
Sekolah yang sudah sangatlah sepi, membuat Nabila sendiri harus merasakan rasanya kejenuhan yang teramat dalam. Nabila bersikeras menolak tawaran Kevin yang ingin mengajak pulang bersamanya tadi siang. Tanpa ia sadar, ada seorang cowok misterius yang datang menghampirinya dari arah belakang.
"Udah jam segini, mana ada kendaraan umum, " Dengan sontak, Nabila pun langsung membalikan badannya ke arah sumber suara itu berasal.
"Sok tau lo. Ya karna emang lagi sepi-sepinya aja, ntar juga banyak kendaraan umum yang lewat, " balas Nabila dengan rasa percaya dirinya.
"Jaga diri aja, jam segini suka banyak preman yang berkeliaran di wilayah sini, " ucapnya lalu pergi meninggalkan Nabila dan menuju ke arah parkiran dengan begitu saja.
Nabila pun hanya bisa terdiam seribu bahasa setelah mendengar hal itu, sedikit ada rasa takut dibenaknya hanya saja, Nabila bersikap seakan-akan dirinya tidak memperdulikan apa yang orang tadi katakan padanya.
Jam sudah menunjukan pukul 17.35 WIB dan tentu saja Nabila masih dengan setianya menunggu kendaraan umum di depan gerbang sekolahnya. Hanya saja, itu semua sia-sia. Tidak ada satupun kendaraan umum yang lewat, bahkan jalanan saja sudah terlihat sepi layaknya tidak ada kehidupan di dalamnya.
Nabila pun memutuskan untuk menunggu dan duduk di halte yang berada tepat di depan sebrang sekolahnya tersebut dan saat sesampainya Nabila di halte. Tidak berapa lama kemudian.
"Eh eneng cantik. Lagi ngapain?" ucap salah satu dari tiga preman tersebut.
"Mau abang temenin gak neng?"
"Nabila harap tenang. Rilex-rilex, " batin Nabila. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya tersebut dan di sisi lain, ia pun mulai merasa ketakutan.
"Cantik-cantik gak bisa ngomong, masa bisu sih neng hahahaha, " ucap salah satu dari preman tersebut dan disertai dengan ketawa mereka bertiga diakhir kata.
"Jangan sentuh-sentuh ya!!" Emosi Nabila pun memuncak.
Ketiga preman tersebut mulai memberanikan diri dengan lancangnya menyentuh kedua tangan Nabila dan sesekali ketiganya berusaha membawa pergi Nabila dengan memegang kedua tangannya, agar Nabila sendiri tidak bisa memberontak.
"Tolong!"
"Tolong! Siapapun itu, tolong gue. "
"Udah neng udah. Percuma mau teriak-teriak gimanapun juga. "
"Gak bakal ada yang denger. liat noh, sepi kan. "
"Hahahaha, " ketiga preman tersebut pun tertawa.
"Hm..hm..lep..lep.. "
Nabila pun berusaha teriak sebisa mungkin hanya saja semuanya sia-sia, mulutnya telah ditutup dengan menggunakan sarung tangan milik dari salah satu preman tersebut.
"Gilaaa ya mereka. Nyulik anak orang gak ada elit-elitnya amat, nyium aroma sarung tangan layaknya nyium kaos kaki yang belum dicuci satu tahun. "
"Gini caranya bisa mati gara-gara gak kuat baunya ini mah, " batin Nabila dengan raut wajah yang sudah sangatlah pasrah.
Tapi tetap saja Nabila sendiri tidak putus asa. Nabila bersikeras memberontak dan sesekali ia berusaha mengigit tangan dari salah satu preman yang dari awal memegang erat lengan Nabila dengan kasar. Sedangkan kedua preman lainnya? Mereka berada di posisi depan, memastikan untuk berjaga-jaga, agar saat ada warga sekitar yang melihatnya, warga tidak curiga akan hal itu.
"Aduh...*******, " teriak preman tersebut dengan penuh rasa kesakitan.
Nabila pun lepas dari genggaman preman itu sendiri dan sontak kedua preman yang sudah sedaritadi memimpin jalan pun langsung menengok dengan kompaknya ke arah sumber suara tadi berasal.
Sampai pada akhirnya, salah satu di antara mereka ada yang tetap berusaha mengejar Nabila yang sudah hampir meloloskan diri.
Dan tentu saja, Nabila pun langsung melarikan dirinya dan berusaha mencari tempat persembunyian yang aman untuknya saat ini. Sedangkan satu preman lainnya, ia memilih membantu temannya yang kesakitan karna tindakan Nabila yang berusaha meloloskan diri.
Nabila telah menggigit salah satu lengan preman tersebut dengan keras dan terlihat jelas ada bekas yang cukup dalam dan menimbulkan sedikit cairan merah yang keluar dari lengan preman itu sendiri. Belum lagi, saat preman tersebut menarik rambut Nabila agar ia tidak bisa melarikan dirinya, Nabila dengan sontaknya langsung menendangkan kakinya ke arah ******** preman tersebut.
"Nah di sini keknya aman, " ucap Nabila.
Dengan sedikit rasa ketakutan, Nabila pun langsung bergegas menempatkan dirinya ke sebrang tembok berukuran besar yang ada di hadapannya saat ini. Sesekali ia mengatur napasnya yang cukup terengah-engah, dikarenakan telah berlari dengan kecepatan tinggi yang tentu saja membuat detak jantungnya pun menjadi tidak beraturan.
Saat sudah dalam posisi bersembunyi, terdengar jelas ada suara preman yang sudah sedaritadi mengejarnya.
"Awas aja lo ya, kalo ketemu. "
"Gue remuk-remuk, eh jangan deh. Gue perkosa dulu aja, baru gue remuk-remuk. "
Deg
Dan tak lama kemudian, preman itupun meninggalkan tempat yang terbilang sangatlah sepi, lalu pergi meninggalkan lokasi tersebut saat itu juga.
Nabila sedikit menaikan kepalanya dan sesekali ia menyipitkan kedua matanya untuk memastikan sudah aman atau tidaknya.
Saat Nabila fokus memperhatikan sudah aman atau tidaknya situasi. Seketika, Nabila pun dibuat terkekut akan adanya tepukan yang saat itu mendarat di bahunya. Nabila pun dengan sontak langsung memejamkan kedua matanya, ia takut preman itu datang kembali dan akan membalas dendam dengannya saat itu juga.
"Jangan bunuh gue atau ngilangin ke perawanan gue, gue minta tolong lepasin gue. "
"Masa depan gue masing panjang, gue pengen ngerasain rasanya nikah, punya anak, punya cucu dan masih banyak lagi yang pengen gue capai, " Nabila pun langsung memohon dengan mata yang masih terpejam dan sedikit mengeluarkan bakat aktingnya tersebut.
"Pengennya sih gitu. Cuma lagi sibuk aja, jadi keknya nggak dulu. "
"Kok gue kayak kenal ya suaranya. "
Nabila pun membuka kedua matanya kembali dan betapa terkejutnya saat ia menyadari, bukan salah satu preman tadi yang saat ini di hadapannya, melainkan cowok dingin yang akhir-akhir ini sering mengganggunya.
"Ngapain lo di sini? Wah. Lo ngikutin gue ya? Ngaku lo?" tanya Nabila.
Ia pun langsung membenarkan posisinya tersebut yang awalnya ia memohon-mohon ampun berubah drastis menjadi seorang yang sangatlah angkuh dan langsung berdiri dengan tegapnya menghadap ke arah cowok yang ada di hadapannya saat ini.
"Makanya, kalo orang ngomong tuh dengerin, udah gue bilang jam segitu gak bakal ada kendaraan umum lewat, eh lo nya malah keras kepala. "
"Iya bawel. "
Cowok tersebut pun memberikan tas milik Nabila yang sempat tertinggal saat ia melarikan diri dari tempat kejadian tadi.
"Tas gue. Astaga ceroboh banget sih gue. Nyelametin diri sampe lupa sama tas sendiri, mana isinya ada hp ada laptop, gak kebayang kan kalo ilang, " batin Nabila.
Nabila pun langsung menarik tasnya dengan kasar dan langsung memeriksa isi dalam tasnya tersebut untuk memastikan ponsel ataupun laptopnya masih aman atau tidak.
"Huh. Aman terkendali, " ucap Nabila lalu dengan sontak ia memeluk orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Makasih ya. Untung aja ada lo, kalo nggk..gue gak tau harus gimana lagi, " ucap Nabila dengan suara yang masih saja terengah-engah.
Disatu sisi Nabila masih merasa takut akan kejadian yang menimpanya tadi, tapi di sisi lainnya Nabila merasa sangatlah nyaman saat dirinya memeluk cowok yang ada di hadapannya tersebut.
Ia pun menerima pelukan Nabila dan terlihat sesekali ia mengusap-usap rambut Nabila dengan lembut dan disertai senyum tipis di bibirnya tersebut. Tipis sangatlah tipis bahkan tidak terlihat dengan jelas.
Nabila yang tersadar akan tindakannya pun, dengan seketika ia langsung melepaskan pelukannya.
"Eum. Maaf..maaf gue replek tadi, maaf banget udah lancang meluk lo, " ucap Nabila.
Lalu, menundukan kepalanya tersebut pertanda ia malu akan sikap agresifnya tadi.
"Udah malem juga, gak baik kalo anak cewek masih di luar malem-malem, ayo ikut gue, " Ajak cowok tersebut. Ia berniat mengalihkan pembicaraan yang Nabila bahas tadi.
"Ayo ke mana? Jangan bilang lo mau nyulik gue. "
"Ayolah, gue baru aja hampir mau diculik bahkan diperkosa dan dibunuh, terus sekarang lo mau nyulik gue hah?"
"Mau lo janda sekalipun, gue gak bakal minat. "
"Ngeselin banget sih lo, " ucap Nabila.
Nabila pun terkejut, lalu terdiam seribu bahasa saat dirinya diangkat oleh cowok tersebut dan digendong layaknya bridal style, menuju sebrang jalan dan dimasukannya lah Nabila ke dalam mobil miliknya.
...***...
Di tempat yang berbeda ada seseorang yang masih saja setia memikirkan kondisi Nabila, ia sudah berulangkali bahkan ratusan kali menghubungi Nabila, tapi nihil. Tidak ada balasan sama sekali yang ia dapat.
Whatsappnya ceklis satu, Instagramnya tidak aktif dan tentu hal itu membuat Kevin sendiri sangatlah cemas akan keadaan Nabila saat ini.
Dari sore pun ia sudah ke sana-kemari mencari keberadaan Nabila, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda Kevin melihat sosok Nabila dan hal tersebut sangat membuat Kevin sendiri mabuk kepayang memikirkan keadaan Nabila.
SEBUAH MISTERI.
Lalu, sebenarnya. Siapa cowok misterius yang dimaksud? Kevan atau Farel?