
Farel yang tidak terima akan keputusan Zahra pun berniat akan membalaskan rasa sakitnya dalam waktu dekat.
"Lo harus dapet balesan yang setimpal. Lebih dari yang gue rasain sekarang!"
Farel pun pergi ke toilet untuk membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum ia kembali ke kelas dengan kondisinya yang bisa terbilang layaknya orang yang punya kelainan mental.
"GUE PASTIIN LO BAKAL BERTEKUK LUTUT DI HADAPAN GUE, ZAHRA KENZANIA PRADITAMA. "
...***...
Zahra berada disebuah tempat yang jauh dari kebisingan. Suasana yang hening membuat hatinya menjadi jauh lebih tenang. Menyendiri untuk beberapa waktu memang sudah ia rencanakan sebelum dirinya mengatakan berpisah dengan sang mantan.
"Gue sayang sama lo Rel. Sayang banget malah. "
"Tapi gue sendiri juga gak bisa, kalo harus terus-terusan cuma jadi bahan pelampiasan lo. "
"3 tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi lo..cuma jadiin gue bahan pelarian. "
"ZAHRA LO ****!!!" teriak Zahra disebuah danau yang letaknya tidak jauh dari kawasan sekolah yang ia tempati.
Zahra pun mengambil ponselnya yang sedaritadi ia simpan di dalam saku bajunya. Lalu, membuka aplikasi play music dan mendengarkan salah satu lagu yang bisa terbilang cukup mewakili atau lebih tepatnya mendeskiripsikan suasana hatinya saat ini.
TANYA HATI-PASTO.
...🎶🎶🎶...
...Tuhan tolonglah...
...Hapus dia dari hatiku...
...Kini semua percuma...
...Takkan mungkin terjadi...
...Kisah cinta yg selalu aku banggakan....
...🎶🎶🎶...
...Kau hempas semua...
...Rasa yang tercipta untukku...
...Tanpa pernah melihat...
...Betapa ku mencoba...
...Jadi yang terbaik...
...Untuk dirimu....
...🎶🎶🎶...
...Oh mengapa...
...Tak bisa dirimu...
...Yang mencintaiku...
...Tulus dan apa adanya...
...Aku memang...
...Bukan manusia sempurna...
...Tapi ku layak di cinta...
...Karna ketulusan....
...🎶🎶🎶...
...Kini biarlah...
...Waktu yg jawab semua...
...Tanya hati ku....
...🎶🎶🎶...
...Tanpa pernah melihat...
...Betapa ku mencoba...
...Jadi yg terbaik...
...Untuk dirimu....
...🎶🎶🎶...
Tak lama kemudian, Zahra pun memejamkan matanya. Disertai hembusan angin yang membuat Zahra sendiri semakin dikuasai oleh rasa kantuk yang amat luar biasa.
Sampai pada akhirnya, ia terlelap dengan posisi kedua tangannya yang memeluk lutut, lalu kepala yang dimiringkan ke arah kanan.
Hans yang tidak sengaja melihat Zahra yang sedang berada di bawah pohon rindang pun akhirnya, memutuskan untuk menghampiri Zahra.
"Ngapain dia di sini?"
"Apa gue samperin aja kali ya. "
"Aduh. Mana bisa gue bangunin dia, nyentuh dikit aja detak jantung gue berdegup kencang. "
"Hm.. " ucap Zahra yang terbangun dari tidurnya tadi.
"Dasar gadis nakal. Kenapa harus desah segala coba. "
"Hans?" ucap Zahra dengan posisi menyipitkan kedua matanya untuk memastikan orang yang ada di sampingnya saat ini.
"Lanjut aja lagi tidurnya. Selagi ada gue, gak bakal ada yang berani nyentuh lo. "
"Nggak ah. Gue pusing kalo lama-lama tidur dalam posisi kek gini. "
"Yaudah sini. "
"Apa?"
"Nyender dibahu gue jauh lebih baik buat kenyamanan tidur lo. "
"Mulai deh modusnya. "
"Hm..hahahah, niat gue baik. "
"Yaudah sini bahu lo. "
"Serius?"
"Emang gue keliatan lagi bercanda ya?"
Hans pun menyandarkan kepala Zahra ke bahunya, sebagai bantal untuk Zahra melampiaskan semua kelelahan hatinya yang saat ini ia rasakan.
"Hans?"
"Hm?"
"Kok lo bisa di sini sih? Lo ngikutin gue ya?"
"Rencananya gue mau ajak lo ke kantin bareng tadi. Eh kata Nabila, satu jam yang lalu lo ninggalin kelas. "
"Mau gak mau, gue cari lo aja. Waktu gue inget-inget, dulu lo kan sering ke sini. "
"Nabila? Lo kenal Nabila?"
"Duh. Kemakan omongan sendiri gue. "
"Hans?"
"Hm..iya gue kenal. "
"Kok lu bisa kenal sama Elina? Kenal sama Nabila juga lagi. "
"Perlu gue jawab?"
"Pertanyaan dibuat untuk dijawab. Dan gue tadi nanya sama lo bukan curhat. "
Hans pun menceritakan semuanya secara detail. Awal mula ia bisa kenal dengan Elina.
Skip
"Jadi lo balas budi?"
"Lebih tepatnya kek gitu. "
"Maafin gue ya Hans. Gue udah mikir lo yang nggak-nggak tadi. "
"Udah gak usah dibahas lagi. Yang terpenting lo udah tau semuanya kan. "
"Terus perihal Nabila. Lo kok bisa kenal dia?"
"Tapi gue kenal banget sama Nabila. Dia gak bakal mungkin sudi ngomong sama cowok lain selain Kevan maupun Kevin. "
"Sebenernya. Waktu lo di rumah sakit gue tau Zah. Dan gue gak tega liat temen lo sendirian terus pas di sekolah. Mau gak mau, gue dateng buat ngelindungin dia. "
"Kenapa lo gak jenguk gue? Dan pada akhirnya lo suka sama Nabila?"
"Lo sendiri kenapa gak ngasih tau gue?"
"Gue gak ada rasa sama sekali ke dia. Karna waktu gue mau jemput dia ke rumahnya. Gue lihat ada Kevin dan gue sempet nonjok dia habis-habisan. "
"Tapi itukan lo udah tau. Tau dari mana coba? Dan apa lo bilang? Lo bikin Kevin babak belur?"
"Ya gue gak terima aja. Liat cewek ditarik-tarik kasar kek gitu. "
"Gue juga pengen jenguk lo tadinya. Cuma posisinya gue gak enak sama Farel. "
"Gak usah sebut nama itu lagi. "
"Kenapa?"
"Gue benci. "
"Tapi dia pacar lo. Gak seharusnya lo kek gitu. Saran gue, lebih baik lo kasih kesempatan untuk kedua kalinya. "
"Lebih tepatnya mantan. "
"Lo putus?"
"Iya. "
"Sayang Zah. 3 tahun bukan waktu yang sebentar. "
"Harusnya lo bahagia bukan?"
"Maksudnya?"
"Lo tuh sebenernya suka beneran apa cuma penasaran doang sih?"
"Kalo gue penasaran doang, gak mungkin 1 tahun lebih gue mendem rasa ke lo. "
"Terus kenapa sekarang sikap lo seolah-seolah nyuruh gue balikan. "
"Gue gak nyuruh lo balikan. Tapi ngingetin biar lo jadi pemaaf. "
"Setiap orang pasti punya kesalahan yang harus diberi kesempatan. Dengan catatan tidak akan mengulanginya lagi. "
"Gue lebih nyaman deket lo Hans. "
"Terus gue sekarang harus gimana?"
"Kasih dia kesempatan lagi. "
"Nggak bakal. "
"Kenapa?"
"Gue ngerasa bebas sekarang. Dia terlalu ngekang gue Hans. Bahkan, selalu mengintimidasi gue buat patuh sama semua yang dia perintah. "
"Ini baru pacaran loh. Gimana kalo gue udah resmi jadi istrinya coba?" Emosi pun mulai terlihat diraut wajahnya.
"Kayaknya bunuh diri jauh lebih baik daripada harus hidup sama seorang psikopat. " lanjut Zahra.
"Psikopat?"
"Mati gue. "
"Hah? Nggak..maksud gue, sikap dia kek psikopat aja gitu. "
"Lo gak bisa bohong sama gue Zah. "
"Hah? Bercanda *****. "
"Tapi lo serius tadi. Dan sekarang coba deh pegang dahi lo sendiri. "
"Keringet dingin gitu. Mana tiba-tiba jadi gelagapan, " Sesekali Hans mengamati ekspresi Zahra dengan sunguh-sunguh.
"Gue harap lo bisa ngerahasiain soal omongan gue tadi. " ucap Zahra.
"Gue mohon Hans. "
"Jadi bener?"
Zahra hanya mengangguk.
"Lo tau dari kapan?"
"2 tahun yang lalu. "
"Dan hubungan lo berjalan dengan baik selama 3 tahun?"
"Mau gimana lagi. Di sisi lain gue emang sayang sama dia, tapi waktu itu..sekarang mah ya nggaklah. "
"Tapi disatu sisi juga gue diancem. "
"Diancem? Emang bener-bener ya tuh orang. "
"Iya. Kalo gue putus sama dia, nyawa gue yang jadi taruhannya. "
"Tapi gak jarang juga dia bersikap manis di hadapan gue Hans. Ya walaupun jarang, tapi sebenernya dia romantis banget kalo suasana hati dia lagi bahagia. "
"Susah ditebak emang, kadang dia bisa jadi mahluk yang termanis dan gak jarang juga berubah jadi orang yang paling menakutkan dalam satu waktu, " Perjelas Zahra.
"Kenapa lo gak bilang ke gue dari dulu Zah? Gue bisa aja bantu lo. "
"Taruhannya nyawa Hans. Masih untung kalo nyawa gue taruhannya. Tapi kalo dia malah ngebunuh lo? Gue gak bakal bisa maafin diri gue sendiri sampai kapanpun. "
"Apa lo tau, udah berapa korban yang dia bunuh selama 2 tahun belakangan ini?"
"Setau gue sih dua. Tapi selebihnya gue gak tau. "
"Dan dua orang yang dia bunuh, emang ada sangkut pautnya juga sama gue. "
"Dua orang itu suka sama lo? Apa gimana?"
"Waktu gue lagi jalan sama dia, gue sempet pergi ke toilet buat bersihin wajah gue yang udah berminyak banget waktu itu. Tanpa gue sadar ada dua cowok yang ngikutin gue dan gak tau sejak kapan mereka ada dibalik pintu. "
"Sampai pada akhirnya, gue sempet mau diperkosa. Untung aja ada Farel. Tapi semua di luar dugaan, bukannya diselesain dengan cara baik-baik, Farel malah nyiksa mereka pake pisau yang ada dibalik jaketnya. "
"Gue sendiri kaget, banget malah. Gue sempet histeris waktu itu. Tapi Farel coba nenangin gue. "
"Mau gak mau, gue yang baperan gini dengan seketika jadi luluh lah. Jadi ke gue nya juga takut buat ngelaporin tindakan dia waktu itu. "
"Terus jasad dua orang itu?"
"Farel nelpon orang suruhannya. Dan kemungkinan besar keknya sebelum-sebelumnya dia udah pernah ngelakuin hal keji itu. "
"Lo bayangin aja. Dia kayak yang gak ada rasa bersalah sama sekali. Orang suruhannya juga kayak yang udah B aja gitu. "
"Logikanya gini, kalo emang iya pertama kali..otomatis orang suruhannya pasti paniklah. Tapi ini mah nggak Hans. "
"Kira-kira ada faktor dari masa lalunya yang pernah buat dia frustasi? Karna dari artikel yang pernah gue baca sebelum-sebelumnya. Sebagian besar psikopat itu lahir dari masa lalunya yang kelam. "
"Dia ditinggal mamahnya karna kecelakaan Hans. Dan setau gue mamahnya jadi korban tabrak lari. "
"Dia pernah cerita ke lo tentang itu?"
"Iya. Sebelum gue jadian sama dia. "
"Dia frustasi banget waktu itu. Makanya, gue usaha buat hibur dia. Dan sampai pada akhirnya kita pacaran. "
"Jadi selama ini lo bertahan karna diancem?"
"Kurang lebihnya kek gitu. Makanya gue minta tolong banget sama lo. Jauhin gue dari dia, gue takut Hans. "
"Udah tenang aja. Gue pasti bakal selalu jaga lo. "
"Sialan. Ternyata lo sebajingan itu ya. Gak habis pikir gue. "
"Gue takut. "
"Selagi ada gue, lo aman Zah. "
"Makasih Hans. "
Zahra pun memeluk Hans dengan erat layaknya seorang anak yang meminta perlindungan ke ibunya. Pertanda dirinya saat ini sedang dilanda rasa cemas yang amat luar biasa.
MISTERI TERPECAHKAN.
Cowok misterius yang selama ini melindungi Nabila ialah Hans. Dengan sikapnya yang terlihat dingin, ternyata Hans sosok yang peduli. Bahkan, bisa terbilang penyayang.
Wajahnya yang tampan, membuat Farel sendiri bisa menutupi jati dirinya yang sebenarnya.