A LIFE FULL OF MYSTERY

A LIFE FULL OF MYSTERY
KEHILANGAN



Lambat laun kelas pun sepi, suasana sangatlah hening.


Nabila pun menangis dengan sederas-derasnya, ia merasa sangat bersalah dan bahkan, sekarang Nabila sendiri pun tidak tau-menau akan keberadaan Zahra.


Ia selalu saja terngiang-ngiang akan suara Zahra saat berada di sampingnya. Zahra yang selalu memecahkan suasana di saat hening, Zahra yang mencairkan suasana tersebut dan menjadikan sebuah moment-moment dengan variasi yang berbeda-beda tiap saatnya dan hal itu tentu saja membuat Nabila sendiri rindu akan sosok Zahra.


Usainya ia menangis, Nabila pun merapihkan kembali barang-barang yang tergeletak di atas meja Zahra yang belum sempat Zahra rapihkan sebelum dirinya pergi meninggalkan kelas di saat jam istirahat tadi.


Tak lama kemudian, datanglah seorang pria dan sudah berada tepat di hadapan Nabila saat ini.


"Biar sama gue aja. "


Deg


"Lo masih di sini? Kira gue lo dah pulang duluan bareng anak-anak yang lain tadi, " ucap Nabila.


"Biar sama gue aja. Lo bisa pulang sekarang juga. "


"Hmm. Gak berubah, masih tetep sama..dingin, " batin Nabila.


Kevan pun merapihkan barang-barang yang masih tergeletak di atas meja Zahra.


"Lo tau gak keberadaan Zahra sekarang?" ucap Nabila dengan rasa putus asa.


Sebenernya Nabila sendiri kurang yakin, mana mungkin Kevan tau. Sedangkan, yang Nabila tau, Zahra sangat tidak menyukai Kevan. Bahkan, membencinya.


"Dia kan temen lo. Kenapa nanya ke gue. "


"Ya gue kan cuma nanya Van. Barangkali aja lo gak sengaja liat dia pas tadi. "


"Sekalipun gue tau juga gak bakal gue kasih tau ke lo di mana keberadaan dia, " ucap Kevan.


"Terus mau lo kemanain barang temen gue?"


"Mau gue anterin lah ke rumahnya. "


"Hm. "


Setelah usainya ia merapihkan barang-barang milik Zahra. Kevan pun langsung meninggalkan Nabila yang masih berada di dalam kelas dan pergi tanpa adanya rasa simpati pada Nabila yang terlihat sudah sangatlah frustasi saat ini.


Ucapan Kevan tadi, tentu saja membuat Nabila penasaran. Terdengar seperti orang yang sedang berusaha menutupi sesuatu.


"Maksud dari ucapan Kevan tadi tuh apa ya?"


"Apa emang iya, Kevan tau keberadaan Zahra sekarang?"


Bertanya dan selalu saja bertanya, waktu demi waktu pun seiring terus berjalan dan sampai pada akhirnya, Nabila tidak sadarkan diri, ia tertidur dengan pulasnya di atas meja, dikarenakan tangisannya tadi cukup membuat kedua matanya berat dan memutuskan untuk tidur sementara waktu.


Setelah ia tertidur lelap dengan waktu yang terbilang cukup lama, Nabila pun terbangun dari tidurnya. Dan terkejut saat ia tersadar, jika dirinya sudah tertidur di kelas dengan waktu yang tidak ia duga sebelumnya.


"Jam berapa sekarang? Kok gue bisa ketiduran di kelas sampe jam segini sih?" Nabila sendiri sudah merasa panik. Karna mungkin saja, gerbang sekolah telah digembok.


Nabila pun bergegas dengan cepat, untuk meninggalkan kelasnya, bagaimanapun juga ia sangat mengkhawatirkan kondisi mamahnya tersebut.


Bagaimana jika mamahnya lupa meminum obat? Bagaimana kalo terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Hal itu membuat Nabila sendiri stres, ia tidak bisa menahan pikiran negatif yang selalu saja muncul dipikirannya.


Nabila terus berjalan menuju depan pintu gerbang utama, ia selalu berdoa di sepanjang jalan, agar saat ini gerbang sekolah dengan posisi tidak dikunci. Tapi kemungkinan besar, semua itu mustahil.


SMAN BHAKTI KENCANA. Sekolah terfavorit di Jakarta dan hanya orang-orang yang berkecukupan saja yang bisa sekolah di sana. Sudah jelas fasilitas-fasilitas sekolah pun pasti akan sangat terjaga dengan ketat dan tidak mungkin kalau gerbang dibiarkan terbuka dengan begitu saja.


Tak lama kemudian, tibalah Nabila di depan pintu gerbang.


Ceklek


Terbuka.


Pintu gerbang dalam posisi tidak dikunci, tentu saja, tidak sesuai yang ia bayangkan tadi.


"Huh. Ceroboh, bagaimana bisa? Tidak dikunci dan dibiarkan begitu saja, " batinnya.


FARIDA POV


"Ke mana sih Nabila? Jam segini belum pulang juga, " ucap Farida dengan penuh rasa cemas.


Farida sangat cemas, akan anaknya yang belum juga pulang dari sekolah, padahal waktu sudah menunjukan pukul 18.35 WIB.


Tapi Nabila. Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu yang telah menimpannya? Itulah yang terdapat di dalam benak Farida sedaritadi, ia hampir saja frustasi kembali. Farida sendiri tidak sanggup jika harus kehilangan yang kedua kalinya, apalagi harus kehilangan Nabila anak semata wayangnya tersebut.


Dilanda rasa cemas, membuat Farida sendiri kehabisan akal. Sampai pada akhirnya.


Bluk


"Pasti mamah belum tidur. Gue harus buru-buru, " batin Nabila lalu memesan grab car melalui aplikasi yang memang sudah sengaja ia instal di dalam ponselnya tersebut.


Tidak butuh waktu yang lama, sampailah Nabila dengan keadaan selamat. Ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya, tentu saja Farida sendiri belum menguncinya.


"Assalamu allaikum mah. "


"Mamah. "


"Anak baik pulang. "


"Mah. "


"Nabila pulang. "


Sudah berulang kali Nabila mengulang ucapannya tersebut, tapi masih saja tidak ada sahutan. Nabila pikir, mungkin mamahnya saat ini telah tidur, karna kerja dari pagi sampai sore tentu saja membuat mamahnya lelah.


Sampai pada akhirnya, Nabila pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, ia akan membersihkan badannya agar menjadi lebih segar nantinya.


Setelah selesai membersihkan badannya. Nabila berniat untuk melihat kondisi mamahnya saat ini, ia khawatir jika mamahnya belum sama sekali meminum obat yang seharusnya selalu rutin ia minum sehabis usai makan.


Nabila pun menaiki anak tangga. Kamarnya di lantai satu dan kamar mamahnya terletak di lantai dua, lebih tepatnya di kamar utama.


Ceklek


"Mamah..mah..bangun mah. "


Nabila yang melihat Farida yang sudah tergeletak di lantai pun dengan sontak langsung bergegas memindahkan mamahnya tersebut ke tempat tidur dan membaringkannya. Tentu saja Nabila sangatlah khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan mamahnya nanti.


Saat itu juga, Nabila pun langsung menghubungi Dokter kepercayaannya selama ini, ia menyuruh Dokter Rudi agar cepat-cepat datang ke tempat kediamannya saat ini, Nabila takut jika Farida mengalami hal-hal yang Nabila sendiri tidak inginkan.


Tak lama kemudian, Dokter Rudi pun datang dan dipersilahkan masuk dengan ramah oleh Nabila. Lalu, dengan secepatnya Dokter Rudi memeriksa keadaan Farida.


"Tidak perlu khawatir. Mamah kamu hanya kurang istirahat, ia terlalu banyak bergerak dan sepertinya ia sedang diliput rasa panik yang berlebihan, maka dari itu ia tidak sadarkan diri. Biarkan dia istirahat untuk sementara waktu. "


"Baiklah dok. Terimakasih sebelumnya. "


"Tidak usah berterimakasih. Itu memang sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter. " Disertai senyum simpulnya.


Nabila pun memberikan sejumlah uang yang sudah ia simpan disebuah amplop berukuran sedang dan diberikan-nyalah kepada Dokter Rudi yang telah memeriksa keadaan dan juga yang telah memberikan sebuah resep obat untuk mamahnya selama ini.


"Terimakasih Nabila dan oh ya. Saya harus pamit sekarang, karna masih ada pasien yang harus saya tangani. "


Tanpa ada banyak perbincangan di antara keduanya, setelah mengantar Dokter Rudi ke depan teras rumahnya, Nabila pun kembali lagi ke kamar Farida dan ia memeluk mamahnya dengan sangat erat. Lalu mencium kening mamahnya tersebut.


"Maafin Nabila mah. "


Nabila pun turun ke lantai satu dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat, karna Nabila pun harus menenangkan dirinya terlebih dahulu. Masalah selalu saja datang secara bersamaan dan bertubi-tubi. Membuat Nabila sendiri harus menahan rasa sakit, bagaimanapun juga Nabila tidak boleh drop.


Sampainya ia di kamar, Nabila pun langsung merebahkan badan yang sempat ia rasa sakit dikarenakan efek saat ia ketiduran di sekolah tadi. Nabila tidur dengan posisi duduk dan menjadikan kedua tangannya sebagai pengganti bantal. Hal itu tentu saja membuat kedua pergelangan tangannya pun menjadi keram dan baru terasa setelah sudah sampainya ia di rumah.


SEBUAH MISTERI.


Kemana Zahra pergi? Apakah ia akan kembali dalam waktu dekat? Atau akan menghilang seperti ditelan bumi?