
Saat Elina sudah keluar dari dalam kelasnya, ia memutuskan untuk jalan melewati lorong-lorong yang terdapat di dalam sekolah itu sendiri, dikarenakan akan jauh lebih menghemat waktu untuk sampai ke arah parkiran dan tidak sengaja, ia pun menabrak seorang cowok, wajahnya terlihat sangatlah familiar dalam ingatannya. Tapi tetap saja, Elina masih tidak bisa mengenalinya.
Brugh
"Sorry-soryy, demi apapun itu gue gak sengaja. Lo gak kenapa-napa kan?" ucap Elina dengan sontak. Ia merasa tidak enak dan langsung membantu cowok tersebut untuk berdiri kembali.
Keduanya pun saling menatap satu sama lain. Tapi tetap saja, Elina masih belum bisa mengenalinya lebih jelas, padahal sudah jelas-jelas wajah cowok tersebut sangatlah familiar baginya, tapi ingatan itu hanya samar-samar.
"Untuk saat ini lo gak salah. Dan jangan pernah minta maaf kalo suatu saat lo bakal ngulangin lagi kesalahan yang sama, " ucap cowok tersebut dengan dinginnya. Lalu pergi meninggalkan Elina saat itu juga.
"Saat ini lo gak salah. Ngulangin kesalahan yang sama, " Elina mengulang kembali akan ucapan yang baru saja cowok tadi katakan padanya.
Tak lama kemudian, ia pun beranjak dari tempatnya saat ini dan pergi mengejar cowok yang tidak sengaja ia tabrak tadi.
"Eh tunggu. Eh woy. Ah *****, " teriak Elina dengan terus-menerus mengejar cowok misterius tersebut.
Elina pun seringkali tersandung akan tali sepatunya yang semakin Elina berlari kencang, kedua tali sepatunya pun semakin terurai ke mana-mana. Sehingga membuat Elina sendiri harus tersandung dan selalu saja tersandung. Tidak ada waktu baginya untuk membenarkan tali sepatu di waktu yang seperti ini.
Awww
Elina terjatuh. Ternyata luka di lututnya saat ini, sudah semakin parah, Elina sendiri tidak sadar akan hal itu, karna ia terus saja mengejar cowok misterius tersebut sedaritadi.
Dan seketika, cowok misterius yang sedaritadi ia kejar, saat ini sudah ada di hadapannya dan sesekali ia mengulurkan tangan kanannya untuk memberi pertolongan agar Elina berdiri kembali, seperti halnya yang Elina lakukan padanya tadi.
"Tempat duduk banyak. Kenapa harus ngedeprok di situ. "
"Gak jelas. " Elina pun berdiri, ia menerima uluran tangan dari cowok tersebut dan membersihkan roknya yang sedikit kotor, tanpa mengkhawatirkan lukanya yang mungkin akan infeksi nanti.
"Yang berdarah lutut. Bukan rok, " ucapnya dengan datar.
"Bodo amat, " Acuh Elina.
Elina tetap merapihkan seragamnya, dasinya sedikit berantakan, karna sedaritadi ia hanya fokus untuk mengejar cowok tersebut yang mungkin sudah hampir 1,2 km jaraknya dengan dirinya.
Dikarnakan, saat cowok tersebut meninggalkan Elina di tempat awal mereka bertemu, Elina masih saja bersikeras memikirkan kata-kata yang cowok tersebut lontarkan padanya tadi. Berpikir dan terus saja berpikir.
Sedangkan cowok tersebut, melangkah melaju dan selalu saja melaju. Tentu saja, hal itu membuat jarak keduanya menjadi semakin berjauhan.
Elina pun menatap kembali ke arah cowok yang saat ini sudah berada tepat di hadapannya.
"Sok kegantengan banget sih jadi orang. Gue dari tadi manggil bukannya berhenti, malah terus-terusan aja jalan, " Kesal Elina akan sikap sombong cowok tersebut terhadapnya.
"Ya iyalah ******. Siapa lagi kalo bukan lo, satu-satunya manusia yang tersisa di sekolah ini tuh cuma gue sama lo sekarang, " Pertegas Elina akan kata-kata yang baru saja ia lontarkan.
"Eh, Nabila juga kan manusia, " Elina sendiri baru sadar akan ucapannya tadi.
"Lo manggil gue dengan sebutan apa emangnya?"
"Woy. Iya, gue panggil lo dengan sebutan woy, " Dengan wajah tanpa dosanya tersebut Elina menjawab.
"Nama gue bukan woy. Jadi bukan salah gue kalo gak ngerespon panggilan lo tadi, " Ia pun kembali melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Elina.
Belum saja jarak cowok tersebut jauh dari keberadaannya saat ini. Elina sudah lebih dulu membuat cowok tersebut menghentikan langkah kakinya tadi.
"please wait for me. "
"Sekarang gue kasih lo waktu. Omongin, apa yang mau lo omongin, " Dengan datarnya cowok tersebut menjawab.
"Gue gak punya banyak waktu buat ngeladenin hal-hal yang gak penting!" Cowok itu pun, kembali melanjutkan ucapannya dengan jauh lebih dingin dari sebelum-sebelumnya.
"Ganteng sih. Tapi kenapa dingin banget, " batin Elina dan dengan sesekali ia mengamati wajah cowok yang ada di hadapannya saat ini, untuk memastikan kembali akan ingatannya yang sudah mulai berjalan dengan baik.
"Gu..gue kek pernah liat lo deh sebelum-sebelumnya dan gue yakin banget, kalo lo.. "
"Lo Farel temen kecil gue dari 10 tahun yang lalu kan?" ucap Elina dengan berhati hati dan cukup sedikit terkejut akan kehadiran Farel yang sudah bertahun-tahun tidak mengabari dirinya.
"Hm. Gue kira lo geger otak, ternyata daya ingat lo masih bagus, " Ketus Farel disertai senyuman smirk nya. Lalu meninggalkan Elina kembali dengan begitu saja.
Terlihat seperti ada kebencian di dalamnya.
Ahmad Farel Abraham. Anak dari Ahmad Zacky Abraham pemilik sekolah sekaligus kepala sekolah SMAN BHAKTI KENCANA dan ada kakeknya, yaitu Ahmad Alvaro Abraham seorang donatur terbesar di SMAN BHAKTI KENCANA setiap tahunnya.
Keluarganya bisa terbilang sangatlah tajir-melintir. Hanya saja, Farel harus pindah ke Berlin saat ia menginjak usianya yang ke-10 tahun. Ia ikut bersama Alvaro kakeknya dan Dewi omahnya. Dikarenakan Zacky sendiri yang harus berpindah-pindah tempat pada setiap akhir bulan kala itu.
Karna pekerjaannya tersebut, ia tidak ingin sekolah Farel terganggu. Maka dari itu, Zacky menitipkan Farel untuk sementara waktu tinggal bersama dengan kedua orang tuanya yang ada di Berlin dan kembali lagi ke Indonesia, saat Farel sudah menginjak usianya yang ke-15 tahun dan akan melanjutkan sekolahnya di SMAN BHAKTI KENCANA, tepatnya Farel akan bersekolah di sekolah milik papahnya saat ini.
SEBUAH MISTERI.
Lalu, ada hubungan apa Elina dengan Farel? Kenapa keduanya bisa saling mengenal satu sama lain? Bahkan dalam biografi masing-masing pun sudah jelas, sangat bertolak belakang bukan? Pendidikan Elina dilanjut di Amsterdam sedangkan Farel sendiri di Berlin. Dan di mana mereka bisa saling mengenal satu sama lain sebelum-sebelumnya?