
Saat di perjalanan menuju belakang sekolah. Nabila dan kevin memang sempat berbincang-bincang, entahlah hal apa yang mereka bahas, tapi terlihat jelas ada rasa bahagia yang terpancar dari raut wajah mereka satu sama lain.
Tak lama kemudian, sampailah keduanya di tempat yang ingin mereka tuju tadi. Tanpa basa-basi Nabila dan kevin pun dengan sontak langsung masuk ke dalam perpustakaan.
Mereka pun menyusuri koridor-koridor di setiap sudut perpustakaan terlebih dahulu.
Dikarenakan Nabila maupun Kevin memang sudah lama tidak mengunjungi perpus yang letaknya tidak jauh dari belakang sekolah.
Terakhir mereka mengunjungi perpus, ialah saat mereka masih berada di kelas sepuluh. Otomatis satu tahun yang lalu dan itupun secara massal.
Dikarnakan, jika setiap guru mata pelajaran memberi tugas, semua murid diwajibkan untuk mencari sumber referensi dari buku-buku yang telah disediakan dengan lengkap di perpustakaan itu sendiri. Maka dari itu, perpus lebih banyak dikunjungi oleh anak-anak kelas sepuluh IPA maupun IPS dan itu mereka lakukan hanya untuk mencari sumber-sumber referensi. Selebihnya, hanya ikut beristirahat saat jamkos dan sebagainya.
Saat itu juga, Nabila maupun Kevin, keduanya memutuskan untuk duduk disebuah sofa yang memang telah difasilitasi oleh pihak sekolah sebelum-sebelumnya.
Cukup melelahkan bagi keduanya jika harus berkeliling kembali, dikarenakan perpustakaan yang ukurannya terbilang sangatlah luas. Bahkan, tidak sedikit kasus siswa yang nyasar di dalam perpustakaan itu sendiri.
Suasananya yang hening, membuat Nabila pada akhirnya, memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu dari pihaknya.
"Oh ya Vin lo sering ke sini?"
"Udah lama nggak. "
"Kalo boleh gue tebak. Terakhir lo ke sini pasti pas kita kelas sepuluh. "
"Emg iya. Pas kita masih kelas sepuluh, " Perjelas kevin untuk membenarkan ucapan Nabila padanya tadi.
"Terus lo selama ini, kalo istirahat ke mana? Atau pas jamkos gitu? Gue gak pernah liat lo di dalem kelas, " tanya Nabila dengan secara spontan.
"Ke rooftop. "
"Gak berubah. Masih tetep aja dingin, " batin Nabila.
Kedua matanya yang masih tertuju akan paras kevin yang tampan bak pangeran, sungguh membuat hati Nabila sendiri lumer. Hanya saja, Nabila tidak menyukai sikap Kevin terhadapnya, Kevin terlalu dingin baginya dan ia tidak suka akan hal itu.
"Bil, " ucap kevin yang sempat membuat Nabila sendiri terkejut dan seketika membuatnya tersadar akan lamunannya tadi.
"Eh. Iya Vin, ngagetin lo ah, " ucap Nabila yang tiba-tiba saja menjadi salah tingkah.
"Kok ngelamun? Gosah mikirin gue, biar gue aja yang selalu mikiran lo, " ucap kevin lalu dilanjut dengan senyuman yang tentunya sangat jarang kevin ekspresikan di depan umum. Bahkan, di depan Nabila sekalipun.
"Aduh. Kok gue dagdigdug ya. " batin Nabila
"Ih geer banget sih. Males amat gue mikirin lo, gak penting juga, " ucap Nabila yang bersikeras agar tidak terlihat segugup mungkin di hadapan kevin saat ini.
Warna pipi Nabila pun berubah seketika menjadi merah merona.
"Hm. Cukup menggemaskan, " batin kevin.
"Udah ah. Yu ke kelas, rapat juga udah selesai keknya, " ucap Nabila.
Lalu, saat itu juga Nabila meninggalkan kevin yang masih dengan setianya duduk di atas sofa yang sedaritadi ia dan Kevin duduki.
"Kok gue jadi baperan gini sih. Nabila sadar Nabila!" ucap Nabila dan dengan tidak sadar ia sedikit berteriak dan terdengar jelas di telinga Kevin.
Karna saat Nabila keluar dari perpus, Kevin pun langsung beranjak dari sofa dan menyusul Nabila.
"Berarti lo normal, " ucap kevin dari arah belakangnya.
Sontak Nabila pun terkejut. Tentu saja dirinya menjadi sangatlah malu. Tadi saat di perpus ia gugup dan sekarang dirinya telah terciduk mengucapkan hal yang seharusnya tidak Kevin dengar.
"Apaansih gajelas. Yaudah yuk ah, " ucap Nabila dengan kesal lalu melanjutkan langkah kakinya tersebut dan disusul oleh kevin dari arah belakang.
"Aduh bisa jantungan gue, kalo gini caranya. Kenapa gue mendadak jadi gugup gini sih, padahal kan tadinya biasa-biasa aja, " batin Nabila dan sesekali ia mencuri pandang ke arah Kevin.
Sampai pada akhirnya, mereka pun sampai di depan kelas, tapi nyatanya zonk.
"Kok gak ada siapa-siapa sih?" tanya Nabila. Dan sesekali ia melirik ke arah kanan-kirinya untuk memastikan ada orang atau tidaknya.
"Namanya juga jamkos Bil, " sahut kevin.
"Emang kalo jamkos mereka ke mana sih?"
"Mayoritasnya ke taman sekolah. "
"Kok lo tau?"
"Gue gak sekudet yang lo kira. "
"Yaudah diem di sini aja. Gosah masuk, " ucap Nabila. Lalu duduk di kursi depan kelasnya tersebut.
"Emang kenapa? Gue juga gak bakal macem-macem kali. "
"Udah diem. Duduk aja, " balas Nabila.
Tentu saja ia heran akan sikap Nabila yang tiba-tiba selalu saja darting dengannya.
"Huh. Syukurlah untung aja dia gak peka, kalo Kevin peka, malu abis gue. "
Satu jam kemudian. Masih belum ada tanda-tanda kehidupan sama sekali dan sampai pada akhirnya Nabila pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Dikarenakan, Nabila sendiri sudah merasa jenuh akan keheningan yang sedaritadi mereka lalui.
"Vin. Masuk kelas aja deh, " Ajak Nabila dengan wajahnya yang masih terlihat menutupi kegugupannya.
"Bosen sendiri kan. Yaudah ayo, " Goda kevin.
Mereka pun masuk ke dalam kelas dengan posisi duduk di atas meja paling belakang dan sesekali bertukar cerita untuk menghilangkan rasa canggung di antara keduanya.
"Vin. Lo kok gak gabung sama yang lain sih? "
"Gak kenapa-napa. "
"Maaf nih ya sebelumnya, bukan gue lancang atau gimana. Tapi apa gak sebaiknya, lo gabung aja sama kevan ataupun sama anak-anak yang lainnya, " ucap Nabila sedikit berhati-hati, ia takut ucapannya tersebut akan menyinggung perasaan kevin.
"Gue gak ada waktu buat hal-hal yang gak penting, " balas kevin dengan santainya.
"Tapi kan Vin, " lanjut Nabila.
"Lo sendiri?" balas kevin lalu mengalihkan pandangnya menuju ke arah Nabila dan sesekali ia mengkerutkan keningnya sebagai pertanda ia bertanya.
"Gue?"
"Hm. Iya, " ucap kevin untuk memastikan kembali.
"Elina lagi ikut mamahnya ke luar kota untuk beberapa hari, jadi gue bakal lebih sering ngehabisin waktu gue di perpus kalo lagi jamkos. "
"Lo bisa bareng gue tiap saat, " Ajak kevin.
"Maksudnya?"
"Selama Elina gak ada. Lo bisa bareng gue dan besok lo gue jemput, " Perjelas kevin.
"Hah?" tanya Nabila sedikit syok akan ucapan kevin padanya tadi.
"Kenapa?"
"Tap..tapi gue gak bisa Vin, gue udah biasa berangkat sendiri. "
"Lagipula rumah lo sama gue kan lawan arah, jadi lebih baik gausah. " lanjut Nabila.
"Gue gak suka penolakan. "
"Tapi gue gak mau. "
"Jawab iya atau iya. "
"Jawab iya atau nggak kali. "
"Di kamus gue, nggak ada kata tidak dalam hal apapun. Gue gak terima penolakan. "
"Serah lo aja deh, males debat gue, " ucap Nabila dan sesekali mengerucutkan bibir mungilnya tersebut.
Chup
Kevin yang tersadar akan hal itupun langsung menciumnya, hanya sebuah ciuman tidak berupa *******.
Nabila pun terkejut, ia langsung memejamkan matanya dan merasakan detak jantungnya yang terasa lebih cepat.
Kevin yang gemas akan tingkah laku Nabila tadi. Membuatnya sedikit replek dan secara tidak sadar, ia pun langsung mencium bibir mungil Nabila.
Dan saat kevin mulai tersadar, ia pun sedikit terkejut akan tindakan yang ia lakukan terhadap Nabila tadi. Kevin pun langsung menjauhkan badannya dari hadapan Nabila saat itu juga, yang tadinya hanya berjarak 1 cm di antara keduanya.
"Maaf, maaf gue sama sekali gak bermaksud buat.. "
"Gue juga gak tau kenapa gue tiba-tiba ngelakuin itu ke lo. Gue replek Bil. "
"Lo bisa marahin gue sepuas lo, tapi jangan jauhin gue lagi, " ucap Kevin dengan penuh rasa bersalah.
Sedangkan Nabila, ia sendiri masih sangat syok, akan tindakan Kevin padanya tadi, dikarenakan hal tersebut ialah moment first kiss dalam seumur hidupnya.
Nabila belum pernah melakukan hal tersebut sebelum-sebelumnya. Tapi tidak disangka, Nabila pun merasa senang dengan tindakan kevin padanya tadi.
Hanya saja, saat Nabila mengingat Zahra sahabatnya sendiri yang sudah lebih dulu menyukai kevin. Nabila pun tidak bisa berharap lebih, ia takut melukai perasaaan sahabatnya dan yang terlebih lagi, Nabila sama sekali tidak tau-menau akan perasaan kevin terhadapnya.
Pada saat itu juga, Nabila pun tersenyum ke arah kevin, lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan dan sontak memeluk erat kevin. Meski terkejut akan tindakan Nabila padanya, Kevin pun dengan senang hati membalas pelukannya dan dengan sesekali ia pun mengusap rambut Nabila dengan lembut.