
Cindy yang masih terbaring di rumah sakit pun, mau tidak mau harus menahan diri dengan suasana yang terbilang cukup jenuh baginya.
Dan Zacky yang masih belum juga datang, membuat Cindy sendiri merasa kesal. Dikarenakan Cindy sangatlah jenuh, sudah sedaritadi tidak ada yang mengajaknya ngobrol.
Sampai pada akhirnya, datanglah seorang pria dengan wajah yang terbentuk sempurna layaknya bak pangeran Yunani.
"Kevan?" ucap Cindy dengan rasa percaya tidak percaya.
"Eh..udah diem aja di tempat. Jangan banyak gerak. "
"Kok lo tau gue di sini?"
"Chelsea yang bilang ke gue. "
"Chelsea? Emang dia tau?"
"Kalo gak tau, gak mungkin gue ke sini. "
Kevan berbohong. Pada saat penyekapan tersebut Kevan memang sempat ada di sana dan sudah dijelaskan secara detail di part sebelumnya.
"Hm..iya juga sih. "
"Masih sakit? Apa yang sakit?" tanya Kevan dengan penuh rasa cemas.
"Kepala gue sering nyut-nyutan. Tapi sekarang udah nggak. "
"Syukurlah. "
"Lo gak sekolah? Jangan bilang bolos lagi?"
"Gue bolos juga demi lo. Jadi gak usah banyak tanya. "
"Cakep-cakep galak, " batin Cindy.
"Kevan. "
"Hm?"
"Makasih, " ucap Cindy disertai senyuman mautnya.
"Buat?"
"Lo dah perhatian ke gue. "
"Emang kayak gini perhatian?"
Cindy terdiam. Ia bingung harus menjawab apa, di sisi lain Cindy sendiri sudah merasa geer. Tapi sikap Kevan yang sangatlah dingin membuatnya tidak akan menaruh harapan lebih.
Kevan yang sadar akan ucapannya tadi yang terbilang cukup dingin, membuatnya pun merasa bersalah, jadi mau tidak mau, iya harus bersikap ramah pada Cindy.
"Kembali kasih, " ucap Kevan disertai senyuman yang sangatlah sempurna dengan perpaduan wajahnya yang tampak bak pangeran.
"Jangan baper plise, " batin Cindy.
"Kenapa?" tanya Kevan dengan seketika membuyarkan lamunan Cindy.
"Hm..gak kenapa-napa. "
"Lo mau ngejenguk orang sakit apa mau dagang sih?" Cindy sedikit mengkerutkan keningnya, saat ia melihat Kevan yang telah mengeluarkan cemilan yang begitu banyaknya.
"Jenguk lo lah. "
"Apa kurang banyak? Lo pikir perut gue perut kadut apa. "
"Gosah bawel. Sekarang mending lo makan, udah waktunya jam makan siang. "
"Iya bentar lagi. "
"Makan sendiri apa mau gue suapin?"
"Ih apaan sih lo. "
"Buka mulutnya, " Kevan mengarahkan sendok pada Cindy yang telah berisi nasi dan terdapat juga sayur mayur di dalamnya.
"Gue belum laper. "
"Yaudah gak usah makan aja sekalian, " Sarkas Kevan.
"Ih ngeselin banget sih lo. " Ketus Cindy.
"Belajar menghargai. "
"Yaudah sini. Mana sendoknya?"
"Hah?" ucap Cindy dengan syok.
"Apalagi?"
"Lo pikir gue kambing apa?" Ketus Cindy.
"Susah emang berhadapan sama orang bule. "
"Apaan sih. "
"Emang kambing makan sayur-sayuran?"
"Mayoritasnya sih rumput. " balas Cindy.
"Jadi gue gak nyamain lo sama kambing. Paham?" lanjut Kevan.
"Gue gak suka sayur-sayuran. Paham?"
"Maka dari itu, lo harus terbiasa dari sekarang. "
"Bodo amat. Sekali nggak ya nggak. " tegas Cindy.
"Untuk sekarang emang nggak. Tapi suatu hari lo bakal terbiasa. "
"Maksudnya?"
"Makan aja sih, gosah banyak nanya. " ucap Kevan dengan juteknya.
"Dari tadi juga gue bilang, mana sendoknya?"
"Nih. Makan yang banyak, " Kevan memberikan sendok yang sudah sedaritadi ia pegang pada Cindy.
"Lo gak ikut makan?" tanya Cindy.
"Makan aja sih. Gosah banyak nanya. "
"Iya bawel. "
Kevan yang melihat sikap Cindy pun dengan seketika tersenyum gemas.
"Gue tau, lo gak sejahat yang orang-orang kira. Dan gue di sini, ada buat ngelindungin lo Cin, " batin Kevan.
Cindy makan dengan lahapnya. Sebenarnya ia tidak menyukai sayur-sayuran, hanya saja Kevan terus memaksanya.
"Maafin gue Zah. Gue udah salah ngasih hati gue ke lo. Karna sampai kapan pun juga gue gak bakal jadi orang yang spesial di dalem hidup lo. "
"Mungkin emang seharusnya, gue buka hati ke yang lain. Dan gue rasa, orang yang ada di hadapan gue sekarang adalah orang yang tepat, " batin Kevan.
"Kevan?" ucap Cindy yang membuat Kevan sedikit terkejut dan seketika ia tersadar dari lamunannya tadi.
"Hm?"
"Makan yuk. Masa gue doang yang makan, lo juga harus makan sekarang. "
"Gue udah makan tadi. "
"Gue bilangnya juga, sekarang. "
"Habisin ya habisin aja sih. Susah amat. "
"Terserah lo deh. Gue kan niatnya baik. "
"Ya jangan marah juga lah. "
"Siapa yang marah?"
"Lo..banteng albino. "
"Gila lo ya..muka seimut gini dikata banteng albino. "
"Ya karna lo imut, makanya gue julukin banteng albino. "
"Ih. "
"Yaudah lanjutin makannya. " ucap Kevan yang sedikit terkekeh akan sikap Cindy padanya.
"Diliat-liat selain cakep, dia manis juga ya. " batin Kevan.
"Ah lo mah, bengong mulu kerjaannya. "
"Hahaha. Lagian punya pipi gembul amat, jadi salfok ke gue nya. "
"Emang iya?" Sesekali Cindy menyentuh kedua pipinya, untuk memastikannya kembali.
Kevan menganggukan kepalanya dan disertai senyuman yang terukir sangatlah manis, dikarenakan ada 2 lesung yang terlihat jelas dikedua pipinya. Sama halnya dengan Kevin.
"Ah. Nggak kok, " ucap Cindy membela diri.
"Dasar gembrot, " Goda Kevan.
"Jahat banget sih. "
"Kalo gue terlalu baik. Takutnya lo jatuh cinta sama gue detik ini juga. "
"Percaya diri banget sih lo jadi orang " Cindy sendiri terlihat jelas sedang nenutupi kegugupannya.
"Yaudah sini gue suapin. Biar lo gak banyak ngomong. "
Kevan pun mengambil alih, lalu menyuapi Cindy dengan penuh kasih sayang layaknya sepasang kekasih.
"Gue harap cinta gue kali ini gak bakal senasib sama yang kemarin, " batin Kevan.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara dari balik pintu yang terlihat sedikit terbuka saat ini.
"Ehem. " ucap seseorang dari balik pintu dan dengan sontak membuat Kevan maupun Cindy mengalihkan pandangannya menuju ke arah sumber suara tadi berasal.
SEBUAH MISTERI.
Siapa orang yang telah membuat Cindy dan Kevan dengan sontak terkejut?