
Jam menunjukan pukul 05.35 WIB.
Zahra pun beranjak dari kasurnya dan pergi menuju kamar mandi. Ia memutuskan untuk sekolah hari ini, sekalipun Zahra tau Farel pasti akan sangatlah marah dengan tindakannya tersebut.
Tapi ya mau gimana lagi, Zahra sendiri tidak bisa jika harus terus-menerus mengikuti semua perintah Farel yang sangatlah bertolak belakang dengan keinginannya.
Dan di tempat lain, ada Farel yang sudah terbangun dari tidurnya yang cukup terbilang pulas tadi malam. Saat ia sudah mulai tersadar, Farel pun langsung pergi menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari kamar tidurnya sendiri.
Skip
"Zahra masih ngambek gak ya, " batin Farel.
"Gue telpon aja deh. Kalo gue WA, kemungkinan besar gak bakal dibales, " ucap Farel.
Memanggil.
Dret
Dret
10 kali sudah, Farel menghubungi Zahra tapi tetap saja tidak ada balasan darinya.
"Apa dia lupa nge-cash hapenya, makanya gak aktif, " batin Farel.
Sesudahnya ia bersiap-siap, Farel pun turun dari lantai tiga menuju lantai satu, suasana rumahnya sangatlah sepi dan itu terjadi semenjak Siska telah tiada. Maid-maid sendiri pun sibuk akan pekerjaannya masing-masing.
Sedangkan mamah keduanya Farel, memang sedang tidak di Indonesia, dikarenakan ia harus mengurus perusahaan milik papahnya kakek Cindy itu sendiri, untuk satu tahun ke depan.
Maka dari itu, Cindy maupun Farel memang sangat kurang perhatian dari Amel maupun Zacky. Keduanya sama-sama sibuk, keduanya lebih mementingkan duniawi.
Tak lama kemudian, sampainya ia di garasi, Farel pun masuk ke dalam mobilnya, Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangatlah tinggi, membelah ibu kota. Dikarenakan ia memang sudah ada janji dengan Elina sebelumnya.
ZAHRA POV
Setelah selesainya ia mandi, Zahra pun langsung bersiap-siap dan sampai pada akhirnya ia telah mengenakan seragam yang sudah lama tersimpan dengan baik di dalam lemarinya.
Zahra pun menyiapkan buku pelajaran yang akan ia bawa, tapi sebelum ia menyiapkannya, Zahra akan menelpon Kevan lebih dulu. Ia ingin menanyakan jadwal pelajaran hari ini, agar tidak salah membawa buku nantinya.
Berdering.
Dret
Dret
Panggilan pun terhubung.
"Hallo Zah. "
"Van Gue boleh nanya gak ke lo?" ucap Zahra dengan spontan.
"Boleh. "
"Pelajaran hari ini apa aja? Gue takut salah bawa buku nantinya. "
"Lo mau sekolah hari ini? Emang lo udah pulang dari rumah sakit?"
"Iya Van udah dua hari gue di rumah. Buruan ih, ntar gue telat *****. " ucap Zahra yang memang sedang sangat tergesa-gesa.
"Fisika, Bahasa Inggris, Matematika. "
"Makasih ya Van, " Detik itupun panggilan langsung dimatikan dari pihak Zahra sendiri.
Ia tidak ingin membuat Kevan semakin berharap lebih padanya. Atau nyawa yang akan menjadi taruhannya!
Zahra pun memasukan buku-buku pelajaran yang akan ia bawa ke dalam tas mini miliknya dan tak lupa membawa satu novel yang memang selalu Nabila dan Zahra baca setiap harinya kala itu.
Di mansion yang begitu megah, Zahra memang sedang tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, dikarenakan orang tua Zahra sendiri sedang mengurus perusahaan yang ada Thailand selama 1 tahun belakangan ini. Dan akan kembali lagi ke tanah air, bulan depan nanti.
Untuk sementara waktu, Zahra harus tinggal bersama 3 Maid dan satu supir pribadinya. Maka dari itu, mamahnya maupun papahnya telah menyuruh Farel untuk menjaga Zahra sebaik mungkin. Farel sendiri merasa tidak keberatan, justru ia sangat senang, jika kedua orang tua Zahra sendiri telah mempercayainya.
Zahra pun turun dari lantai dua dan pergi menuju meja makan, untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
Sampainta ia di meja makan, terdapat Mbok Darmi yang terlihat sedang menyiapkan sarapan untuk sang tuan rumah.
"Eh bi, " sapa Zahra dengan senyuman yang membuatnya terlihat sangatlah manis.
"Non yakin, kondisi non sudah jauh lebih membaik?" tanya Mbok Darmi untuk memastikan kembali.
Mbok Darmi adalah Maid yang sudah Zahra anggap seperti mamahnya sendiri, dikarenakan ia memang sudah bekerja dan merawat Zahra dari usianya yang pada saat itu masih menginjak 2 tahun.
"Iya bi, Zahra bosen soalnya kalo harus di rumah terus. "
"Berarti mulai sekarang non berangkat sama den Farel?"
"Nggak bi, Zahra masih tetep berangkat sama Pak Yanto. "
"Bibi jangan bilang ke Farel ya, plisee. " lanjut Zahra.
"Berarti den Farel belum tau dong non, kalo non Zahra bakal sekolah hari ini? "
"Belum bi, tapi kemarin Zahra udah bilang, cuma ya gitu..bibi sendiri kan tau, Farel kek gimana, " ucap Zahra.
"Iyasih non, tapi itu tandanya sayang non. "
"Sayang sih sayang, tapi kalo terlalu ngekang, Zahra juga keberatan bi. "
"Iya juga sih non. "
Disela-sela pembicaraan Zahra dan Mbok Darmi, tiba-tiba terdengar suara bel di depan pintu rumah.
Ting nong
Ting nong
"Bi, siapa yang dateng pagi-pagi gini? " tanya Zahra.
"Non lanjutin aja makannya ya, bibi mau buka pintu depan dulu dan oh ya non, bibi juga harus beli sayur ke depan komplek, jadi maaf kalo nanti bibi gak ada di rumah. "
"Iya bi, hati-hati ya, " ucap Zahra. Lalu kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Sampainya Mbok Darmi di depan pintu, ia pun langsung membukakan pintunya.
"Eh den Kevan, " sapa Mbok Darmi.
"Iya mbok, apa kabar?" tanya Kevan. Lalu mencium salah satu tangan milik Mbok Darmi.
"Baik den, ayo masuk-masuk, non Zahra nya lagi sarapan. "
"Iya bi makasih. "
"Saya tinggal dulu ya den, mau beli sayur dulu ke depan komplek. "
"Iya mbok siap, hati-hati mbok, " ucap Kevan. Ia pun pergi menuju meja makan dan terlihat jelas ada Zahra yang sedang dengan fokusnya melahap hidangan yang ada di dalam piringnya tersebut.
Zahra yang sadar akan adanya Kevan yang sudah sedaritadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan pun, membuat Zahra sendiri terkejut akan kedatangan Kevan yang selalu saja di luar dugaan.
"Kevan?"
"Beresin aja dulu makannya, santai aja. "
Kevan pun kembali ke ruang tamu.
"Gue sayang sama lo Zah, tapi kenapa lo lebih milih dia yang jelas-jelas cuma jadiin lo pelampiasan, " batin Kevan.
FLASHBACK ON
"Hallo?" ucap Kevan.
"Dateng ke apartemen gue, sekarang juga, " ucap cowok di sebrang sana.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue *******. "
"Apa lo mau ngelewatin serial drama dengan gitu aja? apa lo gak bakal nyesel nantinya?"
Kevan pun mematikan panggilan tersebut. Lalu pergi menuju mobil dan dikendarainya dengan kecepatan yang sangatlah tinggi, membelah ibu kota.
Sampailah Kevan di depan sebuah apartemen milik cowok yang telah menelponnya tadi dan masuk ke dalam apartemen tersebut.
Kevan pun sampai di depan pintu apartemen cowok tadi. Dan langsung ditarik ke dalam apartemen tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dikarenakan mulut Kevan yang sudah lebih dulu ditutup oleh kedua tangan cowok yang menelponnya tadi.
Sampailah mereka di depan pintu yang terdapat Farel, Elina dan terlebih lagi ada Cindy yang sedang tidak sadarkan diri, di dalam kamar tersebut. Kevan pun terdiam seribu bahasa saat ia mendengar semua percakapan yang Farel dan Elina ucapkan sedaritadi.
Skip.
"*******, " ucap Kevan dengan sangat pelannya.
Kevan pun merekam pembicaraan Farel dan Elina. Agar ia jadikan bukti pada suatu saat nanti.
Sedangkan cowok tadi, ia meninggalkan apartemen dan pergi ke sebuah taman, untuk menenangkan dirinya sendiri. Akan kejahatan yang telah ia buat pada mantannya.
Kevan yang sadar Farel akan keluar dari dalam kamar pun, langsung pergi meninggalkan apartemen, sebelum dirinya nanti terciduk telah mendengar pembicaraan Farel maupun Elina.
ZAHRA POV
"Lo gak sarapan dulu?" tanya Zahra.
"Udah tadi di rumah, yuk ah berangkat, " ucap Kevan. Lalu menarik salah satu pergelangan tangan milik Zahra dengan lembut.
Zahra pun dengan sontak langsung melepaskan genggaman Kevan dari pergelangan tangannya tersebut.
"Gue bareng Pak Yanto. Jadi maaf, kek nya gue gak bisa bareng sama lo, " ucap Zahra.
"Pak Yanto nya juga sakit Zah, terus lo mau naik taksi gitu?" tanya Kevan dan menaikan kedua alisnya secara bersamaan.
"Sakit?" tanya Zahra yang terkejut akan ucapan Kevan tadi padanya.
FLASHBACK ON
Sampainya Kevan di gerbang, Kevan sudah lebih dulu berkompromi dengan supir pribadi Zahra itu sendiri.
"Pak, saya boleh minta tolong nggak?" tanya Kevan yang sudah turun dari mobilnya sedaritadi.
"Minta tolong apa den?" balas Pak Yanto.
"Pak Yanto pura-pura menggigil ya pak, ntar soal komisi mah bisa diatur. "
"Maksudnya pura-pura sakit den?"
"Nah, itu Pak Yanto tau, " ucap Kevan disertai senyuman yang terukir di wajah tampannya bak pangeran Yunani.
"Terus kalo saya pura-pura sakit, nanti yang anter non Zahra ke sekolah siapa den?"
"Saya pak. "
Kevan pun langsung mengeluarkan uang dengan nominal yang terbilang lumayan besar, dari dalam mobil yang memang sudah ia siapkan sebelum berangkat tadi dan memberikannya ke Pak Yanto.
"Nih pak, pokoknya Pak Yanto cuma pura-pura sakit aja, biar saya ada alesan bisa anter Zahra ntar. "
Pak Yanto pun langsung menerima uang yang masih dibalut oleh amplop berukuran besar dan saat pak Yanto membukanya, ia pun sangatlah terkejut. Karna baginya itu sangatlah besar, bahkan, lebih besar dari gajih yang majikannya beri setiap perbulannya.
"Den apa ini gak kebanyakan?"
"Udah terima aja pak. "
"Saya masuk dulu ya pak, assalamu allaikum, " ucap Kevan lalu pergi meninggalkan Pak Yanto yang masih dalam keadaan percaya tidak percaya.
KEVAN POV
"Iya. Kalo lo gak percaya, lo cek aja ke depan, gue aja gak tega liatnya, " ucap Kevan untuk memastikan kembali.
"Yaudah deh, gue bareng lo. "
"Yaudah hayu. "
"Tapi. " ucap Zahra.
"Hm?"
"Tapi gue takut ketauan Farel, ntar dia pasti bakal marah besar sama gue. "
"Tahan Van, belom saatnya lo kasih tau yang sebenernya, " batin Kevan.
"Santai aja, ntar gue yang jelasin ke dia. "
"Bener ya?" tanya Zahra untuk memastikan akan ucapan Kevan padanya tadi.
"Bener. Yaudah yuk, ntar keburu jalan ibu kota macet. "
"Hayu, " ucap Zahra.
Keduanya pun langsung menuju garasi, tempat di mana Kevan memarkirkan mobil miliknya sedaritadi.
Dan membukakan pintu untuk mempersilahkan Zahra masuk ke dalam mobil, saat keduanya sudah sama-sama berada di dalam mobil, Kevan pun sempat menghampiri Pak Yanto dan terlihat jelas Pak Yanto sedang menjalankan aktingnya dengan sangat baik.
Zahra yang melihatnya pun sangatlah tidak tega. Sedangkan Kevan, Ia hanya tersenyum gemas saat melihat Zahra yang sedang panik akan keadaan Pak Yanto.
"Pak Yanto sakit?" ucap Zahra dari dalam mobil.
"Iya neng. Cuacanya lagi gak bersabahat. "
"Ke rumah sakit ya nanti. "
"Gak usah neng, ntar juga sembuh sendiri. "
"Lah?"
"Maaf ya neng sebelumnya. Saya gak bisa anter neng ke sekolah. "
"Gak papa, Pak Yanto istirahat aja dulu. Nanti minta beliin obat ke Mbok Darmi ya. "
"Iya neng. Makasih udah ngertin saya. "
"Iya. Saya berangkat dulu pak. "
"Hati-hati neng Zahra, den Kevan. "
Tin
"Mari pak, " ucap Kevan dari dalam mobil, lalu menyetir kembali dengan kecepatan sedang.
Keduanya pun sempat berbincang-bincang di sepanjang perjalanan dan tak lama kemudian sampailah mereka di parkiran sekolah. Kevan maupun Zahra pun langsung turun dari dalam mobil.
Di tempat lain, ada Farel yang telah memasuki kawasan sekolah milik papahnya sendiri, ia pun dibuat terkejut akan adanya Zahra yang sedang berjalan beriringan dengan Kevan. Cowok yang selama ini sudah ia anggap sebagai musuh terberatnya.
"Kali ini kayaknya gue harus kasar ke lo Zah, " ucap Farel disertai tatapan tajam ke arah Zahra dan juga Kevan.
Farel pun pergi menuju rooftop untuk menemui Elina. Dan berjalan dengan penuh emosi yang sedang ia pendam sedaritadi, sejak melihat pemandangan yang sangatlah membunuhnya secara perlahan-lahan.
ZAHRA POV
Semua orang yang melihatnya pun terkesima akan kecantikan Zahra yang semakin hari semakin cantik tentunya.
Dan tidak sedikit juga di antara siswa-siswi lainnya yang percaya tidak percaya akan kembalinya Zahra setelah 2 bulan lamanya Zahra menghilang dan tidak diketahui keberadaannya.
Zahra hanya menundukan kepalanya saat orang-orang memandangnya dengan tatapan seperti orang yang sedang menatap seorang pembunuh. Kevan yang sadar akan hal itupun, langsung menatap tajam ke semua arah yang telah berani membuat Zahra nya ketakutan.
Sampailah keduanya di depan pintu kelas. Zahra masih sedikit ragu, ia takut jika Nabila masih membecinya perihal kejadian 2 bulan yang lalu. Kevan yang melihat Zahra sedang melamun pun dengan sontak ia langsung memegang salah satu pergelangan tangan Zahra dan masuklah keduanya ke dalam kelas yang terbilang sudah cukup ramai.
"Zahra?"
"Gak tau malu banget ya dia, kayak sultan banget hidupnya, sekolah semaunya. "
"Kira gue udah mati, eh ternyata masih hidup, kenapa gak bener mati aja coba. "
Terdengar percakapan orang-orang yang memang tidak menyukai Zahra sedaridulu.
Nabila yang mendengar perkataan-perkataan tadi pun, langsung mengalihkan pandangannya dan menatap sendu ke arah Zahra. Sudah pasti Nabila sendiri sangatlah terkejut, ia masih tidak percaya akan adanya Zahra di hadapannya saat ini. Nabila pun langsung memeluknya dengan erat.
"Zahra. Gue kangen banget sama lo Zah, maafin gue, " ucap Nabila.
"Gue yang harusnya minta maaf Bil, maafin gue juga ya. "
"Yaudah yang terpenting lo udah kembali sekolah lagi Zah dan gak ada kata marahan lagi buat ke depannya ok, " ucap Nabila disertai senyum manisnya.
"Ok. " ucap Zahra.
Dan keduanya pun duduk. Sedangkan Kevan, ia pergi mengampiri Chelsea yang sudah sedaritadi memanggilnya.
Dan Kevin yang sedang ke kantin membeli roti untuk mengganjal perut Nabila, dikarenakan Nabila sendiri tidak membawa bekal untuk ia makan nanti saat jam istirahat.
"Ra lo kemana aja sih? Gue frustasi gak ada lo tau gak, gue ngerasa bersalah banget soal kejadian waktu itu, " ucap Nabila.
"Udah gak usah diinget-inget lagi soal itu, yang lalu biarlah berlalu. "
"Aduh jadi pengen bersenandung gue dengernya, " ucap Nabila.
"Hahaha, paan sih lo Bil. "
"Lo ke mana aja sih Ra selama dua bulan ini?" tanya Nabila kembali.
"Ceritanya panjang, " balas Zahra.
"Biasanya juga kalo cerita gak pernah pendek. "
"Hahaha, ***** banget emang. "
"Gue kan pengen tau Zah, gue cari lo ke mana-mana tau gak. "
"Sebenernya. Waktu itu gue.. "
SEBUAH MISTERI.
Kenapa Farel selalu saja bersikeras untuk mengintimadasi kekasihnya sendiri? Apa Farel sendiri akan meninggalkan Zahra dalam waktu dekat? Atau sebaliknya?
Dan sebenarnya, apa alasan Zahra menghilang selama 2 bulan?