
Jam menunjukan pukul 09.45 WIB.
Cindy yang masih terbaring di rumah sakit pun memutuskan untuk kembali melanjutkan aktifitasnya seperti hal-halnya hari biasa yang selalu ia lakukan. Dikarenakan kondisinya yang saat ini juga, sudah terbilang jauh lebih membaik.
"Pah. "
"Iya sayang?"
"Aku mau pulang aja. "
"Nanti ya, kalo kondisi kamu udah jauh lebih baik. "
"Sekarang juga udah jauh lebih baik pah. "
"Kamu yakin?"
"Kemarin tuh Cindy cuma pingsan aja. Amesia juga nggak, jadi papah juga gak usah khawatir. "
"Tapi kamu jangan sekolah dulu ya. "
"Cindy minta pulang juga ya karna, Cindy pengen sekolah lagi pah. "
"Bosen di sini terus. " lanjutnya.
"Bukannya kamu selama ini males sekolah ya?" Zacky sendiri heran akan sikap Cindy yang tiba-tiba saja merengek untuk kembali melanjutkan sekolahnya.
"Itu kan yang kemarin-kemarin pah. "
"Boleh ya? Cindy kangen suasana kelas soalnya. "
"Suasana kelas atau penghuni kelasnya?"
Deg
"Farel?" Zacky terkejut akan adanya Farel yang sudah berada di depan pintu ruangan pasien saat ini.
"Awasin tuh pah, ntar keenakan jadinya. "
"Apaan sih, nggak jelas, " Cindy sendiri tidak terima akan ucapan Farel tadi tentangnya.
"Kamu sendiri seenaknya. Mentang-mentang sekolah yang kamu tempati sekarang, milik papah kamu sendiri. "
"Mau sampai kapan kamu bolos?"
"Tau tuh, bolos aja terus. "
"Gak ada yang bikin semangat. Jadi ngapain juga terus-terusan di sekolah. "
"Terus, Zahra lo anggep apa?"
"Gak usah nyebut nama dia. "
"Kenapa emang? Bukannya lo semangat banget kalo denger nama tuh orang. "
"Cindy, " ucap Zacky dengan lembut.
"Aku gak suka sama cewek itu pah. Dia kegatelan. "
"Lo nya aja yang belum kenal. "
"Maka dari itu, gue gak suka sama dia. "
"Udah-udah. Farel, kamu ini alih waris papah nanti, jadi jangan seenaknya. "
"Sekarang aja kamu udah berani bolos di jam pelajaran, apalagi nanti kalo kamu udah resmi jadi pemilik sekolah. "
"Ada masalah mungkin pah, " Cindy yang berusaha memahami akan keadaan Farel saat ini.
"Apa kamu lagi ada masalah sama Zahra?"
"Ya gitu. "
"Gitu gimana?"
"Kita udah putus pah, " Perjelas Farel.
"Hah?" ucap Cindy yang tidak percaya akan hal itu.
"Bahagia lo sekarang?" Sarkas Farel.
"Jangan terlalu kasar sama adik kamu sendiri, di saat dia udah nerima kamu, malah kamu yang jadi kasar sama dia. Papah benci itu. "
"Kenapa kalian bisa putus? Apa kamu lebih milih Elina?"
"Jelas aku milih Elina. "
"Tapi aku juga udah bersikeras pertahanin hubungan aku sama Zahra waktu itu. Tapi, tetep aja dia keras kepala. "
"Aku pikir kita emang gak cocok. Jadi ngapain juga harus dilanjut. "
"Tapi itu akan berpengaruh besar dalam perusahaan papah Farel. Gimana nanti kalo papahnya Zahra membatalkan kerja samanya dengan perusahaan papah yang ada di Amerika. "
"Apa kamu bisa nanggung itu semua?"
"Maksudnya? Coba jelasin satu-satu, dari tadi aku masih gak paham sama sekali pah, " Cindy dibuat heran akan perbincangan Zacky yang saat ini terbilang cukup serius.
"3 tahun belakangan ini, perusahaan papah dan papahnya Zahra, sudah melakukan kerja sama di Negeri Paman Sam. "
"Mau gak mau, karna papah banyak berhutang budi pada keluarga mereka. Farel papah jadikan sebagai bahan umpan, agar keluarga kita masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. "
"Hah? Tapi kan papah sendiri juga, udah punya banyak perusahaan. Bahkan, sekolah elit. "
"Uang yang papah dapatkan selama ini jauh lebih banyak saat papah melakukan kerja sama dengan papahnya Zahra itu sendiri. "
"Rel?" Cindy pun langsung menatap Farel dengan sendu.
"Iya. Kurang lebihnya kayak gitu, " Perjelas Farel untuk memastikan akan ucapan Zacky tadi.
"Dan lo mau aja dijadiin bahan umpan?"
"Pertamanya gue juga gak mau. Tapi, gue sendiri ngerasa udah mulai nyaman sama Zahra waktu itu. "
"Jadi mau gak mau, gue jadiin dia pacar selama 3 tahun belakangan ini. "
"Selebihnya gue jadiin dia pelampiasan buat lupain cinta pertama gue. "
"Elina maksud lo?"
Farel hanya menganggukan kepalanya. Sedangkan Zacky, ia hanya terdiam seribu bahasa dengan kondisi wajahnya yang telah membeku saat ini, Zacky sendiri mulai sadar akan keegoisannya tersebut.
"Maaf pah, kayaknya Farel juga udah gak bisa lagi terlibat dalam rencana papah selanjutnya. "
"Baiklah, tidak masalah. "
"Terus, rencana lo sekarang apa?" tanya Cindy.
"Gue bakal bikin Elina jatuh lagi ke dalam pelukan gue. "
"Farel gak bisa dendam pah, apalagi harus nyakitin cinta pertama Farel sendiri. Kemungkinan besar nggak akan mungkin. "
"Papah sudah memikirkannya dengan matang. Kejar, jika menurutmu dia yang terbaik. "
"Papah ngizinin Farel sama Elina sekarang?"
"Iya. "
"Makasih pah, " ucap Farel dengan antusias.
"Gue balik dulu, semoga cepet sembuh, " ucap Farel pada Cindy.
Saat Farel sedang membuka pintu ruang pasien untuk keluar dari dalam ruangan, Farel pun sempat sedikit berteriak. Tapi tidak begitu keras.
"Salam dari Kevan. Mau kapan kencannya?"
"Iss rese banget sih lo. "
"Kevan?"
"Siapa Kevan?" Lagi-lagi Zacky dibuat terkejut akan ucapan Farel tadi.
"Hm, " Cindy sedikit tersipu malu, ia pun dengan sontak menundukan kepalanya untuk menutupi kegugupan yang sedang menerpanya saat ini.
Zacky yang sadar akan hal itupun, langsung tersenyum simpul.
"Kamu udah dewasa ya. Udah kenal dunia percintaan. "
"Nggak pah. Bohong, jangan dipercaya. "
"Hahaha iya deh iya. "
Melihat Cindy bahagia pun itu sudah lebih dari cukup. Melarangnya untuk berpacaran, akan membuat Cindy sendiri kembali membencinya. Mau tidak mau, Zacky pun harus mendukung anak gadisnya tersebut, selagi masih tau batasannya.