
MISTERI TERPECAHKAN.
Suasana kantin yang sepi, membuat Nabila sendiri menjadi leluasa untuk membeli makanan tanpa harus mengantri terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya, Nabila pun memesan satu bubur ayam beserta air mineral yang akan ia berikan kepada Kevin nanti.
"Pak, bubur ayamnya satu ya. "
"Komplit neng?"
"Jangan terlalu pedes pak. Kalo bisa pisahin aja deh sambelnya, " Intruksi Nabila.
"Bubur ayam disamain kayak mie ayam. Aneh. "
Deg
"Suka-suka gue lah. "
"Kesel aja dengernya. "
"Bodo amat, " acuh Nabila.
"Lo sekelas sama Elina kan?"
"Hm. Iya, kenapa emang?"
"Gue nitip boleh?"
"Nitip apaan?"
"Kasih bubur ayam ini ke dia. "
"Hah?"
"Gue minta tolong, kasih buburnya ke dia. Pasti dia belum sarapan tadi. "
"Perhatian amat. Mana ganteng, eh..sadar Bil, bisa habis kalo Kevin tau. "
"Lo emang siapanya Elina?"
"Lo tinggal kasih bubur ini aja ke dia. Gak usah banyak nanya. "
"Ntar kalo dia nanya bubur ini dari siapa, gue harus jawab apa hah?"
"Bilang aja, lo yang udah beliin ini buat dia. " Orang tersebut pun membayar bubur ayam yang telah ia pesan tadi. Dan pergi meninggalkan kantin.
Nabila hanya terdiam. Ia masih terpanah akan paras cowok yang baru saja ia lihat tadi. Pak Mamat yang sadar akan hal itupun, dengan seketika langsung membuyarkan lamunan Nabila.
"Neng?"
"Eh iya pak?"
"Udah jadi neng buburnya. Sambelnya juga udah dipisah. " ucap Pak Mamat.
"Jadi berapa pak?"
"Udah dibayar sama mas yang tadi neng, " Dengan ramahnya Pak Mamat menjawab pertanyaan Nabila padanya tadi. Lalu, memberikan bubur yang telah dikemas dalam styrofoam.
"Serius pak? Sama cowok yang baru aja tadi pergi?"
"Iya neng, udah dibayar sama mas Farel. "
"Yang tadi itu namanya Farel?"
"Iya neng. "
"Bapak sendiri kenal?"
"Sebelum saya dagang di sini juga kan, saya harus minta izin dulu neng sama pemilik sekolah. Kebetulan, mas Farel anak dari pemilik sekolah. "
"Farel? Anak pemilik sekolah ini?"
"Emang neng sendiri gak tau?"
"Sama sekali nggak pak. "
"Oalah. "
"Yaudah makasih ya pak. Saya mau balik ke kelas lagi. "
"Kembali kasih neng. "
"Ok pak. "
Nabila pun pergi meninggalkan kantin. Ia kembali ke kelasnya dan akan menghampiri Elina terlebih dahulu.
Sampainya Nabila di kelas, ia pun dikejutkan akan adanya pertengkaran hebat antara Elina dan juga Zahra.
"Lo yang so cantik!"
"Lebih tepatnya itu lo ******!" balas Elina yang tidak mau kalah.
"Stop!"
"Apansi lo berdua? Kek anak kecil aja. Ada masalah apa coba, " Nabila berusaha meleraikan pertikaian antara kedua sahabatnya tersebut.
"Dia duluan, " ucap Zahra yang masih menatap Elina dengan penuh rasa kebencian dari kedua sorotan matanya.
"Udah-udah, gak usah ribut lagi. Pusing gue liatnya. "
"Kevin di mana coba?" ucap Nabila yang baru sadar tidak adanya Kevin di kelas.
"Bilangnya sih pengen pergi ke toilet dulu tadi, " ucap Zahra.
"Dia izin ke lo?" Kecemburuan pun timbul dalam benak Nabila.
"Bukan izin ke gue. Tapi dia gak mau lo khawatir, makanya ngasih taunya lewat gue, " Perjelas Zahra yang masih menahan emosinya yang sempat tertunda akan adanya Nabila di tengah-tengah Elina dan juga Zahra.
"Huh. Kirain. "
"Fitnah mulu, heran. "
"Hahah, maaf-maaf. "
"Yaudah, mending sekarang lebih baik lo nenangin diri dulu dengan cara duduk di bangku lo Ra. "
Nabila pun mengajak Zahra untuk duduk kembali ke bangkunya.
"Ra. "
"Apa?"
"Gue nitip ini ya. " Nabila memberikan bubur beserta air mineral yang sudah ia beli tadi.
"Buat Kevin?"
"Iya. "
"Buat guenya mana?" Goda Zahra.
"Ntar kalo Kevin gak habis. Lo habisin aja, gue ikhlas kok. "
"Lo pikir gue kucing apa. Makan pake makanan sisa. "
"Hahahah, bercanda. "
"Yaudah gue keluar dulu ya. Jangan kangen. "
"Mimpi kali lo, " Sarkas Zahra.
Tak lama kemudian, Nabila pun menarik salah satu pergelangan tangan milik Elina dan membawanya ke suatu tempat yang memang jauh dari kerumunan.
"Sakit Bil, " Elina yang merasa kesakitan akan cengkraman Nabila padanya sepanjang jalan pun, membuat pergelangan tangan Elina itu sendiri menjadi sedikit memar.
"Jawab pertanyaan gue dengan jujur, " Tegas Nabila.
"Apa?"
"Ada hubungan apa lo sama Farel?"
"Emang lo kenal?" Elina sendiri merasa syok akan pertanyaan yang baru saja Nabila ajukan padanya.
"Dia pacar sahabat gue sendiri. Mustahil kalo gue gak tau apa-apa tentang dia. "
"Kalo lo tau tentang dia, kenapa lo tanya soal itu ke gue?"
"Gue cuma tau soal dia pacaran sama temen gue. Selebihnya gue gak tau. "
"Tau orangnya aja baru sekarang. "
"Dia cinta pertama gue Bil, " Perjelas Elina.
"Cinta pertama lo?" Pernyataan Elina sukses membuat Nabila sendiri hampir jantungan.
"Kok lo kaget. Bukannya gue udah pernah cerita tentang ini ke lo ya waktu itu. "
"Waktu gue tinggal di rumah lo selama seminggu?" ucap Nabila untuk memastikan kembali.
"Iya kalo gak salah. Bukannya gue udah cerita semuanya ya?"
"Jadi orang yang selama ini lo ceritain ke gue itu Farel?"
"Iya. "
"Gue tau itu. "
"Soal Farel anak pemilik sekolah ini, lo tau?"
"Tau. "
"Gue aja baru tau tadi. "
"Tadi? Lo ketemu dia? Di mana?"
"Gue tau dari Pak Mamat, soal itu. "
"Pak Mamat? Siapa lagi Pak Mamat?"
"Yang dagang bubur di kantin selama 2 hari belakangan ini. "
"Oh. Gitu. "
"Kira-kira, soal study tour waktu itu ada hubungannya sama dia gak ya, " Nabila sendiri masih penasaran akan pertanyaan-pertanyaan yang selalu saja muncul di dalam benaknya sedaritadi.
"Maksud lo?"
"2 bulan yang lalu, Study tour kan dibatalin. Dan kebetulan banget dibatalinnya di waktu Zahra hilang layaknya ditelan bumi. "
"Lo sadar gak sih?" lanjutnya.
"Farel yang ngajuin hal itu, " balas Elina.
"Maksudnya?"
"Waktu itu kan Zahra masuk rumah sakit. Terus harus diem di rumah sakit untuk sementara waktu. Ya jelas aja, Farel juga gak bakal mungkin bisa ikut study tour lah. "
"Mana mungkin pacarnya lagi di rumah sakit, sekolah malah ngadain study tour begitu aja. Mau gak mau, papahnya ngebatalin lah, kan papahnya juga pemilik sekolah sekaligus kepala sekolah di sekolah ini Bil, " Perjelas Elina.
"Lo tau semuanya?"
"Gue juga tau semua itu dari Hans. "
"Hans?"
"Sodara gue. Dia juga sekolah di sini. "
"Hans, si cowok dingin itu bukan sih?"
"Iya. "
"Lo kenal?" tanya Elina untuk memastikan.
"Kenal. Dia yang selama ini udah bantuin gue. "
"Dunia itu sempit ya ibaratkan daun kelor, " ucap Elina.
"Hahaha, orang bule ngomong kelor. "
"Gue lahir di sini, kalo gue lahir di luar negri, baru itu namanya bule. "
"Hahaha, iya-iya. Muka lo bule soalnya, "
"Makasih loh, " Goda Elina.
"Idih. "
"Bil. "
"Apa?"
"Sesayang itu ya, Farel sama Zahra. "
"El, " Nabila sendiri merasa kasian akan kesedihan yang Elina alami saat ini. Mencintai seseorang yang sudah mempunyai kekasih itu bukanlah hal yang mudah.
"Hm?"
"Gue gak tau harus bantu lo kayak gimana lagi El, posisinya lo berdua sama-sama sahabat gue. "
"Gue udah ikhlasin dia Bil. Jadi yaudah, gak usah dibahas lagi. "
"Lo gak sakit hati apa, liat orang yang lo sayang bahagia sama orang lain?"
"Lo mau ngeracunin otak gue Bil?"
"Bukan gitu maksudnya. "
"Hahaha, bercanda gue. Cowok di luar sana masih banyak kok. "
"Gue cuma gak mau aja, ngerusak kebahagiaan temen gue. "
"Temen? Temen yang mana dulu nih. "
"Zahra udah gue anggep sebagai temen gue sendiri. Ya, walaupun gue tau dia benci sama gue untuk saat ini. "
"Selain cantik, lo juga baik banget ya El. "
"Hm. Ngaco lo ah, kalo cantik gak mungkin jomblo. "
"Jomblo itu pilihan. Lo nya aja yang milih-milih huh. "
"Padahal yang ngantrinya mah bukan satu dua orang, " Puji Nabila akan paras cantik yang Elina miliki.
"Aamiin. "
"Terus, kenapa tadi lo bedua berantem? Mana jambak-jambakan segala. "
"Gue gak sengaja mancing emosi dia tadi. "
"Maksudnya?"
"Gue bilang dia ******. "
"Damage nya bukan main. Bar-bar amat sih jadi manusia El. "
"Dia natap sinis gue terus pas di kelas, otomatis gue risih lah. "
"Iya juga sih. Yaudah-yaudah, gue minta maaf ya soal sikap dia tadi ke lo. "
"Kenapa harus lo yang minta maaf?"
"Gue cuma gak mau kedua temen gue, berantem terus-terusan. "
"Maafin gue juga ya, tadi sempet ngegas ke lo, " Nabila sendiri merasa bersalah, karna telah salah paham pada Elina.
"Santai aja. Gue juga ngerti, lo pasti kaget karna gue kenal sama Farel, padahal lo sendiri aja gak kenal. "
"Makanya, buat mastiin lagi, jadinya mau gak mau, lo nanya langsung soal itu ke gue deh. "
"Bener kan kata gue tadi?" lanjutnya.
"Nah, kurang lebihnya gitu, " balas Nabila untuk memastikan kembali akan pemikiran Elina padanya tadi.
"Oh iya. Nih, " Nabila memberikan bubur yang sudah ia bawa sedaritadi dan kemungkinan, sudah dingin karna terlalu lama didiamkan.
"Itu apa?"
"Bubur ayam. "
"Lo tau gue suka bubur, dari siapa Bil?" tanya Elina dengan antusias.
"Emang lo suka banget sama bubur?" Nabila sendiri sebenarnya heran akan pernyataan Elina padanya tadi.
"Banget malah. "
"Udah lama juga, gue gak makan bubur, " Perjelas Elina.
"Syukur deh kalo gitu. "
"Jawab pertanyaan gue tadi. "
"Pertanyaan yang mana?"
"Lo tau dari siapa gue suka bubur?"
"Gue nebak aja. Sekalian beliin bubur buat Kevin juga tadi. "
"Berapa? Sini gue gantiin. "
"Eh gak usah. Buruan makan gih, keburu dingin. "
"Makan di tempat yang kek gini?"
"Balik ke kelas dulu maksudnya. "
"Yaudah hayu. "
"Huh. Untung Elina gak curiga, kalo iya. Mau gak mau gue harus jujur nantinya. "
Lalu, keduanya pergi meninggalkan sebuah lorong yang keberadaannya sendiri pun tidak jauh dari kelas.