
Elina yang sudah usai memperkenalkan dirinya pun, langsung diberikan arahan oleh Pak Wahyu saat itu juga. Pak Wahyu menyuruhnya untuk duduk di depan bangku yang terdapat adanya Nabila dan juga Zahra di belakang bangku tersebut.
"Baik. Mungkin sudah cukup perkenalannya, Elina kamu bisa duduk di bangku depan yang kosong itu, " ucap Pak Wahyu.
"Dan kalian berdua. Bapak harap kalian bisa berteman baik dengan Elina. "
"Buat Elina sebetah mungkin, " Perintah Pak Wahyu pada Nabila dan juga Zahra.
"Siap pak, " jawab Nabila.
Elina pun duduk tepatnya di depan bangku Nabila dan Zahra, dikarenakan bangku tersebut kosong dan memang sudah lama tidak ada yang menempati. Maka dari itu, Pak wahyu menempatkan dirinya di bangku kosong tersebut.
3 jam kemudian, pelajaran pun berlangsung dengan lancar.
Tring
Tring
Tring
Bel istirahat pun berbunyi. Pertanda semua siswa akan menyebar keluar, ke tempat mana pun yang akan mereka tuju dan sebagian pula ada yang mengisi perutnya di kantin.
Dan seperti biasa, Nabila maupun Zahra, keduanya tentu saja akan berdiam diri di kelas untuk menyantap makanan yang memang sudah sengaja mereka bawa dari rumah.
Tak lama kemudian, datanglah Cindy. Lalu, menghampiri Elina yang terlihat sedang merapihkan bukunya yang sudah sedaritadi terletak di atas meja.
"Elina mau bareng gue gak ke kantinnya?" ucap Cindy dengan sok akrabnya.
"Nggak minat. Makasih, " ucap Elina dengan dingin.
"Dingin amat. Untung cakep, " batin Cindy.
"Eum ok. Gue duluan ya, " ucap Cindy dan tak lupa ia tersenyum dengan senyuman yang sangatlah manis kepada Elina.
"Dan lo berdua. Jagain Elina. "
"Jangan sampe kenapa-napa, " ucap Cindy dengan tatapannya yang tajam. Lebih tepatnya mengancam, lalu pergi meninggalkan Elina, Nabila dan juga Zahra.
"Manusia aneh, " batin Elina. Akan tingkah laku Cindy yang cukup membuatnya sendiri merasa percaya tidak percaya, akan perubahan sifat yang secepat itu.
"Kalian gak istirahat?" tanya Elina memecahkan keheningan kala itu.
"Nggak. Lo sendiri?" balas Nabila dengan santai.
"Gue takut nyasar. Gue juga kan harus beradaptasi dulu di sini. Jadi gue gak mau liar dulu hahah, " jawab Elina.
"Sok asik banget, giliran sama si cendol aja, sikapnya belaga dingin. "
"Hah takut nyasar? kuping lo masih berfungsi dengan baik kan? Gak masuk akal banget. Jelas-jelas si cendol tadi ngajak lo ke kantin dan sekarang lo bilang takut nyasar, " ketus Zahra.
"Mana so asik lagi, jijik gue dengernya. "
"Zahra!" bentak Nabila.
"Lo bentak gue? Demi bela dia? Firasat gue emang gak pernah salah, " ucap Zahra yang terkejut akan bentakan Nabila padanya tadi.
Saat itu juga, Zahra pun berdiri dan sesekali ia menahan air mata yang mungkin secepatnya akan meledak. Kedua matanya yang sudah berkaca-kaca, tentu saja membuat Nabila sendiri tersadar akan ucapannya yang sedikit penuh penekanan tadi.
"Ma..maksud gue bukan gitu Ra, " ucap Nabila untuk meredakan emosi Zahra yang saat ini terbilang sudah sangat memuncak.
Belum saja tuntas memperjelas, Zahra sudah lebih dulu memotong pembicaraan Nabila.
"Dan lo..jadi orang tuh gak usah sok ramah. "
"Gue tau kok, kehadiran lo di sini cuma mau ngerusak persahabatan gue sama Nabila kan?"
"Iya kan hah?" Ketus Zahra yang sontak membuat Nabila maupun Elina sendiri terkejut akan ucapannya tadi.
"Jawab!" lanjut Zahra.
"Zahra! Udah cukup..lo udah keterlaluan. "
"Elina cuma jawab pertanyaan gue tadi dan lo pikir Elina bakal ngerusak persahabatan gue sama lo?"
"Gak abis pikir gue. Dari TK sampe sekarang, lo masih aja ngeraguin gue. "
"Udahlah, gue muak sama sikap lo yang kek anak kecil, gue kira lo udah berubah Ra. "
"Tapi nyatanya. Hm..nggak sama sekali. "
"Lo masih zahra 13 tahun yang lalu. Egois, manja, baperan dan satu lagi, orang yang gak pernah sama sekali mikirin perasaan orang lain, " ucap Nabila secara blak-blakan.
Tentu saja Nabila sendiri merasa kesal, akan ucapan Zahra pada Elina yang menurutnya sudah melewati batas dan memang tidak seharusnya, Zahra berkata seperti itu pada Elina.
Elina yang tidak tau apapun masalahnya, harus mendapatkan ucapan kata-kata yang cukup terbilang menyakitkan tuk didengar.
"Hm. Gue paham sekarang. "
"Selama ini lo jadi temen gue karna lo kasian? Iya? Jawab Bil. "
"Huh. Apes banget sih gue, baru sekolah satu hari aja udah dituduh yang nggak-nggak. "
"Udah-udah Bil. Gak papa kok, tenang aja gue gk sakit hati. Emang gue yang salah. "
"Gak seharusnya gue jawab pertanyaan lo kayak tadi. "
"Dan Zahra. Gu..gue minta maaf kalo kehadiran gue malah bikin suasana jadi kacau. Tapi gue sama sekali gak ada niat jahat kok ke lo ataupun ke Nabila. "
"Maafin gue, " ucap Elina dengan penuh rasa bersalah.
"Lo gak salah dan lo Zahra. Minta maaf ke Elina atau gue yang gak bakal maafin lo selamanya, " ucap Nabila dengan dingin.
Bagaimanapun juga, Nabila mempunyai emosi yang sangat tinggi sama halnya dengan Zahra. Hanya saja, ia tidak pernah memperlihatkannya, Nabila lebih sering berdiam diri saat ia sedang menahan amarahnya.
Maka dari itu, tidak aneh jika Zahra sendiri sedikit terkejut akan sikap Nabila yang selama ini belum pernah ia perlihatkan dengan begitu jelas. Tapi sekarang, Nabila bahkan membentaknya dan mengungkapkan segala hal yang membuat hati Zahra sendiri sakit.
Saat itu juga, Zahra pun pergi. Ia meninggalkan Elina dan Nabila yang masih berada di dalam kelas, Zahra hanya ingin menenangkan dirinya untuk sementara waktu.
"Dia bukan anak kecil lagi, " ketus Nabila.
Nabila sangat sadar akan kata-kata yang ia ungkapkan tadi. Tapi bagaimanapun juga, Nabila harap kata-katanya tersebut bisa menjadi motivasi Zahra untuk berubah menjadi lebih baik lagi ke depannya.
Nabila sangat menyayangi Zahra dan begitupun sebaliknya, dikarenakan faktor sesama anak semata wayang, hal itu pula yang menjadikan mereka bersikap layaknya adik kakak yang berjanji untuk saling melindungi dan menyayangi satu sama lain.
Tring
Tring
Tring
Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Pertanda semua siswa harus kembali lagi ke dalam kelas dengan tepat waktu.
Suasana kelas yang terbilang ramai, sebelum jam pelajaran ke-empat dimulai.
"Gue udah gak sabar deh, jadi pengen buru-buru tanggal 12 napaa. "
"Iya. Gue juga gak sabar deh, pengen buru buru hari sabtu, ntar gue se-bus sama Kevin, terus kita sebangku deh. Nikmat mana lagi yang telah kau dustakan tuhan. "
Ya begitulah percakapan orang-orang halu. Sampai pada akhirnya, kedatangan Bu Beta sendiri, membuat suasana kelas pun seketika kembali menegang.
"Baik. Kedatangan saya ke sini hanya ingin memberi tau kembali, sesuai konfirmasi dari kepala sekolah tadi pagi, study tour yang diadakan pada tanggal 12 maret akan di batalkan. "
"Untuk uang yang telah kalian bayarkan..tidak usah khawatir, uang kalian akan dikembalikan secepatnya. "
"Saya selaku Bendahara Sekolah, tetap menjaga amanat dengan baik dan tentu saja, uang yang kalian bayarkan saat melunasi administrasi pun masih tetap aman, tidak ada sepersen pun dari pihak Kami untuk memakainya. Mohon maaf telah menganggu aktifitasnya, cukup sekian dan terimakasih. "
Tanpa basa-basi, Bu Beta pun langsung keluar dari dalam kelas. Tanpa bertanya pendapat kami para siswa merasa keberatan atau tidaknya, justru sebaliknya. Bu Beta hanya memberi informasi tanpa adanya sesi tanya jawab, lalu kembali ke ruang kerjanya dengan begitu saja.
"Apa? study tour gagal, ini anugrah atau musibah ya tuhan, gue harus seneng atau sedih!" Teriak Cindy dengan begitu frustasi.
Begitupun dengan yang lainnya, bukan hanya Cindy, semua yang ada di kelas pun percaya tidak percaya akan info yang baru saja mereka dengar dengan begitu jelas.
SEBUAH MISTERI.
Study tour dibatalkan dan kenapa harus bertepatan dengan hilangnya Zahra?
NABILA POV
Jam istirahat sudah selesai, harusnya Zahra telah kembali dari kepergiannya tadi. Hal itu, tentu saja membuat Nabila sendiri merasa sangat bersalah, akan ucapannya pada Zahra tadi.
"Kenapa tiba-tiba study tour dibatalin coba. "
"Kok Zahra belom dateng-dateng juga ya, kemana sih tuh anak. "
"Ra, lo kemana sih? " batin Nabila. Ia bertanya dan selalu aja bertanya dalam benaknya.
Sampai pada akhirnya, guru Matematika pun datang. Zahra yang masih saja belum kembali ke dalam kelas, membuat Nabila sendiri tidak fokus akan mata pelajaran yang sedang kelasnya pelajari saat ini.
Seiring berjalannya waktu, 2 jam pelajaran terakhir pun selesai.
"Baik. Mungkin sudah cukup materi pembelajaran untuk hari ini dan kita akan bertemu lagi di minggu besok. "
"Bapak peringatkan kembali, semakin kalian menggalih potensi pada diri kalian, semakin besar juga peluang yang kalian dapatkan untuk menjadi orang sukses di masa yang akan mendatang. "
"Apabila masih ada yang tidak dimengerti dan ingin diperjelas lebih lanjut, kalian bisa mengajukan sesi tanya jawab di grup. Bapak sendiri akan dengan senang hati menjawab pertanyaan yang mungkin masih belum begitu kalian pahami, " Lanjut Pak Wawan.
"Kevan. "
Pak Wawan sendiri masih belum sadar, akan tidak adanya Kevan selama pembelajarannya berlangsung tadi. Dan saat ia memanggilnya untuk memimpin doa, terdapat Kevan yang baru saja masuk ke dalam kelas dengan kondisinya yang terbilang sedikit berantakan.
"Siap, iya pak?" ucap Kevan dari balik pintu depas kelas.
"Lah? Kirain bapak, kamu ada di kelas. "
"Dari mana aja kamu?"
"Habis dari toilet pak. "
"3 jam di toilet ngapain aja?"
"Maaf, ketiduran pak. "
Dengan seketika, semua penghuni kelas pun tertawa secara bersamaan. Dikarenakan, penjelasan Kevan yang terbilang konyol.
"Aneh sekali. Yasudah, pimpin doa sekarang. "
Kevan pun kembali duduk di bangkunya dan dilanjutkan dengan memimpin doa, saat itu juga.
"Untuk mengakhiri pembelajaran, alangkah baiknya kita berdoa dalam hati terlebih dahulu. "
"Berdoa dalam hati mulai. "
"Berdoa selesai. "
Semua siswa pun keluar dari dalam kelas dan akan pulang menuju rumah mereka masing-masing.
"Kemana ya Zahra? Gue jadi gak enak, " batin Elina.
"Nabila? Eh, nggak nggak, kalo Zahra liat gue pulang bareng sama Nabila, ntar dia malah lebih ngamuk. "
Begitupun Elina. Ia sebenarnya sangat mengkhawatirkan kondisi Zahra saat ini, Elina sendiri merasa sangat bersalah. Ia tidak tau, kalo kehadirannya hanya akan membawa malapetaka untuk persahabatan Nabila dan juga Zahra.
"Apa yang udah gue lakuin? Sejahat itukah gue?" ucap Elina dengan sangat pelan hingga Nabila sendiri pun tidak dapat mendengarnya.
Mau tidak mau, Elina pun datang menghampiri Nabila yang masih terdiam di bangkunya dan terlihat sedang merapihkan peralatan makan ataupun peralatan sekolah lainnya yang masih tergeletak di atas meja Zahra.
"Lo gak pulang?"
"Sebentar lagi. Lo pulang aja duluan, gue udah biasa di kelas sendiri, di jam-jam kek gini, " Perjelas Nabila.
Ia paham, Elina ingin mengajaknya pulang bersama, hanya saja Nabila masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Yaudah. Gue duluan ya, " Saat itu juga, Elina pun pergi meninggalkan Nabila yang masih berada di dalam kelas yang sudah tidak ada satu orang pun selain dirinya.