
Sampainya Elina dan Sarah di apartemen. Elina pun bersiap-siap untuk menepati janjinya tadi, ia akan pergi ke sebuah apartemen milik orang yang telah menelponnya tadi siang saat posisi Elina masih di dalam mall.
Sedangkan Sarah, ia telah masuk ke dalam kamarnya dan mencoba baju yang telah ia beli tadi, untuk memastikan ke Elina cocok atau tidaknya ia mengenakan pakaian tersebut di acara yang akan ia hadiri minggu depan.
Elina yang sudah siap pun, langsung bergegas menuju kamar Sarah, berniat untuk pamit terlebih dahulu. Sampainya Elina di depan pintu kamar Sarah, ia pun langsung mengetuk pintu kamar tantenya tersebut.
Tok
Tok
Tok
"Masuk aja El, gak dikunci kok, " sahut Sarah dari dalam kamarnya.
"Tante. "
"Ada apa El?" tanya Sarah yang masih dengan fokusnya menatap dirinya disebuah kaca berukuran besar dan terlihat jelas sedang mengenakan baju yang tadi ia beli.
"Elina keluar dulu ya, soalnya ada janji sama temen juga tan. "
"Ke mana?"
"Biasa, " ucap Elina dan disertai dengan senyuman smirk andalannya tersebut.
"Hm..yaudah hati-hati, jangan terlalu malem pulangnya ok. "
"Ok tan. Elina berangkat dulu ya, " ucap Elina lalu pergi meninggalkan Sarah yang masih terdiam di dalam kamar miliknya tersebut.
Sarah pun kembali mencoba baju lainnya, dikarenakan ia telah membeli bukan hanya satu, melainkan sepuluh baju dan tentu saja hanya satu yang akan ia kenakan nanti saat menghadiri acara pernikahan teman kantornya tersebut dan 9 di antaranya hanyalah percobaan.
Sampainya ia di luar apartemen, Elina pun langsung memesan grab car untuk menuju lokasi yang akan ia kunjungi sekarang dan tak lama kemudian grab car pun datang. Lalu, masuklah ia ke dalam mobil dan Elina pun menelpon kembali orang yang tadi siang telah menelponnya.
Berdering.
Dretttt
Dretttt
Dretttt
Dan tak lama kemudian panggilan pun terhubung.
"Sebentar lagi gue nyampe dan lo pastiin gue gak bakal kecewa sama kepercayaan yang udah gue kasih sepenuhnya ke lo, " ucap Elina memberi peringatan yang penuh dengan penekanan di setiap perkataan yang ia lontarkan tadi.
"Yaudah sih tenang aja, bawel amat, ke sini tinggal ke sini, " Sarkas cowok di sebrang sana.
"Lah, kenapa jadi dia yang galak. "
"Iya iya. Yaudah gue matiin dulu telponnya, " ucap Elina lalu mematikan kembali panggilan tersebut dari pihaknya sendiri.
Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai ke apartemen yang akan Elina kunjungi saat ini. Sampai pada akhirnya, ia pun turun dari mobil tepatnya di depan sebuah apartemen yang terbilang cukup mewah.
Tak membutuhkan waktu yang cukup lama, Elina pun sampai di depan pintu apartemen orang yang tadi ia telpon saat masih di perjalanan.
Elina pun langsung menekan bel yang sudah difasilitasi oleh pihak apartemen itu sendiri.
Ting nong
Ting nong
Keluarlah seorang cowok dari balik pintu apartemennya tersebut, lalu mempersilahkan Elina masuk ke dalam apartemennya.
Dan dengan senang hati, Elina pun menerima ajakan sang tuan rumah lalu masuklah Elina ke sebuah kamar dan terlihat jelas ada seorang gadis yang masih mengenakan pakaian seragam sekolah yang sama dengan seragam sekolah yang Elina tempati saat ini. Dalam keadaan kedua tangannya yang telah terikat.
Senyuman smirk pun terlintas di bibirnya. Elina pun langsung menghampiri gadis tersebut.
"Halo manis. Betah gak di sini?" tanya Elina dengan ucapan yang sengaja mengejek, disertai senyuman smirk diakhir kata.
"*******..dasar cewek berhati iblis, " ucap gadis tersebut kepada Elina.
"Apa mau lo hah? kenapa lo nyulik gue?"
"Cindy Vanita Abraham. Adik tiri Ahmad Farel Abraham, hm menarik, " ucap Elina disertai senyuman smirk nya.
"Tau dari mana lo? Dan lepasin gue Elina, gue kira lo tuh baik, ternyata lo melebihi iblis. "
"Gue tau dari mana? Apasih yang gak gue tau tentang Farel dan sekarang lo minta gue lepasin lo? Ngapain gue cape-cape nyuruh orang, buat nyulik lo ******!" ucap Elina dengan sedikit penekanan dari kata-kata ia lontarkan tadi.
"Apa salah gue? Emang selama ini gue pernah bully lo? Nggak kan. Jadi ada masalah pribadi apa lo sama gue?"
"Gue gak ada masalah apapun sama lo, " ucap Elina.
"Terus kenapa lo nyulik gue keparat?"
"Gue emang gak ada masalah sama lo, tapi gue jadiin lo bahan pancingan. "
"Maksud lo?"
"Biar Farel kaka tiri lo itu bisa jatuh lagi ke dalam pelukan gue, " ucap Elina memperjelas.
"Jatuh ke pelukan lo? Sejak kapan lo kenal sama Farel? Lagian juga dia bakal mikir dua kali buat jatuh cinta sama cewek berhati iblis kek lo, " balas Cindy dengan meluapkan rasa kesalnya yang sedaritadi sudah ia tahan.
"Sebelum nyokap lo nikah sama bokapnya Farel juga, Farel udah lebih dulu kenal sama gue. "
"Tapi dia ninggalin gue buat nerusin sekolahnya di Berlin, bertahun-tahun gue nunggu kabar dari dia, tapi apa? Dia malah ngehianatin gue, " ucap Elina dengan tatapan kosongnya dan sesekali ia membayangkan saat dirinya harus berpisah dengan Farel pada saat itu.
SEBUAH MISTERI.
Bagaimana bisa, mantan Cindy sendirilah yang menculiknya? Ada hubungan apa dia dan Elina?