"Gue sayang sama lo El, " ucap Farel serta menatap kedua mata Elina saat ini dengan sendu.
"Tapi gue nggak, " ucap Elina dengan dinginnya.
"Baru aja kemaren lo bilang lo masih ada rasa ke gue. Tapi sekarang?" ucap Farel dengan sedikit mengkerutkan keningnya.
"Kemarin ya kemarin, sekarang ya sekarang!"
Farel pun terdiam seribu bahasa saat Elina menjawab semua pernyataannya dengan jawaban yang tidak ia duga sebelum-sebelumnya.
Elina yang sadar akan hal itupun langsung melanjutkan kembali perkataannya tadi dan sontak membuat lamunan Farel sendiri pun buyar.
"Kenapa diem?" tanya Elina.
"Secepet itu lo lupain gue?" tanya Farel.
"Hm. Pertanyaan konyol, " Sarkas Elina.
"Gue serius El sama perkataan gue tadi. "
"Percuma Rel. Lo udah punya pacar, sadar coba sadar. "
"Tapi gue cuma jadiin dia pelampiasan dari awal juga, sekalipun gue udah sayang sama dia. Tapi rasanya gak sama kek rasa sayang gue ke lo El. "
"Mending lo pergi dari hadapan gue sekarang juga, sebelum semuanya jadi bencana buat diri lo sendiri. "
"Maksud lo?" tanya Farel yang semakin dibuat heran akan sikap Elina padanya di pagi hari ini.
Tak lama kemudian, Elina pun pergi meninggalkan Farel yang masih di bawah anak tangga, tanpa menjawab pertanyaan Farel padanya tadi.
Farel sendiri hanya bisa terdiam dengan wajah membeku dan masih dengan setianya menatap dengan tatapan sendu ke arah Elina yang terlihat sudah jauh dari titik letak di mana ia berdiri sekarang.
"Kenapa jadi lo yang dingin, " batin Farel.
"Hm. Bagus banget serial dramanya. "
Farel pun dikejutkan dengan adanya suara yang sangatlah tidak asing di telinganya tersebut. Dengan sontak ia membalikan badannya untuk memastikan terlebih dahulu akan suara yang baru saja ia dengar.
"Zahra. " kedatangan Zahra membuat Farel sendiri menjadi sangatlah terkejut. Ia takut jika kekasihnya telah mendengar semua yang ia ucapkan pada Elina tadi.
"Masih ada berapa skrip lagi yang harus dituntasin?" Ketus Zahra.
"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Farel.
FLASHBACK ON
Kevin yang senang akan cintanya yang telah diterima pun dengan sontak langsung menggendong Nabila ala bridal style dan membawanya pergi menuju taman sekolah.
Keduanya pun terlihat sangatlah bahagia satu sama lain. Sedangkan Zahra, ia sedang berbicara dengan seseorang ditelepon.
Panggilan terhubung.
"Hallo?" ucap Zahra.
"Ke rooftop sekarang juga. "
"Harus banget sekarang?"
"Ke sini nggaknya itu hak lo, cuma ya sayang aja kalo moment-moment yang kayak gini dilewatin. "
"Emang ada apaan sih?"
"Ke sini aja dulu, gosah banyak nanya. "
Panggilan pun dimatikan dari pihak yang menelpon Zahra tadi.
"Kok perasaan gue gak enak ya. Keknya gue harus ke rooftop sekarang juga, " batin Zahra.
Zahra pun meninggalkan kelas lalu pergi menuju rooftop sekolah. Dan sampainya ia di sana..
"Farel, " ucap Zahra dengan terkejut akan adanya Farel yang terlihat sedang bersama Elina saat ini.
"Kok Farel bisa sama Elina? Katanya Elina lagi ke luar kota. "
Zahra yang tadinya ingin menghampiri Farel pun dengan sontak terdiam di tempat saat ia mendengar perkataan Farel yang begitu jelas terdengar di telinganya.
"Secepet itu lo lupain gue?" tanya Farel.
"Hm. Pertanyaan konyol, " Sarkas Elina.
"Percuma Rel. Lo udah punya pacar, sadar coba sadar. "
"Tapi gue cuma jadiin dia pelampiasan dari awal juga, sekalipun gue udah sayang sama dia. Tapi rasanya gak sama kek rasa sayang gue ke lo El. "
"Pelampiasan?" ucap Zahra dari sebrang sana.
"Jadi selama ini.. "
Zahra sangatlah syok saat ia mendengar semua pernyataan yang baru saja Farel katakan pada Elina. Ia hanya bisa terdiam seribu bahasa dan berusaha menahan emosinya terlebih dahulu sebelum mendengarkan semua percakapan antara Farel dan Elina sampai selesai.
Elina yang sadar akan adanya Zahra dibalik pintu pun langsung memutuskan untuk pergi meninggalkan Farel, sebelum semuanya akan jadi bencana lagi untuknya.
Nabila sudah Elina anggap sebagai kakaknya sendiri. Tentu saja, hal itu membuatnya harus mengalah untuk mendapatkan cinta Farel dan terlebih lagi, ia harus menerima kenyataan atas kebahagiaan yang Zahra dapat saat ini.
Saat Zahra sadar Elina sudah tidak terlihat lagi di permukaan, Zahra pun langsung menghampiri Farel dan meluapkan semua emosi yang sudah sedaritadi ia tahan.
"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Farel kembali.
"Gosah mengalihkan pembicaraan, " ucap Zahra dengan kesal.
"Aku bisa jelasin semuanya, kamu tenang dulu ok. "
"3 tahun lo cuma jadiin gue pelampiasan? Dan betapa begonya gue kenapa harus sepenuhnya percaya sama orang kek lo. "
"Gak seperti yang kamu pikir Ra, dengerin dulu coba. "
Farel sendiri merasa frustasi akan tindakannya tadi. Di sisi lain perasaanya baru saja dicampakan oleh cinta pertamanya dan sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya sendiri pun sudah mulai mengetahui yang sebenarnya.
"Gue udah denger semuanya. Apa lagi yang harus dijelasin. "
"Dengerin dulu penjelasan aku. "
"Penjelasan apa lagi Rel? Semuanya udah jelas. "
"Lo cuma jadiin gue pengganti di saat peran utama gak ada. Dan sekarang lo suka sama gue karna lo bisa nemuin jati diri Elina di diri gue kan?"
"Dan saat peran utama itu ada, lo mau ninggalin gue. "
"Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu yang, dengerin dulu coba penjelasan aku, " ucap Farel dengan tatapan sendu menatap kedua bola mata Zahra yang sangatlah sayu.
"Bukan waktunya buat baper Ra, lo harus tegas-gak boleh luluh. "
Farel pun langsung memeluk Zahra dengan sesekali ia mengusap rambut milik kekasihnya tersebut. Sedangkan Zahra sendiri, ia hanya terdiam dengan hati yang sangatlah kecewa. Bahkan, Zahra sama sekali tidak membalas pelukan Farel seperti biasanya.
"Eum..tapi gue gak bisa, gua baper kalo dia kayak gini. "
"Aku bisa jelasin. Aku mohon, kamu kasih aku kesempatan lagi, buat ngejelasin semuanya. "
"Derita orang cakep emang gini kali ya, " batin Farel dengan penuh rasa percaya dirinya.
"Untung cakep *****. Kalo nggak, males banget gue ngasih kesempatan lagi. "
Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Terdengar jelas di telinga Farel dan juga Zahra.
Tring
Tring
Farel yang masih memeluk Zahra pun dengan sontak langsung melepaskannya dan memegang salah satu pergelangan tangan Zahra, tidak lupa dengan senyuman bak pangeran yang terpancar sangatlah sempurna, tentu saja membuat hati Zahra sendiri lumer kembali.
Zahra yang sadar akan hal itupun, mau tidak mau membalas genggaman Farel. Sampainya mereka di tangga perbatasan, keduanya pun langsung menuju kelasnya masing-masing. Dikarenakan Farel dan Zahra memang tidak satu kelas.
"Semangat ya sayang, " ucap Farel.
"Iya. "
Zahra pun pergi meninggalkan Farel yang masih saja dengan setianya menatap Zahra di bawah anak tangga.
Saat Zahra sudah tak terlihat lagi dikedua bola matanya, Farel pun langsung pergi bergegas menuju kelasnya.
"Gue harus tanya Hans. Gak mungkin dia nelpon gue, terus nyuruh ke rooftop kalo dia sendiri nggak tau apa-apa soal itu, " batin Zahra.
Sampainya Zahra di depan kelas, ia pun langsung masuk ke dalam kelas yang sudah terlihat sangatlah rapih dan bersih, higienis bahkan. Layaknya rumah sakit para pejabat dan tentu saja terdapat sosok Elina di sana.
"Gue gak boleh emosi sekarang, semua ada waktunya. Gue baik-baikin aja dulu, " batin Zahra.
"Males banget gue liatnya, tapi yaudahlah tahan aja dulu. Lagian juga gue udah males berurusan sama si ******! " batin Elina.
Elina maupun Zahra, keduanya saling menatap satu sama lain, dengan tatapan yang sulit diartikan. Nabila yang sadar akan hal itupun dengan sontak langsung membuyarkan tatapan dari kedua sahabatnya tersebut.
"Ayo Ra, duduk sini. Gak cape apa berdiri terus, " ucap Nabila.
Zahra pun duduk di sebelah kursi Nabila. Sedangkan Elina, ia baru saja keluar dan terlihat sedang menemui seseorang, keduanya seperti sedang membicarakan hal yang serius.
Zahra yang masih tidak percaya akan adanya Elina saat ini, dikarenakan Nabila baru saja tadi pagi mengatakan jika Elina sedang di luar kota. Mau tidak mau, ia pun menanyakan hal yang telah membuatnya penasaran sedaritadi kepada Nabila.
"Bil. "
"Hm?"
"Katanya Elina lagi ke luar kota?"
"Dia pulang lagi ke Jakarta, sekarang tinggal sama tantenya buat sementara waktu. "
"Dia cerita ke lo?"
"Gue baru baca pesan yang dia tadi pagi. Padahal, dia ngirim pesan ke gue nya tadi malem. "
"Oh gitu, pantes. "
Nabila dan Zahra pun kembali berbincang satu sama lain. Menceritakan semua hal yang mereka alami saat keduanya tidak bersama kala itu.
SEBUAH MISTERI.
Siapa Hans?
Lalu, siapa orang yang sedang bicara dengan Elina di depan kelasnya saat ini? Terlihat sangatlah serius, apa akan ada rencana jahat lagi yang akan Elina buat?